Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 56 : Di Sudut Kafe


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘😘😘


Wisnu nampak begitu bersemangat melaksanakan agenda meeting yang diadakan bersama salah satu rekan bisnisnya. Biasanya, lelaki itu nampak ogah-ogahan dan menyerahkan semua kepada Bima. Namun siang ini, raut wajahnya nampak berbeda. Dari bingkai wajah lelaki itu nampak mengeluarkan binar bahagia yang begitu kentara.


"Jadi seperti itu ya Pak konsep awal mendirikan sebuah pabrik konveksi. Jika memang Bapak bersedia bekerja sama dengan perusahaan kami, dari awal berdirinya pabrik, akan kami pastikan semuanya berjalan sesuai konsep."


Rekan bisnis Wisnu itu nampak mengangguk-anggukkan kepala kala mendengar pemaparan dari lelaki yang merupakan pimpinan PT WUW ini. Dengan gaya komunikasi yang terdengar begitu menyakinkan, sudah dapat ditebak jika rekan bisnis Wisnu ini mau untuk diajak bekerja sama.


"Baiklah Pak Wisnu, saya tertarik bekerja sama dengan perusahaan Pak Wisnu. Saya harap, paling lambat enam bulan yang akan datang, kita bisa mulai untuk memulainya."


Wisnu mengulurkan tangannya. Dan seketika disambut oleh rekan bisnisnya ini. "Deal ya Pak!"


"Deal!"


Rekan bisnis Wisnu itu nampak kembali memasukkan barang bawaannya ke dalam tas. Tak selang lama, ia pun berpamitan untuk meninggalkan kafe ini. Dan kini hanya ada Wisnu dan sang asisten saja.


"Tuan, apakah hari ini Tuan tengah memenangkan permainan hago? Saya lihat sedari tadi Tuan senyum-senyum sendiri. Dan suasana hati Tuan seperti begitu happy?"


Bima tidak asal berbicara. Karena sejauh ia bekerja menjadi asisten Wisnu, baru kali ini ia melihat bosnya ini begitu bahagia. Sebelum rekan bisnisnya tiba, Wisnu sedari tadi nampak memperjalankan dengan lekat suasana taman dengan tatapan menerawang. Meski menerawang, namun sama sekali tidak bisa menyembunyikan keadaan hatinya yang tengah riang.


"Akhirnya, aku bisa memenuhi permintaan Citra, Bim. Aku berhasil mencarikan ibu settingan untuk datang ke acara tutup tahun."


Dahi Bima mengerut dalam. Sedikit tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Wisnu ini. "Ibu settingan? Settingan seperti apa maksud Tuan?"


"Ini permintaan Citra, Bim. Dia ingin membawa sosok seorang ibu kala menghadiri acara tutup tahun yang diadakan lusa. Maka dari itu, sejak beberapa hari yang lalu, Citra merengek minta dicarikan ibu settingan. Dan akhirnya hari ini aku berhasil menemukannya."


"Benarkah seperti itu Tuan? Lalu siapa wanita yang beruntung untuk menjadi ibu settingan bagi Citra? Saya rasa ia akan sangat bersyukur bisa hadir di tengah-tengah Anda dan juga Citra."


Wisnu hanya nampak tersenyum simpul. Apakah benar Jenar menjadi wanita beruntung karena terpilih menjadi ibu settingan untuk Citra? Ah, rasa-rasanya Bima terlalu berlebihan. Lagipula Bima juga belum tahu siapa wanita itu.


"Wanita itu Jenar, Bim. Jenar lah yang akan menjadi ibu settingan untuk Citra."

__ADS_1


Tanpa sedikitpun menghilangkan binar kebahagiaan yang terpancar di wajahnya, tatapan Wisnu masih nampak menerawang. Ia teringat bagaimana tadi gadis itu nampak malu-malu kala menyetujui apa yang menjadi permintaan Wisnu.


Ah, pikiranmu terlalu jauh Nu. Gadis itu bukan malu-malu namun terpojok karena sudah tidak ada kesempatan untuk menolak. Bukankah itu hukuman yang kamu berikan? Jadi bagi Jenar hanya sebatas keterpaksaan saja.


Jangan begitu. Setidaknya kita harus berbahagia melihat Wisnu saat ini. Bukankah ini kali pertama ia nampak begitu bahagia setelah beberapa waktu ia bersedih hati karena kehilangan oma dan mengetahui kebusukan Dira?


Batin Wisnu berperang. Antara menganggap Jenar memang bahagia karena terpilih menjadi ibu settingan untuk Citra ataukah hanya sebatas keterpaksaan saja sebagai upaya untuk menjalani hukuman atas keterlambatannya. Namun terlepas dari apapun alasannya, tidak dapat dipungkiri jika Wisnu teramat bahagia.


"Apa? Jadi wanita itu Jenar, Tuan? Apakah saya tidak salah mendengar?"


Wisnu menggelengkan kepala lirih. "Tidak Bim, kamu tidak salah dengar. Wanita itu memang Jenar."


"Ckckck ckckck ckckck... Jika memang wanita yang Tuan maksud adalah Jenar, maka perlu saya ralat ucapan saya ini Tuan."


Wisnu seketika terperangah dengan ucapan yang terlontar dari bibir Bima. Apa alasan asistennya ini harus meralat ucapannya.


"Meralat? Maksud kamu bagaimana Bim?"


Wisnu dibuat terkejut orang kata-kata Bima ini. Ia merasa jika sang asisten telah meledeknya. Gegas, ia mengepal selembar kertas kemudian ia lempar ke arah Bima.


"Awas kamu Bim, aku potong gaji kamu tujuh puluh persen!"


Bima yang masih terbahak seketika menghentikan tawanya. Ia yang sebelumnya begitu bangga telah me-roasting sang bos kini mendadak kicep dan memasang wajah sendu.


"Ampun Tuan. Jangan lakukan itu! Kebutuhan saya bulan depan banyak sekali, jadi jangan potong gaji saya ya."


Dengan wajah memelas, Bima meminta Wisnu untuk tidak memotong gajinya. Sedangkan Wisnu seperti berada di atas angin karena bisa menggoda Bima dengan potong gaji itu. Lelaki itu sedikit tergelak kala melihat ekspresi wajah sang asisten yang memelas ini.


Wisnu yang merasa begitu terhibur dengan ekspresi wajah Bima ini tiba-tiba menghentikan tawanya. Sorot mata lelaki itu tertuju ke sebuah objek yang berada di sudut kafe. Objek yang merupakan dua sosok manusia yang salah satu dari mereka begitu familiar di pandangan matanya.


"Bim, lihatlah lelaki yang duduk di pojokan itu!"


Wisnu bertitah tanpa melepas tatapannya dari objek yang ia lihat. Meski usia Wisnu saat ini sudah berkepala empat, namun lelaki itu masih memiliki tingkat penglihatan yang begitu baik. Ia dapat dengan jelas mengenal siapa gerangan seseorang yang ia lihat itu.

__ADS_1


Bima menggeser pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Wisnu. Dahinya sedikit mengernyit kala mencoba mengingat siapa lelaki itu. "Sepertinya saya tidak asing dengan lelaki itu Tuan. Namun siapa ya?"


"Bukankah itu Firman, Bim?"


"Firman? Firman siapa Tuan? Bahkan namanya pun juga tidak asing, namun saya tetap tidak bisa mengingatnya."


"Kekasih Jenar, Bim! Yang pernah kamu lihat di pabrik ketika ia mengantar Jenar."


Sejenak, Bima terlihat seperti seseorang yang mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu. Dan pada akhirnya... "Ah iya Tuan. Itu Firman, kekasih Jenar. Tapi mengapa ia pergi bersama wanita lain? Dan lihatlah Tuan, mereka terlihat sangat mesra sekali."


Wisnu membenarkan perkataan Bima. Firman dan seorang wanita yang menemaninya terlihat sangat mesra. Bahkan wanita itu nampak duduk di pangkuan Firman sembari mengalungkan lengan tangannya di leher sang lelaki.


"Cih, ternyata benar dugaanku. Dia seekor biawak yang telah mempermainkan Jenar. Jadi, ini alasan laki-laki itu sering mengingkari janji yang telah ia buat untuk menjemput Jenar."


"Lalu, apa yang akan Tuan lakukan saat ini? Apakah kita hampiri saja lelaki itu kemudian kita beri pelajaran Tuan?"


Bima, sosok lelaki yang juga begitu geram kala melihat seorang laki-laki yang telah memiliki pasangan berselingkuh di belakang pasangannya. Terlebih lagi yang diselingkuhi Firman adalah sosok gadis baik yang memiliki hati yang mulia seperti Jenar. Sungguh, ia langsung ingin menonjok wajah biawak sok kecakepan itu saat ini juga. Lebih-lebih saat menyaksikan bagaimana kemesraan lelaki itu bersama pasangan selingkuhannya. Hanya semakin membuat Bima naik darah saja.


Wisnu menggelengkan kepala. Meski menonjok wajah Firman saat ini merupakan salah satu pelajaran yang setimpal dengan apa yang dilakukannya, namun berperilaku layaknya seorang preman, pasti akan sangat merugikan bagi dirinya sendiri. Terlebih lagi saat ini ia sebagai salah seorang pemimpin perusahaan konveksi terbesar di kota ini, pastinya akan sangat merusak reputasi yang ia miliki. Jika sudah seperti akan banyak dampak buruk yang terjadi.


"Tidak Bim. Aku tidak akan memberikannya pelajaran apapun."


"Tapi Tuan, sayang sekali jika Tuan tidak menonjok wajah lelaki itu. Ini merupakan kesempatan emas untuk memberi pelajaran terhadap biawak Tuan!"


Tanpa berdebat lebih panjang lagi bersama Bima akan langkah apa yang akan ia lakukan, jemari Wisnu meraih ponsel yang tergeletak di samping tangannya.


"Mendekatlah ke arah lelaki itu Bim. Dan rekam adegan demi adegan yang mereka pertontonkan di ruang publik seperti ini!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2