Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 16 : Ujian Akhir


__ADS_3


"Ayah, Bunda ... Jenar mohon doa restu. Hari ini Jenar ujian akhir, doakan Jenar agar selalu mendapatkan kelancaran dan kemudahan ya."


Mengenakan seragam putih abu-abu, Jenar berdiri di ambang pintu. Menunduk takzim seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Meminta doa kepada dua orang yang paling berarti dalam hidupnya yang ia yakini setiap untaian harap yang mereka unjukkan kepada sang Pencipta akan senantiasa dikabulkan.


Dipeluknya dengan erat tubuh Jenar yang ada di hadapannya ini. Entah mengapa keadaan seperti ini membuat sepasang orang tua itu diselimuti oleh atmosfer keharuan yang begitu terasa menyeruak di dalam dada. Tidak terasa sudah sembilan belas tahun, mereka berada di sisi sang putri. Membesarkan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Mendekap erat tubuhnya dengan cinta dan kasih sayang dan melindungi jiwa anak gadisnya ini dari berbagai macam tajamnya kerikil-kerikil kehidupan. Dan sebentar lagi, mereka akan melepaskan sang anak untuk menghadapi apa itu kehidupan yang sesungguhnya. Di mana ia tak akan lagi bisa selalu berada di sisinya.


"Doa Bunda tidak akan pernah berhenti untukmu Sayang. Bunda doakan kamu mendapatkan nilai yang baik. Dan nilai itulah yang akan memberikan kemudahan bagimu untuk menggapai apa yang menjadi cita-citamu."


Rukmana mengurai pelukannya dari tubuh Jenar. Dipegangnya pundak sang anak dengan kuat seakan mentransfer sebuah energi agar putrinya ini senantiasa bersemangat. Wanita itu tersenyum simpul melihat sang putri yang tumbuh semakin dewasa ini. Padahal ia merasa baru kemarin ia menimang putrinya ini di dalam gendongan.


"Terima kasih Bunda."


"Doa Ayah juga tidak akan pernah putus untukmu, Sayang. Semoga hari ini dan selama satu minggu ke depan, Tuhan senantiasa memberikanmu kemudahan dan kelancaran. Apapun hasilnya nanti, kamu tetaplah putri Ayah yang paling hebat."


Tidak jauh berbeda dengan sang istri, Sutha juga turut mendoakan Jenar. Doa tulus yang terlisan dari bibirnya yang ia yakini bisa membuka jalan kebahagiaan bagi Jenar sendiri. Bukankah doa orang tua untuk sang anak merupakan doa yang paling mustajab? Dan Sutha berpegang teguh akan hal itu. Dan, apapun nanti hasil akhirnya, anak gadisnya ini akan tetap menjadi anak terhebat yang ia miliki.


Tak kuasa menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyapa, Jenar hanya bisa kembali memeluk erat tubuh kedua orang tuanya ini. Di sela pelukannya, ia teramat bersyukur kepada Tuhan karena telah ditakdirkan menjadi putri dari kedua orang tuanya ini. Meski secara materi kehidupannya hanya sederhana, namun ia sama sekali tidak pernah merasakan kekurangan akan cinta, perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bahkan cinta dan kasih sayang itu berlebih, sehingga tidak ada yang ia rasakan selain perasaan bahagia kala berada di tengah-tengah keluarganya ini.


"Terima kasih Ayah, terima kasih Bunda. Jenar sayang kalian semua!"


"Kami juga Sayang!"


Diurai kembali pelukan Sutha dan Rukmana di tubuh Jenar. Keduanya bergantian mengecup kening putrinya ini lekat-lekat sebagai isyarat betapa besarnya kasih sayang yang mereka miliki untuk putrinya ini.


"Ya sudah, berangkat gih sama Ayah. Ini hari kamu ujian, jangan sampai telat lho ya. Dan ini Bunda bawakan bekal untuk kamu Jen!" ucap Rukmana sembari menyodorkan tote bag kecil ke arah sang anak.


"Ini apa Bunda?" tanya Jenar sedikit keheranan karena tidak biasanya sang Bunda membawakannya bekal.


"Itu roti canai dan juga sandwich, Jen. Bunda bawakan beberapa potong, bisa kamu bagikan ke Nania dan juga Anki. Mereka pasti senang karena roti canai dan sandwich ini juga merupakan makanan kesukaan mereka."

__ADS_1


Jenar hanya terkekeh lirih. Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh sang bunda. Ia juga begitu dekat dengan Nania dan Anki, sampai-sampai apa yang menjadi kesukaan dua sahabatnya ini juga tidak luput dari pengamatan sang bunda.


"Baiklah, nanti akan Jenar bagi dengan mereka. Mereka pasti senang sekali Bunda." Jenar merapikan sedikit rambutnya. "Ya sudah, Jenar berangkat dulu ya Bun."


Rukmana hanya menganggukkan kepala seraya memberikan sebuah kecupan lagi di kening sang anak. "Hati-hati di jalan ya Sayang. Dan semoga sukses ujian akhirnya!"


"Aamiin Bunda. Terima kasih!"


Sepasang kaki yang berbalut sepatu fantofel itu Jenar ayunkan untuk mendekat ke arah sang ayah yang sudah nangkring di atas motor Astra 800 nya. Ia ambil posisi untuk duduk di jok belakang dan bersiap untuk segera berangkat.


"Sudah siap?" tanya Sutha sembari menarik gasnya.


"Siap Ayah!"


"Bismillah... Berangkat!!"


Perlahan, motor yang dikendarai oleh Sutha melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman rumah. Tak selang lama, bayangan Ayah dan anak itupun tak lagi nampak di depan mata Rukmana.


🍁🍁🍁🍁


Semua nampak menundukkan kepala. Meresapi setiap kata yang diucapkan oleh seorang teman yang memimpin doa bersama ini. Doa-doa tulus yang dilangitkan agar Tuhan memberikan kemudahan dalam menghadapi masa-masa ujian ini. Beberapa orang nampak meneteskan air mata, kala kedua orang tua masing-masing dihadirkan dalam doa ini. Kedua orang tua yang selalu tulus dalam mencintai dan mengasihi anak-anak mereka yang sama sekali tidak pernah menginginkan apapun selain melihat putra-putri mereka menjadi orang yang berhasil di masa depan nanti. Inilah pijakan awal bagi mereka, di mana mereka akan bertanggung jawab atas kehidupan mereka masing-masing. Mereka yang sebelumnya senantiasa berada di dalam dekapa hangat pelukan orang tua, mungkin mulai esok setelah melewati fase ujian akhir ini, mereka akan jauh dari dekapan hangat sebuah keluarga dan akan memulai hidup mandiri.


Lima belas menit larut dalam kekhusyukan, pada akhirnya kegiatan ini diakhir dengan mengaamiinkan semua doa yang dipanjatkan. Apa yang didapatkan selama tiga tahun mengenyam pendidikan di sekolah ini, akan diuji selama satu minggu yang akan datang. Mereka hanya berharap semoga mendapatkan hasil yang maksimal.


"Hah, tidak terasa ya Jen, sebentar lagi kita akan berpisah. Rasa-rasanya aku tidak ingin berpisah jauh darimu."


Sembari membuka buku paket mata pelajaran yang akan diujikan hari ini, Nania mencoba mengungkapkan apa yang menjadi kegundahan hatinya. Rasa-rasanya begitu berat sebentar lagi akan berpisah dengan sahabatnya ini.


Jenar hanya bisa tersenyum simpul. Meski sebenarnya ia juga berat harus berpisah dengan Nania namun mau bagaimana lagi? Fase inilah yang harus ia lalui. Setiap ada pertemuan pasti akan diiringi dengan perpisahan.


"Kita masih bisa memberi kabar via handphone, Nan. Jadi, meski jarak kita jauh namun komunikasi kita akan berjalan terus."

__ADS_1


Nania hanya mengedikkan bahu. "Sepertinya diantara aku, kamu dan Anki, akulah yang mendapatkan tempat praktek paling jauh. Aku harus ke Jogja praktek di PT Demara dan entah kapan akan bisa bertemu dengan kalian lagi."


"Bukan kamu saja yang jauh Nan, aku juga harus ke Jakarta untuk praktek," sambung Anki yang juga tidak mau kalah.


"Isshhh... Tapi aku yang paling jauh An. Aku sampai tidak tahu bagaimana caranya untuk bertahan hidup di tanah perantauan," timpal Nania yang semakin menampakkan gurat-gurat kesedihan.


"Sudah, sudah, kenapa jadi melankolis seperti ini sih. Kita gunakan sisa waktu kebersamaan kita ini untuk happy-happy ya. Setidaknya setelah kita berpisah hanya ada kebahagiaan yang terkenang. Bagaimana?"


Usulan Jenar hanya membuat Anki dan Nania saling menautkan pandangan. Sorot mata keduanya seakan saling melempar pertanyaan akan maksud ucapan Jenar.


"Happy-happy? Maksud kamu happy-happy bagaimana Jen? Kita ini sedang berada di masa-masa ujian. Happy-happy seperti apa maksudmu?" Anki bertanya seakan begitu penasaran dengan usulan Jenar.


Jenar hanya tergelak lirih. Ia mengeluarkan amunisinya untuk menghadapi ujian akhir ini. Tak lupa, kartu peserta ujian pun ia masukkan ke dalam saku seragam. "Kata ayah, di saat-saat kita ujian seperti ini, kita harus banyak-banyak merefresh pikiran sehingga tidak stress. Nah kita bisa nih merefresh pikiran di taman kota."


"Kok di taman kota? Memang ada apa di sana Jen?"


"Ya kita jalan-jalan sore saja sambil jajan. Di sana banyak yang jualan cilok, cilor, seblak, batagor, siomay, es doger, es oyen dan banyak lagi. Bagaimana? Bagus kan ide dariku? Jadi disamping kita bisa merefresh pikiran, kita juga bisa melewati hari-hari terakhir kita dengan happy?"


"Iya, happy-happy sekaligus menghabiskan uang kan?" protes Nania pula.


"Hahahaha, tenang. Nanti aku traktir deh. Gimana?"


Anki dan Nania kembali saling melempar pandangan. Mendengar kata traktir sontak membuat kepala mereka mengangguk bersamaan. Ya, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi mereka selain mendapatkan gratisan.


Tak selang lama, bel masuk berdering. Semua yang berada di depan ruang ujian mulai bangkit dari posisi duduknya. Satu per satu mulai mengayunkan kaki untuk memasuki ruangan ini.


Jenar menatap ruangan ini dalam keheningan yang tercipta. Senyum simpul terbit di bibir gadis itu. Ia meraup udara dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan.


"Semangat Jenar! Kamu pasti bisa!" ucapnya lirih memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


.

__ADS_1


.


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2