Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 34 : Bertemu


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘


"Bagaimana Sayang? Apa kamu menyukai tempat ini?"


"Iya Bang, aku menyukainya."


Seperti taman kota yang berada di tempat asal Jenar, taman kota ini juga nampak dipadati oleh para pengunjung yang tengah menikmati hari libur. Bagi mereka yang memiliki hobi berolahraga, di tempat ini mereka bisa berjalan-jalan santai dan jogging sembari menikmati suasana pagi. Sedangkan bagi mereka yang memiliki hobi berburu menu makanan, tidak salah jika minggu pagi seperti ini mereka habiskan dengan singgah di tempat ini. Karena di tempat ini banyak para pedagang makanan yang pastinya akan sangat memanjakan lidah dan juga perut.


"Setiap Minggu pagi bisa kita agendakan untuk ke sini Sayang."


"Boleh juga Bang. Sepertinya memang bisa menjadi tempat untuk melepas penat."


Firman tersenyum simpul. Sembari menatap lekat manik mata Jenar. Dan dibalas dengan tatapan yang tidak kalah teduh juga oleh gadis itu.


"Selain di sini, aku juga akan mengajakmu ke tempat lain Sayang."


"Ke mana itu Bang?"


"Ke kafe ke mall atau kemana saja yang kamu mau pasti akan aku turuti. Itu semua sebagai salah satu bentuk rasa cintaku kepadamu Sayang."


Jenar yang mendengar kata-kata gombal dari calon suaminya ini hanya bisa terkekeh geli. Karena memang ucapan Firman ini terdengar begitu menggelitik telinga.


"Ahahaha Abang ini bisa saja. Bisa-bisanya Abang menggombal di tempat umum seperti ini."


"Jangan salah Sayang. Aku tidak menggombal. Karena ini semua merupakan salah satu wujud cintaku kepadamu."


Firman menggeser tangannya, bermaksud untuk memegang jemari tangan milik kekasihnya ini. Namun entah apa yang terjadi, dengan reflek Jenar menjauhkan tangannya dari tangan Firman. Seakan tidak mengizinkan untuk digenggam oleh kekasihnya itu.


Bukan apa-apa, Jenar hanya merasa tidak nyaman jika harus menampakkan kemesraan di depan umum. Rasa-rasanya sangat tidak elok jika dilihat oleh khalayak umum.


Mendapatkan penolakan dari Jenar, membuat Firman Terkesiap. Jika Stevi dengan senang hati dijamah olehnya, namun Jenar terkesan tidak ingin disentuh sama sekali. Ia yang bermaksud ingin meraih telapak tangan Jenar dan kemudian ia kecup mendadak mati gaya. Pemuda itupun hanya bisa tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Oh iya, kamu mau makan apa Sayang?"


Untuk menghempas rasa kikuknya, Firman mencoba untuk membuka obrolan dengan menawarkan sarapan pagi. Ia masih bertanya-tanya di dalam hati, mengapa calon istrinya ini sangat sulit untuk disentuh. Namun, hal itulah yang membuat Firman semakin dibuat penasaran. Tiba-tiba ia teringat akan apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya yang merupakan sahabat dari orang tua Jenar. Mereka mengatakan Jenar adalah perempuan baik-baik yang sama sekali belum pernah memiliki hubungan dengan seorang laki-laki. Mereka juga mengatakan bahwa Firman akan menjadi laki-laki paling beruntung jika bisa mempersunting gadis bernama Jenar ini.

__ADS_1


Ahhh... aku sungguh penasaran dengan gadis ini. Mendapatkan penolakan darinya, seakan menjadi sebuah tantangan untuk dapat menaklukkannya. Hah, jangan panggil aku Firman jika aku tidak bisa menyentuh tubuh gadis ini.


Selepas berjalan santai mengelilingi taman kota, membuat rasa lapar tiba-tiba menyerang Jenar. Di tambah sedari tadi perutnya yang belum terisi sama sekali, membuatnya merasa semakin keroncongan. Beruntung Firman begitu peka akan apa yang tengah ia alami. Sehingga, meski tidak mengatakan jika ia tengah dilanda rasa lapar, Firman langsung sigap memberikan sebuah penawaran.


Jenar yang tengah duduk di salah satu bangku taman yang terbuat dari beton, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Para pedagang makanan nampak berjejer di sana dan semuanya mendapatkan rezeki masing-masing. Dan Jenar melabuhkan pandangannya ke arah penjual lontong opor yang tidak terlalu ramai.


"Emmmm... lontong opor saja Bang. Sepertinya enak dinikmati pagi hari ini."


"Baiklah, ayo kita lekas ke sana!"


Sepasang kekasih itu beranjak dari posisi duduk masing-masing. Diayunkannya langkah kaki mereka untuk merapat ke arah penjual lontong opor yang baru saja selesai melayani pembeli.


"Bang, lontong opor dua porsi sama teh hangat dua porsi juga ya." Firman berujar, menyampaikan pesanannya.


"Baik Mas. Silakan ditunggu."


"Kakak cantik!"


Jenar yang tengah mencari meja kosong tiba-tiba tubuhnya terperanjat seketika kala mendengar suara gadis kecil yang sedikit familiar di telinganya. Ia berbalik badan dan di meja yang ada di pojok nampak seorang gadis kecil yang sedang menikmati lontong opornya.


"Citra?"


"Sayang, dia siapa?"


"Itu anak kecil yang pernah aku tolong, Bang. Kita duduk di sana ya Bang?"


Firman yang ingin menikmati acara sarapannya hanya bersama Jenar seorang, hanya bisa mengangguk pasrah kala mendengar permintaan sang kekasih. Ia terpaksa menuruti keinginan kekasihnya ini. Jika tidak ia turuti, ia khawatir jika kekasihnya ini akan merajuk.


"Oke Sayang. Kita duduk di sana."


Sepasang kekasih itu duduk di lesehan tepat hadapan Citra. Dahi Jenar sedikit mengerut kala melihat Citra yang dibiarkan duduk sendirian di keramaian seperti ini.


Ini orang tua Citra pada ke mana? Sungguh keterlaluan meninggalkan gadis kecil di tempat seperti ini sendirian. Apa mereka tidak takut jika putri mereka ini diculik oleh orang jahat?


"Citra mengapa sendirian? Papa dan juga mama Citra ke mana?"


"Papa Citra ada kok Kakak cantik, tapi Papa sedang ke toilet. Kalau mama, Citra sudah tidak memiliki mama."

__ADS_1


Jenar terkesiap sembari membungkam sedikit bibirnya dengan telapak tangannya. Ternyata ada perkataan darinya yang sedikit menyinggung perasaan gadis kecil ini.


"Ya Allah, maafkan Kakak ya Sayang. Kakak tidak tahu jika mama Citra sudah tidak ada. Kakak benar-benar minta maaf."


Citra hanya tersenyum lebar seakan tidak masalah jika Jenar menanyakan perihal sang mama. "Tidak apa-apa Kakak cantik. Sosok Papa sudah turut menjadi sosok mama juga untuk Citra."


"Sekali lagi maafkan Kakak ya Sayang."


Lagi-lagi Citra hanya mengangguk. Ia kemudian menautkan pandangan matanya ke arah lelaki yang duduk di samping Jenar. "Abang ini pacar Kakak cantik?"


Jenar tersipu malu sembari mengangguk pelan. "Iya Sayang."


"Ohhh pacar Kakak cantik? Ganteng sih tapi masih gantengan Papa Citra," cicit Citra sambil menyendok lontong opor untuk ia masukkan ke dalam mulut.


Tubuh Firman seketika terhenyak. Ia yang di daulat menjadi lelaki paling tampan di kampus, seakan dijatuhkan harga dirinya kala ada seorang anak kecil yang membandingkan ketampanan yang ia miliki dengan sang Papa.


"Benarkah seperti itu?" tanya Firman dengan penuh penekanan.


Tanpa ragu Citra menganggukkan kepala. "Iya, lebih ganteng Papa Citra daripada Abang."


"Coba sekarang mana Papa kamu gadis kecil? Biar Abang bandingkan secara langsung."


Sorot mata Citra tertambat pada sosok yang sedang berjalan di belakang punggung Jenar dan Firman. Ia pun menunjuk ke arah lelaki itu. "Itu Papa Citra!"


Karena begitu penasaran, Jenar dan Firman gegas menoleh ke arah telunjuk tangan gadis ini. Sepasang bola mata milik keduanya sama-sama terbelalak dan membulat sempurna.


"Dia?"


"Pak Wisnu?"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❤❤❤


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2