Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 89 : Tiga Hari Lagi


__ADS_3


Selamat membaca 😘😘


Angin sore berhembus kencang membelai dedaunan, terdengar gemerisik tarian ranting dan membelah kesunyian. Mengalunkan simfoni alam yang terdengar menentramkan. Induk-induk burung mulai kembali ke sarang. Dengan paruh yang berisikan makanan, meloloh anak-anak mereka yang kelaparan.


Jenar duduk di bawah pohon ketapang yang berada di depan halaman. Melihat barisan tanaman yang nampak begitu menyejukkan pandangan. Selama apapun ia memandang, tak akan pernah menimbulkan rasa bosan.


"Calon pengantin jangan sering-sering melamun, pamali!"


Gelombang suara tiba-tiba merembet masuk ke dalam indera pendengaran, membuat tubuh Jenar sedikit terperanjat. Ia menoleh, nampak sang ayah yang melangkahkan kaki mendekat ke arahnya.


"Jenar tidak melamun, Yah. Hanya sedang menikmati hembusan angin di halaman rumah saja."


Sutha ikut mendaratkan bokongnya di sisi Jenar. Dengan lekat, ia menatap wajah putrinya ini. Tidak menyangka, jika secepat ini Tuhan menggariskan takdir untuk sang putri, menikah di usianya yang masih sembilan belas tahun.


"Apa yang kamu rasakan, Nak? Apakah kamu merasa gugup?"


Jenar mengangguk lirih. Meski ia berupaya untuk bersikap biasa-biasa saja namun tidak dapat ia ingkari jika perasaan gugup itu tetap saja terasa.


"Iya Yah, Jenar gugup. Jenar hanya takut jika nantinya kehidupan pernikahan Jenar dan pak Wisnu .... "


"Ssstttt ... jangan berpikir yang aneh-aneh, Nak. Kehidupan pernikahan memang tidak ada yang mulus. Pasti ada kalanya menghadapi apa itu kerikil-kerikil kehidupan. Namun Ayah percaya jika kamu dan suamimu dapat melewatinya."


Menikah dengan lelaki dewasa yang terpaut dua puluh satu tahun, sama sekali tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Jenar. Ia beranggapan bahwa dirinya akan berjodoh dengan Firman, namun pada kenyataannya semudah itu Tuhan membalikkan goresan takdirnya.


"Iya Yah. Sejauh ini di mata Jenar, pak Wisnu merupakan salah satu sosok lelaki dewasa yang penuh kasih. Jenar yakin jika ia bisa membimbing Jenar dan menjadi pengayom untuk Jenar."


"Ayah juga percaya akan hal itu Nak. Entah mengapa sejak Wisnu mengutarakan maksudnya untuk menikahimu, tanpa banyak berpikir Ayah langsung menyetujuinya. Mungkin memang benar aura positif dari pimpinan perusahaan tempatmu bekerja itu terpancar sehingga membuat Ayah langsung merestuinya."


Apa yang diucapkan oleh sang ayah bukanlah isapan jempol semata. Jenar membenarkan semua yang diucapkan oleh Sutha. Pesona duda tampan berusia empat puluh tahun itu benar-benar sukar untuk dihapuskan.


"Jika Ayah dan bunda sudah memberikan restu, Jenar percaya bahwa kehidupan Jenar akan diliputi oleh kebahagiaan yang hakiki."

__ADS_1


Sutha tersenyum penuh arti. Ia menarik lengan tangan Jenar untuk ia bawa ke dalam dekapan. Ia peluk tubuh putri semata wayangnya ini dengan erat, yang sebentar lagi akan resmi bergelar sebagai seorang istri. Tanpa tersadar, ia mengisakkan tangis di pelukan sang putri.


Jenar kecil yang rasanya baru kemarin ke sana kemari bergelayut manja di dalam gendongannya, tiga hari lagi sudah akan menjadi seorang istri. Sungguh, waktu terasa begitu cepat berlalu dan hanya meninggalkan jejak cerita yang tidak akan pernah hilang di dalam ingatan. Tidak akan mungkin ia menghentikan waktu yang terus berjalan hingga pada akhirnya pernikahan sang putri lah yang menjadi muaranya.


"Jaga kehormatan suami dan dirimu sendiri ketika kamu menjadi seorang istri, Nak. Tiga hari lagi, surgamu akan berpindah ke suamimu. Ayah hanya berpesan, patuhlah kepada setiap perintahnya selagi perintah itu tidak menyimpang dari ajaran agama."


Mendengar isak tangis yang keluar dari bibir Sutha, membuat Jenar juga ikut meneteskan air mata. Tubuh tegap dan gagah sang Ayah yang selama ini menjadi tempat ternyaman untuknya bersandar, tiga hari lagi akan tergantikan oleh bahu Wisnu yang resmi menjadi suaminya.


Jenar mengangguk pelan. "Iya Yah, Jenar akan menjaga kehormatan suami dan diri Jenar sendiri karena hal itu pula lah yang juga ikut menjaga kehormatan Ayah dan juga bunda."


Tanpa mereka sadari, ada sosok wanita yang juga tengah memperhatikan kebersamaan Ayah dan anak itu dari kejauhan. Wanita itu juga ikut meneteskan air mata, merasakan bahagia dan terenyuh yang menjadi satu. Hal itulah yang menuntun langkah kakinya untuk mendekat, menghampiri suami dan anaknya.


"Bunda tidak dipeluk juga?"


"Bunda!!"


Jenar dan Sutha sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Tanpa menunggu waktu lama, Rukmana ikut duduk di samping Jenar dan memeluknya erat.


Rasa haru juga tiba-tiba menguasai hati Rukmana. "Rasanya baru kemarin Bunda mandiin kamu, nyuapin kamu ketika makan, nemenin kamu tidur, nyiram air ketika kamu susah bangun, dan tiga hari lagi kamu sudah resmi menjadi seorang istri, Nak."


Mata Jenar kembali memanas, setetes air bening menetes dari pelupuk matanya. Ia eratkan pelukannya ditunuh kedua orangtuanya itu dan menangis sesenggukan dalam dekapan mereka.


"Ayah, Bunda, terima kasih selama ini Ayah dan Bunda sudah membesarkan Jenar dengan limpahan cinta dan kasih sayang yang begitu besar seperti ini. Selama menjadi anak Ayah dan Bunda, Jenar sama sekali tidak pernah merasakan kekurangan cinta dan kasih sayang dari Ayah dan Bunda."


Sutha mengusap punggung Jenar dengan lembut. "Semoga kelak suamimu juga memberikan limpahan cinta dan kasih sayang yang besar untukmu, Nak."


"Jenar percaya bahwa pak Wisnu bisa memberikan itu semua Yah. Jenar percaya bahwa pak Wisnu merupakan jodoh terbaik yang telah dipilihkan oleh Allah untuk Jenar."


"Aamiin, doa Ayah dan Bunda tidak akan pernah putus untukmu Jen."


"Terima kasih Bunda."


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


"Hei, mengapa kamu mengendap-endap seperti ini?"


Firman yang berada di balik tembok samping rumah Jenar terkejut setengah mati kala pengintaiannya dipergoki oleh salah seorang tetangga. Ia berbalik badan, terlihat salah seorang ibu dengan membawa tas belanja yang berisi sayuran menghampirinya.


"Apa sih Ibu ini? Mengganggu saja!"


Ibu-ibu itu hanya menatap sinis gelagat Firman yang sudah persis seperti seorang pencuri. "Kamu itu sedang apa? Mengapa kamu mengintai rumah pak Sutha? Kamu mau maling ya?"


"Ceh, enak saja Ibu bilang saya mau maling. Saya hanya ingin melihat pemasangan tenda di rumah pak Sutha saja kok."


"Dasar aneh. Daripada kamu hanya melihat-lihat saja lebih baik kamu ikut bantu memasang tenda. Hal itu pasti akan sangat berguna."


Ibu-ibu itu berlalu pergi meninggalkan Firman yang masih intens mengintai rumah Jenar yang sudah ramai dikerubungi oleh orang yang memasang tenda. Pemuda itu nampak larut dalam pikirannya sendiri. Seakan menyesali apa yang telah terjadi.


Aku yang berselingkuh di belakang Jenar tapi mengapa justru Jenar yang lebih dulu menikah? Aku yang mengira bisa hidup bergelimang dengan harta orang tua Stevi, sekarang malah justru blangsak seperti ini. Ahhhh .... ternyata aku telah salah langkah.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


.


.


.


Oleh-oleh dari Semarang setelah bertemu dengan pak Bibit Waluyo, mantan gubernur Jateng ☺☺


❀️Eling Bening



Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❀❀❀

__ADS_1


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2