
Selamat membacaπππ
Dengan langkah tergesa-gesa, Jenar dan juga Wisnu mencoba memangkas jarak yang terbentang antara warung gado-gado dengan toko kelontong yang berada di seberang jalan. Tidak mereka hiraukan kondisi jalan yang sedikit ramai asal mereka bisa segera mendekat ke arah lelaki yang saat ini tengah mengisi tangki bahan bakar sepeda motor yang ia naiki dengan bensin eceran yang disediakan oleh warung kelontong itu. Jemari tangan Wisnu menggenggam erat jemari tangan Jenar seakan begitu posesif menjaga dan melindungi gadis ini.
Brumm... brumm....
Lelaki itu berhasil menyalakan mesin motor. Baru saja ia akan mengoper persneling dan menarik tuas gas di telapak tangan kanannya namun tiba-tiba....
"Eitsss... eitsss... eitsss.... mau kemana Anda, hah?"
Dengan berani, Jenar menarik jaket kulit yang dikenakan oleh lelaki ini dari arah belakang. Hampir saja ia akan kehilangan jejak, namun ternyata nasib baik berpihak kepadanya. Ia berhasil menggagalkan lelaki ini untuk melarikan diri. Lelaki itu terkesiap, ia membalikkan sedikit badannya dan...
"Siapa kamu? Mengapa kamu menghalangiku?"
Lelaki itu sedikit meronta dan menepis tangan Jenar dengan sedikit kasar.
"Hei Bung, jangan kasar, jika Anda tidak mau mati mendadak!"
Melihat tangan Jenar ditepis oleh lelaki itu dengan kasar, membuat Wisnu sedikit murka. Gegas ia menghempas tangan si lelaki dan cepat-cepat mencopot kunci yang masih bergelantungan di lubang kunci motor ini. Sebagai salah satu upaya antisipasi sehingga lelaki ini tidak akan melarikan diri lagi.
Si lelaki sedikit mendengus kesal karena upayanya untuk segera pergi dari tempat ini terhalang oleh Wisnu yang menghalangi pergerakan motor yang ia naiki.
"Sebenarnya kalian ini siapa? Mengapa tiba-tiba menghalangi jalan say?"
Jenar hanya bisa tersenyum sinis kala mendengarkan perkataan lelaki ini. Beruntung ia masih begitu hafal sosok lelaki yang kong kalikong dengan Arya. Sehingga saat pertama ia melihat sosok lelaki ini di sini, Jenar sudah bisa untuk mengingatnya.
"Apa Anda tidak mengenal saya?" Jenar berucap sembari mengambil ponsel yang ia simpan di dalam tas. Ia mencari benda pipih yang ia miliki dan gegas membuka file video yang ia simpan.
__ADS_1
Dahi lelaki itu sedikit mengerut dan kedua alis matanya saling bertaut. Ia sampai berpikir, siapa dia orang yang ada di depannya ini sampai harus diingat-ingat. Dan apa pula keuntungan baginya jika ia bisa mengingat dua orang yang ada di hadapannya ini.
"Jika Anda tidak mengenali saya, setidaknya Anda mengenal lelaki yang bersama saya ini bukan?"
Lelaki itu menakutkan pandangannya ke arah Wisnu. Lama ia terlihat terdiam sembari mencoba membuka memory untuk mencari tahu siapa lelaki itu. Sepersekian menit, si lelaki nampak berpikir keras. Namun sejurus kemudian lagi-lagi bibirnya hanya bisa menganga lebar.
"A-Anda pak Wisnu? Pimpinan PT WUW?"
"Nah benar sekali. Jadi Anda tahu bukan apa maksud dan tujuan saya dan pak Wisnu menghampiri Anda?"
Tubuh lelaki itu serasa begitu lemas tiada bertenanga. Tulang serta sendi-sendi yang menopang tubuh seakan kehilangan kekuatan untuk menopang. Wajahnya mendadak pasi. Ia berpikir hari inilah waktu terakhir baginya untuk bisa menikmati suasana bebas di alam semesta ini. Sudah dapat ia pastikan jika sebentar lagi ia akan mendekam di balik jeruji besi untuk bertanggung jawab atas kecurangan yang sempat ia lakukan hanya demi sebuah ambisi.
"Mari ikut saya. Anda bisa mengatakan semua hal yang memang harus Anda katakan di hadapan saya."
ππππ
Rasa lelah, rasa kantuk yang sebelumnya menyerang tubuh Jenar yang membuatnya ingin segera tiba di kontrakan, kini hilang seketika. Layaknya daun-daun kering yang diterbangkan oleh angin dan membawanya pergi entah ke mana. Lenyap begitu saja. Kini, gadis itu nampak begitu bersemangat untuk bisa menginterogasi Heri akan semua kejahatan yang telah ia lakukan.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan Her?"
Getaran suara penuh ketegasan keluar dari bibir Wisnu yang saat ini tengah menatap wajah Heri dengan tatapan membidik. Yang ditatap hanya bisa menundukkan wajahnya karena bergidik ngeri kalau saja pimpinan PT WUW ini akan melakukan serangan dadakan. Seperti kekerasan. Tidak dapat dipungkiri, tubuh Heri masih nampak bergetar seakan menahan rasa takut, cemas dan rasa bersalah yang bercampur menjadi satu. Berbalik seratus delapan puluh derajat dari saat ia dengan santai membantu Arya untuk melakukan kecurangan itu.
Tanpa basa-basi, Heri beranjak dari posisi duduknya dan mengayunkan tungkai untuk bisa dekat dengan Wisnu. Tanpa terduga, lelaki itu bersimpuh di bawah kaki Wisnu.
"Maafkan saya Pak, maafkakan saya. Saya terpaksa membantu Pak Arya melakukan hal itu karena saya merasa terdesak."
"Terdesak? Apakah maksud ucapanmu itu adalah Arya memaksamu untuk membantunya?"
Heri tidak menangguk ataupun menggelengkan kepala. Namun, lirih ia berkata. "Awalnya saya tidak mau melakukan hal itu Pak meski Pak Arya telah memaksa saya. Namun saya teringat akan satu hal yang memaksa saya untuk menerima tawaran Pak Arya itu."
__ADS_1
Dahi Wisnu terlihat mengernyit. "Satu hal yang memaksamu? Apa maksudmu?"
Heri nampak kesusahan menahan isak tangisnya. Namun ia berusaha untuk berkata jujur apa adanya. Ia berpikir saat ini yang terpenting adalah kejujuran. Perihal hukuman yang menanti, akan ia terima dengan lapang dada.
"Saya berada di posisi terjepit Pak. Selama ini saya meninggalkan istri dan anak-anak saya di kampung untuk merantau. Mertua saya selalu menuntut saya untuk bisa menjadikannya orang kaya di kampung dengan membelikannya sawah, kerbau dan pekarangan. Di saat gaji yang saya terima sebagai driver hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari saya sendiri dan beberapa bagian saya kirimkan ke kampung, mertua saya masih saja mendesak. Bahkan jika sampai akhir tahun ini saya tidak bisa membelikan mereka sawah, kerbau dan pekarangan, saya dipaksa untuk menceraikan istri saya. Saya tidak mau hal itu terjadi Pak. Maka dari itu saya menerima tawaran Pak Arya."
Heri mengakhiri cerita hidupnya diiringi dengan Wisnu dan Jenar yang saling bertatap netra. Mungkin mereka sama-sama merasa iba dengan apa yang dikatakan oleh Heri ini. Namun bagi Wisnu, apa yang dilakukan oleh Heri dan juga Arya merupakan suatu kejahatan dan sudah selayaknya mereka mendapatkan hukuman.
"Aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu. Namun, aku harus tetap melakukan sesuatu sesuai prosedur yang berlaku. Kamu dan juga Arya harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kalian lakukan."
Heri mengangguk pasrah. "Tidak apa-apa Pak. Saya akan menerima apapun hukuman yang diberikan kepada saya. Karena saya memang bersalah." Heri sedikit menegakkan kepala. Tangannya menyentuh resleting jaket yang ia kenakan dan mengambil sebuah amplop coklat yang tersimpan di balik jaket itu. Heri mengulurkannya ke arah Wisnu.
Diterimanya amplop coklat itu dari tangan Heri dengan raut wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya. "Apa ini?"
Heri menarik napas dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. "Tadi, saya memang berniat untuk pergi ke kantor Pak Wisnu untuk meminta alamat rumah pak Wisnu. Saya bermaksud untuk mengakui kesalahan saya dan menyerahkan diri saya. Di dalam amplop ini ada sejumlah uang senilai lima belas juta yang diberikan oleh pak Arya selama dua bulan terakhir."
.
.
πππππππ
Waaaaaaa... telat, telat, telat... Maaf atas keterlambatan ini ya Kak. Ini kran kamar mandi dan wastafel di rumah pada error semua sehingga mengharuskan saya untuk fokus ke sana dulu. Kalau tidak segera dibenahi bagaimana bisa saya mandi.. Hihihi hihihi iya toh?? βΊβΊβΊ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca
__ADS_1