
Selamat membaca 😘😘😘
Brak!!!
Suara daun pintu yang terhempas dengan kasar, sukses membuat Stevi yang sedang berbaring di atas ranjang terperanjat seketika. Saking kerasnya daun pintu yang mengenai sudut dinding, sampai-sampai membuat handphone yang berada di dalam genggaman Stevi terjatuh hingga mengenai pangkal hidungnya. Gegas, wanita yang saat ini tengah mengandung itu, menautkan pandangannya ke arah pintu kamar.
"Fir, kamu dari mana dan kenapa? Sedari tadi keluyuran dan pulang-pulang dalam keadaan kacau seperti ini? Apa yang sedang kamu lakukan, hah?!"
Stevi menggeser tubuhnya untuk bisa bersandar di headboard ranjang. Ia sedikit merapikan rambut dengan mengikatnya. Beberapa hari terakhir, kesabarannya seakan diuji habis-habisan tatkala melihat calon suami yang hingga saat ini tidak juga menikahinya, selalu pulang dalam keadaan kacau. Lelaki itu memang tidak terlihat pulang dalam keadaan mabuk. Namun air wajahnya nampak begitu kacau. Dan pastinya, hampir semua barang yang berada di dalam rumah menjadi korban dari amukannya.
"Aaarrrggghhh ... gila, gila, gila. Dia mendapatkan uang dua milyar secara cuma-cuma sedangkan aku, aku saat ini semakin belangsak saja. Apa yang saat ini bisa aku banggakan? Aaarrrggghhh ...."
Firman berteriak frustrasi sambil mengacak rambutnya kasar dan juga memukul-mukul kepalanya. Masih terbesit rasa tidak rela ketika melihat sang mantan calon istri mendapatkan seorang pengganti yang jauh-jauh lebih segalanya. Ia berpikir, ketika ia menghianati jalinan kasih yang ia jalin bersama Jenar berakhir, gadis itu akan tenggelam dalam duka dan lara yang tiada pernah berakhir. Namun kenyataannya, baru beberapa hari saja sudah ada cinta baru yang hadir. Sungguh, Firman sampai tidak habis pikir.
Kening Stevi berkerut dengan kedua alis yang saling bertaut. Sungguh, dalam benaknya ada sebuah pertanyaan yang semakin menuntut untuk dijawab oleh lelaki di hadapannya ini. Apa sejatinya yang telah terjadi, hingga membuatnya seperti seseorang yang murka seperti ini.
"Apa maksud ucapanmu itu Fir? Siapa yang kamu maksud mendapatkan uang dua milyar secara cuma-cuma? Dan ada hubungan apa itu semua denganmu?"
"Jenar, dia diberi mahar dua milyar oleh suaminya. Dan sekarang hidupnya bergelimang harta karena dipersunting oleh lelaki kaya raya itu."
Entah penyakit hati apa yang menguasai Firman hngga ia merasa tidak rela melihat mantan calon istrinya itu mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Dalam hati terbesit rasa iri, dengki ataupun sejenisnya yang serasa menyiksa jiwa. Ternyata memang benar apa yang orang katakan, penyakit hati jauh lebih memiliki dampak buruk bagi kewarasan manusia yang hidup di dunia ini. Penyakit itu tak kasat mata namun sukar untuk mendapatkan penawarnya.
"Jika Jenar mendapatkan suami orang kaya, lalu apa hubungannya denganmu Fir? Bukankah itu semua tidak ada kaitannya denganmu? Mau mendapatkan suami orang kaya atau orang miskin, apa urusannya denganmu?"
__ADS_1
"Tidak bisa begitu. Seharusnya ia menderita terlebih dahulu karena aku tinggalkan. Namun apa sekarang? Sekarang dia bahkan jauh lebih bahagia dari sebelumnya."
Stevi kian terperangah. Tidak ia sangka jika kekasihnya ini masih saja mengurusi kehidupan mantan calon istrinya. Dan yang lebih parahnya lagi, di raut wajah Firman nampak begitu kecewa melihat Jenar mendapatkan kebahagiaan. Firman seolah sedang merasakan penyesalan yang mendalam karena pernah menghianati Jenar.
"Lalu sekarang kamu mau apa? Apa yang akan kamu lakukan untuk bisa terlepas dari lilitan ketidakrelaanmu melihat Jenar bahagia seperti itu?"
Pertanyaan yang terlontar dari bibir Stevi, sukses membuat hati Firman tertohok. Seketika kesadaran itu kembali ke permukaan bahwa ia memang sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Semua sudah terjadi dan mungkin saat ini yang tersisa hanya tinggal penyesalan diri.
Firman yang sebelumnya berdiri di depan jendela, kini ia daratkan bokongnya ke sebuah kursi plastik yang berada di sudut ruangan. Pikirannya masih menerawang, meratapi nasib yang kian menyedihkan. Pendidikan yang harus terhenti di tengah jalan. Murka sang ayah yang membuat hidupnya semakin terabaikan dan juga tidak ada modal ataupun warisan yang diberikan untuk menata masa depan seolah menjadi kegetiran hidup yang semakin menjerumuskan ke dalam kenelangsaaan.
"Untuk apa lagi kamu mengingat-ingat tentang Jenar, Fir? Tidak selayaknya kamu masih terjebak dalam perasaan itu. Ingat, saat ini ada aku dan juga calon anakmu yang sedang tumbuh di dalam rahimku. Apakah kamu tega mengabaikanku?"
Atas desakan rasa sesak yang membelenggu dalam dada pada akhirnya jatuh sudah bulir bening yang berkumpul di pelupuk mata. Ia sadar jika telah terlanjur mengambil langkah yang salah. Merebut paksa seorang laki-laki yang sudah memiliki sebuah ikatan hati. Ia berpikir, hanya akan ada bahagia yang menghampiri, namun pada kenyataannya sikap Firman yang seperti ini justru semakin menggerus hati.
Firman masih tak bergeming sedikitpun. Meski ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut Stevi semakin menggiring ke tepian rasa bersalah. Lelaki itu masih enggan menatap wajah seorang wanita yang tengah mengandung benih cintanya ini.
Perlahan, Stevi beranjak dari posisinya. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah meja, di mana terdapat naman buah lengkap dengan pisaunya. Tanpa basa-basi, wanita itu mengambil sebilah pisau yang ada di sana.
"Bunuh saja aku Fir, bunuh saja aku. Sudah tidak ada lagi yang aku miliki di dunia ini. Rumah, uang, keluarga, semua sudah menghilang dari kehidupanku. Dan jika saat ini kamu pun masih mengabaikan keberadaanku, lebih baik aku enyah dari dunia ini. Bunuh saja aku. Biar aku terlepas dari derita ini. Semua sudah aku lakukan untukmu, namun apa balasanmu? Apa balasanmu, hah?"
Firman terkejut setengah mati kala manik matanya melihat sebilah pisau telah berada tepat di hadapannya. Sungguh yang dilakukan oleh Stevi ini di luar bayangannya. Wanita itu berani berbuat nekat seperti ini.
Firman bangkit dari posisi duduknya. "Hentikan Stev, jangan seperti ini. Itu akan berbahaya untukmu!"
Kewarasan Firman yang sebelumnya hilang, tenggelam dalam lautan penyesalan atas perselingkuhan yang ia lakukan, hingga membuatnya uring-uringan kala melihat Jenar menjemput kebahagiaan kini kembali ke permukaan. Raut wajah Stevi yang dipenuhi oleh rona putus asa ini sukses menohok hati.
__ADS_1
Stevi tersenyum miring. Namun tak selang lama, air mata itu deras mengalir. "Bukankah ini yang kamu mau? Kamu mengabaikan aku, dan itu artinya kamu membunuhku secara perlahan Fir. Ayo bunuh aku segera, bunuh aku saat ini juga agar aku terlepas dari semua derita!"
Stevi semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Firman, hingga membuat pikiran lelaki itu semakin buntu dibuatnya. Tanpa berpikir panjang, ia menginjak kaki Stevi hingga wanita itu memekik kesakitan.
"Aaaahhhh .... apa-apaan kamu Fir!"
Seketika, pisau yang sebelumnya berada di dalam genggaman, terjatuh di atas lantai. Tak ingin membuang banyak waktu, Firman menarik tubuh Stevi untuk ia bawa ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, maafkan aku. Aku berjanji, tidak akan mengabaikanmu lagi!"
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hayooo yang udah menunggu part-part panas... Hihihi hihihi sabar dulu ya Kak... Part Firman selesai ya.. Dia sudah legowo untuk menerima keadaan hidupnya... hihihih hihi🤣🤣🤣
Thor, kita kok gak di undang di acara nikahan Wi-Jen? Tenang-tenang... nanti akan saya undang di part resepsi sekaligus ending dari novel ini ya Kak... ❤️❤️❤️
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺
Salam Love, love, love❤❤❤
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca
__ADS_1