
Selamat Membaca... 😘😘😘
"Mama, mengapa Mama masih belum siap?"
Gadis kecil dengan gaun ala-ala princess berwarna biru muda itu melangkahkan kaki kecilnya untuk memasuki sebuah kamar. Kamar yang mana sang mama berada. Ia mendekat ke arah sang mama dan duduk didekatnya.
Jenar yang tengah berbaring di atas ranjang itu hanya bisa mengulas senyum yang ia miliki seraya menahan rasa lemas yang terasa membebat diri. Rasa-rasanya hari ini wanita itu malas sekali untuk turun dari ranjang.
"Sayang, acaranya masih nanti sore. Citra mengapa sudah berdandan cantik seperti ini? Memang siapa yang mendandani Sayang?"
Jenar mengerutkan kening kala melihat Citra yang sudah nampak begitu cantik di jam delapan pagi ini. Hari ini merupakan hari di mana resepsi pernikahannya dengan Wisnu di gelar. Sudah sejak dua hari yang lalu ia dan keluarga tiba di kota Jogja, dan kini mereka tinggal di kediaman Dewa. Sedangkan untuk acara resepsi itu, akan dimulai tepat pukul tiga sore. Hal itulah yang membuat Jenar bertanya-tanya mengapa sang anak sudah bersiap di pagi hari seperti ini.
"Kata tante Mara, Citra harus segera bersiap-siap Ma. Kita mau ke pantai karena papa dan Mama akan menikah lagi, dan katanya nanti juga banyak tamu-tamu istimewa yang datang. Ini yang mendandani Citra seperti princess juga tante Mara. Memang acaranya bukan pagi ini ya Ma?"
Jenar hanya tergelak lirih mendengar celotehan Citra. Gadis kecil itu mengira jika papa dan mamanya akan menikah lagi padahal acara resepsi. Rupa-rupanya sang kakak ipar menggunakan trik untuk membujuk sang anak agar mau mandi. Karena, jika sudah bermain bersama Nendra, gadis kecil itu sampai lupa untuk mandi.
Jenar menggeser posisi tubuhnya. Kini, ia sandarkan punggungnya di head board ranjang untuk bisa sedikit lebih nyaman.
"Sayang, acara kita itu masih nanti jam tiga sore. Jadi masih lama."
"Berarti tante Mara berbohong dong Ma?"
Jenar mengusap pucik kepala Citra dengan lembut, berupaya untuk memberikan pengertian kepada putrinya ini. "Tante Mara tidak bermaksud berbohong Sayang. Tante Mara hanya ingin Citra bersegera mandi agar badan Citra segar. Citra kalau sudah asyik main bersama dedek Nendra pasti lupa mandi kan?"
"Oh seperti itu ya Ma. Baiklah kalau begitu. Sekarang setiap pagi, sebelum Citra bermain bersama dedek Nendra, Citra mandi dulu."
"Nah, itu baru anak pintar. Jika sudah mandi, badan Citra akan terasa segar dan pastinya wangi."
Citra mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti. Ia tatap intens gaun yang melekat di tubuhnya ini. "Lalu, nanti Citra memakai baju apa Ma? Ini baju princess nya sudah Citra pakai?"
"Citra tidak perlu khawatir, di almari masih ada satu gaun lagi berwarna gold Sayang. Nanti Citra memakai gaun itu agar sama dengan papa dan juga Mama, oke?"
"Oke Ma. Kalau begitu, Citra main sama dedek Nendra dulu ya Ma. Citra ingin mencubit pipi gembul dedek Nendra. Habisnya bikin gemes."
Jenar terperangah. "Sayang, dedek Nendra jangan dicubit. Nanti bisa menangis Sayang."
Citra berlalu pergi begitu saja meninggalkan Jenar di dalam kamar. Ia kembali memijit-mijit pelipisnya yang terasa begitu pening. Sejak tiba di Jogja, setiap pagi Jenar selalu saja diserang oleh rasa mual sehingga mengharuskannya untuk memuntahkan semua isi yang ada di dalam perutnya. Ia menoleh ke arah nakas dan mengulurkan tangan, bermaksud untuk membuka laci nakas itu. Namun ia urungkan niatnya di saat derap langkah seseorang terdengar memasuki indera pendengarannya.
"Sayang, wajah kamu nampak pucat sekali. Apakah kamu sedang sakit?"
Wisnu mendaratkan bokongnya di bibir ranjang. Tangannya terulur untuk memegang kening sang istri. Sama sekali tidak panas namun yang membuat Wisnu keheranan adalah wajah istrinya ini nampak pucat.
Jenar menggeleng samar sembari tersenyum tipis. "Tidak Mas. Aku baik-baik saja kok. Hanya sedikit pusing."
"Tapi wajah kamu nampak pucat sekali Sayang. Dan sejak kita tiba di Jogja kamu selalu muntah-muntah. Masa iya kamu mengalami mabuk perjalanan sampai tiga hari? Kita ke rumah sakit ya. Dan atau kalau perlu kita undur acara kita hari ini?"
Lagi-lagi Jenar menggelengkan kepala. "Tidak perlu Mas. Aku hanya butuh sedikit beristirahat, nanti juga pulih kembali. Dan acara kita tetap kita selenggarakan hari ini."
"Tapi Sayang...."
Jenar menempelkan jari telunjuknya di bibir Wisnu. Sejatinya ia sudah tidak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia untuk suaminya ini, namun ia tahan lebih dulu, karena ia telah memiliki rencana dengan para tamu undangan yang akan hadir.
"Sudah ya Mas. Aku baik-baik saja. Aku cukup beristirahat sebentar, dan nanti pasti akan pulih."
__ADS_1
"Kamu serius Sayang?"
"Iya Mas, aku serius. Lebih baik, Mas Wisnu pijitin badanku biar bisa segera pulih kembali."
Wisnu menurut. Ia mengambil posisi yang dirasa nyaman untuk bisa memijit badan istrinya ini. Pada akhirnya, pimpinan PT WUW itu beralih profesi menjadi tukang pijit dadakan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Suasana pantai Teras Kaca, Gunungkidul sore ini nampak begitu ramai dari biasanya. Di sebuah spot yang berbentuk layaknya sebuah teras rumah yang dihiasi dengan kaca sudah disulap sedemikian rupa oleh pihak WO untuk menjadi tempat diadakannya resepsi pernikahan Wisnu dan Jenar. Bertemakan warna gold, membuat siapa saja yang datang di tempat ini begitu terkesima dengan suasana yang ada.
Batu-batu karang di tengah samudera nampak berdiri kokoh menjulang tinggi. Suara debur ombak yang memecah batu karang itu terdengar begitu menenangkan. Mereka bergulung-gulung, menghempaskan diri mereka ke bibir pantai dan hanya menyisakan buih-buih di tepian.
Siluet warna senja juga begitu nampak memanjakan indera penglihatan. Diiringi dengan wajah sang surya yang mulai tenggelam seakan kian menghipnotis para pengunjung yang sedang menikmatinya.
Jenar dan Wisnu nampak serasi duduk di atas pelaminan. Tidak ada yang terpancar dari wajah keduanya selain rona wajah bahagia yang begitu kentara. Bahagia karena ia bisa berbagi kebahagiaan dengan para pembaca setia yang telah menemani perjalanan sang penulis yang masih banyak kekurangannya ini.
"Nah Jen, kak Wisnu, ini semua adalah teman-teman penulis kak Rasti Yulia yang keren-keren abis. Dari mereka lah kak Rasti banyak belajar dan berbagi tentang ilmu literasi yang pastinya bisa membawa mbak Rasti sampai titik ini."
Dewa memperkenalkan para tamu istimewa ini kepada Wisnu dan juga Jenar. Para tamu yang merupakan sesama penulis, yang berusaha mencari ilmu dan cuan di platform ini. Para penulis yang tidak pantang menyerah untuk bisa belajar dan terus belajar untuk lebih baik lagi.
"Hallo Kakak-kakak semua, terima kasih banyak atas kehadirannya ya. Mohon maaf jika apa yang kami sajikan kurang berkenan."
Jenar dan Wisnu sedikit membungkukkan badan. Sebagai salam perkenalkan sekaligus ucapan terima kasih atas kehadiran para penulis hebat ini.
"Selamat ya Wisnu-Jenar. Semoga kalian senantiasa berbahagia," ucap para author bersamaan.
Wisnu menoleh ke arah Dewa. "Wa, memang Kakak-kakak ini siapa saja? Bisakah kamu kenalkan?"
"Tentu saja bisa Kak."
Dewa menghela napas dalam dan perlahan ia hembuskan.
"Salam kenal ya Kakak-kakak semua."
"Sama-sama Wisnu-Jenar. Semoga kalian berbahagia. Maaf ya, kami tidak bisa membawa apa-apa karena belum gajian. Hihihihi," ucap kak Melisa mewakili semuanya.
Jenar dan Wisnu hanya bisa tergelak lirih. "Tidak apa-apa Kak. Yang terpenting Kakak-kakak semua bisa menikmati sajian yang ada."
Pada akhirnya para author hebat itupun melenggang pergi untuk menuju meja prasmanan yang sudah dihiasi dengan aneka rupa hidangan yang nampak begitu menggugah selera.
"Bang Wisnu .... Jenar ..... kami datang!!!!"
Dari jarak yang masih lumayan jauh, terdengar suara teriakan seorang wanita yang menggema di indera pendengaran. Wisnu dan Jenar mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara, nampak rombongan ibu-ibu cantik dengan pakaian batik bernuansa gold mendekat ke arahnya.
"Wa, kalau itu siapa? Wanita-wanita cantik yang nampak modis sekali."
Dewa terkekeh lirih. Rasa rindu kepada rombongan ibu-ibu milenial ini akhirnya terbayar tunai. Karena sudah sejak lama ia tidak bersua dengan mereka.
"Mereka adalah para pembaca setia tulisan mbak Rasti, Kak. Mereka selalu hadir untuk memberikan dukungan kepada mbak Rasti dari mulai mbak Rasti berupa author remahan kulit kuaci dan sekarang alhamdulillah sudah sedikit naik kasta menjadi author rempeyek kacang. Dan atas dukungan dari beliau-beliau inilah yang juga menghantarkan mbak Rasti sampai di titik ini."
Dewa menyalami kak Novi Aryani yang berada di barisan paling depan. "Selamat datang kak Novi dan yang lainnya. Selamat menikmati semua sajian yang ada ya."
"Waaaaa ... om Dewa, masiih tetap tampan. Sama sekali tidak berubah."
Dewa hanya terkikik geli. "Ah, kak Novi ini bisa saja. Kak Novi dan yang lainnya juga nampak cantik dan awet muda lho memakai pakaian batik seperti ini. Saya jadi kesengsem."
__ADS_1
"Hahahaha itu jelas lah Om. Tapi ngomong-ngomong terima kasih banyak untuk pakaian batiknya ya. Aku dan ibu-ibu lainnya senang sekali."
"Sama-sama Kak Nov."
"Aaahhh ... sampai lupa. Aku belum mengucapkan selamat kepada pengantin baru ini." Kak Novi menjeda sejenak ucapannya dan berbalik badan. "Ibu-ibu semua, mari sama-sama kita berikan selamat untuk bang Wisnu dan Jenar."
"Selamat menempuh hidup baru Bang Wisnu dan neng Jenar. Semoga sakinah mawadah warahmah dan bahagia selalu."
"Aamiin... Terima kasih banyak Kakak-kakak semua. Tapi bicara-bicara, Kakak-kakak ini belum memperkenalkan diri. Bolehkah jika saya meminta Kakak-kakak untuk memperkenalkan diri?"
"Hmmmm .. minta om Dewa untuk mengabsen satu persatu saja Bang. Dia sudah kenal dekat kok dengan kami."
"Wa, tolong beritahu kepadaku siapa nama Kakak-kakak cantik ini."
"Kak Novi Aryani, kak Susi Handayani, kak Dyandra, kak Viona Elshadaila, kak Yon Diah Kusuma, kak Feni Mom's Syahwa, kak Candra Rahma, kak Eni Fuad, kak Bundane Syical, kak Yusuf Al-Hamid, kak Heni Rosmayati, kak Aisha, kak Siti Aminah, kak Putu Sriasih, kak Sri Waltiyah, kak Ummu Atiyah, kak Yeti Tritungga Dewi, kak Agustin, kak Ningsih, kak Ni'mat Santoso, kak Novi Hartati, kak Ratu Tety Haryati, kak Nafisa, kak Ela Rustini, kak TasyaAyudialnara, kak Ahmad Affa, kak Dina Mardiana, kak Santrywaty Irwansyah, kak Ratih Komala, kak Nur Ranty, kak Rumini Parto Sentono, kak Oki Amar, kak Alya Zahra, kak Denok Priyarti, kak Pur Waningsih, kak Reni Anjarwani, kak Lizye Zahier, kak Niputu Dhanvantari, kak Cinta Imoet, kak Idrawati Widodo, kak Pice Korvina, kak Siti Samilah, kak Eka Rustini."
Nafas Dewa nampak terengah-engah dan sejenak ia jeda ucapannya. "Nah ini semua adalah para pembaca setia novel mbak Rasti ini, Kak. Sebenarnya masih banyak lagi. Namun mohon maaf, atas segala keterbatasan tidak dapat dituliskan semua."
"Sekali lagi terima kasih banyak ya Kakak-kakak semua. Semoga kebaikan Kakak-kakak ini mendapatkan kebaikan yang berlipat ganda dari Allah SWT."
"Aamiin..."
"Oh iya Bang, kami ada hadiah untuk Bang Wisnu dan juga neng Jenar. Mohon diterima ya," ucap kak Susi Handayani.
Dahi Wisnu sedikit mengerut. "Kok repot-repot sih Kak?"
"Tidak repot kok Bang," sambung kak Oki Amar. Ia membalikkan badan dan.... "Suiiiiittttt .... suiiiiittttt...."
Kak Oki Amar bersiul, tak selang lama muncul kumpulan bapak-bapak membawa sesuatu di tangannya.
Kedua bola mata Wisnu terbelalak sempurna. "Loh, loh, loh, kok bapak-bapak ini membawa beraneka rupa perlengkapan dan peralatan bayi? Saya dan istri saya ini melangsungkan acara resepsi Kak, bukan acara lahiran bayi."
Kak Oki Amar hanya tersenyum penuh arti. "Kalau untuk itu silakan tanyakan kepada istri Bang Wisnu sendiri."
Wisnu menoleh ke arah Jenar. "Sayang, ini ada apa sebenarnya? Mengapa bapak-bapak ini membawa perlengkapan bayi?"
Jenar terkekeh seiring dengan datangnya Mara. Istri dari Dewa itu menyerahkan sesuatu ke arah Jenar.
"Terima kasih mbak Mara."
Jenar kembali menatap wajah sang suami dengan teduh. Dengan senyum lebar yang tiada henti tersungging di bibirnya. "Ini untukmu Mas."
Wisnu menerima sesuatu yang diulurkan oleh Jenar. Kedua bola matanya kembali membulat sempurna. Meskipun ia sebagai seorang laki-laki, namun ia tidak begitu asing dengan benda ini. Matanya memanas hingga menghimpun titik-titik embun di pelupuk matanya. Tanpa basa-basi ia memeluk tubuh istrinya ini.
"Sayang ... kamu...?"
Perkataan Wisnu tercekat di dalam tenggorokan. Ia merasa tidak mampu lagi untuk melanjutkan perkataannya. Hanya air mata itulah yang menjadi tanda jika saat ini Tuhan memberikan kebahagiaan yang berlipat ganda untuknya.
Jenar menganggukkan kepala. "Iya Mas, aku positif hamil. Sebentar lagi Citra akan memiliki adik."
Wisnu melerai pelukannya. Gegas, lelaki itu bersujud syukur di atas lantai kaca ini. "Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas amuherahMu...."
"Yeaaaay.... Selamat Bang Wisnu dan juga Neng Jenar!!!!"
.
__ADS_1
.
T A M A T