
Selamat Membaca😘😘
"Jadi, Jenar belum sampai kontrakan?"
"Belum Bang. Sedari tadi Jenar belum sampai."
Firman mengacak rambutnya frustrasi kala mendengar penjelasan salah satu teman Jenar bahwa gadis yang ia cari belum juga tiba di kontrakan. Selepas dari pabrik di mana Jenar bekerja, buru-buru ia menuju kontrakan sang kekasih. Menemuinya untuk langsung meminta maaf. Namun naas, ternyata sang kekasih justru belum tiba di kontrakan.
Firman mendaratkan bokongnya di sebuah kursi rotan yang berada di teras. Ia ambil ponsel yang ada di dalam saku celana bermaksud untuk menghubungi sang kekasih. Lagi-lagi nasib Firman kurang beruntung. Ponsel Jenar tidak dapat dihubungi.
"Hah .... kemana kamu Jen? Masa iya kamu diculik?"
Hembusan nafas kasar keluar bebas melalui mulut pemuda berusia dua puluh lima tahun itu. Tidak menyangka jika saat ini Jenar lah yang sulit dihubungi, setelah ia mengabaikan panggilan telepon dari sang gadis. Ada sedikit rasa bersalah yang menyentil hati kala mengabaikan, namun mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur keenakan mendapatkan servis dari Stevi yang merupakan kekasih simpanannya.
Firman bermaksud bersegera pergi dari kontrakan Jenar, namun seketika ia urungkan niatnya kala melihat sebuah mobil memasuki area halaman. Mobil itu berhenti dan tak selang lama, dua sosok manusia terlihat keluar dari dalam mobil.
"Bang Firman?"
Jenar sedikit terkejut kala melihat sang calon suami duduk di teras. Ia yang sedari tadi menunggu kedatangan Firman yang tidak kunjung datang, saat ini malah sudah berada di kontrakan. Gadis itu juga sedikit tidak enak hati dalam posisi diantarkan oleh pimpinan. Ia khawatir jika muncul kesalahpahaman di pikiran Firman.
Firman menatap lekat sosok lelaki yang berjalan di sisi Jenar. Ada sedikit rasa tidak rela melihat gadis ini berjalan bersisihan dengan sang kekasih. Terlebih, lelaki ini nampak begitu berkharisma.
"Dari mana kamu Jen? Mengapa baru pulang? Dan ini siapa? Siapa lelaki ini?"
Jenar tersenyum kikuk. Dari nada bicara Firman, ia bisa menangkap sebuah sinyal bahwa kekasihnya ini memang tengah dilanda oleh rasa cemburu. Ia mendekat ke tubuh Firman, mencoba untuk memberikan penjelasan.
"Bang, ini adalah pak Wisnu. Beliau adalah pimpinan perusahaan di tempat..."
"Oh, jadi karena dia adalah pimpinan perusahaan dan mengendarai mobil, kamu lebih memilih diantar pulang dia daripada menungguku?"
__ADS_1
Dengan nada sedikit keras, Firman memotong ucapan Jenar. Entah apa yang terjadi, melihat gadis yang akan menjadi calon istrinya ini diantar oleh lelaki lain, membuat dadanya bergemuruh. Ucapan itulah yang membuat Wisnu dan juga Jenar sama-sama terperangah tidak percaya.
"Tapi Bang, sedari tadi aku sudah menunggu Bang Firman. Hampir satu jam lebih. Namun Abang aku hubungi sama sekali tidak memberikan respon apapun. Aku chat, tidak dibalas. Aku call, tidak diangkat..."
"Tapi seharusnya kamu bisa menungguku kan? Aku pasti datang menjemput karena aku sudah berjanji. Tapi mengapa kamu malah pulang bersama lelaki lain?"
Jenar tidak lagi dapat mengatakan apapun, karena lagi-lagi Firman memangkas ucapannya. Kepalanya menunduk, mencoba mencari cara agar kekasihnya ini tidak lagi dikuasai oleh rasa cemburu. Namun sia-sia, Jenar tetap mengalami kebuntuan. Sedangkan Wisnu, lelaki itu hanya dapat menatap iba melihat perubahan raut wajah salah satu pegawai di perusahaannya ini.
"Tunggu, tunggu, tidak seharusnya kamu menyalahkan Jenar dalam perkara ini. Karena sejatinya kamulah yang bersalah. Jika kamu membalas chat yang Jenar kirim dan menjawab panggilan telepon Jenar untuk memberikan kepastian, Jenar pasti akan menunggu sampai kamu datang. Tapi kenyataannya tidak bukan? Kamu bahkan mengabaikannya, membuatnya menunggu terlalu lama."
Tidak tega, melihat Jenar dicecar dengan ucapan yang semakin menyudutkan gadis itu ke dalam rasa bersalah, Wisnu memasang badan untuk membela gadis ini yang sukses membuat Firman tiada berkutik sama sekali.
"Anda jangan ikut campur. Ini urusan saya dengan calon istri saya. Lagipula, Anda tahu apa tentang kekasih saya ini? Jangan coba-coba ikut campur dengan urusan kami. Saya lebih tahu mana yang baik untuk Jenar."
Wisnu hanya tergelak lirih. Rupa-rupanya, lelaki yang merupakan kekasih Jenar ini merupakan salah satu lelaki yang tidak mau mengalah dan tidak mau mengakui kesalahannya.
"Benarkah seperti itu? Namun aku rasa tidak. Karena lelaki yang baik adalah lelaki yang tidak pernah membiarkan wanitanya menunggu dalam ketidakpastian. Sedangkan yang kamu lakukan adalah sebaliknya. Kamu membuat kekasihmu menunggu ini tanpa kejelasan."
Merasa tersudut, Firman menatap tatapan Wisnu dengan tatapan membidik. Sebagian dari hati milik pemuda itu seperti sudah dikuasai oleh rasa kesal. "Jaga bicara Anda, Tuan. Saya tidak memberikan harapan palsu kepada kekasih saya ini. Pada kenyataannya saya datang menjemputnya, bukan?"
Tidak ingin Jenar semakin terbebani dengan apa yang menjadi spekulasinya, Wisnu memilih untuk menghentikan ucapannya. Ia benar-benar curiga jika pemuda ini telah melakukan sesuatu yang buruk di belakang Jenar.
"Sedang apa maksud Anda? Mengapa tidak Anda melanjutkan perkataan Anda?"
Firman semakin dibuat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Wisnu. Pimpinan perusahaan Jenar ini seperti sengaja melakukan provokasi yang semakin membuatnya merasa tersudut.
"Ahahaha... Lupakan saja. Namun, hanya satu yang menjadi pesanku." Wisnu menepuk-nepuk bahu Firman dengan pelan. "Jadilah lelaki yang tidak pernah membuat wanitanya menunggu. Karena ketahuilah, di luar sana mungkin banyak lelaki lain yang dengan sabar menunggu wanitamu ini."
Ucapan Wisnu sukses membuat Firman terperangah. Bibirnya menganga lebar, dengan kedua bola mata yang sedikit terbelalak.
Merasa sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, Wisnu memutar tumitnya untuk bersegera meninggalkan kontrakan milik Jenar ini. Sejenak, ia menghentikan langkah kakinya, dan sedikit berbalik badan. "Segeralah beistirahat Jen. Besok hari libur, gunakan waktu liburmu dengan hal-hal yang bermanfaat. Salah satunya dengan merefresh pikiran."
__ADS_1
Jenar hanya mengangguk pelan. "Terima kasih untuk tumpangannya pak Wisnu."
Wisnu kembali mengayunkan langkah kakinya untuk menjangkau mobil yang sudah terparkir di halaman depan. Mobil itu bergerak perlahan, dan mulai hilang dari penglihatan Firman dan juga Jenar.
Firman kembali menatap lekat manik mata Jenar. Meski ia sudah bermain belakang, namun rasa-rasanya sangat tidak rela jika calon istrinya ini pergi bersama lelaki lain.
"Ingat ya Jen, aku sangat tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan lelaki itu. Mulai sekarang, kamu harus menjaga jarak dari lelaki itu. Jangan pernah lagi menerima tumpangan dari dia."
Tidak ingin permasalahan ini kian larut dan karena tubuhnya sudah terasa begitu lelah, Jenar pun memilih untuk mengalah. Ia mengangguk pasrah. "Iya Bang. Aku janji."
Melihat Jenar menuruti apa yang ia ucapkan, senyum tipis terbit di bibir Firman. Ia semakin meyakini jika Jenar adalah salah satu wanita penurut. "Baiklah kalau begitu. Sekarang kamu istirahat ya. Besok aku akan jemput kamu. Akan aku ajak kamu jalan-jalan di taman kota."
Biasanya, Jenar akan langsung antusias jika akan diajak jalan-jalan seperti ini, namun entah mengapa kali ini, gadis itu merasa biasa-biasa saja. Ia pun hanya tersenyum simpul seraya menganggukkan kepala. "Baik Bang."
"Ya sudah, aku pulang dulu Jen. Kamu langsung tidur ya. Ingat, jangan dekat-dekat lagi dengan lelaki itu. Apa kamu mau dianggap sebagai pelakor karena mendekati lelaki yang telah bersuami?"
Ingin rasanya Jenar menyanggah perkataan Firman bahwa Wisnu adalah seorang duda. Namun, ia seperti sudah tidak memiliki tenaga, hingga akhirnya ia hanya bisa menganggukkan kepala. "Iya Bang, iya. Aku masuk duluan ya Bang. Badanku lelah sekali."
Firman menyunggingkan sedikit senyum yang ia punya seraya mengacak rambut gadis ini sedikit kasar. "Iya Sayang. Selamat beristirahat ya."
Pada akhirnya gadis itu berlalu, untuk masuk ke dalam rumah. Diiringi oleh Firman yang juga turut meninggalkan kontrakan milik kekasihnya ini.
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Mohon maap... Baru bisa up.. kemarin sedang mencari angin akhir tahun... hihihihi☺☺
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺
__ADS_1
Salam Love, love, love❤❤❤
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca