
Selamat membaca πππ
Matahari sudah mulai sedikit tergelincir ke arah barat. Terik sinarnya sudah lebih redup sehingga tidak terasa begitu menyengat. Setelah acara akad nikah, kini Wisnu memilih untuk beristirahat di rumah sang mertua. Seluruh sanak saudara Jenar dan Wisnu juga nampak berkumpul di ruang keluarga yang semakin menambah ramai suasana rumah hari ini.
"Saya benar-benar tidak menyangka jika istri kakak saya ini seumuran dengan istri saya lho pak Sutha. Sepertinya Kakak saya ini memang tidak ingi kalah dengan saya."
Sembari meneguk es timun jeruk nipis yang tersaji, Dewa memulai obrolannya dengan Sutha. Seketika kesegaran es timun jeruk nipis itu mengaliri kerongkongannya yang terasa gersang.
Sutha tersenyum simpul. Lelaki itu juga nampak meneguk jus apel yang tersaji. "Saya juga tidak menyangka jika ternyata nak Dewa dan nak Wisnu ini sama-sama tampan bahkan seperti sepantaran padahal selisih tiga tahun bukan?"
"Namun Yah, kalau untuk nasib, jauh lebih mengenaskan adik saya ini." timpal Wisnu sembari ikut meneguk minuman yang berada di hadapannya.
Dahi Sutha nampak mengerut seakan dipenuhi oleh rasa ingin tahu. "Benarkah seperti itu Nak?"
"Iya Yah. Sebelum mendapatkan Mara, adik Wisnu ini harus menderita terlebih dahulu karena pusakanya tidak bisa berdiri dan diselingkuhi oleh istrinya."
Sutha hanya tergelak lirih. Ternyata antara kakak beradik di depannya ini memiliki cerita masing-masing sebelum keduanya bertemu dengan pelabuhan terakhir mereka.
"Namun syukur alhamdulillah saat ini kalian telah menemukan kebahagiaan masing-masing ya Nak. Dan Ayah harap, kebahagiaan itu akan senantiasa mengelilingi langkah kaki kalian hingga akhir waktu nanti."
"Aamiin..."
"Eh, saya juga tidak jauh berbeda dari Dewa dan juga kak Wisnu, Pak. Istri saya juga usianya sepantaran dengan putri Bapak dan juga Mara."
Krisna yang sedari tadi hanya diam seribu bahasa, mulai mengeluarkan suaranya. Ia merasa juga harus ikut berbangga diri karena memiliki istri yang usianya tidak berbeda jauh dari Jenar ataupun Mara. Dan ia juga membutuhkan pengakuan itu.
"Cckkkk ... tapi kalau asisten saya ini berbeda Pak. Dia adalah mantan playboy cap cacing pita yang telah bertaubat dan beruntung sekali karena ada seorang gadis yang berbesar hati mau menerimanya."
Krisna terperangah. Niat hati ingin berbangga diri, malah justru dikuliti habis-habisan oleh Dewa. "Astaga. Ya jangan membuka aibku juga kali Wa. Masa mantan playboy cap cacing pita harus kamu ceritakan segala? Hadududuhhh..."
Sutha semakin tergelak mendengar dan melihat tingkah laku lelaki-lelaki yang ada di depannya ini. Dengan melihat polah tingkah tiga lelaki ini, ia yakin jika kehidupan putrinya akan jauh lebih berwarna.
"Ah benarkah seperti itu? Sepertinya penulis cerita kalian ini berhati mulia ya. Mempertemukan para duda dengan gadis belia dan mempertemukan mantan playboy cap cacing pita juga dengan gadis belia pula. Ayah rasa kalian harus benar-benar berterima kasih kepada sang penulis halu kalian ini."
"Tenang saja Yah, tadi Wisnu sudah mengirimkan tahu bakso lengkap dengan cabai rawitnya. Itu sudah cukup membuat penulis cerita ini happy."
"Hahahaha..."
"Oh iya Yah, Wisnu berencana untuk resepsi kita adakan bulan depan di Jogja. Bagaimana? Apakah Ayah setuju?"
Setelah puas berbincang hal-hal yang kurang berfaedah, Wisnu mulai mengutarakan apa yang menjadi rencananya. Sudah sejak lama, ia memiliki rencana akan mengadakan resepsi di Jogja. Dengan mengusung konsep seperti sang adik, di mana resepsi itu diadakan di tepi pantai.
"Ayah setuju-setuju saja Nak. Asalkan tidak memberatkanmu."
"Tentu tidak Yah. Wisnu memang sudah berniat untuk menggelar resepsi di kota Jogja." Wisnu menjeda sejenak ucapannya dan menautkan pandangannya ke arah Dewa dan Krisna. "Wa, Kris, untuk acara resepsi aku serahkan semuanya kepada kalian. Tolong persiapkan dengan baik dan sesempurna mungkin."
Dewa dan Krisna saling melempar pandangan. Keduanya hanya bisa membuang napas sedikit kasar. Namun menyadari bahwa di dalam cerita ini Wisnu lah yang menjadi tokoh utama, mereka pun hanya bisa mengangguk pasrah.
"Baiklah, akan aku urus semuanya. Kakak tinggal terima beres."
"Hahaha bagus Wa. Itu baru namanya adik yang berbakti kepada sang kakak."
"Cckkkk ... ini kalau aku tidak punya hutang budi ke kak Wisnu karena dulu kak Wisnu lah yang mempersiapkan kamar Nendra, aku juga tidak mau direpotkan seperti ini Kak."
"Hahahaha ... apapun itu, yang jelas terima kasih banyak adikku yang paling tampan!"
Tanpa basa-basi Wisnu mendekat ke arah Dewa. Ia peluk adiknya ini dengan erat. Tak lupa, ia berikan kecupan singkat di pipi adiknya ini.
__ADS_1
Kedua bola mata Dewa terbelalak sempurna dan merasa bergidik ngeri. Perilaku kakaknya ini sudah seperti lelaki homo saja.
"Hooeeekkkk .... jijik sekali aku Kak. Hiiiihhhhh...."
"Hahahaha..."
πππππ
Jenar membersihkan diri di dalam kamar mandi. Meski udara malam terasa begitu menusuk tulang namun sama sekali tidak mengurungkan niatnya untuk mandi di jam delapan malam ini. Aliran air yang membasahi seolah membuat tubuhnya segar sekali. Setelah setengah jam berada di sana, ia memutuskan untuk mengakhiri ritualnya. Ia kenakan daster tanpa lengan sembari mengusap-usap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
Jenar daratkan bokongnya di kursi rias. Dengan lekat, ia melihat pantulan dirinya yang berada di dalam cermin. Senyum tipis pun menghiasi wajah gadis berusia sembilan belas tahun yang saat ini telah resmi menyandang gelar seorang istri itu. Tidak ia sangka jika Tuhan mempertemukannya dengan sang jodoh di usia yang terbilang masih belia ini.
Ceklekkk....
Pintu kamar terbuka dan tak selang lama Wisnu masuk ke kamar Jenar. Lelaki itu mengayunkan tungkainya untuk mendekat ke arah sang istri.
"Sayang...."
Wisnu mengambil posisi sedikit membungkuk dan mulai memeluk tubuh Jenar dari belakang. Ia labuhkan kepalanya di ceruk leher wanita yang telah sah menjadi istrinya ini seakan menemukan tempat ternyaman di sana.
Tubuh Jenar sedikit berjingkat dengan bulu kuduk yang sedikit meremang. Pengalaman pertama mendapatkan perlakuan seintim ini hanya menyisakan debaran-debaran kencang tiada beraturan di dalam dada.
"Mas ... mas Wisnu sudah selesai mandi? Hehehe maaf ya, karena aku terlalu lama berada di dalam kamar mandi, membuat mas Wisnu harus mandi di kamar mandi yang ada di kamar ayah dan bunda."
Untuk menyembunyikan kegugupannya, Jenar justru melontarkan perkataan-perkataan yang tidak berfaedah. Entah mengapa kamar mandi yang tiba-tiba ia angkat menjadi topik obrolannya dengan Wisnu.
"Tidak mengapa Sayang. Mau di kamar mandi di sini , di kamar ayah dan bunda ataupun di sungai sekalian pun tidak masalah untukku. Asalkan bisa mandi, hahaha."
Jenar hanya ikut tergelak mendengar celotehan suaminya ini. Ia menatap wajah sang suami dari pantulan kaca. Sungguh, saat ini Wisnu nampak tampan sekali. Jenar sedikit menggeser tubuhnya hingga kini, ia dalam posisi menghadap Wisnu secara langsung.
"Aku lihat rambutmu masih basah. Mau aku keringkan Mas?"
"Boleh Sayang. Sepertinya sembari dipijit-pijit akan jauh lebih terasa lebih menyenangkan."
Wisnu duduk di atas lantai dengan posisi membelakangi Jenar. Dengan lembut, gadis itu mulai mengeringkan rambut Wisnu dengan handuk yang sebelumnya ia gunakan. Pastinya dengan memberikan pijatan-pijatan kecil di kepala.
"Sayang ... terima kasih banyak."
"Terima kasih untuk apa Mas?"
"Terima kasih karena kamu telah memilih duda berusia empat puluh tahun ini untuk menjadi pendamping hidupmu. Padahal aku rasa, di luar sana banyak sekali laki-laki yang jauh lebih muda yang akan terpikat dengan pesonamu."
Senyum tipis tersungging di bibir Jenar. Perkataan Wisnu ini mungkin memang benar adanya namun ia bisa apa jika sang penulis skenario kehidupan telah menuliskan ia berjodoh dengan duda tampan pemikat hati ini.
"Tidak perlu berterima kasih Mas. Karena akupun juga bersyukur mendapatkan pendamping hidup seperti kamu. Ternyata sang penulis cerita hidupku menuliskan cerita yang begitu indah. Aku berjodoh dengan lelaki yang tanpa sengaja telah mendapatkan ciuman pertamaku."
"Aku masih ingat bagaimana dulu kamu menyalahkan aku, Sayang. Sampai kamu mengatai aku lelaki mesum padahal kamu sendiri yang menciumku."
Wisnu terbahak kala pertemuan pertama dengan Jenar kembali terlintas di benaknya. Sang putri tidur yang tiba-tiba menciumnya. Tanpa ia sadari ternyata pertemuan itulah yang menjadi awal cerita cinta antara dirinya dengan Jenar.
"Iihhhh... sudah Mas, jangan diingat-ingat lagi Mas. Karena pada saat itu yang ada di dalam mimpiku adalah bang Firman, bukan kamu."
Bibir Jenar sedikit mengerucut. Entah mengapa jika teringat perihal Firman, ia masih saja merasakan sesak yang tiada terhingga. Nampaknya memang benar jika cinta pertamanya itu sungguh menikam luka yang begitu dalam di hatinya.
"Hahahaha... sepertinya aku harus berterima kasih kepada Firman, Sayang. Kalau saja saat itu kamu tidak memimpikan Firman, aku pasti tidak akan mendapatkan ciumanmu."
"Ihhhhhh .... sudah Mas. Jangan dibahas lagi."
"Adudududu sakit Sayang. Kok nyubit loh."
__ADS_1
"Makannya jangan bahas bang Firman lagi."
"Iya Sayang, iya. Janji."
Jenar kembali melakukan ritualnya mengeringkan rambut sang suami. Setelah rambut milik suaminya ini kering sempurna, tiba-tiba saja Wisnu bangkit dari posisinya. Perlahan, ia menarik lengan tangan Jenar hingga membuat gadis itu juga turut berdiri.
Wisnu menuntun Jenar untuk menuju ranjang. Setelahnya, mereka duduk di bibir ranjang dengan saling berhadapan. Wisnu memandang teduh wajah istinya ini. Bola mata lebar dengan bulu mata panjang nan lentik yang nampak begitu indah. Dan rambut sedikit bergelombang yang terlihat begitu terawat.
Jenar mengernyit ketika pandangannya bersiborok dengan Wisnu. "Ada apa Mas? Apakah ada kotoran di mataku?"
Wisnu tersenyum simpul. "Kamu cantik Sayang. Cantik sekali."
Jenar hanya tersipu malu. "Kamu juga tampan Mas. Tampan sekali."
"Maukah kamu berjanji kepadaku, Sayang?"
"Janji perihal apa Mas?"
"Berjanjilah bahwa kamu akan senantiasa menemani hidupku sampai akhir waktuku di dunia ini."
"Tidak perlu kamu meminta, aku akan melakukannya Mas. Karena, aku juga hanya ingin menjalani kehidupan ini bersamamu."
Wisnu tersenyum penuh arti. Ia dekatkan bibirnya ke bibir Jenar dan...
Cup...
Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir tipis Jenar. Mata gadis itu terbelalak saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Wisnu. Akibat serangan mendadak dari Wisnu, sepersekian menit ia hanya terdiam tidak dapat memberikan respon apapun. Namun tak selang lama, ia mulai membuka mulutnya sebagai isyarat mempersilakan sang suami untuk menjelajah lebih dalam lagi.
Jenar menyambut ciuman dari Wisnu. Ciuman yang sebelumnya terasa begitu lembut kini berubah sedikit liar. Lidah keduanya saling melilit seperti terikat sehelai benang yang sulit terurai. Nafas keduanya pun mulai memburu seperti menandakan, jika mereka menginginkan yang lebih daripada ini.
Wisnu menghentikan ciumannya. Sekilas, terlihat ia melirik ke Jenar dengan lirikan penuh seringai nakal. Lelaki itu kemudian melanjutkan aksinya. Menjelajahi seluruh bagian leher Jenar dengan sapuan bibirnya.
"Aahhhh..."
Satu lenguhan lolos begitu saja dari bibir Jenar kala merasakan begitu terbuai dengan permainan Wisnu ini. Terlebih di saat bibir Wisnu menyapu bagian telinga yang mana merupakan titik rangsang sang gadis. Hasratnya terasa semakin bergelora, bagaikan kobaran api yang sulit untuk dipadamkan.
"Bolehkah, malam ini aku mendapatkan hak-ku sebagai suamimu Sayang?"
Jenar mengangguk pelan yang seketika membuat Wisnu semakin melancarkan aksinya dengan liar. Kecupan demi kecupan ia daratkan di leher gadis itu. Tangannya mulai menelusup di balik daster dan melabuhkan telapak tangannya pada bagian yang begitu digemari oleh kaum laki-laki. Dengan lembut, Wisnu meremas dua benda sintal milik Jenar yang rasanya sudah begitu kencang karena kobaran hasrat itu. Jenar semakin terbuai dibuatnya. Dan....
Dug... dug... dug. ..
"Mama .... Citra ingin tidur dikelonin Mama ..."
Dug... dug... dug ..
"Buka pintunya Ma. Buka pintunya!"
Suara gedoran pintu dan lengkingan gadis kecil yang terdengar begitu nyaring itu layaknya api yang memadamkan kobaran hasrat yang membara di dalam tubuh Wisnu dan juga Jenar. Keduanya saling melempar pandangan dan sama-sama tergelak seketika. Dan, rencana melakukan ritual malam pertama itupun gagal seketika.
.
.
πππππ
Hiyaaaaaa.... Masih belum belah duren, hihihihi sabar ya Kak ππππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
__ADS_1
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca