Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 49 : Manis -2


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘


"Yakin, kamu pulang naik ojek online Jen?"


Selepas mengakhiri acara keluar masuk kamar mandi karena diare dan setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba di musholla, kini Jenar dan Wisnu berdiri di depan pos security. Sebentar, sebentar, menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba? Apakah itu artinya Wisnu juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Jenar? Jawabannya iya.


Ya, untuk kali pertama setelah sekian lama lelaki itu tidak mengingat akan keberadaan Tuhannya dengan mengerjakan apa yang menjadi kewajibannya, pada akhirnya lelaki ini kembali bertakbiratul ikhram, rukuk, i'tidal, sujud dan salam. Berawal dari Jenar yang merengek meminta ditemani shalat di musholla karena masih terbayang-bayang akan wajah kunti ori, akhirnya lelaki itu kembali mengerjakan shalat.


Wisnu hampir saja dibuat malu tatkala Jenar memaksanya untuk menjadi imam. Bagaimana mungkin ia menjadi imam jika bacaan shalat dan gerakan shalat saja ia lupa? Beruntung saat itu ada Komar yang juga akan mengerjakan shalat, sehingga Komar lah yang berperan menjadi imam. Wisnu bertekad setelah ini ia akan kembali belajar tentang bacaan dan gerakan shalat, sehingga tatkala gadis ini memintanya untuk menjadi imam, ia tidak akan kelabakan lagi.


Jenar menganggukkan kepala lirih seraya berkutat dengan ponsel yang ada di genggaman tangan. Kali ini, ia kembali menelan pil pahit janji-janji Firman yang entah sudah keberapa kali dilanggarnya sendiri. Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya pesan dari lelaki itu masuk ke ponsel Jenar dan gadis itu hanya bisa membuang nafas kasar karena lagi-lagi Firman tidak dapat menjemputnya.


"Iya Pak, saya akan pulang naik ojek online. Ini saya sudah mendapatkan driver. Dan sebentar lagi driver itu akan tiba."


"Jen, mengapa kamu tidak mengizinkan saya untuk mengantarmu pulang? Naik ojek online ataupun saya antar juga sama saja bukan? Sama-sama diantar oleh seseorang yang bukan kekasihmu?"


Sangat masuk akal ucapan yang dilontarkan oleh Wisnu. Karena memang pada dasarnya, Wisnu dan juga driver ojek online sama-sama bukan kekasihnya. Sehingga sah-sah saja jika Wisnu yang mengantar. Namun Jenar teringat akan satu hal. Bahwasannya ia telah berjanji kepada Firman jika tidak akan mau lagi diantar oleh Wisnu.


"Tidak perlu, Pak. Saya naik ojek online saja. Lagipula saya..."


"Kamu sudah berjanji kepada kekasihmu untuk tidak mau untuk saya antar? Begitukah maksudmu Jen?"


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Jenar hanya mengangguk lirih. Hal itulah yang membuat Wisnu tersenyum tipis.


"Jen, kamu boleh menolak tawaran dari saya untuk mengantarkanmu pulang. Namun saat ini kamu sedang sakit, tepatnya diare. Saya sungguh tidak tega membiarkanmu pulang diantar oleh ojek online Jen."


"Pak Wisnu tenang saja. Saya akan baik-baik saja."


"Tapi Jen...."


Ucapan Wisnu terpangkas kala deru suara motor semakin mendekat ke arah mereka. Tak selang lama, seorang driver ojek online dengan jaket berwarna hijau menghampiri Jenar.


"Mbak Jenar ya?" ucap sang driver sembari mencocokkan nama seseorang yang berdiri di depan pos security ini dengan nama yang berada di dalam aplikasi.


"Benar Pak."


"Mari silakan Mbak. Ini helm-nya. Jangan lupa dipakai sampai berbunyi klik ya."

__ADS_1


"Iya Pak, terima kasih." Jenar memasang helm di atas kepala. Sejenak ia mengedarkan pandangannya ke arah Wisnu yang masih setia berdiri di dekatnya. "Saya pamit terlebih dahulu ya Pak. Terima kasih banyak untuk traktiran seblaknya dan terima kasih karena sudah mengantar saya ke kamar mandi."


Ada sedikit rasa tidak rela saat melepas Jenar naik ojek online. Ingin rasanya ia menarik paksa gadis itu dengan cara membopongnya untuk segera ia masukkan ke dalam mobil namun lagi-lagi Wisnu sadar diri akan siapa dirinya.


Wisnu membuang nafas sedikit kasar. "Hahhh... baiklah Jen. Kamu berhati-hatilah."


Jenar mengulum senyum termanis yang ia miliki sembari mulai mendaratkan bokongnya di belakang driver ojek online. "Iya Pak. Sekali lagi terima kasih banyak."


"Bisa kita berangkat sekarang Mbak?"


"Bisa Pak, mari berangkat."


Jenar masih sempat tersenyum manis ke arah Wisnu kala motor yang dikemudikan oleh driver ini mulai bergerak perlahan. Yang membuat Wisnu tidak semakin tenang namun justru semakin membuat Wisnu semakin cemas.


"Astaga, sepertinya aku benar-benar sudah gila. Aku tidak bisa tenang sebelum melihat Jenar tiba di kontrakan dengan mata kepalaku sendiri."


🍁🍁🍁🍁


Motor ojek online yang membawa tubuh Jenar, akhirnya berhenti dengan selamat di depan halaman depan. Gadis itu turun dari motor dan melepas helm yang ia pakai. Ia kembalikan ke arah sang driver sembari memberikannya ongkos.


"Ada uang kecil saja Mbak? Saya tidak punya kembalian. Karena sedari tadi customer saya membayar dengan gopay."


"Tidak perlu dikembalikan Pak. Kembaliannya untuk Bapak saja."


"Tapi ini banyak sekali Mbak."


Jenar menggelengkan kepala seraya tersenyum manis ke arah driver ojek online yang seusia ayahnya ini. "Tidak mengapa Pak. Kembaliannya bisa Bapak gunakan untuk membeli keperluan di rumah."


"Tapi Mbak, ini...."


"Tidak apa-apa Pak. Saya ikhlas. Semoga Bapak dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan ya."


"MashaAllah ... Saya sampai tidak bisa berkata apa-apa Mbak. Aamiin, aamiin. Begitu pula untuk Mbak nya ya. Semoga selalu sehat, selamat dan berbahagia."


"Aamiin..."


"Kalau begitu, saya pamit terlebih dahulu Mbak. Sekali lagi terima kasih banyak."


"Sama-sama Pak."

__ADS_1


Driver ojek online itu kembali menyalakan mesin motornya dan mulai meninggalkan Jenar yang masih berdiri di depan halaman. Melihat driver ojek online itu hanya membuat mata Jenar memanas. Tetiba ia teringat akan sang ayah. Ia semakin sadar bahwa pengorbanan sosok seorang ayah untuk menjadi tulang punggung keluarga memang begitu besar. Driver ojek online tadi nampak sudah memasuki usia paruh baya namun masih terlihat begitu bersemangat dalam mencari rezeki. Apa lagi yang membuatnya bersemangat jika bukan anggota keluarganya?


"Aaaahhh ... rasa-rasanya aku semakin merindukan ayah dan bunda. Setelah ini, aku akan menghubungi mereka."


Jenar mengayunkan kaki untuk memasuki area teras. Namun baru beberapa langkah kakinya terayun tiba-tiba...


"Jen!"


Jenar terkesiap. Kala suara bariton terdengar memenuhi indera pendengarannya. Gegas ia berbalik badan dan melihat siapa gerangan yang memanggil namanya.


"Pak Wisnu?"


Wisnu tersenyum manis. Ada rasa lega yang mengalir di aliran-aliran darahnya kala melihat gadis ini bisa tiba di kediamannya dalam keadaan selamat.


"Ya, ini saya!"


"Pak Wisnu mengapa sampai di sini? Apakah pak Wisnu ada keperluan di dekat-dekat sini?"


Duda berusia empat puluh tahun itu hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat membenarkan apa yang diucapkan oleh Jenar. "Ya, saya memang ada keperluan di sini. Tepatnya di tempatmu."


Jenar terperangah dong mendengar jawaban Wisnu. Gadis itu sedikit melongo karena tidak paham dengan maksud yang diucapkan oleh bos nya ini. "Maksud pak Wisnu apa?"


"Saya hanya memastikan bahwa kamu selamat sampai di kediamanmu. Dan saya membawakan ini untukmu."


Wisnu mengulurkan sebuah kantong plastik warna putih ke arah Jenar dan justru semakin membuat gadis itu terheran-heran. "Ini apa Pak?"


"Ini ada martabak manis dan martabak asin. Dan ada juga obat diare. Jangan lupa diminum ya obatnya. Semoga lekas sembuh."


Deg... deg.. deg...


Mendadak jantung Jenar berdetak kencang tiada beraturan. Meski pemberian martabak dan obat ini di mata orang nampak biasa saja namun entah mengapa di sudut hati terdalam gadis itu mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Wisnu ini terkesan manis sekali. Manis, layaknya gulali ataupun cotton candy.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2