
Tubuh tegap berbalut jas modern press body warna navy itu nampak berjalan menyusuri lorong-lorong kantor. Pandangan matanya tajam dan lurus ke depan seakan semakin mengeluarkan aura kewibawaan. Bagi kaum wanita yang kebetulan berpapasan pasti akan memunculkan angan untuk bisa berjalan bersisihan dengan pria itu sembari bergandengan tangan. Namun ada baiknya bagi kaum wanita yang berangan tinggi seperti itu segera mereka pupus karena jauh di dalam lubuk hati pria itu sudah terdapat satu nama yang telah tersimpan. Bersemayam memenuhi tunas-tunas perasaan.
Tertangkapnya Arya, membuat Wisnu harus memutar otak untuk mencari pengganti posisi kepala produksi. Sebuah posisi yang begitu penting akan keberhasilan dan kemajuan PT ini. Maka dari itu, Wisnu tidak bisa sembarangan dalam mengamanahkan posisi itu. Terlebih dari kasus yang dilakukan oleh Arya, membuat duda berusia empat puluh tahun itu begitu was-was ketika akan mengangkat seseorang menjadi kepala bagian produksi.
Tidak hanya perihal kandidat yang akan menggantikan Arya saja yang terasa menjadi beban berat yang harus ia tanggung. Sejatinya ada satu hal yang membuat hatinya tidak tenang setiap hari karena sesuatu yang terasa begitu mengusik naluri.
"Tuan, saya perhatikan sedari tadi Tuan nampak kurang fokus. Apakah ada sesuatu yang sedang Tuan pikirkan?"
Tiba di ruangan Wisnu dan lelaki itu sudah duduk di atas kursi kebesarannya, Bima memberanikan diri untuk bertanya langsung perihal sikap sang bos yang nampak begitu berbeda. Pandangan bosnya ini seperti kosong dan menerawang. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
Diedarkannya pandangan Wisnu ke arah Bima sembari meraih secangkir cokelat panas yang sudah tersaji di atas meja. Ia hirup harum aroma biji cokelat itu dan ia sesap perlahan. Hingga kini sensasi rasa hangat yang bercampur dengan rileks mengalir memenuhi kerongkongannya.
"Bim, menurutmu apakah acara lamaran Jenar berjalan dengan lancar?"
Bibir Bima yang sebelumnya terkatup, kini menganga lebar. Sebagai ekspresi seseorang yang tengah terkejut. "Lamaran? Jenar lamaran? Memang kapan Tuan?"
"Beberapa hari yang lalu, Jenar mengatakan bahwa kemarin merupakan hari ulang tahun kekasihnya. Nah, pada saat itu kedua orang tua Jenar dan Firman juga datang kemari. Jenar bercerita jika akan membahas perihal hubungan mereka ke arah lebih serius lagi."
"Oh seperti itu? Perkara lancar atau tidak lancar saya sendiri kurang tahu, Tuan. Memang ada hubungan apa perihal acara lamaran itu dengan Tuan sendiri?"
Wisnu terhenyak di saat pertanyaan itu terlontar dari bibir Bima. Hampir saja ia tersedak namun beruntung bisa ia kendalikan. Ucapan Bima ini seakan membuat hatinya tertohok karena sejatinya perihal lamaran itu tidak ada hubungannya sama sekali dengannya.
"Ah, bukan seperti itu maksudku Bim. Jika memang acara ity berjalan lancar, aku juga turut berbahagia. Aku ikut merasa senang jika Jenar senang."
Bima mencoba menelisik raut wajah Wisnu lebih dalam lagi. Ia ingin melihat, ada kebohongan apa yang tersirat di balik kedua bola mata bos nya ini. "Yakin, Tuan ikut bahagia ketika acara lamaran Jenar berjalan lancar?"
Wisnu terkesiap. Mendadak ia malah menjadi salah tingkah. "Y-ya memang seperti itu Bim. Aku turut bahagia ketika Jenar juga merasakan kebahagiaan."
"Sungguh? Apakah Tuan sungguh-sungguh merasakan hal itu?"
__ADS_1
Sebisa mungkin Wisnu menganggukkan kepala dengan mantap. "Iya Bim, apa yang aku katakan itu memang sungguh-sungguh."
Bima hanya tergelak mendengar jawaban dari Wisnu. Karena pada kenyataannya anatara ucapan dan ekspresi wajah pimpinan perusahaan itu nampak bertolak belakang. Bima bangkit dari posisi duduknya dan bermaksud untuk kembali ke ruang kerjanya.
Ia mengayunkan tungkai untuk bersegera meninggalkan ruangan Wisnu. Namun ketika tangannya hampir meraih kenop pintu, sejenak ia hentikan langkah kakinya itu. "Lebih baik Tuan sarapan pagi terlebih dahulu, karena berpura-pura bahagia ketika melihat seseorang yang kita cinta bahagia bersama lelaki lain itu memerlukan banyak tenaga. Namun saya berdoa untuk Tuan, semoga acara lamaran Jenar berantakan, dengan begitu Tuan bisa segera mempersuntingnya."
Ceklek.... Wusssss....
Dengan langkah kaki seribu, Bima segera berlalu untuk keluar meninggalkan ruangan Wisnu. Ia takut jika bos nya ini naik pitam karena karena telah ia ejek habis-habisan. Namun sepertinya Wisnu tidak marah sama sekali karena pada kenyataannya pria itu senyum-senyum sendiri.
"Kali ini, bolehkah aku mengaamiinkan doa yang dipanjatkan oleh Bima, Tuhan? Berdoa semoga acara lamaran Jenar berantakan?"
🍁🍁🍁🍁🍁
Bughhhh...
"Awwwhhhhhh ..."
"Pak Wisnu?!"
Pekikan nyaring terdengar jelas di kedai Thai tea siang hari ini. Wisnu yang baru saja berbalik badan dengan membawa dua cup Thai tea varian matcha, terkejut seketika tatkala tubuhnya menubruk sosok gadis yang sepertinya tidak begitu fokus dengan keadaan sekelilingnya hingga membuat tubrukan itu tidak dapat terelakkan lagi. Beruntung dua cup Thai tea yang ia bawa tidak sampai tumpah.
"Mau beli Thai tea?" Wisnu bertanya untuk membuka obrolan dengan gadis ini.
Jenar menggelengkan kepala. "Tidak Pak. Saya ingin mencari es oyen."
Jawaban Jenar sukses membuat pimpinan perusahaan itu terperangah dan terbengong. "Es Oyen? Tapi mengapa kamu masuk ke sini Jen?"
"Loh memang salahnya di mana Pak? Saya memasuki kedai es Oyen kok."
__ADS_1
Wisnu menunjuk ke arah daftar menu yang terpampang di atas meja kasir. "Lihatlah, tidak ada menu es Oyen di sini. Karena di sini kedai Thai tea."
Jenar mengedarkan pandangan ke arah telunjuk Wisnu. Kini giliran ia yang terperangah. "Astaga, ternyata aku salah tempat."
Jenar menggeser tubuhnya bermaksud untuk segera meninggalkan kedai ini. Namun buru-buru dicegah oleh Wisnu. "Hei, mau ke mana kamu Jen?"
"Mau beli es oyen Pak."
"Sudah, sudah, beli es oyen nya dipending dulu saja." Wisnu mengulurkan satu cup Thai tea ke arah Jenar. "Nah, ini untukmu. Aku memang sengaja membelikanmu."
"Untuk saya?" Jenar mencoba untuk memastikan sekali lagi.
"Iya Jen, untkmu."
"Kok tumben pak Wisnu membelikan saya Thai tea? Biasanya kan tidak pernah?"
Wisnu hanya tergelak mendengar celotehan Jenar ini. "Apakah kamu hilang ingatan Jen? Bukankah setiap siang saya mengirimimu aneka minuman? Mulai dari Thai tea, bobba, es doger, es oyen dan es, es lainnya?"
Jenar hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tiada gatal karena seketika lupa atas hal-hal yang pernah dilakukan oleh atasannya ini. "Ah, saya minta maaf Pak. Saya benar-benar lupa."
"Ckckckck ... karena sekarang sudah resmi dilamar oleh Firman membuatmu lupa akan apa yang pernah saya berikan untukmu kah?"
Jenar yang sebelumnya menundukkan wajahnya, kini sedikit ia tegakkan. Dan netranya pun bersirobok dengan netra Wisnu. Mendengar nama Firman disebut membuat suasana hati Jenar kembali kacau. Ada sesuatu yang merembet naik melalui aliran darahnya hingga membuat jantungnya berdenyut ngilu. Dan pada akhirnya membuat matanya memanas, mengumpulkan titik-titik bening di pelupuk mata dan membuat hidung mungilnya kembang kempis. Tanpa menunggu waktu lama, titik-titik air itu meleleh seketika.
Melihat Jenar meneteskan air mata membuat Wisnu terkejut setengah mati. "Jen? Ada apa denganmu?"
.
.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁