Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 58 : Di Depan Pos Security


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘😘


Dengan langkah lebar, sepasang telapak kaki Jenar yang berbalut flat shoes warna mocha menapaki lorong demi lorong yang akan mengantarkannya tiba ke pos security. Mengapa gadis belia itu terkesan buru-buru untuk bersegera tiba di pos security? Ya, karena sang calon suami sudah menunggunya di sana.


Seringnya sang kekasih mengingkari janji-janji yang telah terucap, membuat ada sesuatu berbeda yang dirasakan oleh Jenar. Kini, gadis itu sudah tidak lagi seantusias dulu. Dulu, hati Jenar diliputi oleh kebahagiaan yang membuncah di kala akan bertemu dengan Firman. Namun saat ini rasanya biasa-biasa saja. Bahkan cenderung tidak lagi merasakan apa itu getar-getar asmara.


"Hai Sayang!"


Masih nangkring di atas motor sport nya, Firman menyambut kehadiran Jenar. Pastinya dengan melebarkan senyum termanis yang ia miliki. Tersenyum agar pesonanya semakin terpancar yang bisa membuat hati sang pacar bergetar.


Berbeda dari Firman, Jenar nampak hanya tersenyum simpul. Mungkin kejadian tadi pagi, di mana Firman tidak bisa mengantarkannya pergi ke tempat kerja, membuat Jenar sedikit kecewa.


"Hai juga Bang!"


Jenar hanya menjawab singkat. Padahal biasanya, ia selalu nampak begitu ceria kala bertemu dengan Firman dan ada saja bahan yang dibicarakan, namun entah mengapa semua seakan perlahan berubah.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini Sayang? Lancar kan?"


"Lancar bagaimana Bang? Hari ini aku terlambat lagi masuk kerja. Dan seandainya Abang datang ke kontrakan untuk menjemputku, pastinya aku tidak akan terlambat karena Abang akan langsung membangunkan aku. Tapi kenyataannya apa? Jam tujuh lebih Abang baru menghubungiku." Jenar sejenak menjeda ucapannya seraya meraup udara dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. "Sebenernya Abang itu pergi ke mana?"


Mendengar pertanyaan Jenar, sukses membuat tubuh Firman sedikit gemetaran. Takutnya, apa yang ia simpan rapat di belakang Jenar akan terbongkar.


"Aku benar-benar minta maaf Sayang. Aku sungguh tidak ada maksud untuk mengingkari janjiku, namun tadi pagi aku ada acara dadakan dengan teman kampus."


Jenar hanya tersenyum tipis. Sejatinya, ia sendiri sudah merasakan kejanggalan akan alasan-alasan yang diberikan oleh Firman. Namun, gadis itu tetap berupaya untuk berpikir positif.


"Yakin, acara dadakan dengan teman kampus?"


Firman menganggukkan kepala mantap. "Yakin Sayang. Aku memang ada acara dadakan dengan teman kampus."


Jenar mencoba menelisik sorot mata milik Firman dengan lekat. "Tapi mengapa aku merasakan ada sesuatu yang Abang sembunyikan? Abang tidak selingkuh kan?"

__ADS_1


Pertayaan tegas yang dilontarkan oleh Jenar seketika membuat Firman kalang kabut. Ia merasa horor sendiri jika sampai Jenar mengetahui akan apa yang telah ia lakukan. Tak ayal, hal itulah yang membuat Firman merasa semakin terpojok.


"Mana mungkin aku berselingkuh Sayang? Hatiku saja sudah mentok di kamu. Lalu bagaimana bisa aku bermain curang?"


Sebuah alasan yang diucapkan penuh penekanan, rasa percaya diri dan penuh ketegasan. Meski kenyataannya ia sedang menutupi keburukannya sendiri. Dan sekarang ia menjelma menjadi sosok seorang pria yang begitu setia dan menjunjung tinggi harga diri seorang wanita? Sungguh, adegan drama yang begitu sempurna.


Kahar dan Komar yang berada di dalam pos, hanya bisa saling melempar pandangan sembari menunjukkan ekspresi seseorang yang sedang muntah. Ucapan Firman memang terdengar hanya seperti bualan semata. Layaknya kentut yang hanya menyisakan bau busuk dan hanya membuat muntah. Atau mungkin seperti tong kosong yang berbunyi nyaring. Apa yang diucapkan oleh Firman hanya seperti omong kosong.


"Jangan percaya Neng. Banyak para biawak yang menggunakan trik itu untuk mengelabuhi pasangannya agar tidak ketahuan berselingkuh."


"Iya Neng Jenar, hati-hati! Biawak itu biasanya mulutnya manis namun hatinya penuh dengan intrik."


Kahar dan Komar berkelakar yang berhasil membuat Firman naik pitam. Bagaimana tidak naik pitam jika rahasia yang coba ia simpan dalam-dalam malah tanpa sengaja dibuka oleh salah satu security PT ini. Benar saja, ia menjadi salah tingkah sendiri.


"Jaga bicara Anda ya Pak, jangan asal bicara. Lagipula Bapak-bapak ini siapa? Hanya sebatas security tapi sok tahu sekali."


Rasa geram menjalar ke seluruh tubuh Firman. Apalagi kala mendengar Kahar berbicara perihal perselingkuhan. Rasa-rasanya Firman ingin menimpuk security itu dengan kotoran kambing agar security itu berhenti mengatakan hal-hal yang sebenarnya nyata adanya.


Jenar hanya mengedikkan bahu. "Jika ucapan pak Kahar dan pak Komar tidak ada benarnya, mengapa Abang seperti ketakutan begitu? Dan Abang seperti mencari pembenaran begitu?"


Firman semakin mati gaya. Ucapan dari Jenar hanya menambah pusing kepala saja. Namun, bukan Firman namanya jika ia menyerah dengan keadaan. Meski dalam keadaan terjepit, ia berupaya untuk tetap tenang.


"Sayang, sudah ya jangan dengarkan perkataan-perkataan security gila ini. Aku tidak mungkin berselingkuh di belakangmu Sayang."


Firman mencoba untuk meraih telapak tangan Jenar, namun gadis itu bergegas menyembunyikan telapak tangannya di balik saku rok yang ia pakai. Gadis itu mencoba untuk menghindari kontak mata dengan Firman dan memilih untuk mengedarkan pandangannya ke arah sekitar.


Firman hanya tersenyum kecut. Ia berpikir harus bisa menguasai situasi dan keadaan ini. Wajahnya nampak sumringah seketika kala sebuah ide muncul di dalam benaknya. Ia akan membujuk Jenar agar tidak merajuk lagi.


"Bagaimana kalau sekarang kita mencari penjual seblak Sayang? Kamu pasti senang bukan? Karena seblak adalah makanan kesukaanmu?"


Jenar hanya menggeleng pelan. "Tidak Bang, aku tidak mau."


Firman terperangah tiada percaya. Apa gerangan yang membuat gadis ini menolak ajakannya. "Loh memang kenapa Sayang? Bukankah kamu sangat menyukai seblak?"

__ADS_1


"Perutku sedang berada dalam pemulihan. Jadi tidak bisa makan makanan pedas!"


"Pemulihan? Pemulihan apa? Apakah kamu sedang sakit? Kalau iya, sekarang kita ke dokter ya?"


Firman memasang wajah layaknya seseorang yang begitu mencemaskan kondisi kekasihnya. Bahkan ia bermaksud bisa menjadi pahlawan bagi Jenar dengan mengantarkannya ke dokter. Namun yang ada lelaki itu hanya menjadi seorang pahlawan kesiangan.


"Huh telat Bang. Sudah dari kemarin aku terkena diare. Dan aku juga sudah minum obat. Besok pasti sudah sembuh."


"Tapi aku sungguh mengkhawatirkan kamu Sayang. Aku tidak mau jika sampai melihatmu sakit. Aku tidak bisa Sayang."


Tidak menimbulkan kesan manis, ucapan Firman ini justru di telinga Jenar terdengar begitu berlebihan dan memuakkan. Ia sendiri pun juga tidak paham, mengapa kini ucapan-ucapan gombal dari Firman ini hanya membuatnya risih.


"Sudahlah Bang, saat ini aku ingin segera pulang. Aku ingin segera beristirahat di rumah."


Firman menggelengkan kepala. Sebagai pertanda tidak menyetujui apa yang menjadi keinginan Jenar. "Tidak Sayang. Sebelum pulang, aku akan mengajakmu makan di restoran terlebih dahulu."


Firman menarik tangan Jenar. "Ayo lekas naik, kita berangkat sekarang!"


Baru saja Jenar akan menggeser posisinya tiba-tiba...


"Tunggu! Jenar akan ikut dengan saya, karena saat ini ia masih berada di masa-masa hukumannya!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❤❤❤


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2