Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 83 : Bersediakah Kamu?


__ADS_3


Selamat membaca😘😘😘


Jenar seakan terbuai dalam dekapan hangat tubuh tegap sang pimpinan. Dadanya yang bidang seakan membuat gadis berusia sembilan belas tahun itu merasakan kenyamanan yang begitu melenakan. Seperti terbang ke langit dan kemudian tertidur nyenyak di hamparan barisan awan. Terasa lembut, hangat dan juga menenangkan. Sampai ia tidak sadar jika waktu terus merangkak menuju petang.


Gadis itu masih saja terlihat nyaman di dalam dekapan. Sedangkan sang pimpinan masih intens mengusap-usap punggung Jenar dengan penuh kelembutan. Pantas saja ia begitu betah karena sungguh dada bidang pimpinan ini terasa jauh lebih membuatnya mabuk kepayang. Hahaha dasar Jenar, tahu saja mana dada seorang pimpinan (Wisnu) dan mana dada seseorang yang masih pengangguran (Firman). Sangat jauh berbeda bukan?


"Eh, maafkan saya Pak, karena telah lancang memeluk Bapak!"


Pada akhirnya, Jenar tersadar jua ketika langit sudah mulai gelap dan ruangan yang juga sudah memerlukan penerangan. Gadis itu nampak salah tingkah dan hanya bisa tersenyum kikuk ketika menyadari jika sedari tadi posisinya tidak berganti. Seakan terkunci di dekapan Wisnu dan tidak sanggup untuk melepaskan diri. Ah Jenar, lagi-lagi kamu mencari pembenaran diri. Padahal sejatinya kamu sudah mulai jatuh hati.


Senyum Wisnu mengembang, membingkai wajah tampannya. Dalam hati, duda itu kegirangan karena bisa memeluk erat sang pujaan. Detak jantungnya juga turut berdegup kencang seakan memompa darah lebih cepat, mengaliri seluruh organ-organ dalam badan.


"Tidak masalah Jen. Bahkan saya bersedia menjadi bahumu sebagai sandaran. Menjadi telingamu untuk mendengar seluruh keluh kesah yang kamu ceritakan. Dan menjadi telapak tanganmu untuk menghapus jejak-jejak air mata yang tertahan." (Astaga Bang, ini kamu kok jadi romantis seperti ini sih? Siapa yang ngajarin?) 😅


Wanita mana yang tidak bahagia mendapatkan perlakuan manis seperti itu? Goresan luka hati mana yang tidak langsung mengering ketika dibalut oleh untaian-untaian kata yang terdengar begitu menenangkan? Entah mengapa, Jenar mulai merasakan sesuatu yang berbeda di kala memahami tiap kata yang terucap dari bibir lelaki ini.


Jenar menundukkan kepala. Rasa-rasanya ia tidak sanggup untuk berlama-lama menatap manik cokelat pria tampan di depannya ini. Ia teramat takut jika akan terbuai oleh ketampanan yang dimiliki. Tanpa sadar, sejatinya ia telah hanyut ke dalam pesona sang duda namun masih enggan untuk mengakuinya.


"Terima kasih banyak Pak. Sekarang, saya sudah sedikit merasa lebih nyaman."


"Syukurlah kalau begitu. Banyak-banyak bersyukur saja, setidaknya kamu mengetahui bagaimana tabiat Firman yang sebenarnya sebelum kamu menjadi istrinya."


Jenar menganggukkan kepala, membenarkan apa yang diucapkan oleh Wisnu ini. "Iya Pak. Sejak hal itu saya alami, saya tidak begitu perduli akan rasa sakit karena telah dihianati. Namun, jika diingatkan kembali dengan nama Firman, entah mengapa tiba-tiba saja saya seperti diserang oleh rasa sesak. Dan rasanya ingin sekali menumpahkan air mata. Tidak pernah saya kira jika bang Firman tega melakukan itu semua."


Pandangan Jenar lurus ke depan dan nampak menerawang. Ingatannya kembali berkutat pada adegan-adegan yang dilakukan oleh Firman dan Stevi di bawah selimut tebal itu. Hingga hanya menyisakan rasa jijik yang begitu kentara.

__ADS_1


"Tidak masalah jika kamu ingin menangis Jen. Karena sejatinya menangis itu merupakan salah satu proses di mana kamu bisa sembuh dari luka hatimu. Jadi, menangislah jika kamu rasa hatimu akan jauh lebih tenang ketika menangis."


Wisnu menggeser kursi yang ia duduki untuk bisa lebih dekat dengan Jenar. Kini posisi keduanya saling berhadapan dan saling bertatap netra. Ia rangkum kedua pipi Jenar dengan telapak tangannya ia biaskan seutas senyum manis di bibirnya.


"Namun, saat ini tidak perlu lagi kamu tangisi lelaki brengsek itu. Air matamu terlalu berharga untuk kamu teteskan hanya untuk menangisi lelaki seperti Firman, Jen. Percayalah, bahwa di depanmu, ada kebahagiaan yang menantimu."


"Di depan saya?" Jenar berujar seakan tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh Wisnu.


"Iya, di depanmu Jen."


"Di depan saya, Anda. Apakah itu artinya Anda adalah kebahagiaan itu?"


Dengan polosnya, Jenar mempertanyakan hal itu. Padahal Wisnu terus berusaha setengah mati untuk menahan segala kegugupan yang ia rasakan. Gugup, karena setelah perpisahannya dengan Dira, baru kali ini ia begitu dekat dengan seorang gadis.


"Maksud saya di masa depanmu, Jen."


"Jika memang kamu mengizinkan, saya bersedia untuk menjadi masa depanmu Jen."


Kali ini, justru Jenar lah yang terperangah tiada percaya. Niat hati hanya ingin menggoda sang pimpinan, namun malah ditanggapi serius oleh lelaki itu.


Mendadak pipi Jenar merona merah. Sedikit rasa gugup juga tengah ia rasakan. "Jangan bercanda Pak. Candaan Bapak ini sungguh sangat tidak lucu."


Gegas, Jenar bangkit dari posisi duduknya bermaksud untuk mengemasi barang-barang bawaannya. Namun, buru-buru lengan tangan gadis itu ditarik oleh Wisnu hingga membuatnya jatuh di atas dadanya yang bidang. Kedua bola mata Jenar terbelalak dan membulat sempurna di saat bibirnya hampir saja mendarat cantik di atas bibir Wisnu. Dan, bisa dipastikan kini jantungnya berdegup lebih kencang.


"Saya sedang tidak bercanda Jen. Saya bertanya sekali lagi, bersediakah engkau jika aku lah yang akan menjadi masa depanmu? Masa depan yang mana hanya akan menawarkan kebahagiaan untukmu?"


"S-Saya ..... "

__ADS_1


Jenar memangkas ucapannya di saat Wisnu mencoba untuk mengikis jarak yang tercipta dengan mendekatkan wajahnya di wajah Jenar. Semakin lama semakin dekat dan sorot mata duda berusia empat puluh tahun itu fokus dengan bibir ranum sang gadis. Sebentuk bibir yang nampak sedikit basah dan terlihat begitu menggoda untuk bisa ia kecup.


Tanpa disadari, Jenar memejamkan mata layaknya adegan-adegan kissing di drama Korea yang pernah ia lihat. Dengan jarak sedekat ini, Jenar bisa merasakan hembusan napas Wisnu yang menerpa wajah.


Jemari tangan Wisnu membelai pipi Jenar dan ia usap bibir tipis gadis ini. Dan ia pun tersenyum penuh arti. "Aku akan menikmati bibir ini jika kamu sudah resmi menjadi istri saya, Jen."


Jenar terhenyak. Buru-buru ia membuka kembali kelopak matanya. Sungguh malu, sangat, sangat malu. Ia pikir Wisnu akan melakukan adegan kissing seperti drama-drama Korea yang pernah ia tonton. Namun ternyata di luar dugaan.


"Eh, s-saya...."


Wisnu kembali tersenyum manis. Ia usap kembali pipi Jenar dengan lembut. "Saya sudah jatuh hati kepadamu sejak pertama kali kita bertemu Jen. Meski begitu, saya berjanji tidak akan pernah merusakmu. Dan, jika memang saat ini kamu menginginkan untuk berciuman denganku, mari kita menikah terlebih dahulu. Setelah itu baru kita melakukan itu. Bagaimana? Kamu setuju?"


"Loh, kok malah jadi seperti ini?"


.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❤❤❤


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan

__ADS_1


__ADS_2