
Selamat Membacaπππ
"Sudahlah Jen, tidak perlu kamu pikir dalam-dalam. Yang terpenting kita memang tidak ada hubungan apapun bukan? Selain hanya sebatas partner kerja?"
Selepas keluar dari mall, Wisnu memacu laju kendaraannya untuk bersegera pulang. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam, namun ruas-ruas jalan masih nampak begitu ramai dengan hiruk-pikuk keramaian kota. Kuda-kuda besi yang berlalu lalang pun turut membuat suasana malam ini semakin ramai saja.
"Apakah saya memang bersalah Pak? Karena lebih memilih untuk ikut dengan pak Wisnu daripada ikut dengan calon suami saya? Apakah sikap saya ini sudah termasuk salah satu indikator bahwa saya memang bukanlah wanita setia?"
Sembari memangku Citra yang sudah terlelap, Jenar menyapu pandangannya ke arah luar dengan tatapan sedikit menerawang. Meski suasana malam seperti ini nampak begitu memukau, namun sepertinya sama sekali tidak menarik untuk gadis itu.
"Tidak Jen, kamu sama sekali tidak salah. Saya rasa kamu sudah melakukan hal yang benar. Kamu tidak perlu minta maaf karena kamu memang tidak bersalah. Justru seharusnya kekasihmu itulah yang seharusnya minta maaf karena telah berani ber..."
Wisnu terkesiap ketika ingatannya tiba-tiba pulih. Tidak menyangka jika ia hampir saja kelepasan untuk membongkar aib Firman. Beruntung akal sehatnya masih terjaga.
"Berani apa Pak? Kok tidak dilanjutkan?"
Wisnu tersenyum kikuk. Sungguh sangat tidak tega jika sampai Jenar mengetahui kelakuan Firman di belakangnya.
"Karena dia telah berani membuat rusuh food court tadi Jen. Kamu bisa lihat bukan kalau kekasihmu itu berteriak-teriak sampai membuat orang-orang yang berada di sekeliling kita menatap dengan tatapan mengerikan?"
Wisnu sedikit lega karena ia bisa menahan sedikit keinginannya untuk membongkar kebusukan Firman di depan Jenar. Ia berpikir, saat ini biarkan Jenar menikmati masa-masanya untuk menjadi seorang wanita berkelas. Dengan tidak terlalu lemah ketika berada di depan Firman. Melihat respon Jenar yang biasa saja tatkala menanggapi pernyataan Firman, Wisnu percaya jika gadis ini lambat laun akan membentengi hatinya dengan dinding yang kokoh sehingga bisa berpikir secara rasional.
"Saya juga tidak menyangka jika akan menjadi seperti ini Pak? Ternyata hubungan saya dengan bang Firman jauh terjalin dengan baik ketika kami berjauhan. Sedangkan saat ini, ada saja hal-hal yang membuat kami berselisih paham."
Itu artinya, perlahan Tuhan akan membuka semua keburukan-keburukan Firman, Jen. Pastinya sambil menguatkan hatimu sehingga kamu tidak akan pernah rapuh.
__ADS_1
"Di dalam sebuah hubungan, berselisih paham merupakan hal yang lumrah dan wajar. Nikmati saja semua proses ini untuk mendewasakanmu Jen!"
"Hoaaammm .... Entahlah Pak, semakin saya mengingat kejadian tadi, saya malah merasa ngantuk."
Jenar menguap diiringi dengan warna mata yang sudah memerah. Sebagai pertanda bahwa gadis itu memang sedang dilanda rasa kantuk yang begitu hebat. Dan benar saja, tanpa menunggu waktu lama, Jenar mulai kehilangan kesadarannya dan seketika larut di dalam buaian mimpi.
Sekilas, Wisnu melirik ke arah gadis ini. Sungguh hanya bisa membuat Wisnu terkikik geli saja. Tanpa berpamitan, gadis ini tiba-tiba tertidur pulas. Hati duda itu justru kian menghangat kala melihat Jenar dan Citra kompak memejamkan mata. Sungguh sebuah pemandangan langka layaknya ibu dan anak yang tengah tidur bersama.
"Aku pasti akan sangat berbahagia sekali Jen, seandainya kamu benar-benar bisa menjadi ibu untuk Citra."
Tiga puluh menit lebih berada di perjalanan, pada akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Wisnu tiba di depan pintu gerbang. Tak selang lama, Kasim membuka pintu pagar yang menjulang itu dan mempersilahkan sang majikan untuk masuk.
"Pak, tolong angkat Citra dan bawa ke kamar ya," ucap Wisnu sembari membuka pintu mobil di samping bangku yang diduduki oleh Jenar.
"Wah, ternyata neng Jenar dan non Citra sama-sama tertidur ya Tuan? Kok bisa barengan seperti ini?"
"Lalu bagaimana dengan neng Jenar, Tuan? Apa Tuan akan membangunkannya?"
"Iya Pak, nanti akan saya bangunkan. Tolong segera bawa Citra ke kamar ya Pak, agar bisa segera beristirahat."
"Baik, Tuan."
Perlahan, Kasim merengkuh tubuh Citra untuk ia pindah ke dalam gendongannya. Penjaga rumah milik Wisnu itupun mulai mengayunkan kaki untuk bersegera ke kamar Citra. Sedangkan Wisnu, duda berusia empat puluh tahun itu masih setia berada di dalam mode hening dengan tubuh yang terpaku kala memandang wajah perempuan yang nampak begitu ayu. Membuatnya tersipu malu, karena tanpa disadari ia telah terjebak dalam sebuah rasa yang teramat mengganggu kalbu. Sebuah rasa yang terasa semakin menggebu untuk bisa menjadikannya sosok seorang ibu untuk anak-anaknya yang lucu. (Haduh Bang, sepertinya kamu semakin halu dan minta untuk ditendang bokongmuπ)
"Jen, ayo bangun. Kita sudah sampai!"
Dengan lembut, Wisnu menepuk pundak Jenar, dengan maksud membangunkannya. Gadis itu nampak sedikit menggeliat, namun pada akhirnya tepar lagi. Wisnu hanya dibuat tergelak oleh tingkah polah gadis ini. Kini, ia semakin mengerti mengapa Jenar sering terlambat. Ya karena memang cara tidur gadis ini pulas sekali.
__ADS_1
"Kasihan juga kalau aku harus memaksa Jenar untuk bangun. Tapi bagaimana? Jika aku membawa pulang Jenar dalam keadaan seperti ini pasti akan muncul pikiran-pikiran buruk dari orang-orang yang berada di sekitar Jenar."
Wisnu nampak berpikir keras untuk mencari sebuah solusi. Lama ia terlihat menimbang-nimbang akan hal apa yang harus ia lakukan. Dan pada akhirnya, ia berhasil memutuskan sesuatu.
Dengan hati-hati, Wisnu mengangkat tubuh Jenar ala-ala bridal style. Ia memutuskan untuk membiarkan Jenar bermalam di rumah miliknya saja. Dengan maksud agar gadis ini bisa segera beristirahat. Wisnu jejakkan telapak kakinya yang berbalut sepatu itu menyusuri halaman depan. Ia masuk ke area dalam rumah dan berpapasan dengan Darmi yang sedang melintas.
"Apa perlu saya bantu untuk mengangkat tubuh neng Jenar ini, Tuan? Barangkali Tuan keberatan."
Ah, mbok Darmi ini seperti tidak pernah mengalami masa muda di saat sedang jatuh cinta. Di saat sedang jatuh cinta, seberat apapun badan seseorang akan terasa ringan. Karena rasa bahagia, rasa cinta, dan rasa senang itulah yang membuat lebih ringan. Mau jalan sejauh apapun pasti akan dijabanin. Berbeda kalau sudah menikah. Setelah menikah, jangankan berjalan berkilo-kilo sambil menggendong pasangan, baru tiga meter saja pasti sudah ngos-ngosan. Apa benar seperti itu Kakak-kakak semua? ππ
"Tidak perlu Mbok, saya masih kuat untuk mengangkat Jenar kok." Wisnu sedikit membenahi posisi Jenar. "Saya ke atas dulu ya Mbok. Mau meniduri Jenar!"
"Hah, apa Tuan? Meniduri? Astaghfirullahalazim... Eling Tuan, eling. Tuan belum boleh meniduri neng Jenar." Darmi sejenak menjeda perkataannya dan berdecak lirih. "Ckckckck ckckckck... Oma pasti akan sangat sedih jika melihat Tuan meniduri seorang gadis."
Lagi-lagi Wisnu hanya tergelak. Ia juga baru sadar jika telah salah menggunakan kosa kata. Rasa lelah dan kantuk ternyata membuatnya sedikit tidak fokus dengan apa yang ia ucapkan hingga membuat Darmi salah paham.
"Hahahaha maksud saya menidurkan Jenar, Mbok. Menidurkan Jenar di atas tempat tidur."
Darmi mengelus dada, sebagai ungkapan rasa lega. "Alhamdulillah kalau begitu mah, Simbok jadi tenang mendengarnya. Ya sudah, sok atuh bawa neng cantik ini ke kamar, Tuan."
"Saya ke atas dulu Mbok..."
.
.
ππππππ
__ADS_1
Lanjut nanti lagi ya Kak.. InshaAllah jam-jam 9 atau 10 malam.. Hihi hihihihiπ₯°π₯°π₯°