
Selamat Membaca😘😘
"Jadi, apa yang membuatmu sampai berlari tunggang langgang seperti itu Jen?"
Wisnu berdiri di balik jendela lebar ruang kerja miliknya sembari sedikit menyenderkan punggungnya di sana. Ia masukkan telapak tangannya ke dalam saku celana seraya menatap intens gadis belia yang tengah duduk di sofa ruang kerja miliknya.
Wisnu sedikit keheranan dengan tingkah polah gadis ini. Sejak peristiwa 'pelukan tanpa sengaja' yang baru beberapa saat itu terjadi, tubuh Jenar masih nampak sedikit gemetaran. Terlebih di bagian kaki. Nampak jelas jika gadis ini sedang ketakutan. Setelah kejadian itu, Wisnu memapah tubuh Jenar untuk memasuki ruangannya. Meski gadis itu sempat bersikap garang karena ucapan Wisnu yang terdengar sedikit mesum, namun tetap saja tidak dapat menyembunyikan ekspresi ketakutan yang muncul di bingkai wajah gadis ini. Oleh karenanya, Wisnu berinisiatif untuk membawa Jenar ke ruang kerjanya. Berharap gadis itu bisa menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Atmosfer ruangan ini masih dilapisi oleh keheningan. Jenar masih nampak larut dalam kebisuan. Tubuhnya masih gemetaran. Bahkan tatapan matanya pun terlihat menerawang. Hal itulah yang membuat Wisnu semakin keheranan. Tidak ingin terlalu larut dalam rasa penasaran, lelaki itupun mendekat ke arah gadis pujaan. (ceileee udah main puja-pujaan ajja kamu Bang😂)
"Jen, kamu baik-baik saja?"
Wisnu mendaratkan bokongnya di samping Jenar. Lelaki itu menatap wajah sang gadis dengan tatapan nanar. Tanpa bisa melenyapkan raut wajah miliknya yang nampak gusar. Gusar karena sedari tadi gadis ini hanya nampak termangu dan membisu. Bahkan seakan diserang oleh sesuatu yang mengusik kalbu.
Wajah Wisnu semakin dibuat gusar akan jalan apa yang harus ia tempuh untuk membuat gadis ini sadar. Sadar jika sedari tadi ia nampak linglung seperti hilang kesadaran dan seakan sukmanya tidak berada di alam nyata. Entah, Wisnu merasa raga gadis ini tengah berkelana ke dimensi lain.
Tak selang lama dari keterpakuannya, Wisnu melihat pintu ruangan dibuka dari luar. Nampak Bima memasuki ruangan sembari membawa secangkir cokelat panas. Wisnu sengaja meminta Bima untuk membawakan secangkir cokelat panas dari pantry, untuk bisa membuat gadis ini sedikit lebih rileks.
"Ini cokelat panasnya Tuan!"
"Terima kasih Bim!"
Wisnu menerima cokelat panas yang di ulurkan oleh Bima dan gegas ia arahkan ke arah gadis yang masih nampak termangu itu. "Jen, minumlah terlebih dahulu. Ini pasti akan membuatmu sedikit lebih tenang."
Sepersekian detik Jenar masih memalingkan wajah dan merotasaikan kedua bola matanya ke sembarang arah. Hingga pada akhirnya gadis itu menatap netra milik Wisnu. Meski masih nampak membisu, namun Wisnu sedikit lega, karena saat ini pandangan Jenar mulai fokus ke arahnya.
Wisnu tersenyum penuh arti. Kelegaan nampak mengaliri aliran-aliran darahnya. "Jen, ayo minumlah!"
Masih menatap lekat wajah Wisnu, Jenar menggeser telapak tangannya untuk bisa meraih cangkir cokelat panas yang dibawa oleh Wisnu. Perlahan, ia arahkan cokelat panas itu ke arah bibirnya dan mulai menyeruptnya.
Wisnu meraih kembali cangkir yang dipegang oleh Jenar dan ia letakkan di atas meja. Sebuah keputusan yang tepat dengan menyajikan cokelat panas ini untuk Jenar. Kini, kesadaran gadis ini sudah kembali seutuhnya.
__ADS_1
"Jen, sebenarnya apa yang terjadi kepadamu? Mengapa kamu terlihat begitu ketakutan dan gemetaran seperti ini?"
Jenar nampak menatap wajah Wisnu dan Bima secara bergantian, dan tatap matanya kembali kosong.
"S-saya bertemu kuntilanak di gudang Pak."
Wisnu dan Bima sama-sama melempar pandangan. Dahi kedua laki-laki itu pun sama-sama mengerut.
"Kuntilanak? Kamu tidak sedang bercanda kan Jen?"
Bima melayangkan sebuah tanya yang mengisyaratkan bahwa ia sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jenar. Ia berpikir bahwa tidak mungkin jika makhluk tak kasat mata menampakkan wujudnya di siang hari seperti ini.
"Tidak Pak, saya tidak bercanda. Saya benar-benar bertemu dengan kuntilanak di gudang."
Melihat tubuh Jenar yang gemetaran, ketakutan serta wajah yang seperti orang linglung, membuat Wisnu maupun Bima tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayai perkataan gadis ini. Karena bagaimanapun juga tidak mungkin jika Jenar sampai membuat cerita mengada-ada perihal kuntilanak itu.
"Memang, apa yang sedang kamu lakukan di gudang di jam kerja seperti ini Jen?"
Mecoba untuk melupakan perkara kuntilanak, Wisnu malah semakin dibuat penasaran akan apa yang dilakukan oleh gadis ini di dalam gudang. Karena tidak mungkin bukan jika Jenar berkeliaran sampai gudang di jam kerja seperti ini jika tidak ada keperluan? Hal itulah yang membuat Wisnu begitu ingin tahu.
Jenar mengambil ponsel dari saku kemeja yang ia kenakan. Ia gulirkan jemari tangannya untuk membuka icon galeri kemudian ia cari rekaman antara Arya dan driver pengangkut bahan baku yang sempat ia rekam tadi.
Jenar mengulurkan tangannya ke arah Bima. "Saya sedikit menemukan akan petunjuk yang Bapak cari. Meski di dalam rekaman ini sama sekali tidak terdengar percakapan mereka, namun sepertinya mereka lah yang melakukan kecurangan di perusahaan ini."
Bima meraih ponsel milik Jenar dan ia putar rekaman yang dimaksud oleh gadis ini. Bima terperangah tiada percakapan kala memperhatikan dengan seksama apa yang ada di dalam rekaman ini.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika dia lah orangnya."
"Namun bukti rekaman ini masih belum sempurna Pak. Karena kita tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Saya khawatir jika memang memiliki kepentingan di luar perusahaan."
Bima tersenyum tipis. "Tidak ada kepentingan di luar perusahaan jika mereka melakukan hal ini saat masih berada di area perusahaan Jen. Aku yakin jika memang ada sesuatu yang mereka lakukan."
Bima menyerahkan kembali ponsel milik Jenar. "Bisakah kamu lebih intens mengawasi pergerakan Arya, Jen? Aku berpikir dialah orang yang telah melakukan kecurangan itu."
__ADS_1
Jenar menganggukkan kepala pelan. Meski tugas yang diberikan oleh Bima ini terkesan begitu berat, namun atas nama loyalitas pada perusahaan, ia pun menyanggupinya. "Baik Pak, akan saya lakukan."
"Sebenarnya kalian ini membicarakan apa? Mengapa aku tidak paham sama sekali? Arya? Kecurangan? Maksud dari itu semua apa?"
Wisnu yang sedari tadi memperhatikan dua orang di hadapannya ini saling berkomunikasi, hanya membuat dahinya semakin mengernyit. Mendadak marwah nya sebagai seorang pimpinan perusahaan menghilang seketika kala sedikitpun ia tidak paham dengan apa yang menjadi topik pembicaraan asisten dan juga salah satu karyawannya ini.
Bima dan Jenar saling melirik dan sama-sama tersenyum tergelak lirih. Mungkin mereka sama-sama berpikir jika saat ini, sebelum bukti-bukti kecurangan Arya mereka dapatkan secara penuh dan utuh, Wisnu jangan sampai mengetahuinya terlebih dahulu.
"Hei, mengapa kalian malah tergelak? Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?"
Rasa-rasanya pimpinan perusahaan ini begitu gemas karena Bima dan Jenar hanya tergelak tanpa memberinya jawaban. Ingin sekali lelaki itu merebut ponsel milik Jenar dan ikut melihat akan apa yang dilihat oleh Bima dan juga Jenar ini. Namun, sungguh tidaklah sopan jika ia lakukan hal itu, karena ponsel merupakan ranah pribadi milik gadis ini.
"Tuan ingin tahu?" Bima bertanya sembari menyunggingkan senyum di bibirnya.
Wisnu memandang wajah asistennya ini dengan tatapan jengah. "Apa masih perlu aku jawab Bim?"
"Jika Tuan ingin tahu, mari traktir saya dan juga Jenar seblak terlebih dahulu. Setelah itu baru saya beri tahu." Bima melirik ke arah Jenar yang juga hanya bisa menahan tawanya itu. "Benar begitu kan Jen?"
Mau tak mau Jenar ikut menyetujui ucapan Bima. Ia berpikir kapan lagi bisa minta ditraktir oleh seorang pimpinan perusahaan. Terlebih ditraktir seblak, yang merupakan salah satu jajanan favoritnya.
"Ya, saya setuju dengan usulan pak Bima."
Wisnu hanya bisa berdecak lirih sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Baru kali ini ada asisten dan karyawan yang berani minta ditraktir bosnya. Sungguh luar biasa."
.
.
🍁🍁🍁🍁
Pendek dulu ya kak... insha Allah nanti lanjut lagi ☺☺
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺
__ADS_1
Salam Love, love, love❤❤❤
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca