
Selamat membaca... 😘😘😘😘
"Aku kira pagi ini kamu bisa bertemu dengan papa, Sayang. Namun ternyata papa sudah berangkat."
Helaan nafas penuh kekecewaan sedikit nampak jelas keluar dari mulut Stevi kala melihat sang papa yang sudah beragkat ke kantor pagi ini. Ia berpikir jika sang papa belum berangkat, ia bisa langsung memperkenalkannya dengan Firman. Dengan begitu, secara tidak langsung Stevi bisa memaksa sang papa untuk meminta Firman membawa hubungan yang mereka jalin ke jenjang yang lebih serius lagi. Namun ternyata hari ini sang papa berangkat lebih pagi, sehingga upayanya untuk mempertemukan dan memperkenalkan Firman kepada sang papa gagal total. Mungkin Stevi harus banyak bersabar untuk menunggu hingga waktu itu tiba. Di mana ia bisa segera memperjelas hubungan yang terjalin bersama Firman dan bisa sesegera mungkin lelaki itu memutuskan hubungannya dengan Jenar, di mana gadis itu didaulat menjadi calon menantu di keluarga Firman.
Sejatinya Stevi tidak terlalu ambil pusing jika ia harus menjadi seorang simpanan. Namun, setelah melihat foto Jenar melalui ponsel sang kekasih secara langsung, tiba-tiba saja ia diserang oleh rasa takut yang teramat mendera. Takut, jika Firman sampai kapanpun tidak pernah bisa melepaskan dan meninggalkan gadis itu.
Wajah gadis bernama Jenar di mata Stevi merupakan seorang gadis biasa. Namun, jika diperhatikan secara lekat, gadis itu memiliki kecantikan yang natural. Wajahnya pun juga mengeluarkan aura tidak mudah bosan bagi siapa saja yang menatapnya. Terlebih di bagian dada. Meski gadis itu sering mengenakan pakaian yang serba longgar, namun tetap saja tidak dapat menyembunyikan kesan montok yang tercipta. Hal itulah yang membuat menjadi latar belakang Stevi untuk segera memperkenalkan Firman dengan sang ayah.
"Itu tidak masalah Stev. Lain waktu, aku kan bisa bertemu langsung dengan papamu."
Pagi ini sepasang kekasih itu berjalan santai mengelilingi taman kecil yang ada di kediaman Stevi. Sembari menghirup udara pagi, keduanya nampak larut dalam suasana sejuk yang memeluk tubuh masing-masing. Ditambah dengan suara cicit anak burung pipit yang berada di atas dahan, seakan menambah ramai suasana pagi hari ini.
Pandangan Firman mengedar ke sekeliling tempat ini. Rumah mewah nan megah. Tatanan taman yang nampak indah dan juga halaman yang terlihat luas, seakan makin menegaskan bahwa Stevi hidup dalam keadaan yang 'wah'.
"Padahal aku ingin cepat-cepat memperkenalkan kamu dengan Papa Sayang. Aku sudah tidak sabar ingin melihat respon papa saat bertemu denganmu."
Stevi menggamit lengan tangan Firman seraya bergelayut manja di pelukan lelaki itu. Entah mengapa semakin hari, ia merasa semakin posesif terhadap kekasihnya ini. Rasa-rasanya, ia tidak ingin berjauhan dengannya.
"Sabar Stev. Cepat atau lambat, aku pasti akan berkenalan dengan papamu. Jadi kamu tidak perlu meragu." Manik mata Firman tertambat pada barisan mobil-mobil yang berjajar rapi di carport yang berada di bagian belakang rumah Stevi. Carport ini dibuat memajang sehingga bisa menampung barisan mobil-mobil itu.
Gila.... Ternyata pacar simpananku ini memang anak Sultan. Mobil miliknya banyak sekali. Tapi aku heran, mengapa ia tidak pernah memakai salah satu mobil itu? Dan justru meminta aku untuk antar jemput? Ah, dasar wanita, dia mungkin berpikir dengan antar jemput, akan muncul kesan romantis.
"Stev, di samping dari carport itu bangunan apa?"
Sudah tidak terlalu terkesima dengan penampakan carport itu, kini pandangan mata Firman justru terpaku pada bangunan yang berada di samping emperan mobil itu. Sebuah bangunan yang menyerupai sebuah gudang namun tidak terlihat terbengkalai. Justru terlihat begitu terawat.
__ADS_1
"Oh itu? Apakah kamu mau tahu, Sayang?"
Firman menganggukkan kepalanya. Ia ingin tahu seberapa kaya kekasih gelapnya ini. Barangkali bangunan yang menyerupai gudang itu juga merupakan salah satu sumber pundi-pundi kekayaan Stevi.
"Iya, aku ingin tahu Stev!"
"Kalau begitu, mari kita ke sana!"
Sepasang kekasih itu menjejakkan kaki mereka menyusuri jalan ber-paving block yang menghubungkan antara taman dengan bangunan layaknya gudang itu. Hingga langkah kaki keduanya terhenti tepat di depan tempat yang mereka tuju.
Stevi menggeser rolling door yang sebelumnya tertutup rapat dan kemudian mempersilahkan Firman untuk masuk ke dalam.
"Nah, ini isinya Sayang!"
Kedua bola mata Firman membulat sempurna kala melihat tumpukan rol-rol kain yang menjulang tinggi. Gudang milik Stevi ini sudah seperti gudang di pabrik konveksi saja.
"Kain-kain ini untuk apa Stev? Apakah papamu juga memiliki pabrik konveksi?"
Stevi hanya tergelak lirih. Mencoba menanggapi pertanyaan Firman ini dengan santai. "Ini hasil dari papaku bekerja di sebuah perusahaan konveksi Sayang?"
"Hasil? Maksud kamu gaji yang diperoleh papamu digunakan untuk membeli kain-kain ini?"
"Hahahaha jelas bukan seperti itu. Kalau bergantung dengan gaji, sampai kapanpun papaku tidak akan kaya, Sayang!"
Firman semakin dibuat terkejut dengan ucapan Stevi ini. Sungguh, keberadaan gudang dan tumpukan kain-kain ini semakin membuat rasa ingin tahunya meronta.
"Jadi, ini semua berasal dari mana Stev?"
Stevi merapatkan tubuhnya di tubuh Firman. Wanita itupun kembali bergelayut manja di sana. "Zaman sekarang, jika kita ingin kaya lebih cepat, maka gunakan otak kita untuk mengimbangi tenaga yang kita keluarkan dalam bekerja. Dengan otak yang cemerlang, kita dapat memanfaatkan situasi dan kondisi untuk bisa memperkaya diri kita sendiri, meski kita sebagai karyawan."
__ADS_1
"Maksud kamu? Aku sungguh tidak paham, Stev!"
"Kain-kain ini berasal dari kecurangan yang dilakukan oleh papaku, Sayang. Dia sengaja melakukan penggelapan kain-kain ini saat dikirimkan ke pabrik tempat papaku bekerja. Dia bekerja sama dengan driver pengangkut bahan baku, dan kemudian kain-kain itu dilarikan di sini."
Stevi tiada henti menyunggingkan senyum termanis yang ia miliki. Meski hasil yang ada di depan matanya ini merupakan bagian dari kecurangan, namun wanita itu nampak begitu bangga. Bangga karena apa yang dilakukan oleh sang papa membuahkan hasil yang nyata. Ya, dari kain-kain itulah dirinya dan sang papa bisa mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya. Hidup yang sebelumnya terasa begitu monoton karena tidak ada banyak hal yang dapat ia nikmati, kini seakan semua berbalik seratus delapan puluh derajat. Ia dan sang papa bisa menikmati dan memiliki apapun yang mereka inginkan. Hidup di dalam kemewahan, sungguh membuat jalan hidupnya jauh lebih berwarna.
Firman semakin terperangah. Tidak menyangka jika kecurangan yang dilakukan papa Stevi tidak terendus sampai saat ini. Itu semua dapat diartikan jika orang tua Stevi ini sudah pro dalam bermain curang.
"Aku sungguh ingin tahu mengapa tempat kerja papamu sampai tidak mencium aroma kecurangan yang dilakukannya?"
Stevi tergelak seketika. Wanita itu kembali menarik nafas dalam-dalam dan ia hembuskan sedikit kasar. "Papaku menggunakan kepercayaan yang sudah sejak lama diberikan oleh pemilik perusahaan. Maka dari itu, sampai saat ini, saat perusahaan itu berpindah tangan pun, papaku juga masih dipercaya. Dan mereka sama sekali mencurigai papa."
"Lalu, di mana papamu bekerja? Melihat rol-rol kain ini, aku bisa menyimpulkan bahwa perusahaan tempat papamu bekerja bukan perusahaan kaleng-kaleng."
"Papa bekerja di PT WUW, Sayang. Pabrik underwear terbesar di kota ini."
"Apa? PT WUW?"
Lagi-lagi Firman hanya bisa membelalakkan mata. Pagi ini sudah terlalu banyak kejadian-kejadian yang membuatnya terkejut setengah mati. Bahkan mungkin bisa membuatnya mati berdiri.
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hari senin datang lagi Kakak.. jangan lupa vote nya ya.. hihihi biar author kebelet pemes ini lebih semangat dalam menulis.. wkkkkkk🥰🥰🥰
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺
__ADS_1
Salam Love, love, love❤❤❤
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca