Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 87 : Drop Out


__ADS_3


Selamat membaca 😘😘😘


"Ini surat untukmu, Fir!"


Di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh buku-buku pertanian yang tersusun rapi di dalam almari kaca, Firman duduk menghadap sang dosen pembimbing yang sejauh ini menjadi pembimbing dalam menyelesaikan skripsinya.


Saat berada di kafetaria kampus, Firman sedikit terkejut, salah seorang temannya datang memberi kabar jika ia dipanggil untuk ke ruang dosen. Dengan santai, ia memasuki ruang dosen namun seketika berubah menjadi rasa gugup yang begitu hebat.


Diambilnya surat yang terbungkus oleh amplop putih yang ada di atas meja. Dahinya mengerut di saat manik matanya membaca bagian luar amplop yang ternyata berasal dari rektor kampus. Dibukanya amplop putih itu. Ia ambil isi di dalamnya dan ia baca dengan perlahan dan penuh kehati-hatian.


Kedua bola mata Firman membulat sempurna kala mengeja kata demi kata yang tersusun di dalam surat ini. Rangkaian huruf demi huruf itu membuat susunan kata yang menegaskan bahwa ia telah di DO dari kampus.


"S-saya di DO, Pak?"


Sang dosen hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban singkat dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Firman. "Ya, karena masa study mu sudah melebihi batas yang telah ditentukan, maka fakultas mengeluarkan kamu dari sini Fir. Empat belas semester waktu yang diberikan, namun sampai saat ini skripsimu belum juga selesai. Maka dari itu, dengan berat hati, kampus mengeluarkan surat ini sebagai pertanda bahwa kamu di DO dan mulai sekarang kamu bukanlah mahasiswa kampus ini lagi."


"Tapi Pak, apa tidak ada pertimbangan lain lagi Pak? Saya pastikan semester depan akan selesai dan bisa lulus."


Dosen itu hanya menggelengkan kepala disertai dengan hembusan napas yang berat. "Tidak bisa Fir, kesempatan untukmu sudah habis. Jadi, terhitung tanggal ini, kamu bukanlah mahasiswa kampus ini lagi."


Jawaban tegas dari sang dosen, seakan membuat Firman tersadar bahwa sudah tidak ada lagi kesempatan yang tersisa. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus menerima apa yang telah diputuskan. Ia pun meremas surat DO yang berada di dalam genggamannya dan mulai bangkit dari posisi duduknya. Ia ayunkan langkah kakinya untuk keluar dari ruang dosen pembimbingnya ini.


Dengan langkah gontai dan kepala menunduk, ia menekuri jejak-jejak telapak kakinya. Ada rasa kecewa yang menyelimuti dada namun bisa apa dia jika hal ini memang telah menimpanya? Ia pun menghentikan langkah, dan memilih untuk duduk di sebuah bangku dari beton yang berada di salah satu taman yang berada di belakang kampus ini.

__ADS_1


Baru saja ia ingin melepas penat dan melepas beban karena telah resmi menyandang gelar mahasiswa drop out, ketenangan Firman diusik oleh kehadiran seseorang yang tiba-tiba menepuk punggungnya dari belakang. Tubuh pemuda itu sedikit terperanjat dan bersegera menoleh ke arah belakang, terlihat Stevi menghampirinya.


"Bisa tidak, jika kamu berhenti menggangguku Stev? Aku sedang ingin sendiri!"


Tidak ada sambutan dengan kata-kata manis sekaligus lembut yang terlontar tatkala sang kekasih datang menghampiri. Yang ada justru nada tinggi yang seakan mengisyaratkan lelaki itu begitu risih dan jengah akan kehadiran Stevi. Hampir saja ia beranjak pergi, namun buru-buru dicegah oleh Stevi.


"Sebenarnya ada apa denganmu, Fir? Mengapa kamu berubah seperti ini?"


Firman hanya acuh. Sejatinya ia sendiri juga tidak tahu, mengapa saat ini ia merasakan kebosanan yang melanda tatkala berinteraksi dengan Stevi. Mood nya mendadak buruk jika berdekatan dengan wanita ini.


Stevi semakin dibuat gemas oleh sikap Firman yang hanya acuh tak acuh ini. Rasa-rasanya ingin sekali ia memukul kepala Firman dengan balok kayu agar ia bisa kembali seperti dulu lagi. Stevi berpikir, Firman tengah hilang ingatan sehingga lupa bahwa dirinya ini adalah kekasihnya, di mana dulu selalu diperlakukan secara istimewa layaknya seorang ratu.


"Aku tanya sekali lagi kepadamu Fir, mengapa kamu berubah seperti ini? Mengapa kamu tidak memperlakukan aku seperti dulu lagi? Yang selalu memperlakukan aku dengan baik, penuh kelembutan dan penuh cinta? Mana Firman yang dulu, hah?"


Stevi sengaja menaikkan nada bicaranya satu oktaf. Ia berharap agar Firman segera tersadar akan kesalahannya, namun nampaknya itu hanyalah sia-sia karena saat ini pemuda itu menatap wajah wanita di depannya ini dengan sorot mata tajam seakan menyimpan sebuah amarah.


"Membohongi apa maksud ucapanmu? Aku sungguh tidak paham."


"Membohongiku bahwa kamu mengonsumsi pil kontrasepsi namun kenyataannya tidak. Itu yang membuatku semakin membencimu. Kamu sudah menipuku!"


Jawaban dari Firman, sedikit banyak membuat Stevi mengerti. Ia pun hanya bisa membuang napas kasar untuk menghalau segala rasa sesak di dalam hati.


"Aku tidak bermaksud membohongimu Fir. Inilah caraku untuk mendapatkanmu secara utuh. Lagipula suatu saat nanti, kamu juga akan menjadi ayah dari anak-anak kita bukan? Jadi apa bedanya dengan sekarang? Sekarang aku telah mengandung buah cintamu, dan seharusnya kamu memperlakukan aku dengan baik."


"Tapi aku tidak menginginkan anak itu sekarang Stev. Aku masih ingin menyelesaikan studiku, aku masih ingin meraih apa yang menjadi impianku dan aku masih ingin menata masa depanku lebih dulu. Namun sekarang apa yang terjadi? Semua berantakan. Kamu hamil, dan aku di drop out dari kampus. Hancur sudah semua mimpi-mimpiku."

__ADS_1


Intonasi Firman yang sebelumnya tinggi kini perlahan melemah sering dengan ingatannya yang tertuju pada surat DO yang ia dapatkan. Ia merasa sia-sia atas apa yang sudah ia lakukan sejauh ini dan pada akhirnya kandas di tengah jalan. Padahal, tinggal sebentar lagi ia bisa menyelesaikan skripsi dan bisa menyandang gelar sarjana.


Stevi seakan tidak perduli dengan apa yang dialami oleh Firman saat ini. Ia merasa justru lebih baik Firman berhenti saja dari kuliahnya sehingga pemuda itu bisa fokus mengurus dirinya dan juga janin yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya.


"Aku juga berencana berhenti kuliah dan fokus untuk menjadi istrimu."


Firman terperangah. "Apa kamu bilang? Kamu ingin berhenti kuliah? Jangan gila kamu Stev!"


Stevi hanya menanggapi santai ucapan Firman ini, karena sejatinya ia sudah tidak berselera untuk melanjutkan studinya lagi. Daripada mengambil cuti, ia berencana untuk berhenti di tengah jalan yang juga memupuskan mimpi dan juga angan.


"Aku serius Fir. Aku akan berhenti kuliah dan akan fokus untuk menjadi pendamping hidupmu."


"Bagaimana kita bisa menjalani masa depan kita jika tidak ada amunisi yang kita pegang. Papaku sama sekali sudah tidak menganggap keberadaanku. Sedangkan papamu bangkrut, menjadi seorang narapidana dan sama sekali tidak meninggalkan harta. Lalu, bagaimana bisa kita menjalani masa depan?"


Firman mengacak rambutnya frustrasi. Ia teramat bingung dengan jalan pikiran Stevi ini. Wanita itu nampak begitu yakin dengan masa depan yang akan di jalani padahal dari sini yang nampak hanyalah masa depan yang penuh dengan kesuraman. Namun wanita itu nampak begitu percaya diri sekali.


"Haha haha hahaha tenang. Aku sudah memiliki solusi." Stevi mengusap lengan Firman dengan lembut hingga membuat pemuda itu kembali menatapnya. Dengan seutas senyum manis di bibirnya, Stevi kembali melanjutkan ucapannya. "Kita jual paviliun yang kita tempati, dan setelah itu kita gunakan sebagai modal usaha untuk hidup di kampung halamanmu, bagaimana? Kamu setuju bukan?"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2