Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 19 : Memukau


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘


Lembut belaian sang bayu mengiringi langkah kaki Wisnu menyusuri koridor sekolah di mana hari ini ia akan disidang di hadapan kepala sekolah dan juga beberapa wali murid. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam benak perihal guru-guru di sekolah sang anak yang memberinya hadiah dengan begitu banyak pada akhirnya kini ia peroleh jawabannya. Jawaban yang membuat duda tampan itu begitu terhenyak dan membuat tidurnya tiada nyenyak. Tidak nyenyak karena ia baru sadar jika wajahnya begitu memesona hingga membuat terpikat beberapa khalayak.


Mugkin bagi sebagian orang, memiliki wajah tampan merupakan salah satu anugerah karena bisa menarik hati kaum hawa tanpa mengeluarkan jurus-jurus andalan yang dimilikinya dan itupun juga disyukuri oleh sang duda. Namun jika ketampanan yang ia miliki hanya mengantarkannya duduk di depan kepala sekolah dan juga wali siswa, disidang seperti seorang tersangka, sungguh ia merasa ketampanan yang ia punya ini sebagai salah satu malapetaka. Sedikitpun tidak pernah terlintas di dalam benaknya, mengapa di usia empat puluh tahun ini dan di saat statusnya sebagai seorang duda ia malah menjadi bahan rebutan? Apakah itu sebagai pembenaran bahwa slogan duda semakin di depan itu benar adanya?


Semakin duda itu mencoba mencari jawaban, justru yang ia dapatkan hanya sebuah kebuntuan. Ia tidak tahu akan apa yang harus ia lakukan dan jawaban apa yang harus ia berikan ketika orang-orang yang berada di dalam ruangan nanti akan memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan. Sungguh, keadaan seperti ini jauh terasa lebih sulit dan menghimpit daripada di saat ia harus membayar tagihan kartu kredit.


Sibuk dengan pikirannya sendiri, tidak terasa telah mengantarkan jejak langkah kaki duda tampan itu di depan ruangan kepala sekolah. Sejenak, Wisnu berdiri di depan pintu yang tertutup. Ia raup udara dalam-dalam untuk memberikan suplay oksigen di dalam rongga dadanya dan tak selang lama, tangannya terulur dan ia ketuk daun pintu yang ada di hadapannya.


"Mari silakan masuk pak Wisnu!"


Hilda, wanita berusia tiga puluh delapan tahun yang merupakan kepala sekolah mempersilakan Wisnu untuk memasuki ruangan. Ia sedikit terkesima kala melihat untuk kali pertama wajah ayahanda Citra karena memang benar akan rumor yang beredar bahwa lelaki ini memang memukau. Wanita itu menggelengkan kepala pelan, berusaha untuk menghalau segala pesona yang dihadirkan melalui wajah tampan milik Wisnu. Tetiba ia ingat akan suami dan tiga anaknya yang ada di rumah. Dan hal itulah yang menjadi pengendali Hilda untuk tidak terpesona dengan ketampanan salah satu orang tua dari anak didiknya ini.


Wisnu berjalan pelan ke arah sebuah kursi kosong yang ada di ruang kepala sekolah. Ia daratkan bokongnya di kursi sembari menyapu pandangannya ke tiap sudut ruangan. Viona, Poppy, Elsa dan tujuh orang wali murid nampak memenuhi ruangan dan yang lebih membuat Wisnu terhenyak, semua orang yang ada di dalam sini merupakan kaum wanita semua. Hal itulah yang membuatnya merasa seperti seorang duda disarang perawan. Padahal sejatinya mereka sudah tidak lagi perawan, kecuali tiga guru muda itu.


Tak jauh berbeda dengan ekspresi yang ditampakkan oleh Hilda, para wali murid yang duduk di ruangan ini pun juga nampak terpukau dengan pesona duda berusia empat puluh tahun ini. Postur tubuh tinggi dan tegap. Rambut hitam legam. Bingkai wajah yang begitu tampan dengan mata, hidung, bibir,alis yang terbentuk sempurna, dan dengan style pakaian formal namun nampak begitu kekinian, membuat kumpulan wali murid itu hanya bisa terdiam, terpaku, dan mematung. Bisa dikatakan saat ini sorot mata mereka tertuju pada satu titik yang sama yaitu wajah sang duda.


Ehem... Eheem....


Hilda berdehem mencoba untuk mencoba memecah keheningan yang tercipta. Waktu seakan sejenak berhenti berputar saat semua yang ada di ruangan ini melihat kesempurnaan Tuhan dalam menciptakan seorang laki-laki. Jika bisa, mungkin mereka ingin menghentikan waktu selamanya, agar tetap bisa terus berada dalam posisi seperti ini. Menikmati keindahan yang tersaji. (Hadeehhh othornya mulai lebay nihπŸ˜„)


"Jadi siapa yang akan berbicara terlebih dahulu?"


Ucapan Hilda sukses membuat kesadaran para kaum wanita ini kembali. Mereka yang sempat larut dan terhanyut akan pesona sang duda, mulai meraih kesadaran masing-masing. Kini, perhatian mereka fokus ke arah sang kepala sekolah.


Hening, tidak ada satu jawaban pun yang terucap sama sekali dari lisan orang-orang yang ada di ruangan ini. Mereka hanya saling melempar pandangan dan tiada berkutik sama sekali. Berbeda jauh dari kemarin saat mereka menyampaikan aksi protes dengan begitu menggebu.


Hilda sedikit heran, mengapa para wali siswa tidak ada yang berani berucap. Dari raut wajah para wali siswa ini justru yang terlihat sebuah ekspresi keterpukauan semata. Raut wajah kesal, marah, jengkel seperti kemarin, saat ini benar-benar tidak nampak lagi.


"Baiklah, saya minta salah satu wali siswa untuk berbicara. Mewakili semuanya untuk bisa segera menyelesaikan permasalahan ini." Hilda menjeda sedikit ucapannya dan menatap lekat salah satu wali murid yang ada. "Ibu Mitha, bisa Anda sampaikan akan apa yang sebenarnya terjadi?"


Mitha yang kemarin terlihat begitu bersemangat untuk mengajukan protes, hari ini justru lebih banyak menundukkan kepala. Entah apa yang dirasakan oleh wanita itu. Mungkin ia tidak kuat untuk memandang wajah Wisnu yang tampan ini. Namun, ia segera sadar bahwa permasalahan ini harus segera diselesaikan agar nantinya tidak timbul salah kaprah.


"Jadi begini Bu. Saya merasa sikap dan perilaku bu Viona, bu Elsa dan bu Poppy ini sedikit berlebihan terhadap Citra yang mana ia merupakan putri bapak Wisnu. Sikap ketiga guru ini seakan menganak-emaskan Citra yang notabene juga sama kedudukannya dengan anak-anak lain yang merupakan murid di sekolah ini."

__ADS_1


"Lalu?"


Mitha mencoba untuk menghirup napas dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. "Apakah bu Hilda tahu? Pada saat ketiga guru ini menyambut kedatangan Citra di pagi hari pasti disertai dengan obrolan yang sangat lama sekali. Berbeda dengan anak-anak yang lain ketika sudah bersalaman lalu segera masuk ke kelas, namun jika Citra yang datang bisa sampai sepuluh menit. Kami yang datang di belakang Citra sampai harus mengantre lama seperti antre mengambil bantuan sembako. Bukankah itu membuang-buang waktu kami?"


Hilda mencoba untuk tetap tersenyum. Sedangkan Wisnu hanya bisa menundukkan kepala. Sedikit ia berikan pijatan kecil di pelipisnya karena secara tidak langsung dirinya lah yang menjadi penyebab semua ini.


"Apakah ada lagi Bu?"


"Pastinya ada Bu. Dan ini yang menurut kami sungguh sangat berlebihan."


"Apa itu Bu? Coba langsung Bu Mitha katakan saja."


"Kemarin lusa, anak saya bercerita kalau Citra mendapatkan berbagai macam hadiah dari bu Viona, bu Elsa dan bu Poppy. Sebagai anak kecil, wajar bukan jika anak saya dan anak-anak yang lain merasa cemburu? Karena hanya Citra saja yang diberikan hadiah oleh tiga guru ini? Dari sinilah kami sebagai wali murid menyimpulkan bahwa ketiga guru ini memang memperlakukan Citra lebih istimewa dari yang lain. Entah apa maksud dari itu semua. Mungkin hanya itu saja yang ingin saya sampaikan Bu. Dan ini juga mewakili teman-teman semua. Terima kasih!"


Hilda mengangguk-anggukkan kepala. "Baik Bu, Terima kasih. Lalu, sekarang saya persilahkan bu Viona mewakili yang lain untuk menanggapi apa yang menjadi keluhan wali murid. Coba jelaskan lebih detail kepada kami semua, sebenarnya ada maksud dan tujuan apa bu Viona dan yang lainnnya ini memperlakukan Citra dengan istimewa?"


Sekilas, Viona memperhatikan dengan lekat orang-orang yang ada di ruangan ini. Ya, kali ini ia baru tersadar bahwa apa yang ia dan kedua temannya ini lakukan memang kurang pantas. Seharusnya jika ingin bersaing tidak mereka lakukan di lingkungan sekolah karena sekolah merupakan tempat untuk belajar bukan tempat untuk ajang memperebutkan perhatian. Terlebih perhatian seorang laki-laki.


"Sebelumnya saya mewakili bu Elsa dan bu Poppy meminta maaf atas sikap kami yang kurang pantas ini, Bu. Kami akui bahwa kami sedikit abai dalam hal ini. Karena terdorong akan sebuah keinginan, membuat kami lalai akan dampak apa yang bisa terjadi."


"Saya dan kedua teman saya ini begitu terpukau dengan wajah tampan yang dimiliki oleh pak Wisnu, Bu. Jadi kami saling berebut perhatian Citra agar anak itu bisa memilih satu diantara kami!"


Suasana seketika mejadi riuh. Para wali murid nampak saling berbisik satu sama lain.


Wajar saja. Papa Citra memang tampan. Tidak heran jika ketiga guru ini saling berebut perhatian.


Andai kita masih single ya Bu. Pasti tidak akan melewatkan kesempatan untuk membuat pak Wisnu tertarik.


Aduh Bu Santi ini ada-ada saja. Kalau bu Santi masih single ya tidak akan berada di sekolah ini. Memang bu Santi mau mengantar siapa?


Haduuhh, bu Mitha apa sudah lupa? Saya ini kan single moms.


Loh, kalau bu Santi single moms ya masih ada kesempatan untuk bisa mendapatkan hati pak Wisnu dong.


Eh, iya juga ya. Kenapa saya tidak ikut bersaing sekalian saja ya Bu? Hahahaha.


"Jadi jika sudah seperti ini solusi apa yang bisa bu Viona berikan? Tidak mungkin juga kan dalam hal ini kita menyalahkan pak Wisnu? Karena terlahir menjadi lelaki tampan itu juga sudah menjadi kodratnya?"

__ADS_1


Viona menganggukkan kepala. "Iya bu Hilda, saya dan dua teman saya ini memang yang bersalah. Oleh karena itu kami bertiga sudah membuat sebuah keputusan."


Dahi Hilda sedikit mengerut. "Keputusan seperti apa bu Viona? Tidak mungkin kan salah satu, salah dua ataupun semua dari Anda-Anda semua mengundurkan diri dari sekolah ini? Karena bagi saya sendiri bu guru bertiga ini merupakan guru terbaik yang dimiliki oleh sekolah ini."


Viona menggelengkan kepala. "Tidak Bu, tidak seperti itu. Saya dan yang lainnya sudah memutuskan untuk berhenti saling berebut perhatian Citra untuk bisa dipilih oleh pak Wisnu. Dan kami juga memutuskan akan bersikap biasa saja sama sebelum Citra berada di sekolah ini. Jadi, saya rasa keadaan akan kembali pulih seperti sedia kala."


"Baik, saya rasa itu sebuah penyelesaian yang cukup bijak. Bagaimana ibu-ibu semua? Apakah semua setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh bu Viona?"


"Kami setuju Bu, namun jika bisa harus ada hitam diatas putih. Jadi sewaktu-waktu bu Viona, bu Elsa dan bu Poppy melakukan hal yang sama lagi, kita bisa mengingatkan melalui surat pernyataan itu."


"Bagaimana bu Viona, bu Elsa dan bu Poppy? Apakah Anda semua setuju?"


Ketiga guru itu mengangguk bersamaan. "Iya Bu, kami setuju."


Hilda tersenyum simpul karena pada akhirnya semua permasalahan ini dapat terselesaikan. "Baiklah jika seperti itu saya anggap permasalahan ini selesai ya. Untuk pak Wisnu, apakah ada hal yang ingin disampaikan?"


"Ehem... Saya benar-benar minta maaf atas kegaduhan yang sempat terjadi ini. Saya juga tidak tahu harus berbuat seperti apa karena memang seperti inilah saya. Dan saya juga tidak menyangka jika kehadiran saya lah yang menjadi sumber kegaduhan ini. Namun jika bu Viona, bu Elsa dan bu Poppy sudah membuat keputusan dan penyelesaian seperti itu, saya ikut saja. Semoga memang seperti inilah penyelesaian yang paling baik."


Wisnu bangkit dari posisi duduknya. Ia berdiri sembari menatap lekat satu persatu manik mata milik orang-orang yang berada di ruangan ini. Tak lupa seutas senyum manis yang ia punya ia pamerkan di hadapan orang-orang ini. "Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini!"


Para wali murid itu seketika terpana dengan senyum yang ditampakkan oleh Wisnu. Dua lesung seketika terbentuk di sempurna di tulang pipi lelaki itu. Dan hal itulah yang membuat para wali murid itu semakin terpesona dan terkesima.


Duh Bang... Senyummu sungguh membuat jantung kami bertalu-talu!!!! Meleleh hati ini melihat ketampananmu Bang!!! Bang Wisnu, wajahmu sungguh sangat memukau!!!


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift, atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2