
Selamat Membaca... 😘😘😘😘
Mobil box pengangkut bahan-bahan baku baru saja selesai menurunkan rol-rol kain. Terlihat, Arya membawa sebuah map yang di dalamnya berisi beberapa lembar kertas yang ia gunakan untuk mengontrol ulang kain-kain yang diturunkan oleh armada itu. Setelahe melakukan ceklis data, pada akhirnya lelaki itu membubuhkan tanda tangannya sebagai isyarat jika kain yang turun dari mobil pengangkut, sama dengan jumlah pesanan. Sedangkan Heri, sang driver mobil box itu juga terlihat telah selesai mengerjakan tugasnya.
"Setelah ini, seperti biasa, tunggu aku di belakang pabrik. Akan aku berikan bonus untukmu."
Arya berbisik lirih di telinga Heri. Memberikan instruksi agar lelaki itu menunggunya di area belakang pabrik. Dijanjikan sebuah bonus, membuat mata lelaki itu berbinar seketika dan raut wajahnya di penuhi oleh kebahagiaan. Karena menurutnya bonus yang diberikan oleh Arya akan lebih banyak, mengingat hari ini orderan kain juga bertambah dua kali lipat. Semakin banyak kain yang dipesan, maka semakin banyak pula kain yang dikorupsi. Dan itu artinya pundi-pundi rupiah yang masuk ke dalam saku kemejanya juga bertambah banyak.
"Baik Pak. Seperti biasa, saya tunggu Bapak di tempat biasa."
Dirasa pekerjaannya telah selesai, Heri menutup kembali pintu bagian box yang masih terbuka. Ia tutup rapat dan bersegera ke area belakang pabrik. Sedangkan tidak jauh dari tempat mobil box itu menurunkan kain-kain, nampak seorang gadis yang menyaksikan secara langsung apa yang dikerjakan oleh Arya.
"Sepertinya aku melihat beberapa kain yang masih tersimpan di dalam mobil itu. Bukankah seharusnya kain-kain itu diturunkan semua? Namun mengapa ada sisa? Atau mungkin driver itu juga mengirim ke tempat lain? Ah, sepertinya tidak begitu."
Jenar sibuk bermonolog lirih sembari menerka-nerka untuk apa kain-kain yang masih berada di dalam box itu. Sekilas, ekor mata milik Jenar menangkap bayangan tubuh Bima yang tiba-tiba datang menghampiri lelaki itu.
"Bagaimana pak Arya? Apakah jumlah kain yang turun sama persis dengan jumlah yang kita pesan?"
Dengan tegas, Arya menganggukkan kepala seraya tersenyum lebar. "Pak Bima tenang saja, semua bahan sudah turun dan tidak ada yang cacat sama sekali."
"Syukurlah, pak Arya ini memang pekerja yang patut diberikan sebuah apresiasi. Mengingat sudah begitu lama pak Arya ini membaktikan diri untuk bekerja di sini.
__ADS_1
"Ah, pak Bima ini ada-ada saja. Saya sungguh tidak mengharapkan apresiasi apapun dari perusahaan ini Pak. Saya bisa bekerja dengan baik dengan penuh tanggungjawab di PT ini pun rasa-rasanya begitu menyenangkan dan membahagiakan."
Cih, dasar tukang drama. Jelas tidak mengharapkan apresiasi karena kamu sudah banyak mengambil keuntungan untuk memperkaya pundi-pundi rupiah. Kita lihat, mau sampai kapan kamu akan membuat kerugian pabrik.
"Saya tidak mengada-ada Pak. Nanti biar saya sampaikan kepada Pak Wisnu untuk memberikan apresiasi kepada senior-senior yang sudah lama bekerja di perusahaan ini. Mungkin tiket liburan ke Bali, atau mungkin sejumlah uang cash."
"Ah, saya rasa itu semua sangat berlebihan Pak. Saya sepertinya tidak layak untuk mendapatkannya."
Seakan merendah, Arya mengucapkan kalimat-kalimat yang terdengar begitu menggelitik telinga. Terlebih telinga Bima. Kalimat yang terdengar di indera pendengarannya itu, mulai merembet masuk dan bermuara di dalam perut. Alhasil perut asisten pribadi Wisnu itu seperti diobok-obok dan seketika ingin muntah. Akting Arya benar-benar sempurna. Dan mungkin jika Bima belum mengetahui sedikit cerita perihal Arya yang sempat dipergoki oleh Jenar di area belakang pabrik, mungkin Bima akan percaya-percaya saja terhadap orang ini. Namun, setelah ia mengetahuinya, rasanya ingin meludah di hadapan Arya secara langsung. Karena bagi Bima sendiri, orang bermuka dua dan yang telah membuat kerugian perusahaan, memang pantas untuk diludahi.
"Tidak ada yang berlebihan Pak. Akan saya usulkan ke Pak Wisnu agar memberikan sebuah apresiasi untuk pak Arya dan juga senior-senior yang lain." Bima berbalik arah dan bermaksud untuk kembali ke ruangannya. "Silakan dilanjutkan pekerjaan pak Arya. Saya kembali ke ruangan saya terlebih dahulu."
Arya sedikit membungkukkan bahu sebagai bentuk penghormatan kepada asisten pribadi pimpinan perusahaan ini. "Baik pak Bima, terima kasih banyak."
Hahahaha betapa beruntungnya aku bisa bekerja di tempat ini. Bisa menumpuk kekayaan dan jika benar, sebentar lagi aku akan mendapatkan apresiasi dengan berlibur ke Bali atau mendapatkan uang cash. Sungguh sangat beruntung nasibmu Arya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Oh, jadi seperti ini kecurangan yang Bapak lakukan? Sungguh memalukan sekali!"
Tubuh Arya terperanjat seketika saat melintas di area kamar mandi. Tiba-tiba, ada seorang gadis yang menyergapnya dan sukses membuat ia hampir mati berdiri karena saking terkejutnya.
Arya mengernyitkan kening. "Apa maksud kamu gadis kecil? Yang kamu bicarakan itu apa?"
__ADS_1
Arya mencoba untuk bersikap tenang dan santai kala menghadapi Jenar. Meskipun sejatinya dadanya juga terasa berdegup kencang. Entah, degup jantung yang berasal dari rasa terkejut atau takut. Terkejut akan kehadiran Jenar yang tiba-tiba, atau takut jika sampai gadis ini mengetahui akan apa yang ia sembunyikan selama ini.
Meski berhadapan dengan seorang laki-laki yang nampak begitu tangguh dan terkesan angkuh, Jenar mencoba untuk menghimpun seluruh keberaniannya secara penuh dan utuh. Ia bahkan mengesampingkan rasa takut dan memasang wajah garang, agar nyali orang yang menjadi lawan bicaranya ini menciut.
"Ceh, jangan mencoba menyembunyikan sesuatu dari saya Pak. Karena saya sudah mengetahui semuanya." Jenar sejenak menjeda ucapannya sembari menyilangkan kedua lengan tangannya di depan dada. "Ternyata, pak Arya ini bekerjasama dengan driver pengangkut bahan-bahan baku pabrik untuk melakukan kecurangan, ya."
Kedua bola mata Arya sedikit terbelalak. Namun, lagi-lagi ia mencoba bersikap tenang. "Kerjasama yang seperti apa maksudmu? Kami memang bekerja sama karena sudah sejak lama PT ini bekerjasama dengan suplier bahan baku itu. Poin mana yang menunjukkan bahwa aku melakukan kecurangan?"
"Hahahaha jangan kira saya tidak tahu akan apa yang Anda lakukan ya Pak. Saya sudah melihat jika ada beberapa rol kain yang sengaja tidak diturunkan dari mobil box itu. Untuk tujuan apa kain-kain itu tidak diturunkan jika tidak untuk memperkaya diri Bapak sendiri?"
Entah, darimana datangnya keberanian yang dimiliki oleh Jenar ini. Ia mendadak menjadi seorang gadis pemberani yang berani menentang segala macam bentuk kecurangan dan penghianatan. Apalagi hal itu dilakukan oleh seorang karyawan perusahaan. Sungguh merupakan contoh yang tidak baik untuk orang-orang yang bekerja di sini.
"Hahaha haha, aku memang melakukan kecurangan itu. Lalu, jika kamu mengetahui akan hal itu, kamu mau apa? Kamu mau lapor ke pimpinan perusahaan?" Arya kembali tersenyum sinis ke arah Jenar. "Jangan mimpi. Pimpinan perusahaan ini tidak akan percaya karena kamu tidak memiliki bukti apapun."
Arya berpikir, posisinya masih sangat aman ketika gadis kecil ini tidak memiliki bukti otentik berupa foto, video ataupun rekaman suara. Karena jika bukti itu tidak dimiliki oleh Jenar, sampai kapanpun ia tetap tidak akan pernah bisa dijerat oleh pasal tindak korupsi.
Tak ingin kalah dari Arya. Jenar juga turut tersenyum sinis. Bahkan kali ini ia tertawa lebar. Ia ambil ponsel dari saku kemeja yang ia pakai dan sekilas memperlihatkannya ke arah Arya.
"Yakin, bahwa saya tidak memiliki bukti-bukti otentik kecurangan yang Bapak lakukan? Di dalam ponsel ini sudah terdapat video, foto, dan rekaman suara yang kelak bisa menjadi barang bukti. Pertama, Video Anda bersama driver mobil box itu. Kedua, foto rol-rol kain yang masih berada di dalam box mobil. Dan yang ketiga adalah rekaman perkataan yang baru saja Bapak ucapkan."
.
.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁