Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 64 : Bulu Mata


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘😘


Dengan hati-hati, Wisnu meletakkan tubuh Jenar di atas pembaringan. Setelah dirasa nyaman, duda itu menarik selimut untuk menutupi tubuh sang gadis sampai bagian leher dengan maksud agar rasa hangat juga menyelimuti tubuh gadis itu. Sejenak, Wisnu mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang sembari menatap lekat wajah cantik gadis berusia sembilan belas tahun ini.


"Aku benar-benar heran, dulu ketika ibumu mengandung, beliau mengonsumsi apa? Sampai bisa memiliki putri secantik kamu ini? Dua bola mata besar yang terbingkai indah dalam bulu mata lentik. Bibir dan hidung mungil, rasa-rasanya mbuatmu menjadi sosok perempuan yang paling cantik."


Wisnu hanya bisa bermonolog lirih dalam memuji keindahan dan kecantikan makhluk yang sedang terlelap ini. Inilah yang ia suka dari sosok Jenar, hatinya yang mulia seakan semakin memancarkan aura positif bagi siapa saja yang memandangnya. Tidak ada kata bosan kala menatap lekat wajah ayunya.


Dengkuran halus terdengar lirih, sebagai pertanda jika saat ini Jenar memang tengah lelap dan hanyut dalam mimpinya. Yang justru semakin membuat Wisnu seperti terhipnotis oleh kecantikan natural gadis ini. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja duda berusia empat puluh tahun ini mendekatkan wajahnya di wajah Jenar. Semakin lama semakin dekat dan....


"Aaaaaa .... apa yang Anda lakukan Pak?"


Bugghh!!! Auuhhhhh...


Jenar yang tengah terlelap tiba-tiba saja terusik oleh hembusan nafas lirih yang menerpa wajahnya dan harum aroma maskulin yang menusuk indera penciumannya. Jenar semakin terkejut saat membuka mata, ternyata nampak dengan jelas wajah Wisnu yang terasa lebih dekat. Tanpa pikir panjang, gadis itu mendorong tubuh Wisnu dengan membabibuta sehingga membuat lelaki itu terhempas di atas lantai, seketika.


"Pak, apa yang Anda lakukan? Bapak mau berbuat me*sum?"


Jenar berteriak kencang sembari menyenderkan punggungnya di headboard ranjang dan membungkus tubuhnya dengan sempurna. Sungguh, melihat wajah Wisnu yang hanya berjarak beberapa inchi dengan wajahnya, membuat gadis itu bergidik ngeri.


Sembari meringis, Wisnu mencoba bangkit dari posisinya. Sang duda pun hanya bisa mengusap-usap bokongnya seraya menahan sensasi rasa nyeri. Dan ia pun memilih untuk duduk di bangku kecil yang ada di depan meja rias.


"Astaga, rasa-rasanya kamu suka sekali mendorong tubuh saya Jen. Dulu saat pertama kita jumpa, kamu juga mendorong saya seperti ini. Hah, rasanya benar-benar.... luar biasa!"


"Salah pak Wisnu sendiri, mengapa tiba-tiba wajah pak Wisnu dekat dengan wajah saya? Apa coba yang akan pak Wisnu lakukan kalau tidak mau mencium saya?"


"Ya ampun Jen, pikiranmu sungguh teramat jauh. Saya tidak ada niatan untuk menciummu."


"Huh, awas saja ya Pak kalau Bapak berani mencuri ciuman pertama saya. Saya tidak akan segan-segan melaporkan Bapak ke KPAI, seperti yang dilakukan oleh pak Dodi."


Astaga, ini mengapa nama pak Dodi masuk lagi sih? Sepertinya saking seringnya melihat wajah pak Dodi yang memenuhi beranda-beranda media sosial, membuat penulis ini kesengsem terhadap beliau 😂😂

__ADS_1


Jenar sungguh tidak bisa membayangkan jika sampai Wisnu mencuri ciuman pertamanya. Karena, sejak dulu ia selalu berdoa, semoga seorang laki-laki yang mendapatkan ciuman pertamanya merupakan lelaki yang menjadi suaminya.


Tidak tertarik dengan KPAI dan nama pak Dodi, Wisnu hanya fokus terhadap salah satu perkataan Jenar. "Kamu mengatakan apa Jen? Mencuri ciuman pertama? Bukankah ciuman pertamamu sudah saya dapatkan?"


Mendengar jawaban Wisnu, sukses membuat Jenar yang sebelumnya begitu menggebu mendadak kicep. Aliran darahnya seakan berhenti seketika dan tubuhnya pun membeku.


Ya Allah, ternyata aku lupa bahwa ciuman pertamaku sudah dicuri oleh pak Wisnu. Eh, bukan dicuri, lebih tepatnya aku sendiri yang menyerahkannya gegara tidur seperti orang mati itu. Hah, aku semakin mati kutu. Mau ditaruh mana mukaku?


"Ah, lupakan perkara ciuman pertama itu. Saya tanya, maksud pak Wisnu apa tiba-tiba mendekatkan wajah Anda dengan wajah saya? Coba jelaskan sehingga saya tidak menjadi salah paham!"


Wisnu tergelak melihat raut wajah Jenar yang sudah memerah itu. Rupa-rupanya gadis itu menahan malu dan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengubah topik obrolan.


"Saya tidak bermaksud apa-apa Jen. Saya hanya ingin mengambil bulu matamu yang rontok. Tidak hanya satu tapi tiga."


Gegas, Jenar meraba-raba bagian bawah mata. Benar saja tiga helai bulu mata memang jatuh di sana.


"Benar bukan jika ada tiga helai bulu mata yang jatuh? Tadi saya memang berniat untuk mengambil bulu mata itu. Dan tidak ada niatan lain."


"Hehehehe, maafkan saya ya Pak. Saya memang telah salah menerka dan salah mengira. Siapapun pasti akan terkejut dibuatnya."


"Pak, mengapa saya berada di sini dan mengapa Bapak tidak mengantar saya pulang?" Jenar bermaksud untuk turun dari ranjang namun seketika dicegah oleh Wisnu.


"Tetaplah di sana Jen. Tidak perlu ke mana-mana."


"Hah, apa maksudnya Pak?"


"Ini sudah terlalu malam Jen. Dan sepertinya portal di kawasan kontrakanmu sudah ditutup, jadi malam ini silakan bermalam di sini saja."


"Tapi Pak..."


Wisnu beranjak dari posisi duduknya, bermaksud untuk kembali ke kamar pribadinya. "Istirahatlah Jen. Dan lanjutkan kembali tidurmu. Anggap saja ini rumahmu sendiri."


"Pastinya saya mau banget menganggap rumah ini seperti rumah sendiri. Siapa yang tidak mau coba menganggap rumah mewah ini sebagai rumah sendiri? Hihihi hihihi."

__ADS_1


Entah apa yang merasuki tubuh gadis itu. Ia menyapu pandangannya ke segala penjuru dengan tatapan takjub, seolah begitu menginginkan rumah ini. Dan tanpa sadar ia mengucapkan kata-kata itu. Meski lirih namun masih terdengar di telinga Wisnu. Sedangkan Wisnu yang masih berdiri di ambang pintu hanya bisa terkikik geli mendengar cicitan yang keluar dari bibir Jenar. Gadis itu nampak polos sekali.


Aku percaya jika kamulah yang kelak akan menjadi nyonya di rumah ini Jen. Dan itu artinya kamu juga akan memiliki rumah ini.


Wisnu menutup pintu kamar yang ditempati oleh Jenar dan gegas menuju kamar pribadinya.


Tak selang lama sepeninggalnya Wisnu, ponsel milik Jenar berdering, dan terlihat nama sang bunda di layar ponsel itu. Gegas, Jenar menggeser icon warna hijau yang ada di sana.


"Assalamu'alaikum Bunda!"


"Waalaikumsalam Jen. Belum tidur?"


"Ini lagi mau tidur Bunda."


"Oh, berarti Bunda ganggu kamu ya Sayang?"


"Tidak Bunda. Tapi ada apa kok tumben jam segini Bunda telepon? Biasanya kan selepas maghrib?"


"Ahahaha iya, Bunda lupa tadi selepas maghrib tidak menelponmu Sayang, maka dari itu Bunda sempatkan untuk menghubungimu, mumpung Bunda ingat."


"Hahaha Bunda ini ada-ada saja. Memang ada apa sih Bun? Kok sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan?"


"Nak, Bunda hanya ingin memberi kabar, tadi ayah Firman datang ke rumah, katanya minggu depan Firman berulang tahun"


"Oh seperti itu? Baik Bunda, besok ketika ulang tahun, Jenar siapkan kejutan untuk bang Firman."


"Ya sudah, Bunda hanya ingin memberi tahu itu saja Sayang. Kamu segera tidur ya. Mimpi indah putri Bunda. Pasang alarm agar tidak terlambat lagi. Assalamu'alaikum."


"Hahaha iya Bunda, iya. Waalaikumsalam."


.


.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2