
Selamat Membaca πππ
"Jadi benar kalau kak Wisnu akan menikah Wa?"
Krisna, asisten pribadi Dewa telah siap dengan koper yang ia bawa. Pagi ini, ia berencana akan ikut bersama Dewa untuk menghadiri acara pernikahan Wisnu. Bukan hanya Krisna saja, istri dan juga anaknya juga turut serta.
Dewa menyeruput kopi hitam yang dari aromanya saja sudah begitu menggugah selera. "Iya, aku sendiri juga terkejut karena tiba-tiba kak Wisnu memberi kabar seperti itu."
"Rupanya, kak Wisnu benar-benar tidak ingin terlalu lama menduda Wa. Jadi langsung bergerak cepat."
"Lelaki manapun pasti tidak akan kuat hidup sendiri Kris. Mungkin saja kuat hidup, tapi untuk tidur sendiri sepertinya tidak akan kuat. Hahahaha."
"Issshhh ... kamu ini."
Obrolan Krisna dan Dewa terpangkas kala derap langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke arah mereka. Terlihat, Mara menghampiri suami dan asisten suaminya itu.
"Mas, aku siapkan bekal untuk ke Bogor dulu ya. Agar kita tidak harus membeli makanan di luar."
"Loh, Nendra di mana Sayang?"
"Ada di kamar sama mbak Sekar dan juga Gendhis, Mas. Mending mas Dewa sama mas Krisna yang menjaga Nendra dan Gendhis. Jadi, aku dan mbak Sekar bisa mempersiapkan bekal untuk perjalanan kita nanti."
Sejenak, Dewa nampak menimbang-nimbang apa yang diucapkan oleh Mara. Dan pada akhirnya, ia mengangguk jua.
"Baiklah, biarkan aku dan Krisna yang menjaga mereka."
Dua papa muda itu bangkit dari posisi duduknya dan kemudian melenggang untuk menuju kamar di mana Nendra dan Gendhis berada. Sedangkan Mara, menuju dapur untuk menyiapkan bekal makanan yang akan ia bawa. Diusul oleh Sekar, yang bermaksud membantu istri dari Dewa itu.
Baby Nendra dan baby Gendhis terlihat berguling-guling di atas tempat tidur. Sesekali terdengar celotehan-celotehan kecil yang keluar dari bibir mungil dua bayi yang masih berusia enam dan tiga bulan itu yang rasanya menggemaskan.
"Wa, aku titip Gendhis sebentar ya. Perutku tiba-tiba mulas. Sesuatu yang ada di dalam sini sepertinya ingin keluar."
Sembari meringis dan memegangi perutnya, Krisna meminta pengertian Dewa, agar bosnya ini mengizinkannya untuk memenuhi segala tuntutan perut yang rasa-rasanya sudah tidak dapat ditahan lagi.
"Ah, kamu ini. Pasti itu hanya akal-akalanmu saja agar tidak ikut menjaga Gendhis."
"Bukan begitu Wa. Aku serius. Ini benar-benar sudah mau .... ahhhh...."
Tanpa berucap apapun, Krisna melenggang pergi meninggalkan Dewa yang masih berada di dalam mode terperangahnya. Lelaki itu kemudian menggiring manik matanya untuk melihat dengan lekat dua bayi yang ada di atas ranjang ini.
"Selamat pagi anak Papa yang tampan. Waaah, ternyata kamu begitu asyik kedatangan teman ya Nak. Jangan nakal ya Nak. Gendhis ini perempuan, sehingga wajib untuk kamu jaga."
Dua bayi itu seperti tidak menggubris perkataan Dewa. Karena keduanya nampak sedang berkomunikasi menggunakan bahasa mereka sendiri sembari menggerak-gerakkan tangan dan kaki masing-masing.
"Hmmmmm... ternyata Papa dicuekin. Bagaimana kalau Papa gendong kalian? Mau?"
Mendengar kata gendong, entah mengapa perhatian dua bayi itu langsung tertuju ke arah Dewa. Mereka menatap manik mata Dewa dengan lekat dan dari sorot mata mereka menyiratkan jika mereka menyetujui tawaran lelaki itu.
__ADS_1
Dewa tersenyum tipis. "Nah yang pertama Gendhis dulu ya, yang Papa gendong. Kakak, sebagai laki-laki harus mengalah ya. Kasihan Gendhis, karena dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya digendong oleh Papa berparas tampan seperti Papa ini."
Ya, begitulah Dewa. Sifat narsis lelaki yang dulu hidupnya begitu menyedihkan itu tetap saja tidak bisa hilang.
Dewa mencium pipi Gendhis. "Waah sudah harum ternyata. Kalau Om liat, wajah kamu ini didominasi oleh wajah Papamu Nak. Hahaha kasihan sekali ya bunda kamu, bunda kamu yang sudah susah payah mengandung, mengalami masa-masa ngidam, eh ternyata ketika kamu lahir wajahnya sama sekali tidak menurun di wajahmu. Ah... Papa kamu itu benar-benar serakah."
Dewa, Dewa, bisa-bisanya ia memprovokasi Krisna di depan putrinya sendiri. Tanpa ia sadari jika sebenarnya, ia juga tidak jauh berbeda dengan Krisna. Pada kenyataannya, wajah Nendra juga mirip sekali dengannya.
Dewa mulai menimang-nimang Gendhis, yang membuat sang bayi mengeluarkan celotehan-celotehan yang menjadi ciri khas seorang bayi.
"P... pa... pa... pa... "
Dahi Dewa mengernyit. "Nak, ini bukan Papa tapi pa-man!"
"P.... pa.... pa.... pa..."
"Astaga Nak, Pa-man bukan papa."
Gendhis semakin mengeraskan gelak tawanya. Ia juga nampak begitu antusias memanggil Dewa dengan papa. Sedangkan Dewa masih terlihat begitu bersemangat untuk mengajari Gendhis memanggilnya dengan kata paman.
"Paman, Nak. Pa-man."
"P...pa... pa...."
Dewa nampak kehabisan cara mengajari anak dari sahabatnya ini memanggil paman. "Ya sudahlah, terserah kamu saja, Nak."
Dewa menyerah. Ia kembali menimang-nimang Gendhis dan tiba-tiba...
Belum sempat Dewa mengecek sesuatu yang terasa empuk itu tiba-tiba ia merasakan bajunya basah. Dewa terkesiap, ia lihat pantat Gendhis, dan oh .... ternyata...
"Wah, ternyata kamu menggendong anakku? Sini biar gantian aku yang menggendong Gendhis, Wa."
Dewa masih terdiam dan mematung. Menikmati sensasi rasa basah dan sedikit hangat yang membasahi perutnya.
"Kris!" panggil Dewa masih sambil menggendong Gendhis.
Dahi Krisna sedikit mengerut. "Ada apa Wa? Sini, biar aku yang gantian menggendong Gendhis."
"Gendhis tidak kamu pakaikan diapers ya?"
Krisna mengangguk pelan. "Oh... itu benar Wa. Setiap pagi Sekar memang sengaja tidak memakaikan diapers ke Gendhis. Dia takut kulit Gendhis menjadi iritasi jika keseringan memakai diapers. Jadi hanya waktu malam saja Sekar memakaikannya. Memang ada apa sih Wa?"
"Lihat bajuku Kris!"
Krisna menurut. Ia melihat baju yang dipakai oleh Dewa. Matanya terbelalak penuh tatkala melihat kaos Dewa yang berwarna biru laut sudah bercampur dengan sedikit warna kuning dan terlihat basah.
Meski begitu terkejut namun Krisna tidak dapat menyembunyikan tawanya. "Ahhahaahaaa ... ternyata anakku pipis dan pup di dalam gendonganmu."
"Gila kamu Kris, bisa-bisanya menertawakan aku."
__ADS_1
Krisna berupaya untuk menghentikan tawa. Namun sepertinya sulit sekali. Karena ia merasa perutnya dikocok habis-habisan.
"Sini, sini Wa, biar aku yang mengganti pakaian Gendhis. Lebih baik, kamu segera membersihkan diri."
Dewa menyerahkan Gendhis kepada Krisna. Dengan cekatan Krisna membersihkan bekas pup Gendhis. dan mengganti celananya. Sedangkan Dewa, ia berusaha menghibur Nendra yang masih terlentang di atas kasur tanpa mandi terlebih dahulu.
Dahi Dewa kembali mengernyit tatkala melihat kasur yang di pakai oleh anaknya ini juga nampak basah.
"Ya ampun Sayang, kamu ikut-ikutan seperti Gendhis juga? Pipis?"
"P... pa...p...pa..."
Dewa tersenyum penuh arti mendengar celotehan putranya. "Nah pintar anak Papa. Ingat ya, ini Pa-pa bukan Ma-ma!"
Sedangkan Nendra hanya tergelak lirih.
"Karena kamu sudah benar memanggil Papa, sekarang akan Papa ganti celana kamu, oke?"
Perlahan Dewa mulai membuka celana Nendra. Saat ia mengangkat sedikit pantat sang anak bermaksud hendak membersihkan pantatnya dengan waslap yang direndam di dalam air hangat tiba-tiba....
Currrrr.....
Nendra kembali pipis dan wajah Dewa sedikit terkena pipis sang bayi. Sedangkan bayi itu sendiri kembali tergelak dan berceloteh manja.
"Astaga, Nak. Punya salah apa Papa sama kamu dan Gendhis? Mengapa hari ini kalian mengerjai Papa seperti ini?", ucap Dewa dengan nada memelas.
"Wa, lekas ganti baju kamu ini, nanti keburu masuk angin," titah Krisna yang sedikit prihatin akan apa yang menimpa Dewa dalam keadaan basah seperti ini.
Krisna yang keheranan karena tidak mendapatkan respon dari bosnya ini gegas menatap wajah Dewa.
"Wa ... kamu?"
"Nendra pipis di mukaku, Kris!"
"Ahahaha astaga .... sungguh kasihan kamu Wa. Maaf ya, kali ini aku harus terbahak-bahak melihat nasibmu ini."
Krisna terbahak melihat ekspresi wajah Dewa yang begitu memilukan itu. Sedangkan Nendra dan Gendhis juga terdengar tergelak, seperti ikut menertawakan Dewa. Dan akhirnya pagi ini, menjadi pagi yang begitu mengesankan bagi Dewa sendiri.
.
.
.
ππππππ
Masih sedikit tentang Dewa dan Krisna ya Kak. InshaAllah part berikutnya pernikahan Wi-Jen... ππππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
__ADS_1
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca