
Selamat Membaca πππ
Wisnu kembali tersenyum manis. Diusapnya kembali pipi Jenar dengan lembut dan dari jarak yang terlampau tipis. "Saya sudah jatuh hati kepadamu sejak pertama kali kita bertemu Jen. Meski begitu, saya berjanji tidak akan pernah merusakmu. Dan, jika memang saat ini kamu menginginkan untuk berciuman denganku, mari kita menikah terlebih dahulu. Setelah itu baru kita melakukan itu. Bagaimana? Kamu setuju?"
"Loh, kok malah jadi seperti ini?"
Mendadak hati Jenar dipenuhi oleh rasa kikuk setengah mati. Ia yang bermaksud mencurahkan segala keresahan dalam hati karena perselingkuhan sang kekasih, kini justru mendapatkan sebuah penawaran yang bisa saja membuatnya lupa diri. Lupa siapa dia dan siapa lelaki yang berada di hadapannya ini. Yang sepertinya tidak pantas untuk dimiliki.
"Saya rasa tidak ada yang salah. Karena engkau adalah wanita dan saya lelaki dan perasaan saya mengatakan saya telah jatuh hati kepadamu. Bagaimana? Apakah kamu bersedia untuk menjadi istri saya?"
Bibir Jenar semakin terkatup diiringi oleh keadaan hati yang kian gugup. Jantung berdegup. Udara di ruangan ini seakan sukar untuk ia hirup dan seketika memunculkan kelopak-kelopak asmara yang masih kuncup. Bahkan untuk sekedar mengeluarkan kata penolakan pun ia tidak sanggup.
"Jika memang ucapan Bapak itu serius dan tidak main-main, silakan langsung bertemu dengan ayah dan bunda saya. Bapak bisa meminta saya secara langsung di hadapan mereka."
Entah mengapa niat Wisnu yang seserius itu masih dianggap sekedar candaan oleh Jenar. Oleh karenanya, ia menantang Wisnu untuk datang melamar. Jenar berpikir Wisnu akan mundur seketika, namun ternyata ekspektasi gadis itu salah besar. Raut wajah Wisnu justru nampak jauh lebih bersinar. Seakan begitu bersemangat untuk segera melamar.
"Kamu sungguh menginginkanku untuk segera melamarmu?"
Seakan kian menantang keberanian dan keseriusan Wisnu, Jenar menganggukkan kepala mantap. "Iya, saya serius. Bukankah akan lebih baik jika segera diikat oleh ikatan resmi? Sehingga bisa menjauhkan diri kita dari segala fitnah?"
"Baik, saya akan langsung melamarmu di depan kedua orang tuamu. Bukankah saat ini mereka ada di kota ini? Itu artinya malam ini saya bisa langsung untuk melamarmu bukan?"
Kedua bola mata Jenar terbelalak dan membulat sempurna. Mulutnya menganga lebar saking terkejutnya. Ia tidak menyangka jika Wisnu memang serius dengan semua perkataannya.
"B-Bapak bercanda kan?"
"Astaga Jenar. Kamu tahu berapa usia saya sekarang?"
Jenar menganggukkan kepala. "Empat puluh tahun!"
"Usia empat puluh tahun sudah bukan lagi waktunya untuk bercanda dan bermain-main, Jen. Saya serius ingin menikahimu. Tapi sebentar, atau apakah kamu yang justru merasa malu karena menikah dengan lelaki tua berusia empat puluh tahun?"
Jenar terhenyak, bahkan di matanya usia Wisnu tidaklah menjadi persoalan karena sejatinya wajah Wisnu nampak jauh lebih muda. "Eh, bukan seperti itu Pak. Saya...."
"Fiks, bisa saya simpulkan bahwa kamu bersedia untuk menjadi istriku. Baiklah, mari saya antar kamu pulang dan akan saya lamar kamu di hadapan orang tuamu."
Ya Tuhan, secepat dan semudah ini Engkau memberiku seorang pengganti? Sungguh, ini seperti gurauan semata Tuhan. Dengan enteng pak Wisnu menawarkan kebahagiaan itu, seakan tidak perlu untuk berpikir ulang. Apakah aku termasuk orang tamak dan serakah jika saat ini aku bersedia menerima kehadiran pak Wisnu?
__ADS_1
Jenar masih saja diam di posisi wuenaknya. Hanya bisa memandang seraut wajah tampan sang pimpinan dalam keheningan yang seakan kian menyeretnya ke dalam pusaran perasaan tak terbantahkan. Tidak dapat ia sangsikan jika saat ini dirinya telah terjerat akan pesona sang duda tampan.
Wisnu hanya bisa terkekeh geli menatap raut wajah sang gadis yang seperti dipenuhi oleh keterkejutan ini. Sampai-sampai Jenar tidak menyadari jika sedari tadi ia berada di atas tubuh seorang laki-laki yang menahan beban berat tubuh yang menindih.
"Jen, apakah kamu masih tetap ingin seperti ini? Berada di atas tubuh saya seperti sepasang suami-istri yang sedang bercinta?"
Lagi, tulang pipi Jenar membiaskan warna merah. Perkataan Wisnu berhasil membuatnya malu setengah mati dan juga terperangah. Karena terlalu nyaman, ia sampai tidak ingin beranjak ataupun berpindah. Namun, sadar akan posisinya yang mungkin membuat serba tidak nyaman pada akhirnya gadis itu bangkit dari posisinya.
"Saya pulang terlebih dahulu Pak."
"Mari saya antar!"
"Tidak perlu Pak. Saya naik ojek online."
"Tidak bisa Jen. Kamu calon istri saya. Dan mulai sekarang saya lah yang akan bertanggung jawab atasmu."
"Hah? Semudah itu?"
Wisnu menganggukkan kepala. "Ya, ini dunia halunya penulis cerita kita. Jadi semua bisa mudah semudah membalikkan telapak tangan. Hahahaha."
ππππ
Rukmana berjalan mondar-mandir layaknya setrikaan di teras rumah sembari menggigit-gigit kecil ujung jari telunjuknya. Pandangannya tiada henti mengedar ke arah jalanan depan, menantkan sosok seseorang yang tidak kunjung datang.
Rasa khawatir itu kian menyergap tatkala penunjuk waktu di ponselnya sudah menunjukkan pukul tujuh petang dan sampai sekarang sang putri semata wayang belum juga pulang. Yang seketika membuat hal-hal buruk terus berkeliaran di dalam angan. Pemerko*saan, penculikan, penodongan, dan perampokan seakan kian terbayang.
Tidak jauh berbeda dengan sang istri, Sutha lelaki paruh baya itu juga menampakkan raut wajah pias. Pesan yang tiada berbalas semakin membuat lelaki itu bertambah cemas. Dan ia pun juga hanya bisa duduk terdiam dengan kondisi tubuh yang sedikit lemas.
"Ayah juga tidak tahu Bun. Ayah sudah mengirim pesan ke Jenar namun hanya ceklis saja. Ponselnya tidak aktif."
"Aduh, ini bagaimana ya Yah? Padahal teman-teman Jenar sudah pulang semua. Atau apa kita susul saja ya Yah?"
Sutha nampak sedang mempertimbangkan apa yang diucapkan oleh sang istri. Namun sejenak kemudian, ia menggelengkan kepala. "Tidak perlu Bun. Coba kita tunggu sampai setengah jam ke depan ya. Jika memang Jenar tidak kunjung tiba, baru kita susul ke kantor Jenar."
Rukmana hanya bisa membuang nafas berat. Sejatinya ia ingin bersegera untuk menyusul Jenar di kantor, namun jika sang suami sudah memberikan keputusan seperti itu, bisa apa dia?
"Tante sama Om tidak perlu khawatir. Sebentar lagi Jenar pasti akan pulang kok."
Kekhawatiran Sutha dan Rukmana terpangkas ketika salah seorang teman Jenar melintas di teras. Kedua paruh baya itu gegas untuk menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Memang setiap hari Jenar selalu pulang malam ya?"
Kali ini Rukmana tidak bisa untuk tidak bertanya perihal keseharian Jenar kepada salah satu temannya.
"Hal yang wajar Om, Tante, jika Jenar pulang lebih lambat daripada yang lainnya karena ia memang memiliki tanggung jawab dan tugas yang jauh lebih besar. Dari kabar yang beredar, Jenar akan dijadikan kepala produksi di pabrik."
"Hah, serius kamu?"
Teman Jenar itu menganggukkan kepala. "Betul itu Tan. Jadi Tante sama Om tidak perlu terlalu cemas. Jenar pasti segera pulang dan pastinya diantar oleh ..."
Perkataan teman Jenar terjeda di saat deru suara mesin mobil memasuki halaman kontrakan. Semua yang ada di teras bersamaan mengedarkan pandangan mereka ke arah suara mesin itu. Sebuah mobil mewah berwarna hitam sukses berhenti di depan halaman. Tak selang lama, sepasang manusia itu keluar dari dalam sana.
"Ayah, Bunda, mengapa di luar? Nanti kedinginan loh."
Jenar mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
Hening, tidak ada satupun yang merespon pertanyaannya. Dahi Jenar seakan kian mengernyit dan mulai melihat apa yang sedang terjadi dengan ibu dan ayahnya ini yang sama sekali tidak merespon ucapannya.
Jenar justru dibuat bingung oleh ekspresi sang bunda yang hanya terbengong sembari menatap lekat lelaki yang ada di balik punggungnya ini.
"Bun? Bunda kenapa? Kok malah melamun?"
"Jen, apakah ini mimpi? Apakah lelaki yang ada di belakangmu ini adalah orang itu?"
"Memang siapa Bun?"
Bukan dijawab oleh Jenar namun justru Sutha yang melemparkan sebuah pertanyaan.
"Lelaki itu Yah, lelaki itu .... calon menantu idaman Bunda!"
.
.
πππππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
Salam Love, love, loveβ€β€β€
__ADS_1
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca