
Selamat membacaπππ
Senja datang. Inilah saat-saat yang dinantikan oleh Jenar, Wisnu dan mungkin dinantikan juga oleh pasangan kawula muda yang memilih berburu keindahan langit senja di tepian pantai. Menikmati keindahan senja tenggelam yang merupakan surganya saat sang surya hendak berpamitan.
Jenar dan Wisnu berdiri di bibir pantai. Dari tempat mereka berdiri saat ini, terlihat jelas pemandangan siluet surya tenggelam yang begitu eksotis. Hal inilah yang menjadi alasan, mengapa pantai ini selalu ramai di sore hari. Sungguh, suasana yang terasa begitu romantis dan dramatis.
"Cantik ya Mas?" Jenar berujar masih dengan mode terpaku dengan kilauan warna oranye yang menghiasi langit sore ini.
Wisnu menyunggingkan senyumnya. "Iya cantik, seperti kamu Sayang!"
Jenar terkekeh pelan. "Dari tadi kamu itu gombal melulu Mas. Kemampuan gombal mu itu menurun dari siapa sih?"
Wisnu tertawa renyah sembari merotasikan dua bola matanya. "Emmmmm ... menurun dari siapa ya? Sepertinya tidak ada Sayang. Namun sebuah hal yang wajar jika sedang jatuh cinta, seorang laki-laki itu mendadak pandai menggombal."
Jenar mengerutkan kening seakan tidak percaya. "Masa sih Mas?"
"Betul Sayang. Dan sepertinya aku akan menggombalimu setiap hari."
"Hah, mengapa bisa seperti itu Mas?"
"Ya, karena setiap hari aku jatuh cinta kepadamu. Bahkan mungkin sampai tua nanti."
Jenar semakin tergelak, pastinya sembari memberikan cubitan kecil di perut sang suami. "Kamu ini ada-ada saja Mas!"
Wisnu menatap lekat netra milik Jenar dan menyapu pipi sang istri dengan jemarinya. "Aku sedang tidak menggombal Sayang. Yang aku katakan ini memang benar adanya. Kamu cantik, istriku."
Tidak ada ekspresi lain yang terlukis di bingkai wajah Jenar selain rona malu yang begitu kentara. Meski ia tersipu malu namun sama sekali tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. "Terimakasih banyak untuk pujiannya Mas. Kamu juga tampan."
Wisnu menoleh ke arah Jenar. Yang tadinya posisi mereka sama-sama menatap sang surya yang akan tenggelam, kini keduanya saling berhadapan. "Sayang?"
"Ya Mas?!"
"Tetaplah di sisiku. Dan jangan pernah pergi dari hidupku!"
Jenar tersenyum penuh arti sembari mengusap pipi Wisnu dengan lembut. "Kamu tidak perlu risau, aku akan selalu berada di sisimu Mas!"
Seketika Wisnu memeluk tubuh Jenar sembari mengusap punggungnya dengan lembut. Sungguh pelukan Jenar ini seperti menjadi candu untuknya. Ia selalu merasakan sebuah kehangatan yang mengaliri tubuhnya dengan posisi seperti ini. "Terima kasih, istriku!"
Jenar mengangguk diiringi dengan Wisnu yang mulai merenggangkan pelukannya. Ditatapnya kembali wajah Jenar dengan tatapan penuh cinta. Tangannya meraih dagu Jenar dan...
Cup ....
Sebuah kecupan Wisnu labuhkan di bibir sang istri tercinta. Ciuman yang semakin lama semakin dalam. Keduanya sama-sama merasakan kenikmatan dari bibir masing-masing yang seolah tidak ingin mengakhiri ciuman yang penuh candu itu. Ingin selalu mengecup dan mengecupnya lagi tiada berhenti. Mereka bahkan tidak peduli jika ada beberapa pasang mata yang melihat adegan mereka. Sungguh, bagi mereka saat ini, dunia hanya menjadi milik mereka berdua. Sedang yang lainnya, menyewa.
"Kamu adalah suatu anugerah terindah yang telah Tuhan berikan untukku. Hidup matiku akan aku gunakan untuk membahagiakan dan juga melindungi mu Sayang."
"Terima kasih banyak mas Wisnu."
__ADS_1
πππππ
"Sempurna!"
Sebuah tenda dome berdiri kokoh di sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari pantai. Tempat ini memang biasa digunakan oleh para pecinta alam yang memang memiliki hobi menikmati suasana alam dengan mengagendakan camping ke dalam daftar kegiatan mereka. Dengan mendirikan tenda seperti ini mereka bisa menghabiskan malam sembari menikmati betapa syahdunya suasana pantai di malam hari seperti ini.
Wisnu baru saja selesai mendirikan tenda. Malam ini adalah malam terakhir baginya dan sang istri dalam berbulan madu. Rencananya, esok hari mereka akan kembali ke rutinitas masing-masing.
"Sudah selesai Mas?"
Jenar menghampiri sang suami sambil membawa dua cup white coffee di tangannya.
Wisnu tersenyum manis. Ia menerima sebuah cup dari tangan Jenar kemudian ia lingkarkan lengannya di pinggang sang istri. Wisnu menghirup aroma kopi dari cup yang berada di tangannya yang membuat perasaan nyaman dan tenang menggelayutinya.
Ia arahkan pandangan matanya ke arah kening Jenar, kemudian ia kecup dengan lekat. "Aroma kopinya sungguh nikmat, sama seperti aroma tubuhmu, Sayang. Terimakasih istriku."
Jenar hanya bisa tersipu malu mendengar gombalan dari Wisnu. Nampaknya, ia sudah mulai terbiasa dengan gombalan-gombalan yang dilontarkan oleh suaminya ini. "Sama-sama Mas."
Wisnu merengkuh tubuh Jenar, membawanya duduk di hamparan pasir pantai yang berada di tempat ini. Dan mereka pun duduk berdampingan sembari melihat hamparan langit luas dan laut lepas yang terlihat begitu indah.
Bulan membulat sempurna. Ditemani ribuan kelip bintang dan semburat awan tipis seolah ikut meramaikan suasana. Suara deburan ombak yang memecah pantai seakan menambah kesyahduan bagi sepasang pengantin baru ini.
"Esok, kita sudah akan kembali ke rutinitas kita. Istriku ini ingin tetap berada di rumah atau ingin tetap di perusahaan?"
Wisnu menyeruput kopinya perlahan. Satu minggu ini, ia dan juga Jenar memang belum membahas kehidupan mereka setelah ini, mengingat setiap hari mereka hanya disibukkan dengan aktivitas di dalam kamar dan juga refreshing. Oleh karenanya, malam ini ia ingin mengajak sang istri untuk berdiskusi tentang apa yang akan mereka lakukan setelah ini.
Jenar tersenyum simpul. Ia hembuskan napasnya perlahan. "Seandainya aku memilih untuk tetap berada di perusahaan, apakah suamiku ini akan memberikan izin?"
Jenar tersenyum simpul. Ia usap dengan lembut bibir juga pipi sang suami. "Jika seperti itu, suamiku ini pasti sudah tahu jawabannya bukan?"
Dahi Wisnu mengernyit. "Jadi?"
"Aku memilih tetap di rumah untuk mengurus rumah tangga, Mas. Namun, selepas menjemput Citra, aku akan ke kantor untuk mengantarkanmu makan siang. Kita bisa makan siang sama-sama."
"Aahhhh ... manis sekali istriku ini."
Wisnu melingkarkan lengannya di pinggang Jenar, sedangkan Jenar menyandarkan kepalanya di bahu Wisnu. Mereka kembali menatap hamparan laut lepas. Yang mana ombak terlihat bergulung-gulung memecah batu karang. Layaknya sebuah kehidupan, dimana suka, duka, tangis, tawa datang silih berganti. Manusia diharapkan bisa mencontoh batu karang yang berdiri kokoh di tengah lautan. Meski banyak ujian kehidupan yang menghantam, ia masih bisa berdiri tegak bahkan ia bisa menentramkan amarah ombak dan gelombang ujian kehidupan itu.
"Sayang, apapun yang akan terjadi nanti, tetaplah berada di sisiku, jangan pernah tinggalkan aku."
Wisnu menggenggam erat telapak tangan Jenar sembari mengecup pucuk kepalanya dengan intens.
Jenar tersenyum simpul. "Seharusnya aku yang mengatakan kata-kata itu Mas."
Dahi Wisnu mengernyit. "Mengapa bisa begitu Sayang?"
Jenar menghela nafas panjang kemudian ia hembuskan. "Aku pernah diselingkuhi oleh mantan calon suamiku Mas. Terkadang kejadian seperti itu yang membuatku takut jika akan terulang kembali. Aku takut jika keindahan yang ditawarkan di luar sana bisa membuatmu goyah Mas. Mengingat banyak kekurangan yang mungkin ada di dalam diriku ini."
Jenar menundukkan wajahnya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Hingga titik-titik air itu pun kembali berkumpul di pelupuk mata.
__ADS_1
Wisnu mengarahkan tubuhnya menghadap ke arah Jenar. Ia raih dagu sang istri kemudian ia kecup dengan lekat. "Sayang, mantan calon suamimu boleh saja berhianat dan meninggalkanmu, namun aku pastikan suami sah mu ini akan senantiasa setia hanya kepadamu seorang. Aku pastikan itu Sayang. Dan apakah kamu tahu Sayang?"
Jenar menatap penuh tanya wajah suaminya ini. "Apa Mas?"
"Semua keindahan yang aku inginkan sudah ada di depan mataku. Dan aku tidak akan pernah mencari keindahan lain yang berada di luar sana. Karena bagaimanapun jua, hanya keberadaanmu yang bisa mengalihkan duniaku."
Jenar hanya terdiam dan terpaku. Namun, tetes-tetes embun yang menetes dari kedua matanya itu semakin menyiratkan bahwa ia teramat bersyukur mejadi istri Wisnu.
Wisnu kembali tersenyum. "Kamu adalah anugerah terindah dan terbesar yang telah Tuhan berikan untukku Sayang, dan itu harus selalu aku syukuri. Dan caraku bersyukur atas itu semua adalah dengan selalu menjagamu baik lahir maupun batinmu. Berupaya semampuku untuk tidak akan pernah menyakitimu."
Bertambah deras sudah air mata Jenar yang mengalir. Ia menghambur ke pelukan Wisnu. Ia peluk dengan erat tubuh lelaki yang kini menjadi suaminya itu. "Terimakasih banyak Mas. Terimakasih."
Wisnu mengusap punggung Jenar dengan lembut. Ia sedikit mengurai pelukannya. Ditatapnya dengan intens wajah sang istri, kemudian ia seka air mata yang membasahi pipi.
"Sayang, aku juga minta bantuanmu. Bantu aku untuk menjalankan peranku sebagai seorang suami di dalam rumah tangg kita. Kamu pasti paham bukan, jika tanggungjawab seorang suami itu sangatlah berat? Oleh karena itu aku minta, bantu aku agar kita bisa sama-sama meraih surga melalui rumah tangga yang kita bangun ini. Sehingga di kehidupan yang kekal nanti kita bisa dikumpulkan kembali."
Jenar mengangguk. Apalagi yang bisa membuat seorang istri bahagia selain nantinya bisa kembali dikumpulkan dengan orang-orang yang ia cinta di dalam surga. "Pasti, Mas. Aku akan terus berada di sisimu untuk menjalankan peranku. Semoga Tuhan selalu meridhoi apa yang menjadi tujuan kita Mas."
"Aamiin Sayang." Wisnu menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan pelan. "Sayang, kita istirahat yuk. Entah mengapa aku tiba-tiba merasa ngantuk."
"Iya Mas. Ayo kita tidur."
Mereka bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk bokong mereka untuk berusaha menghilangkan pasir yang menempel di sana. Tanpa basa-basi, Wisnu kembali membopong tubuh Jenar untuk memasuki tenda.
Perlahan, Wisnu merebahkan tubuh Jenar di atas hamparan pasir pantai yang sudah diberi alas tikar. Ia kemudian mengambil posisi berbaring di sisi sang istri. Wisnu kembali memeluk tubuh Jenar dengan erat. "Jangan pernah lepaskan dekapanku ini, Sayang. Aku membutuhkanmu!"
Jenar tersenyum di dalam pelukan Wisnu "Aku berjanji Mas. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Wisnu melerai pelukannya. Ia tatap lekat netra sang istri dengan sorot mata cinta yang begitu kentara. Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Jenar dan kemudian mulai mencium bibir tipis sang istri dengan lembut.
Bibir keduanya saling berpagut, seolah tidak ingin terlepas. Sebuah ciuman yang begitu intim, namun hanya sebatas itu saja. Mereka tidak berkeinginan melakukan hal yang lebih dari itu.
Jenar melepaskan pagutan bibirnya, ia kemudian mengusap bibir Wisnu sembari tersenyum. "Tidurlah Mas, mimpi yang indah ya."
Wisnu mengangguk. "Begitu juga kamu, Sayang."
Mereka berdua kembali saling mendekap. Seolah tidak ingin saling melepaskan. Entah apapun yang akan terjadi nanti, mereka percaya dengan saling mendekap seperti ini, sebesar apapun ujian yang menghampiri, akan dapat mereka lewati.
Dewi malam memancarkan cahayanya dengan lembut, seolah menjadi tanda jika ia juga ikut berbahagia menjadi saksi cinta yang begitu suci antara dua orang manusia di bawah sebuah ikatan pernikahan seperti ini.
.
.
ππππππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
Salam Love, love, loveβ€β€β€
__ADS_1
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca