
Selamat Membacaπππ
"Kakak cantik!!"
Teriakan Citra terdengar memekak telinga, memenuhi segala penjuru ruangan ini. Gadis kecil yang sebelumnya tengah bermain puzzle bersama Darmi dan Kasim, gegas berlari kecil dan berhamburan di pelukan Jenar. Dari ekspresi wajah yang ditampakkan oleh gadis itu nampak jelas jika saat ini ia tengah riang gembira atas kedatangan sang kakak cantik.
Wajah Jenar yang sebelumnya dipenuhi oleh kekesalan, kini mulai memudar. Berganti menjadi rona penuh kebahagiaan kala melihat siapa gerangan gadis kecil yang baru saja berlarian dan kemudian berhamburan ke dalam pelukannya ini. Dengan erat, dan penuh kehangatan Jenar memberikan dekapannya untuk Citra.
"Hai Sayang, apa kabar? Baik?"
Jenar memberikan sapaan pertama kepada Citra setelah beberapa waktu tidak bertemu. Terakhir, mereka bertemu di taman kota, hampir satu minggu yang lalu. Tidak lupa, gadis belia itu membelai lembut rambut Citra yang begitu wangi akan aroma khas shampoo anak seusianya.
"Kabar Citra baik, Kakak cantik. Kakak cantik juga baik kan?"
Masih dalam mode memeluk tubuh Citra, Jenar menganggukkan kepala. "Tentu saja Kakak baik-baik saja Sayang. Jika tidak baik, Kakak tidak akan pernah bisa sampai di rumah Citra."
"Jadi, Kakak cantik datang kemari akan bobok di rumah Citra kan?"
Jenar hanya tergelak mendengar celotehan kecil gadis kecil ini. Sejatinya ia sendiri juga tidak tahu mengapa dirinya bisa sampai tiba di kediaman bos perusahaannya ini. Padahal tidak ada rencana sama sekali. Tanpa alasan yang jelas, bos perusahaan tempat ia bekerja, memaksanya untuk ikut dengannya.
"Kakak cantik tidak akan bobok di sini Sayang."
Melihat Jenar tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang putri, Wisnu berinisiatif untuk menjawab pertanyaan putrinya ini. Dan apa yang terucap dari bibir Wisnu, berhasil membuat Citra merenggangkan pelukannya dari tubuh Jenar dan mengedarkan pandangannya ke arah sang papa.
"Benarkah seperti itu Pa? Jika kakak cantik tidak mau bobok di sini, berarti kakak cantik hanya main-main saja?"
Ada sedikit rasa kecewa yang menggelayuti hati Citra kala mengetahui bahwa kakak cantiknya ini hanya main-main saja. Ia merasa jika hanya bermain saja, waktu kebersamaan yang akan ia habiskan bersama Jenar hanya sebentar saja. Beda cerita jika kakak cantiknya ini menginap di sini, pastinya kebersamaan itu akan jauh lebih lama lagi.
"Ya, memang seperti itu Sayang. Setelah ini kita akan main-main, tapi mainnya ke mall. Bagaimana? Citra mau?"
__ADS_1
Raut wajah yang sebelumnya sedikit sendu kala mengetahui sang kakak cantik hanya main-main saja, kini sedikit lebih cerah. Setidaknya, dengan jalan-jalan ke mall, waktu yang ia habiskan bersama dengan Jenar bisa sedikit lebih lama daripada hanya bermain di rumah saja.
"Wah, ke mall? Mau Pa, mau. Horee!!"
Lagi, gadis itu kembali melonjak kegirangan. Sampai membuat orang-orang dewasa yang berada di sekitar Citra turut merasakan kebahagiaan itu. Sungguh, kebahagiaan seorang anak kecil memanglah sederhana. Bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang yang ia cintai, sudah cukup membuatnya bahagia tiada terkira. Terlebih untuk Citra sendiri yang memang sejak kecil tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki sebuah keluarga yang utuh.
Hati Jenar pun turut menghangat kala melihat keceriaan gadis kecil ini. Melihat sosok Citra, membuatnya semakin bersyukur karena ia terlahir menjadi putri dari seorang wanita bernama Rukmana dan seorang laki-laki bernama Sutha, yang begitu mencurahinya dengan cinta dan kasih sayang.
"Ya sudah, sekarang Citra siap-siap dulu ya. Ganti baju sama mbok Darmi. Kakak cantik juga biarkan siap-siap terlebih dahulu."
"Oke Papa." Citra kembali menatap manik mata Jenar dengan lekat. "Kakak cantik, Citra ganti baju dulu ya."
"Iya Sayang. Kakak, akan menunggu Citra di sini."
Gadis kecil itu mengayunkan kaki untuk menuju kamar. Ditemani oleh Darmi, Citra berganti pakaian untuk siap-siap jalan-jalan ke mall.
"Nah Jen, bersihkan badanmu terlebih dahulu dan ganti baju."
Jenar dibuat sedikit terkejut oleh ucapan Wisnu ini. "Mandi? Ganti baju? Anda sedang tidak mengigau kan Pak?"
"Ishh, maksud saya bukan seperti itu Pak. Di mana saya harus mandi? Dan baju ganti siapa yang akan saya pakai? Saya sama sekali tidak membawa baju ganti Pak."
Kesal juga lama-lama Jenar dengan bos nya ini. Seringkali mengucapkan sesuatu tapi tidak dipikirkan matang-matang terlebih dahulu. Tanpa ia sadari, jika rasa kesal yang ia rasakan kepada Wisnu itulah yang membuatnya merasakan sesuatu berbeda yang ia rasakan terhadap sang bos. Komunikasinya dengan sang pimpinan jauh terasa lebih asyik dan tidak terlalu kaku.
"Masih tanya mandi di mana? Mandi ya di kamar mandi Jen. Memang mau mandi di mana? Oh, atau kamu mau mandi di kolam renang? Juga tidak masalah."
"Nah kan, malah bercanda. Saya serius Pak!"
"Hahahaha iya, iya, kalem saja, oke." Wisnu menggeser tubuhnya untuk menghadap anak tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. "Naiklah tangga ini. Setelah itu kamu belok ke kiri. Nanti di kamar paling ujung, ada sebuah kamar dan masuklah ke sana. Nanti di sana kamu bisa mandi dan mengganti pakaianmu dengan pakaian yang ada di dalam almari. Saya rasa, semua pakaian yang ada di dalam almari itu akan pas di badan kamu."
"Hah, Bapak menyuruh saya untuk masuk ke kamar itu dan memakai pakaian yang ada di sana?" Jenar menggelengkan kepala seraya bergidik ngeri. "Tidak, tidak. Saya tidak mau Pak."
__ADS_1
"Loh, tidak mau? Memang kenapa Jen? Saya rasa baju-baju yang berada di sana akan pas di badan kamu. Jadi, tidak masalah bukan?"
"Bukan masalah atau tidak masalah Pak. Tapi baju-baju itu milik siapa Pak? Apakah milik bunda Citra yang sudah meninggal? Dan setelah itu Pak Wisnu meminta saya untuk memakainya? Saya tidak mau Pak."
Jenar berpikir, Wisnu menjadi seorang duda karena istrinya meninggal di saat melahirkan Citra. Sehingga ia tidak mau memakai pakaian milik orang yang sudah meninggal. Baru saja beberapa saat yang lalu ia bertemu dengan kunti ori, dan hari ini ia diminta untuk memakai pakaian seseorang yang sudah meninggal. Sungguh, Jenar tidak cukup memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Ia khawatir jika memakai pakaian milik seseorang yang sudah meninggal, ia akan dihantui oleh orang itu.
Sepersekian menit, Wisnu mencoba untuk memahami apa yang diucapkan oleh Jenar. Namun, lagi-lagi lelaki itu hanya terbahak kala mendengar celotehan gadis ini.
"Hahahaha, kamu telah salah mengira Jen!"
"Salah mengira bagaimana maksud Bapak? Bukankah istri Bapak meninggal di saat melahirkan Citra? Pakaian-pakaian yang Bapak maksud itu milik almarhum istri Bapak kan?"
Seperti seorang intelejen yang berhasil memiliki data dan informasi seorang target, Jenar nampak berapi-api mengeluarkan pendapatnya. Padahal, apa yang ada di dalam pikirannya itu salah besar. Dan hanya dari Wisnu langsung lah yang dapat meluruskan nya.
"Apa kamu benar ingin tahu?"
Tanpa banyak berpikir, Jenar menganggukkan kepala. "Ya, saya ingin tahu semuanya Pak."
Perkataan Jenar ini malah justru membuat hati Wisnu berbunga-bunga. Meski terdengar begitu biasa namun sarat makna jika diresapi secara dalam.
"Baiklah, akan saya beritahu semua tentangku kepadamu." Wisnu sedikit merapatkan tubuhnya dengan tubuh Jenar. Kini jarak mereka hanya tinggal tiga puluh sentimeter saja. "Apakah ini juga bisa saya artikan bahwa kamu ingin mengenal saya lebih jauh lagi? Dan membuka peluang untuk kita bisa lebih dekat lagi?"
.
.
ππππππ
Q : Thor, Wisnu kok gak langsung nunjukin video Firman aja sih? Biar cepet ketahuan tuh si Firman.
A : Jenar tidak akan mengetahui perselingkuhan Firman dari video yang disimpan oleh Wisnu ya Kak. Nanti akan ada masanya Jenar mengetahui secara langsung.
__ADS_1
Q : Kapan sih Thor? Kalau terlalu lama kita-kita bosan tahuπ
A : Sabar ya Kak. Orang yang sabar inshaAllah rezekinya lancar. Hihihi hihihi hihihi... InshaAllah setelah Jenar menemani Citra datang ke acara tutup tahun, semua kebusukan Firman akan terbongkar. Dan pastinya kebusukan Arya juga akan terbongkar juga. Jadi sabar dulu ya Kak... πππ