
Selamat Membaca πππ
"Sayang, pagi ini Citra berangkat ke sekolah diantar mbok Darmi dan pak Kasim dulu ya."
Wisnu yang tengah sibuk dengan kepangan rambut sang putri mencoba untuk mengutarakan apa yang menjadi rencananya pagi hari ini. Jika biasanya Wisnu akan mengantar Citra ke sekolah terlebih dahulu sebelum ke kantor, namun khusus hari ini ia terpaksa harus absen untuk mengantarkan sang putri. Agenda pagi hari ini benar-benar padat sehingga mengharuskannya lebih awal tiba di kantor.
"Papa sudah terlihat rapi, memang Papa mau ke mana?"
Selesai mengepang rambut, Wisnu ambil Cologne untuk ia aplikasikan di badan sang putri agar lebih segar dan wangi. Serta menjadi tanda telah selesainya semua rutinitas pagi di mana ia menjadi seorang ayah untuk sang putri. Termasuk mendandani Citra sebelum berangkat ke sekolah.
"Papa harus memberikan sambutan untuk para peserta magang yang ada di kantor Papa, Nak."
"Magang itu apa Pa?"
Wisnu hanya tersenyum simpul melihat anaknya ini memiliki rasa ingin tahu yang besar. Namun dari sana, ia juga teramat senang karena dengan seperti itu, rasa keingintahuan sang putri yang tinggi dapat menjadi awal ia akan belajar tentang banyak hal.
"Magang itu pelatihan khusus untuk orang-orang yang telah selesai menjalani masa pendidikan, Sayang. Di kantor Papa, nantinya orang-orang itu akan mengaplikasikan apa yang mereka dapat di sekolah."
Citra hanya mengangguk pelan. "Itu berarti di kantor Papa akan kedatangan orang-orang baru?"
"Nah, kurang lebih seperti itu Nak."
"Orang-orang baru itu masih muda atau sudah tua-tua, Pa?"
"Masih muda Sayang. Mereka baru saja lulus SMA, dan langsung dihadapkan dengan dunia kerja."
"Waaaah... Pasti akan sangat menyenangkan jika Citra ada di kantor Papa. Tentunya Citra bisa berkenalan dengan dengan mereka dan bisa bermain bersama mereka kan Pa?"
Wisnu hanya terkekeh kecil mendengar celotehan putrinya ini. Keinginan sang putri memang masih sebatas teman bermain saja karena memang ia masih berada di masa-masa bermain. "Mereka di kantor Papa itu untuk bekerja, Sayang. Bukan untuk bermain."
"Yah, Citra kira Citra bisa bermain dengan mereka Pa."
Wisnu semakin tergelak kala melihat perubahan raut wajah putrinya ini. Ia sedikit paham jika sang putri memang sedikit merasa kesepian karena tidak ada teman di rumah selain pak Kasim dan mbok Darmi. Sehingga sangat wajar jika ia menginginkan seseorang untuk menjadi teman bermainnya.
"Ya sudah, besok kapan-kapan Papa ajak ke kantor ya. Barangkali satu diantara peserta magang di kantor Papa bisa menjadi teman bermain untuk Citra."
Mendadak, raut wajah gadis kecil ini dipenuhi oleh binar kebahagiaan yang cukup kentara. "Benar ya Pa?"
"Iya Sayang."
"Horre!!!"
"Kalau begitu Papa berangkat dulu ya Sayang."
"Iya Pa!"
Wisnu berikan sebuah pelukan untuk putrinya ini seraya ia cium pipi kanan dan pipi kirinya. "Semangat belajar ya Sayang!"
"Iya Papa! Papa juga semangat ya!"
Wisnu rengkuh tubuh Citra untuk ia bawa ke dalam gendongannya. Ia ayunkan kakinya untuk membawa sang putri ke ruang makan. Pastinya untuk melakukan ritual sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah.
ππππ
Gedebug!!!
"Adudududuhhh!!"
"Mbak hati-hati!"
Jenar hanya meringis menahan rasa sakit kala badannya terjatuh di depan pintu gerbang rumah yang ia tinggali setelah tersandung batu yang entah bagaimana ceritanya tiba-tiba menjadi penghalang kaki Jenar dalam melangkah.
"Tidak perlu Mas. Saya bisa bangun sendiri!"
Melihat driver ojek online yang ia pesan mendekat ke arahnya, gegas Jenar menghalangi niat baik driver itu untuk memberikan pertolongan. Dengan sisa kekuatan yang ada, Jenar mulai beranjak dan berdiri sempurna. Rasa sakitnya memang tidak seberapa namun malunya itu yang terasa hingga menembus tulang. Apalagi jatuh di depan driver ojek online yang lumayan tampan. Membuat rasa malunya melonjak berkali-kali lipat.
"Lain kali hati-hati Mbak!"
"Hehehehe iya Mas." Jenar menerima uluruan helm yang diberikan oleh sang driver. "Mas, tolong bawa motornya sedikit ngebut ya. Saya hampir terlambat sampai tempat kerja."
__ADS_1
"Memang tujuan Mbak ini ke mana?"
"Ke PT WUW, Mas!"
Sang driver ojek online melirik penunjuk waktu yang ada di dalam ponselnya. "Saya rasa Mbak ini akan tetap terlambat. Karena perkiraan kita baru akan tiba di pukul delapan lebih sepuluh menit."
Jenar terkesiap kala mendengarkan penuturan driver ojek online ini. Ia yang rela tidak mandi, hanya mencuci muka, menggosok. gigii, kemudian menyemprotkan parfum banyak-banyak ke badan bermaksud agar tidak terlambat, pada kenyataannya akan terlambat juga. Ia merasa sia-sia sedari tadi merasa seperti seseorang yang dikejar oleh waktu.
"Tidak mengapa Mas. Yang penting ada usaha dari saya untuk tidak terlambat."
Driver itu mengulas sedikit senyumnya. "Baiklah, mari kita berangkat Mbak!"
Gegas, gadis itu mengambil posisi di belakang tubuh sang driver. Perlahan, driver ojek online itu memacu kendaraannya untuk mengantarkan sang customer untuk segera tiba di tempat tujuan.
Di dalam perjalanan, Jenar hanya bisa membuang nafas sedikit kasar sembari menggeleng-gelengkan kepala. Ia begitu Spichless dengan apa yang ia alami untuk kali pertama tinggal di kota ini. Hari pertama ia berada di kota perantauan ini sepertinya menjadi hari yang kurang bersahabat untuk Jenar sendiri. Pasalnya, ia harus bagun kesiangan, setelah itu terjatuh karena terburu-buru hingga pada akhirnya akan terlambat tiba di tempat kerja. Ia hanya berharap, semoga pimpinan perusahaan tempat ia bekerja nanti dapat memaklumi.
Meski tahu ia akan terlambat, namun Jenar mencoba untuk bersikap santai. Sebisa mungkin, ia menikmati udara kota Bogor di pagi hari ini. Pastinya untuk mengembalikan mood yang sudah sedikit hancur karena kesiangan. Beberapa kendaraan bermotor mulai memenuhi ruas-ruas jalan. Seperti menandakan bahwa kota ini merupakan salah satu kota yang memiliki tingkat aktivitas penduduk yang cukup tinggi.
Sapuan mata Jenar tiba-tiba terhenti kala melihat ada sebuah mobil yang berhenti di tepi jalan. Di sana terlihat ada seorang gadis kecil dengan dua orang yang berusia sekitar lebih dari lima puluh tahun.
"Mas, Mas, coba berhenti di dekat mobil itu Mas!"
"Tapi ini sudah jam delapan kurang lima menit Mbak. Nanti Mbak nya bisa semakin terlambat."
"Tidak apa-apa Mas. Sepertinya pengemudi mobil itu sedang memerlukan bantuan."
Sang driver menurut. Ia arahkan laju kendaraannya ke arah mobil yang berhenti di tepi jalan itu.
"Pak, Bu, ini ada apa?" ucap Jenar setelah turun dari motor ojek online yang ia naiki.
"Mobil mogok Neng. Tidak bisa dinyalakan!"
Pandangan mata Jenar langsung tertuju kepada gadis kecil yang berdiri di sisi wanita paruh baya ini. "Adik ini mau berangkat ke sekolah ya Bu?"
"Iya Neng. Simbok ingin memesan ojek online, namun handphone Simbok handphone jadul jadi tidak bisa untuk memesan ojek online karena hanya bisa untuk telepon dan SMS saja. Sedangkan handphone pak sopir tertinggal di rumah."
Jenar hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan wanita paruh baya ini. "Memang sekolahnya di mana Bu?"
"Dekat sini Neng. Mungkin tinggal lima ratus meter lagi."
"Namaku Citra, Kakak."
"Ah Citra. Nama yang cantik. Kalau begitu Citra berangkat sama Kakak saja ya? Kakak antar sampai sekolah?"
Sekilas Citra melirik ke arah Darmi, seakan meminta persetujuan dari pengasuhnya itu.
"T-Tapi Neng...."
Darmi menggantung perkataannya karena merasa tidak enak hati jika ia menolak tawaran Jenar karena bagaimanapun juga Jenar merupakan orang asing.
Jenar mengulas sedikit senyumnya. Ia paham betul jika wanita ini belum bisa percaya sepenuhnya kepada orang asing yang baru saja ia temui. Jenar mengambil sesuatu dari saku seragam yang ia kenakan.
"Saya bukan penculik ataupun penjahat Bu. Saya berniat untuk mengantar adik cantik ini ke sekolah." Jenar mengulurkan id card ke arah Darmi. "Jika sampai saya berbuat jahat, Ibu bisa melaporkan saya ke pihak yang berwajib. Di dalam id card ini tertulis di mana tempat saya bekerja."
Sekilas, Darmi menatap lekat wajah Jenar. Ia merasa gadis di hadapannya ini merupakan gadis baik dan tidak ada tampang wajah-wajah penjahat. Namun sebagai langkah antisipasi, Darmi menerima id card yang diberikan oleh Jenar.
"Baiklah, Simbok percaya sama Neng. Tolong antarkan putri majikan saya sampai ke sekolah ya Neng!"
"Baik Bu." Jenar menoleh ke arah Citra yang terlihat masih dengan lekat menatap wajah gadis yang ada di hadapannya ini. "Ayo Cantik, Kakak antar ke sekolah. Sebelum terlambat."
Citra tersenyum lebar. "Ayo Kakak cantik. Mulai hari ini kita berteman ya?"
Jenar terkekeh kecil seraya mengusap kepala Citra yang rambutnya dikepang yang justru membuat gadis ini semakin terlihat begitu cantik. "Iya Cantik. Semoga kita bisa bertemu lagi ya."
Pada akhirnya, Jenar menggandeng tangan kecil Citra untuk ia ajak naik ke motor. Tak perlu menunggu waktu lama, sang driver memacu laju kendaraannya untuk bisa segera tiba di sekolah Citra.
πππππ
"Cukup sekian sambutan dari saya. Jika ada sesuatu yang ingin disampaikan atau ditanyakan, langsung ke kepala bagian masing-masing saja. Sekali lagi saya ucapkan selamat bergabung dan sukses selalu untuk kita semua!"
Plok... Plok... Plok...
__ADS_1
Riuh suara tepuk tangan yang menggema memenuhi ruang meeting pagi ini menjadi tanda berakhirnya Wisnu sebagai pimpinan PT WUW memberikan sambutan kepada para peserta magang yang akan mulai praktek di perusahaan yang ia pimpin. Setelah itu, seluruh yang hadir di tempat ini mulai membubarkan diri untuk segera menempati posisi masing-masing.
"Tuan, saya lihat sedari tadi Tuan celingak-celinguk seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu. Apakah Tuan sedang menunggu kedatangan seseorang?"
Bima memberanikan diri untuk bertanya kepada sang bos. Ia merasa ada sesuatu yang aneh yang terjadi terhadap bos nya pagi hari ini. Sejak tadi ia terlihat seperti seseorang yang dilanda oleh perasaan cemas.
"Bim, apakah siswa-siswa tadi sudah semuanya yang hadir?"
Bima segera melihat lembaran kertas yang ada di tangannya. "Belum Tuan. Masih ada satu yang belum hadir. Namanya Jenar Budhiani Candrakanti."
Wisnu hanya mengangguk pelan. Ternyata benar, dari sekian banyak orang yang hadir di ruangan ini, gadis yang pernah ia temui di acara talkshow beberapa waktu yang lalu memang tidak hadir.
"Hah, sudah hobi tidur, dan sekarang terlambat datang kemari. Apa tidak salah, dia menjadi lulusan siswa terbaik tahun ini?"
Meski lirih, namun suara Wisnu masih bisa terdengar di indera pendengaran Bima. "Siapa Tuan? Siswa terbaik siapa yang Tuan maksud?"
Wisnu tersentak. Tidak ia sangka jika Bima memiliki indera pendengaran yang tajam. "Eh, tidak-tidak. Sepertinya aku salah bicara Bim!"
"Tapi sepertinya Tuan tidak salah bicara. Memang yang Tuan maksud itu siapa?" cecar Bima ingin tahu.
Wisnu hanya tersenyum kikuk. Ia teramat malu jika sampai asistennya ini tahu bahwa yang menjadi bahan pembicaraannya adalah salah satu peserta magang di perusahaan ini.
"Sudahlah Bim, tidak perlu dibahas lagi. Aku kembali ke ruanganku dulu. Setelah ini siapkan berkas-berkas yang akan aku bawa untuk bertemu dengan pak Johan."
"Baik Tuan!"
Wisnu melenggang pergi keluar dari ruangan ini. Namun baru beberapa langkah ia mengayunkan langkah kakinya, terdengar sedikit keributan di area loby depan.
"Tapi saya ini salah satu peserta magang di perusahaan ini Pak. Kalau Bapak tidak percaya, silakan hubungi pihak sekolah tempat saya berasal. Tolong izinkan saya masuk Pak."
"Maaf Mbak, kami tidak bisa mengizinkan Mbak ini masuk karena Anda tidak bisa menunjukkan id card yang sudah diberikan ke masing-masing sekolah. Jadi silakan Mbak kembali ke rumah saja. Terlebih Anda juga sudah sangat terlambat, jadi lebih baik Anda pulang."
"Pak, bukan maksud saya untuk tidak membawa id card. Namun tadi saya pakai sebagai jaminan untuk menolong seorang anak yang akan berangkat ke sekolah. Tolong biarkan saya masuk Pak. Terserah, saya bersedia dihukum apa saja, asalkan bisa masuk."
"T-Tapi Anda tidak bisa...."
"Tunggu!"
Ucapan Kahar yang tak lain adalah security perusahaan ini terpangkas kala mendengar suara seseorang. Suara itulah yang sontak membuat Jenar dan Kahar menoleh ke arah sumber suara.
"Pak Wisnu!"
Sedangkan Jenar, ia hanya bisa membelalakkan mata kala melihat siapa gerangan yang datang. Tiba-tiba nyalinya sedikit menciut kala lelaki yang menjadi korban fitnahan dirinya itu semakin mendekat.
"Ada apa ini Pak?" tanya Wisnu dengan gestur yang tegas dan begitu berwibawa.
"Ini Pak, ada salah satu peserta magang yang terlambat dan yang lebih parahnya lagi, dia tidak dapat menunjukkan id card yang seharusnya ia bawa."
Wisnu menoleh ke arah Jenar. Ia tatap lekat tubuh gadis yang saat ini tengah menunduk itu. Senyum tipis terbit di bibir duda berusia empat puluh tahun itu.
"Anda benar peserta magang di perusahaan ini?"
"I-iya Pak, benar."
"Tapi mengapa Anda tidak dapat menunjukkan id card yang sudah kami kirimkan ke sekolah Anda?"
"Anu itu tadi saya itu eee...."
"Ikut ke ruangan saya. Bisa Anda jelaskan di sana!" ucap Wisnu penuh penekanan seraya melenggang pergi.
Mati kau Jen. Siap-siap kamu didepak dari PT ini. Terlebih pimpinan perusahaan ini memiliki dendam pribadi kepadamu karena sudah kamu fitnah habis-habisan. Setelah ini kamu pasti akan gagal magang di perusahaan ini. Huh,, Dasar Jenar, ada saja kekonyolan yang kamu lakukan!! monolog Jenar di dalam hati.
Pada akhirnya, Jenar mengekor di belakang punggung Wisnu. Menuju ke ruangan yang ia anggap akan menjadi ruang eksekusi untuk kesalahan yang telah ia lakukan. Ia berjalan gontai seakan berpasrah akan garis hidup apa yang sudah dituliskan untuknya.
.
.
πππππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
__ADS_1
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca