
Selamat Membacaπππ
Dengan kecepatan sedang, Wisnu melajukan mobil pribadinya membelah ruas-ruas jalanan beraspal kota ini. Suasana masih nampak lenggang di jam enam dan di hari minggu seperti ini. Bukan merupakan hari kerja, maka sangatlah wajar jika kelenggangan masih terlihat di sudut-sudut tempat. Mungkin penduduk kota ini memilih untuk tetap berada di dalam rumah, mengistirahatkan tubuh setelah satu minggu tenaga mereka diforsir untuk bekerja.
Hawa dingin khas kota hujan juga begitu terasa memeluk tubuh, meski AC di dalam mobil ini berada di dalam mode off, namun tetap saja, rasa dingin itu terasa hingga menembus pori-pori kulit.
"Kakak cantik, mengapa dari tadi Kakak cantik diam saja? Kakak cantik sakit gigi ya?"
Sembari menggigit roti panggang dengan dioles selai kacang, Citra yang duduk di bangku belakang sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Jenar yang duduk di samping Wisnu. Gadis kecil itu sedikit keheranan karena sedari tadi kakak cantiknya ini hanya diam saja.
Jenar mencoba untuk tergelak lirih agar bisa menyamarkan ketidakceriaannya pagi hari ini. Karena sejatinya, pikiran Jenar tengah tertuju pada sesuatu.
"Tidak Sayang. Kak Jenar sedang tidak sakit gigi kok. Kak Jenar baik-baik saja."
"Tapi mengapa Kakak cantik dari tadi diam saja?"
Jenar menoleh ke arah samping di mana wajah imut Citra berada. Jenar pun mencoba untuk tetap tersenyum sembari mengusap lembut pucuk kepala gadis kecil ini.
"Kakak hanya sedikit mengantuk Sayang."
"Oh mengantuk?" Citra sejenak menjeda ucapannya dan menoleh ke arah sang papa yang sedang fokus dengan kemudinya. "Papa, Kakak cantik dibelikan apa gitu biar tidak mengantuk lagi."
Wisnu hanya tergelak mendengar celotehan putrinya ini. Ternyata Citra merupakan salah satu anak yang mudah peka dengan keadaan di sekitarnya. Jenar memang biasa ngobrol banyak hal ketika bersama Citra, namun pagi ini ia memang sedikit berdiam diri. Hal itu tak lain dan tak bukan karena gadis itu masih merasa sangat bersalah atas kaburnya Arya. Ia berpikir seandainya saat itu ia tidak langsung memberi tahu bahwa ia memegang bukti itu, pasti saat ini Arya bisa langsung ditangkap. Berkali-kali Wisnu memberi pengertian agar Jenar tidak perlu memikirkan hal itu, namun lagi-lagi gadis itu merasa teramat bersalah.
"Ummmm .... kita belikan apa ya Sayang? Citra ada ide tidak?"
__ADS_1
Wisnu berujar sembari menghentikan laju mobilnya ketika lampu lalu lintas menyala merah. Citra nampak menyapu pandangannya ke arah luar dan gadis itu menangkap sesuatu.
"Papa, kita belikan kakak cantik itu saja. Sepertinya enak."
Jari telunjuk Citra menunjuk ke arah seorang ibu dan anak laki-laki yang kurang lebih berusia tujuh tahun yang sedang menjajakan dagangannya. Wisnu melihat ke arah ibu dan anak itu yang ternyata sedang berjualan tahu Sumedang. Tanpa pikir panjang, Wisnu menurunkan kaca mobilnya dan memanggil penjual itu.
"Mari silakan tahu Sumedang nya Pak. Satu plastiknya lima ribu. Mau beli berapa?"
Tidak hanya Wisnu, Jenar yang sedari tadi larut dalam pikirannya sendiri ikut menautkan pandangannya ke arah penjual tahu Sumedang itu. Ada setitik rasa terenyuh jika melihat bagaimana seorang ibu yang berjuang mati-matian untuk menjadi tulang punggung keluarga. Tak terkecuali ibu ini. Di usianya yang sudah memasuki setengah abad, ia masih terlihat bersemangat untuk menjajakan olahan makanan di jalan. Ya, hal itu jauh lebih nampak terhormat daripada meminta-minta. Tidak terasa, satu bulir kristal bening, lolos dari pelupuk mata Jenar.
"Saya beli semua yang Ibu bawa. Totalnya berapa Bu?"
Ibu penjual tahu Sumedang itu nampak terkejut setengah mati saat mendengar ucapan dari Wisnu. "B-Bapak sedang tidak bercanda bukan?"
Wisnu menggeleng sembari tersenyum simpul. "Sama sekali tidak Bu. Saya akan membeli semua dagangan yang Ibu bawa. Totalnya berapa?"
Wisnu merogoh saku celananya dan kebetulan sekali ada tiga lembar uang setatus ribuan di dalam sana. "Ini untuk Ibu, kembaliannya silakan diambil saja."
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih banyak Pak. Terima kasih."
"Sama-sama Bu."
Lampu lalu lintas berganti warna. Wisnu kembali melanjutkan perjalanan menuju sebuah gedung kesenian tempat di mana akan diadakan acara tutup tahun itu.
"Nah Jen, makanlah! Jangan lupa pake cabai rawitnya. Saya yakin setelah ini kamu tidak lagi mengantuk."
Sekilas, Wisnu menatap wajah lelaki berusia empat puluh tahun ini. Dan ia pun menerima pemberian Wisnu ini. "Makasih Pak."
__ADS_1
"Papa, mengapa Papa tadi langsung memborong dagangan ibu penjual itu semua?"
"Tidak apa-apa Sayang. Papa hanya berharap, dengan Papa memborong dagangan ibu itu, ibu dan putranya bisa segera beristirahat di rumah. Atau mungkin ada pula yang sedang menunggu kepulangan ibu itu di rumah, sehingga beliau bisa langsung bertemu dengan orang-orang yang menunggunya di rumah Sayang."
"Oh, seperti itu ya Pa? Tapi jika Papa memborong semuanya, Papa juga mengeluarkan uang banyak. Bukankah itu boros?"
Wisnu menggelegkan kepala. Nampaknya ia harus memberikan pemahaman kepada Citra perihal konsep sedekah. Berharap kelak putrinya ini tidak menjadi orang yang pelit ataupun kikir.
"Apa yang Papa lakukan tadi bukan termasuk pemborosan ya Sayang. Justru dari uang yang kita miliki, ada sebagian yang menjadi hak seperti ibu tadi, oleh karena itu tidak masalah jika kita mengeluarkan banyak uang namun bisa membantu ibu tadi. Dan satu hal yang harus Citra tahu, semakin kita sering membantu para pedagang kecil seperti ibu tadi, maka kita akan mendapatkan ganti yang berkali-kali lipat dari Allah, Sayang."
"Oh ya? Mengapa bisa begitu Pa? Bukankah jika kita mengeluarkan uang, uang yang kita miliki jadi lebih sedikit ya? Tapi mengapa malah bertambah menjadi banyak?"
"Coba tanyakan kepada kakak cantik, mengapa bisa seperti itu?"
Benar saja, Citra kembali menautkan pandangannya ke arah Jenar untuk meminta penjelasan. "Mengapa bisa seperti itu Kakak cantik?"
Jenar hanya tersenyum simpul di hadapan Citra sembari menoel hidung mungil gadis kecil ini. "Itu karena konsep matematika yang Citra pelajari di sekolah berbeda jauh dengan konsep sedekah yang diperintahkan oleh Allah Sayang."
"Berbeda bagaimana Kakak cantik?"
"Jika konsep matematika, apabila kita memiliki sesuatu lalu diberikan kepada orang lain pasti akan berkurang bahkan bisa jadi habis. Sedangkan konsep sedekah ini berbeda. Milik kita mungkin memang berkurang, namun sejatinya kita sedang menabung amal kebaikan yang kelak bisa kita pakai sebagai bekal di kehidupan akhirat nanti Sayang. Jadi sejatinya uang yang diberikan oleh papa kepada penjual tadi, nantinya akan kembali kepada papa lagi namun dalam bentuk timbangan amal kebaikan."
.
.
ππππ
__ADS_1