Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 96 : I Love You, Istriku!


__ADS_3


Selamat membaca 😘😘😘😘


"Ada apa Sayang? Kok terdiam dan terpaku seperti itu?"


Sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Wisnu menatap heran akan apa yang dilakukan oleh istrinya ini. Jenar nampak duduk terpaku dan membisu di bibir ranjang sembari menatap lekat bagian sprei yang ada di hadapannya.


"Ini bagaimana caranya agar kita bisa menghilangkan bercak merah ini Mas? Masa iya aku harus mencucinya?"


Jenar masih berusaha memikirkan cara untuk bisa menghilangkan bercak darah yang terlihat begitu mencolok ini. Ia sungguh merasa tidak enak hati ketika meninggalkan hotel ini masih ada sisa kotoran yang tertinggal, termasuk bercak merah yang ada di sprei ini.


Hotel? Mungkin para pembaca kebingungan mengapa bisa ada di hotel. Hihihihi iya, di part sebelumnya memang belum saya jelaskan jika saat ini pasangan pengantin baru itu berada di sebuah hotel di kawasan pantai Ancol.


Selama satu minggu terakhir, setelah Wisnu dan Jenar resmi menjadi pasangan suami istri, hampir setiap hari Citra tidak mau lepas dari mama barunya. Mulai pagi sampai bertemu pagi lagi, tubuh Jenar benar-benar dikuasai oleh Citra. Hanya ketika Citra sekolah saja, Jenar berpisah dari anak sambungnya itu. Namun ketika Citra bersekolah, Wisnu juga tidak bisa melakukan apapun terhadap tubuh Jenar, karena selama satu minggu belakangan, Jenar kedatangan tamu bulanan yang membuat Wisnu tidak bisa berbuat apa-apa.


Dan di hari di mana Jenar sudah kembali suci dan kebetulan ada long weekend, Mara dan Dewa berinisiatif untuk mengajak Citra berlibur ke Puncak, Bogor dengan maksud agar pengantin baru itu bisa mengadakan bulan madu kecil-kecilan. Pada akhirnya terjadi sebuah kesepakatan jika Dewa, Mara, Sutha, Rukmana, Citra, Darmi, dan Kasim berlibur ke Puncak. Sedangkan Wisnu dan Jenar berbulan madu di kawasan pantai Ancol.


Wisnu hanya terkekeh lirih melihat kekhawatiran Jenar ini. Ternyata hanya perihal sepele seperti ini yang membuat sang istri nampak begitu khawatir.


"Sayang, tidak perlu kamu pikirkan akan hal itu. Biarkan itu semua menjadi tanggung jawab pihak hotel. Di sini kita sudah membayar mahal, jadi tidak masalah jika meninggalkan bekas merah itu. Lagipula pihak hotel pasti juga paham bahwa kita ini adalah pengantin baru, jadi aku rasa tidak perlu kamu pikirkan."


"Tapi aku merasa risih dan malu sekali Mas. Atau aku bersihkan saja ya Mas?"


Jenar bermaksud untuk mencuci sprei ini di kamar mandi. Namun ketika ia akan mengayunkan langkah kakinya untuk memasuki kamar mandi, buru-buru Wisnu menghentikannya.


"Tidak perlu Sayang. Sekarang kamu masukkan saja sprei ini di keranjang yang ada di sudut dinding itu. Dan bisa kita ganti dengan sprei yang baru."


Jenar memasukkan sprei itu ke dalam keranjang sedangkan Wisnu nampak begitu cekatan mengganti sprei baru yang tersimpan di kamar yang ia tempati ini. Jenar hanya bisa menatap takjub lelaki yang saat ini sudah bergelar menjadi suaminya ini. Tidak menyangka jika sang suami memiliki banyak kelebihan, termasuk piawai dalam mengganti sprei.


"Nah, sudah beres." Wisnu naik ke atas ranjang dan mulai merebahkan tubuhnya. "Aku rasa kamu masih mengantuk, Sayang. Kemarilah, kita tidur lagi."


Tidak dapat diingkari jika Jenar masih dilanda oleh rasa kantuk yang begitu hebat. Penunjuk waktu pun masih berada di angka dua, hal itulah yang membuat Jenar merasakan kantuk yang mendera. Karena biasanya, di jam-jam seperti ini ia masih hanyut dalam lautan mimpi.


Tanpa banyak berpikir, Jenar mengayunkan tungkainya untuk menyusul Wisnu yang sudah berbaring di atas ranjang. Wanita itupun ikut berbaring di samping sang suami. Ia mengambil posisi miring menghadap langsung ke tubuh Wisnu.

__ADS_1


"Aku tidur ya Mas. Rasa-rasanya masih mengantuk sekali."


Wisnu hanya mengulas sedikit senyum di bibirnya. Ia rengkuh tubuh Jenar untuk ia bawa ke dalam dekapan. Dengan intens, ia mengecup pucuk kepala istrinya ini.


"Selamat beristirahat Sayang. Mimpi indah ya. Love you istriku!"


"Love you too suamiku!"


🍁🍁🍁🍁


Terik sinar matahari mulai menembus kain gordyn di sebuah kamar yang letaknya tidak jauh dari pantai. Semilir angin laut yang berhembus kencang membuatnya meliuk-liuk seiring dengan hembusannya. Puluhan burung camar terlihat menghiasi langit siang ini ditambah dengan gumpalan awan putih yang membentuk bulu-bulu domba seakan menjadi lukisan alam yang terbentuk dengan sempurna dari sang Maha penggenggam kehidupan.


Gemuruh suara debur ombak terdengar begitu jelas. Mereka bergulung-gulung memecah batu karang kemudian menghempaskan diri mereka ke bibir pantai, dan kemudian hanya menyisakan buih-buih air laut. Hamparan pasir putih terlihat begitu kontras dengan warna biru langit, seperti sebuah bingkai kehidupan yang nampak begitu indah.


Lelaki tampan beralis tebal itu terlihat sedang membawa sebuah nampan berisi satu gelas susu hangat, dengan dua potong roti panggang dengan selai strawberry. Ia berjalan mendekati nakas di samping ranjang, ia letakkan nampan itu kemudian ia dudukkan tubuhnya di tepian ranjang. Sekilas, ia memperhatikan seorang wanita yang saat ini tengah terlelap dalam buaian mimpinya, ia tersenyum simpul sembari ia berikan sedikit kecupan di keningnya.


Jenar menggeliat tatkala merasakan ada sesuatu yang menyentuh keningnya. Ia mengerjab, berusaha meraih kesadarannya.


"Kamu sudah bangun Sayang?"


Jenar mencoba bangun dari posisi berbaringnya. Kini, ia sandarkan punggungnya di head board ranjang. Jenar juga hanya bisa tersenyum simpul melihat sang suami yang sudah nampak begitu segar ini. "Iya Mas. Apakah aku tidur terlalu lama?"


Wisnu terkekeh. "Tidak Sayang. Kamu baru tidur sebentar kok!"


Jenar mengikat rambutnya asal sembari berusaha meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa begitu kaku. "Sekarang jam berapa Mas?"


"Jam setengah sebelas Sayang!"


Jenar terperanjat dengan kedua bola mata yang membulat. "Astaga, jam setengah sebelas? Mengapa kamu tidak membangunkan aku Mas?"


Wisnu tertawa renyah. Ia raih telapak tangan Jenar kemudian ia kecup buku-buku jemarinya. "Membangunkanmu untuk apa Sayang? Apa untuk berolahraga pagi seperti olah raga malam yang kita lakukan semalam?"


Bibir Jenar mencibik mendengar ucapan Wisnu. Bisa-bisanya suaminya ini mengatakan hal itu. Padahal semalam, Wisnu telah menghabisinya tanpa ampun. Jam dua pagi mereka menghentikan aktivitasnya. Masuk waktu ibadah sholat subuh, mereka bangun untuk shalat berjamaah. Setelah itu lagi-lagi Wisnu meminta Jenar untuk melanjutkan apa yang telah mereka lakukan semalaman hingga jam tujuh pagi, setelah itu entah apa yang terjadi. Jenar kelelahan hingga akhirnya tertidur pulas sampai jam setengah sebelas seperti ini.


Janji yang terucap bahwa untuk malam tadi ia hanya akan sekali menikmati tubuh sang istri, nyatanya hanya menjadi bahan wacana saja. Lelaki itu sungguh tidak dapat menahan segala pesona yang ada di dalam tubuh Jenar. Tubuh istrinya ini sungguh seperti candu. Hingga selepas shalat subuh, ia kembali meminta haknya dan tiga kali ia mendapatkan pelepasan itu.

__ADS_1


"Aku kan bisa menyiapkan makanan untuk kamu Mas!"


Wisnu kembali tersenyum tipis. Ia mengambil gelas susu yang tadi ia bawa, kemudian ia berikan kepada Jenar. "Minumlah Sayang. Semoga susu hangat ini bisa kembali membuatmu bertenaga."


Layaknya susu itu, hati Jenar juga ikut menghangat menerima perlakuan istimewa dari suaminya ini. "Terimakasih Mas. Harusnya aku yang menyiapkan semuanya untuk kamu, tapi kenapa jadi kamu yang repot-repot seperti ini?"


Perlahan, Jenar meneguk susu hangat itu. Rasanya benar-benar nikmat yang secara otomatis membuat tubuhnya lebih bertenaga. Wisnu hanya tersenyum sembari mengacak sedikit rambut Jenar dengan gemas.


Wisnu mengambil roti panggang yang berada di piring. Sedikit demi sedikit ia suapi Jenar dengan roti itu. "Makan ini dulu ya Sayang. Menjelang sore, kita bisa kembali berjalan-jalan menikmati senja sambil mencari makan. Seafood di sini terkenal enak. Nanti kita bisa mencobanya."


Jenar mengangguk. "Terimakasih banyak Mas!"


Wisnu mengusap bibir Jenar dengan lembut. "Tidak perlu berterimakasih Sayang. Selama tiga hari ke depan, aku akan memperlakukanmu layaknya ratu. Jadi kamu tinggal duduk manis saja."


Jenar sedikit tersentak. "Mana bisa seperti itu Mas. Aku ini istri kamu, seharusnya aku yang melayanimu. Ini mengapa jadi terbalik-balik seperti ini sih?"


Wisnu terbahak. "Siapa bilang kamu tidak melayaniku Sayang. Kamu tetap melayaniku kok." Wisnu menjeda sejenak ucapannya. Ia arahkan wajahnya ke telinga sang istri. Yang membuat Jenar bertanya-tanya, suaminya ini mau berbuat apa. Di telinga Jenar, Wisnu berbisik lirih. "Tapi hanya melayaniku di atas ranjang."


Kedua bola mata Jenar membulat penuh. Terkejut setengah mati. "Mas Wisnu....!!!!!"


Cup ... cup... cup... muuuaahhhhh....


"Hahaha haahaahaa.. I love you, istriku!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2