Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 11 : Malu


__ADS_3


Tiba-tiba perasaan Jenar dihinggapi oleh sebuah rasa yang ia sendiri pun tidak dapat mendeskripsikannya. Jantungnya berdetak lebih kencang dan berdesir hebat kala tangannya melingkar sempurna di leher seorang laki-laki. Dengan hati yang diliputi oleh kecemasan, ia melerai pelukannya dan....


"Aaaaaaaaa..... Apa yang Anda lakukan? Mengapa Anda tiba-tiba memeluk saya?!!!!!"


Bug!!!


"Aaahhhhh."


Dengan kasar, Jenar mendorong tubuh Wisnu hingga membuat lelaki itu terjengkang di atas lantai. Diiringi oleh pekikan lirih yang keluar dari bibir Wisnu seakan semakin menegaskan bahwa ia sedang menahan rasa sakit. Dan memang benar, Wisnu memekik kesakitan kala tubuhnya terhempas di lantai. Yakinlah, wajah tampan yang sebelumnya penuh kharisma, kini berubah seketika menjadi raut wajah menyedihkan, menahan lara.


"Hei, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu mendorongku seperti ini?"


Masih dalam posisinya terduduk di lantai, Wisnu bersungut, melayangkan sebuah protes kepada Jenar. Karena tiba-tiba gadis ini mendorongnya hingga terjungkal. Padahal sebelumnya, gadis ini merengek manja minta untuk dipeluk.


"Anda jangan kurang ajar ya! Mentang-mentang Anda seorang pengusaha, lantas bisa berbuat seenaknya terhadap saya? Sungguh minim akhlak. Apa seperti ini kelakuan seorang pengusaha sukses yang begitu digandrungi siswi-siswi di sekolah ini? Beruntung saya tidak terlalu nge-fans dengan Anda. Ternyata memang seperti ini akhlaknya."


Jenar bangkit dari posisinya. Ia menyembur Wisnu dengan ucapan yang sungguh sangat terdengar mengerikan. Mengerikan, karena Jenar menganggapnya sebagai lelaki kurang ajar yang berani memeluk seorang gadis sesuka hatinya. Bahkan tidak sampai di sana, Jenar menganggap Wisnu sebagai pengusaha yang minim akhlak karena berani berbuat sesuatu yang masuk dalam katagori pelecehan.


Percayalah saat ini Wisnu merasa seperti seorang tersangka dalam kasus pelecehan. Padahal sejatinya ia hanyalah sebagai korban. Korban alam bawah sadar Jenar yang entah pada saat itu ia sedang bermimpi apa.


Wisnu turut bangkit dari posisinya. Ia mengusap-usap bokongnya yang terasa sedikit nyeri. Ia tautkan pandangannya ke arah manik mata Jenar dan menatapnya intens.


"Kamu benar-benar tidak ingat akan apa yang terjadi sebelumnya?"


Wisnu mencoba untuk membuka kembali ingatan Jenar. Meski sebuah hal yang mustahil seseorang bisa mengingat akan apa yang ia alami di saat tertidur, namun ia berusaha untuk kembali membuka memori gadis ini. Barangkali saja ia bisa ingat.


Jenar menatap wajah Wisnu dengan tatapan sinis bak pemeran antagonis. "Saya ingat. Saya tertidur di tempat ini selama talkshow berlangsung. Dan Anda tiba-tiba datang memeluk saya di kala saya tertidur. Bukankah itu artinya Anda mencuri kesempatan dalam kesempitan?"


Wisnu tersenyum tipis. "Lalu di saat kamu tertidur, kamu memimpikan apa?"


"Apa hak Anda menanyakan apa yang menjadi bunga tidur saya? Ingat ya Anda bukan siapa-siapa dan tidak berhak tahu saya sedang bermimpi apa." Jenar bersedekap di depan dada dan sejenak menjeda ucapannya. "Ayolah mengaku saja bahwa Anda memang telah berbuat kurang ajar terhadap saya. Jangan mengelak lagi."


Sebelumnya Jenar sedikit terperangah kala tiba-tiba Wisnu bertanya akan apa yang ia impikan di saat tertidur. Namun bukan Jenar namanya. Ia masih ingin mematahkan ucapan Wisnu agar lelaki ini segera mengakui perbuatannya.


Wisnu tergelak lirih. Ternyata menghadapi seseorang yang baru saja bangun dari lautan mimpi itu terasa begitu mengasyikkan. Terlebih wajah gadis ini yang terlihat begitu kesal namun justru semakin terlihat menggemaskan. Wisnu sampai tidak bisa membayangkan bagaimana malunya gadis ini jika teringat bahwa ia sendirilah yang meminta untuk dipeluk dan tiba-tiba menciumnya. Ingin rasanya Wisnu membuka semuanya, namun ia rasa biarkan seperti ini saja.


"Baiklah, aku minta maaf jika kamu merasa bahwa aku telah berbuat kurang ajar kepadamu. Sebelumnya aku hanya ingin membangunkan kamu karena semua orang sudah meninggalkan aula ini dan hanya tinggal kamu seorang."


Jenar berdecak lirih. "Ckkk... Aku lebih baik tidak Anda bangunkan daripada di sela-sela niat Anda membangunkan saya, terbesit sebuah niat buruk mencuri kesempatan di dalam kesempitan yaitu memeluk saya." Jenar kembali menatap manik mata Wisnu dengan tatapan membidik. "Dan apakah hanya ucapan permintaan maaf saja yang dapat Anda berikan?"


Wisnu semakin dibuat tersenyum lebar akan sikap gadis di depannya ini. "Jika tidak dengan ucapan permintaan maaf, lalu aku harus melakukan apa?" Wisnu tersenyum jahil. Dalam otaknya terbesit sebuah ucapan yang ia yakini bisa membuat gadis ini tidak berkutik sama sekali. "Oh, atau kamu memintaku untuk bertanggung jawab karena sudah memelukmu?"


Jenar terkesiap. "M-maksud Anda?"


Senyum lebar kembali terbit di bibir Wisnu. Ia yakin setelah ini sang gadis pasti akan berhenti mencercanya. "Aku siap menikahimu sebagai caraku bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan. Bagaimana? Apakah pertanggungjawaban seperti itu yang kamu mau?"


Wajah Jenar yang sebelumnya terlihat begitu berani mengibarkan bendera perang untuk beradu argumen dengan Wisnu, kini mendadak berubah pias seketika. Ternyata lelaki ini sungguh sangat lihai bermain kata yang justru menjebaknya dalam sebuah perasaan malu sendiri. Bibir Jenar bahkan hanya bisa terkatup tidak dapat berucap sepatah katapun.

__ADS_1


Wisnu tergelak lirih sembari membawa tubuhnya untuk lebih dekat dengan Jenar. Hal itulah yang membuat Jenar beringsut mundur untuk menjauh dari Wisnu. Wisnu merogoh saku celananya dan menyodorkan sebuah kartu nama ke arah Jenar. Dan Jenar pun reflek menerima kartu nama itu. "Jika kamu tetap kekeuh ingin aku bertanggung jawab, kamu bisa menghubungiku di nomor ini. Aku pasti akan bertanggung jawab dengan menikahimu. Namun sebelum kamu melakukan itu, coba ingat-ingat terlebih dahulu akan apa yang menjadi mimpimu di saat kamu tertidur, oke?"


Wisnu kembali mengayunkan langkah kakinya, bermaksud untuk segera meninggalkan aula ini. Perlahan tubuhnya menghilang di balik pintu. Sedangkan Jenar, gadis belia itu hanya bisa berdiri terpaku dan mematung sembari mencoba mengingat akan apa yang terjadi. Namun sia-sia saja, karena ia sama sekali tidak dapat mengingat mimpi apa yang menyapa tidur lelapnya. Ia pun hanya bisa membuang nafas kasar dan bermaksud untuk meninggalkan tempat ini pula.


🍁🍁🍁🍁


Matahari hampir tenggelam kala langkah kaki Jenar menyusuri jalanan ber-paving block yang berada di depan pintu gerbang sekolah. Di sisi kiri nampak sebuah tanah lapang yang biasa menjadi tempat diadakan upacara bendera dan dipakai untuk siswa-siswa yang tengah berolahraga sepak bola. Kepala Jenar menunduk sembari menekuri jejak-jejak langkah kakinya. Tak lupa, kaleng bekas minuman bersoda ia tendang-tendang sehingga menimbulkan suara sedikit gaduh.


"Jenar!!!"


Kepala Jenar yang sebelumnya menunduk, kini ia tegakkan. Ia menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya. Melihat siapa gerangan yang memanggil, membuat gadis itu semakin dibuat kesal. Dengan langkah kaki lebar, Jenar menghampiri pemilik suara itu yang tak lain adalah Nania dan juga Anki.


"Dasar teman tidak ada akhlak. Bisa-bisanya kalian meninggalkan aku sendirian di aula dalam kondisi tertidur, hah!"


Jenar mencubit pinggang Nania dengan kuat, seakan menumpahkan segala kekesalannya. Sedangkan Nania hanya mengaduh dan meringis kesakitan.


"Adudududuhhhh .... ampun Jen. Ampun!!"


"Tidak ada ampun bagi kalian! Tega ya, kalian meninggalkan aku sendirian tidur di aula? Dan mengapa kalian tidak membangunkan aku?"


Seakan dibelenggu oleh perasaan kesal, Jenar semakin kuat mencubit pinggang Nania. Rasa-rasanya cubitan ini tidak sebanding dengan apa yang ia alami kala dibiarkan tertidur sendirian di aula. Ia harus mengalami kejadian tidak menyenangkan karena dipeluk oleh lelaki yang sama sekali tidak ia kenal.


Nania meringis kesakitan, menahan rasa panas di area pinggang akibat cubitan sahabatnya ini. Sekilas, ia melirik ke arah Anki, sang pencetus ide gila, meninggalkan Jenar di aula. Pemuda itu hanya memasang wajah tiada berdosa sembari terkikik geli.


"Jen, apa yang kamu alami bukanlah kesalahan kita. Ini semua kesalahanmu sendiri. Mengapa kamu susah untuk dibangunkan? Aku dan Nania sudah berupaya keras untuk membangunkan kamu. Namun tetap saja kamu semakin lelap dalam buaian mimpimu."


Seakan tahu bahwa saat ini Nania berada di dalam posisi yang begitu terjepit dan menyedihkan, Anki mencoba untuk memberikan pengertian kepada Jenar bahwa ia dan Nania sudah melakukan sesuatu yang memang seharusnya mereka lakukan sebagai sahabat yaitu membangunkan Jenar. Namun tetap saja tidak ada respon dari sahabatnya ini.


Jenar hanya bisa mendengus kesal jika teringat akan pengusaha yang memeluk tubuhnya beberapa saat yang lalu. Ia lepaskan cubitannya dari pinggang Nania sembari menyapu pandangannya ke arah langit yang sudah mulai membiaskan warna jingga.


Ucapan Jenar ini sukses membuat Anki dan Nania bertanya-tanya di dalam hati akan apa yang sebenarnya terjadi. Jika dilihat dari raut wajah Jenar, Anki dan Nania bisa menebak bahwa sahabatnya ini memang mengalami hal buruk.


"Kejadian tidak mengenakkan apa maksud kamu Jen? Bukankah tadi hanya ada kamu, bu Sonya dan pak pengusaha itu saja?"


Jenar menggeser tubuhnya untuk duduk di tepi lapangan. Pandangannya menerawang ke depan, menikmati hamparan tanah lapang yang ada di hadapannya ini. "Taukah kalian jika pengusaha itu memelukku tanpa permisi?"


"Apa? Memelukmu?"


Anki dan Nania sama-sama terkejut setengah mati. Keduanya bersamaan mengucapkan kata-kata itu. Dua orang itu pun turut duduk di sisi Jenar. Dan kini, posisi Jenar diapit oleh kedua sahabatnya ini.


Jenar mengangguk pelan dengan tatapan mata yang masih menerawang. "Iya, dia memelukku. Di saat aku terbangun, aku sudah berada di dalam pelukannya!"


Jenar mengacak sedikit rambutnya asal. Sungguh tidak terbayangkan sebelumnya bahwa ada lelaki lain yang lebih dulu memeluknya sebelum Firman. Karena selama ini Firman tidak pernah melakukan apapun terhadapnya. Jangankan memeluk, memegang tangannya saja belum pernah dilakukan oleh calon suaminya itu.


"Aku rasa kamu telah salah paham Jen. Pak Wisnu itu lelaki baik dan santun, tidak mungkin dia memelukmu tanpa alasan yang jelas."


Nania mencoba untuk menyampaikan pendapatnya. Meski baru sekali bertemu dengan pengusaha itu, namun ia yakin jika Wisnu bukan lelaki yang sering memanfaatkan keadaan.


"Tapi seperti itulah kenyataannya Nan. Saat aku bangun, aku sudah berada di dalam pelukan pengusaha itu." Jenar membuang nafas sedikit kasar, mencoba untuk mengurai rasa kesal yang masih saja enggan pergi dari hati dan juga pikirannya. "Jika sudah seperti ini, apa yang harus aku katakan ke bang Firman? Ya ampun bang, maafkan aku karena tubuhku ini sudah terjamah oleh lelaki itu."

__ADS_1


Nania dan Anki saling bertatap netra. Keduanya sama-sama menggelengkan kepala. Mungkin mereka menganggap jika sahabatnya ini terlalu berlebihan. Jenar merasa sangat bersalah kepada Firman karena disentuh oleh lelaki lain. Padahal belum pasti juga kejadiannya se-dramatis itu.


"Aku rasa yang diucapkan oleh Nania benar, Jen. Tidak mungkin pak Wisnu melakukan hal semacam itu. Dia orang berpendidikan, sehingga tidak mungkin berbuat sesuatu yang tiada berakhlak seperti itu."


Tidak ingin kalah dengan Nania, Anki juga ikut mengutarakan pendapatnya. Sama seperti yang diucapkan oleh Nania, Anki sangat yakin bahwa Wisnu bukanlah lelaki yang tidak beradab seperti itu.


"Semua bisa terjadi Ki. Mungkin pengusaha itu orang yang baik dan santun, tapi saat melihat ada sedikit kesempatan, bisa saja ia langsung melakukan hal itu bukan? Ia mengatakan bahwa hanya ingin membangunkan aku tapi kenyataannya dia juga memelukku. Ternyata memang benar dengan apa yang diucapkan oleh bang napi. Bahwa kejahatan itu tidak hanya berasal karena ada niat dari pelakunya, namun juga karena ada kesempatan."


Anki hanya bisa menepuk jidatnya. Sahabatnya ini sungguh sudah sangat jauh berpikir. "Tunggu Jen, ini semua pasti hanya sebuah kesalah pahaman. Bisa jadi, dalam kasus ini pak Wisnu sebagai korban."


Tubuh Jenar terkesiap. Lagi-lagi ia mendengus karena sahabatnya ini tidak berpihak kepadanya. "Korban? Korban apa maksudmu Ki? Di sini yang menjadi korban itu aku, bukan pengusaha itu!"


Jenar begitu keheranan karena Anki yang tak lain adalah sahabatnya justru membela Wisnu. Sempat terbesit dalam pikiran Jenar jika Anki ini sudah diberi uang suap oleh Wisnu agar mendapatkan pembelaan.


Anki mengulas sedikit senyumnya. Ia semakin yakin bahwa Jenar hanya salah paham. "Coba sekarang kamu ingat-ingat, kamu bermimpi apa saat tertidur tadi? Dari sana mungkin bisa kita tarik benang merahnya."


Untuk kedua kalinya, Jenar ditanya akan mimpi yang menyapa tidur lelapnya. Sebelumnya, Wisnu yang menanyakan, dan saat ini Anki yang menanyakan. Jika tadi ia sama sekali tidak dapat mengingatnya namun saat ini ia berupaya lebih keras lagi untuk dapat mengingat akan mimpi yang menyapanya.


Jenar terlihat berpikir keras untuk mengingat-ingat akan mimpi yang menghampirinya. Ia sampai memejamkan mata agar bisa segera mengingat semuanya. Lima menit lebih Jenar memejamkan mata dan pada akhirnya....


"Astaga... Aku ingat, aku ingat semuanya!"


"Coba ceritakan kepada aku dan Nania, kamu bermimpi apa Jen?"


"A-aku bermimpi bertemu dengan bang Firman."


"Lalu?"


"Lalu aku bermimpi menciumnya dan memeluknya dengan erat."


"Lalu?"


Tubuh Jenar melemas seketika. Kini wajahnya membiaskan rona merah jambu yang terlihat begitu kentara. "Apakah mungkin tadi aku juga mencium pengusaha itu dan akulah yang membuat pengusaha itu dalam posisi memelukku?"


"Nah, itu argumentasi yang paling logis, Jen. Aku semakin yakin bahwa pak Wisnu hanyalah korban.


"Oh Tuhan, aku malu... Sungguh sangat-sangat malu. Jika sudah seperti ini aku harus bagaimana?" pungkas Jenar sembari menenggelamkan wajahnya di sela pahanya.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Jenar Budhiani Candrakanthi



Wisnu Kunto Aji

__ADS_1



__ADS_2