Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 85 : Mengutarakan


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘😘😘


Kedua bola mata Wisnu ikut terbelalak dan membulat sempurna. Tatkala mencoba untuk menggali ingatan perihal siapa sosok wanita yang berada di depan mata. Sosok wanita yang seakan tidak begitu asing di dalam ingatan dan ia yakini pernah bersua dengannya.


"Anda, Ibu yang saat itu ...."


"Ya, aku yang pernah menolongmu di tepi jalan saat itu."


Jawaban dari Rukmana berhasil menarik ingatan Wisnu sepenuhnya. Seorang wanita dengan motor matic yang saat itu mengantarkannya sampai ke acara talkshow di kala mobil yang ia kendarai mengalami kebocoran. Tiada ekspresi yang membingkai raut wajah duda berusia empat puluh tahun itu selain ekspresi penuh dengan rasa syukur dan pastinya penuh rasa bahagia. Ia tidak menyangka jika takdir yang menyapa akan terasa indah seperti ini. Ternyata, gadis yang berhasil membuatnya berhenti untuk mencari seseorang yang akan menjadi teman hidup merupakan putri dari wanita yang pernah menolongnya. Sungguh sebuah takdir yang tiada terduga.


"Ya Tuhan .... Ibu dan Bapak apa kabar?"


Dengan takdzim, Wisnu membungkukkan sedikit tubuhnya sembari meraih telapak tangan Sutha dan Rukmana. Ia mengecup punggung tangan kedua paruh baya itu secara bergantian.


"Alhamdulillah Ibu dan Bapak sehat, Nak."


"Saya minta maaf, karena pada saat itu saya belum sempat memberikan apa-apa sebagai ucapan rasa terima kasih dari saya."


Kalau kamu jadi menantuku saja bagaimana Nak? Sebagai ungkapan rasa terima kasihmu? Aku pasti akan bersyukur sekali.


Rukmana justru malah sibuk bermonolog dalam hati. Seandainya saja ia memiliki muka tembok, mungkin kalimat itu akan langsung keluar dari bibirnya. Meminta sang duda secara langsung untuk menjadi menantunya.


"Ah kamu ini Nak. Sudah, tidak perlu repot-repot membelikan apapun. Ibu ikhlas membantumu Nak."


Pada akhirnya, Rukmana kembali meraih kesadarannya. Ia merespon perkataan Wisnu yang seolah-olah begitu ikhlas dalam membantu. Padahal di dalam hati, ia sangat berharap bisa menjadikannya menantu.


Hahaha, dasar ibu-ibu bisa saja ya berbicara seperti itu. Di dalam lisan, ia mengatakan tidak perlu namun di dalam hati eh banyak mau. Termasuk si penulis haluπŸ˜…


"Bun, ini siapa? Mengapa Ayah sama sekali tidak ingat siapa orang ini?"


Ternyata, obrolan Wisnu dan Rukmana yang sudah ke sana kemari tidak lantas membuat Sutha ingat akan sosok lelaki yang mengantarkan pulang sang putri. Lelaki paruh baya itu masih terlihat berupaya keras untuk mengingatnya.


"Isshhh .... Ayah ini bagaimana? Ini adalah laki-laki yang pernah Bunda tolong ketika mengalami ban bocor dua bulan yang lalu Yah. Dia kan juga pernah Bunda ajak ke bengkel Ayah ketika Bunda mengantarkan makan siang. Ingat kan Yah?"

__ADS_1


"Aaaah ... iya Ayah ingat. Lelaki ini yang sampai membuat Bunda dan Jenar mengagumi ketampanannya kan? Bunda dan Jenar begitu intens membicarakan perihal lelaki ini di dalam kamar, sampai-sampai melupakan keberadaan Ayah?"


Sutha berhasil mengingatnya. Yang lebih ia ingat adalah dampak dari pertemuan antara istri dan anaknya dengan lelaki ini. Pada saat itu istri dan anaknya nampak begitu mengagumi ketampanan lelaki ini.


Kali ini, Jenar lah yang terhenyak. Bisa malu setengah mati dia jika sampai Wisnu mengetahui jika ia pernah begitu mengagumi.


"Pssssttt ... Ayah jangan keras-keras. Jenar malu tahu."


Jenar memberikan sebuah peringatan kepada sang ayah agar tidak terlalu mengeraskan volume suaranya. Bagaimana jadinya jika sampai Wisnu tahu bahwa diam-diam ia pernah memuji ketampanannya bersama sang ibu. Pasti sangat malu.


Aaahhh ... ternyata kamu diam-diam juga memujiku ya Jen? Sungguh manis sekali.


Wisnu mencuri pandang ke arah sang gadis yang nampak tersipu malu. Entah mengapa hanya dikagumi secara diam-diam oleh pujaan hatinya ini sudah sangat membahagiakan untuknya. Bahkan jauh lebih bahagia daripada mendapatkan peningkatan profit di perusahaannya. Ternyata memang benar kata orang bahwa jatuh cinta itu berjuta rasanya. Dan tidak ada yang memenuhi ruang-ruang hati sang duda selain kelopak-kelopak bahagia.


"Ini mengapa malah berdiri saja? Ayo, ayo kita duduk terlebih dahulu!"


Sadar kakinya sedikit pegal karena terlalu lama berdiri, pada akhirnya Rukmana mempersilakan Wisnu dan juga suaminya untuk duduk di beranda. Dua lelaki itu duduk saling berhadapan layaknya seorang laki-laki yang sedang menghadap calon mertua untuk meminang putrinya.


🍁🍁🍁🍁


Empat cangkir teh hangat tersaji di atas meja. Asapnya sedikit mengepul seakan menyapa untuk bisa segera disesapnya. Namun nampaknya harum perpaduan aroma daun teh dan bunga melati yang diseduh itu tidak bisa mengalihkan perhatian kumpulan orang-orang yang sedang larut dalam perbincangan. Mereka bercengkrama, menceritakan segala hal yang terdengar begitu mengasyikkan. Udara dingin yang menyelimuti atmosfer tempat ini seketika meluruh dan terganti oleh kehangatan yang memeluk tubuh.


Setelah berbincang-bincang berbagai hal, Wisnu memilih untuk langsung mengutarakan apa yang menjadi niatnya datang kemari selain mengantarkan Jenar pulang.


"Eh, ingin menyampaikan apa ya Nak? Ibu kok jadi deg-degan seperti ini? Rasanya seperti akan dilamar."


Ucapan Rukmana sukses membuat Sutha yang merupakan sang suami membelalakkan mata. Meski ucapan istrinya ini hanya sebuah canda, namun ia sedikit tidak terima. Ya bagaimana bisa diterima jika sang istri dilamar oleh seorang pria?


"Bunda .... mengapa Bunda mengatakan hal seperti itu? Bunda tidak ingat kalau ada Ayah di sini, hemmmmm?"


Rukmana hanya bisa tergelak lirih. Nampaknya suaminya ini telah salah dalam memahami.


"Ayah, maksud Bunda bukan seperti itu. Maksud Bunda itu, gestur nak Wisnu ini seperti seorang laki-laki yang akan melamar seorang gadis. Begitu Yah."


Wisnu hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ia edarkan pandangannya ke arah Wisnu. "Jadi selain mengantar putri saya pulang, ada tujuan apa lagi Nak?"

__ADS_1


Senyum manis terbit di bibir Wisnu. Sekilas, ia melirik ke arah Jenar dan gadis itu hanya mengangguk pelan. Seakan menjadi sebuah isyarat jika ia siap untuk dilamar oleh Wisnu saat ini juga.


"Yang diucapkan oleh Ibu Rukmana benar. Saya bertandang kemari karena ingin mengutarakan niat baik saya untuk melamar putri Bapak dan Ibu yaitu Jenar."


"Apa? Kamu mau melamar putri Ibu, Nak? Apa Ibu tidak salah dengar?"


Ekspresi keterkejutan yang ditampakkan oleh Rukmana ini sukses membuat orang-orang yang ada di beranda depan ini juga ikut terkejut setengah mati. Bahkan tubuh mereka sedikit berjingkat saking terkejutnya.


"Bunda, tenang. Jangan berlebihan seperti itu."


Sutha berujar untuk mengingatkan sang istri agar tidak terlalu heboh sendiri. Ia pun kembali menautkan pandangannya ke arah Wisnu.


"Apakah Nak Wisnu ini serius dan tidak main-main? Jika memang serius, sejak kapan kalian saling terikat sebuah perasaan? Padahal Jenar baru saja terluka karena perselingkuhan Firman?"


"Sejatinya, sudah sejak acara talkshow di sekolah Jenar kala itu saya merasakan hal lain terhadap putri Bapak. Dan ternyata Tuhan kembali mempertemukan kami di mana perusahaan saya lah yang menjadi tempatnya magang. Namun saya tetap memilih untuk menyimpan semuanya sendiri karena saya tahu bahwa Jenar sudah memiliki kekasih saat itu."


Wisnu menjeda ucapannya dan mencoba untuk menghirup napas dalam. Sedangkan Rukmana dan Sutha masih terlihat mendengarkannya dengan seksama.


"Nah, berhubung saat ini Jenar dalam keadaan sendiri dan tidak terikat hubungan dengan siapapun, maka dari itu saya bermaksud meminta Jenar untuk menjadi pendamping hidup saya di hadapan Bapak dan Ibu. Saya sadar bahwa usia saya tidak lagi muda. Oleh karena itu, saya tidak ingin bermain-main lagi. Saya ingin langsung melamar Jenar setelah itu menikahinya. Apakah Bapak dan Ibu memberikan restu?"


Rukmana dan Sutha saling melempar pandangan. Dari sorot mata mereka seakan berbicara bahwa tanpa berpikir matang-matang pun mereka merestuinya. Namun harus ada satu hal lagi yang harus mereka pastikan.


"Jen, jawaban yang akan Ayah dan Bunda berikan semuanya tergantung kamu. Jika kamu menerima kehadiran nak Wisnu, Ayah dan Bunda pun juga akan memberikan restu. Jadi, apa yang akan menjadi jawabanmu Nak?"


Jenar yang sedari tadi menundukkan wajah, kini sedikit ia tegakkan. Ia menatap wajah sang ayah dan sang bunda secara bergantian dan terakhir menatap wajah Wisnu dengan lekat. Sorot mata tajam namun terasa begitu teduh, yang berhasil membuat hatinya lumpuh. Bertekuk lutut di bawah naungan cinta yang tanpa sadar setiap hari bertumbuh. Meluruh ketika belaian cinta itu terasa begitu lembut menyentuh. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menyambutnya dengan hati yang juga utuh.


"Jenar menerima pinangan pak Wisnu, Yah, Bun. Jenar bersedia untuk menjadi istrinya!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2