
Selamat Membaca😘😘
"Jika memang itu yang diinginkan oleh kekasihmu, maka lakukanlah Jen. Kamu boleh menjaga jarak dengan saya. Namun saya tidak akan pernah melakukan hal yang sama."
"Mengapa bisa begitu Pak? Bukankah hal itu tidak akan berpengaruh apapun terhadap Bapak?"
Wisnu tersenyum penuh arti dalam memahami ucapan Jenar ini. Sudah sangat jelas berpengaruh bagi duda berusia empat puluh tahun itu jika sampai ia menjaga jarak dengan Jenar.
"Pasti akan sangat berpengaruh Jen. Coba dengarkan alasan saya baik-baik!"
Dengan tatapan teduh, gadis itu menautkan pandangannya ke manik mata Wisnu. Hal itu pulalah yang dilakukan oleh sang duda. Hingga pandangan keduanya pun bersiborok dan saling mengunci.
"Yang pertama menyangkut profesionalitas kita dalam bekerja. Kamu merupakan salah satu karyawan di perusahaan saya, jadi tidak akan mungkin bukan jika kita harus saling menjaga jarak? Karena bagaimanapun juga kita harus bekerja sama untuk kemajuan perusahaan ini? Itu semua artinya kamu membutuhkan saya dan saya pun juga membutuhkan kamu."
Jenar masih terdiam, tidak bergeming sama sekali. Ia tetap menenggelamkan dirinya ke dalam pusaran argumentasi yang dilontarkan oleh atasannya ini.
"Yang kedua, ini menyangkut hati nurani saya sendiri sebagai manusia, khususnya sebagai pemimpin perusahaan. Saya sebagai pimpinan perusahaan ingin selalu menciptakan suasana yang harmonis dengan seluruh pekerja yang ada di sini. Lalu menurut kamu, bagaimana bisa suasana harmonis itu akan tercipta jika saya menjaga jarak dengan karyawan saya? Bukankah itu suatu hal yang mustahil?"
Lagi-lagi Jenar hanya bisa terdiam. Kepala yang sebelumnya terangkat untuk menatap wajah sang pimpinan, perlahan menunduk dan sorot mata gadis itu kini bertumpu pada flat shoes yang membalut kakinya. Dua poin yang diutarakan oleh Wisnu, benar-benar berhasil menyentil hati kecilnya. Bahwasannya memang benar jika semua kembali kepada profesionalitas dalam bekerja.
Melihat Jenar yang tidak bisa menyanggah argumentasinya, membuat Wisnu tergelak lirih. Ia yakin jika sampai kapanpun gadis ini tidak akan pernah bisa untuk menjaga jarak dengannya. Karena sejatinya, ruang dan waktu gadis itu sendirilah yang mendekatkan dia dengan dirinya. Dan hal itu tidak akan pernah bisa terlepas begitu saja.
"Saya rasa dua poin itu sudah cukup mewakili alasan saya tidak dapat menjaga jarak denganmu Jen. Meski ada alasan-alasan lain yang sepertinya tidak elok jika aku utarakan di sini."
"Maksud Bapak? Bukankah hanya ada dua poin itu yang menyangkut profesionalitas kita dalam bekerja? Jadi alasan apa lagi yang masih Bapak sembunyikan?"
__ADS_1
Entah mengapa, rasa keingintahuan Jenar mendadak muncul ke permukaan. Ia yang sebelumnya seperti tidak begitu perduli dengan apa yang diucapkan oleh Wisnu, namun saat ini ia begitu ingin tahu.
Wisnu menganggukkan kepala. "Ya, memang hanya ada dua poin itu. Namun masih ada beberapa poin dan ini menyangkut ranah pribadi saya dan rasa-rasanya tidak terlalu sopan jika aku sampaikan."
"Apa itu Pak?"
Kamulah alasannya Jen. Aku tidak akan mungkin bisa menjauh dan menjaga jarak darimu karena itu semua akan berdampak buruk terhadap suasana hatiku. Andai kamu tahu, melihat sikapmu berubah saja sudah cukup membuatku batinku terusik. Lalu bagaimana jika harus memaksa diriku untuk menjauh darimu? Sungguh, aku tidak akan pernah bisa melakukannya.
"Bukan apa-apa dan itu bukanlah hal penting yang harus kamu ketahui." Wisnu meraup udara dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. "Pada intinya silakan jika kamu ingin menjaga jarak denganku, namun saya tidak akan pernah melakukan hal yang sama. Saya akan bersikap seperti biasa. Sama seperti sejak awal kita berjumpa. Perihal kekasihmu, seharusnya ia tidak perlu cemburu terlebih cemburu terhadapku. Bukankah saat ini dia adalah lelaki yang sudah kamu pilih untuk menjadi kekasihmu? Jadi bagaimanapun sikap yang saya tampakkan kepadamu tidak akan pernah menggoyahkan hatimu bukan?"
Untaian kata yang terucap dari bibir Wisnu sukses membuat tubuh Jenar kian membeku. Wajah termangu, bibir membisu dan lidah seakan kelu. Kata-kata yang semakin membuatnya tersadar bahwa permintaan Firman dengan memintanya untuk menjaga jarak dengan Wisnu sungguh tidak menampakkan kedewasaannya sebagai seorang kekasih. Seharusnya, saat ini pemuda itu mendukung penuh akan proses yang ia jalani dalam mewujudkan apa yang menjadi cita dan mimpi-mimpinya.
Lagi-lagi Wisnu hanya mengulas senyum termanis yang ia miliki. Ia lirik penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. "Saya rasa jam istirahat sudah berakhir Jen. Sekarang silakan kembali lah ke ruang kerjamu dan silakan kembali bekerja."
Gelombang suara yang merembet masuk ke dalam indera pendengaran milik Jenar, seketika membuat gadis yang tengah larut dalam pikirannya sendiri itu terperangah. Ia mengerjabkan mata dan mencoba menarik dirinya sendiri untuk keluar dari lamunan.
"Iya Jen. Jam istirahat sudah berakhir. Jadi, kamu silakan kembali ke ruang kerja dan kembali melakukan aktivitasmu."
Jenar menatap nanar Thai tea yang ada di dalam genggaman tangannya. Kenikmatan dan kesegaran teh yang berasal dari negara Thailand yang seharusnya bisa sedari tadi ia nikmati, nyatanya hanya teronggok begitu saja di dalam genggaman tanpa ia sentuh sama sekali. Entah bagaimana saat ini rasa Thai tea itu, mungkin cita rasanya sudah luntur dimakan oleh masa.
"Ya salam, aku belum shalat dzuhur!"
Tiba-tiba gadis itu menepuk jidatnya sendiri kala teringat jika ia belum melaksanakan kewajibannya sebagai salah seorang hamba. Tanpa pikir panjang, Jenar mengulurkan Thai tea yang ia bawa ke arah Wisnu dan buru-buru ia berlari kecil untuk menuju mushola.
"Hei Jen, mau ke mana kamu?!" teriak Wisnu dengan lantang sembari sesekali menatap Thai tea yang diberikan oleh Jenar.
"Mau shalat, Pak. Saya izin sedikit terlambat kembali ke ruang kerja!"
__ADS_1
"Hei, lalu bagaimana dengan Thai tea kamu ini?"
"Untuk pak Wisnu saja. Itu sama sekali belum saya minum!"
Tak kalah dari Wisnu, Jenar juga berteriak lantang sambil berlari kecil menyusuri lorong-lorong kantor untuk menuju musholla. Di sela jejak-jejak langkah kakinya, gadis itu merutuki kelalaiannya sendiri karena sampai lupa jika ia belum mengerjakan shalat.
Sedangkan bagi Wisnu ada kata dari gadis itu yang sedikit menampar hati. "Shalat? Oh ya Tuhan, kapan terakhir kali aku shalat? Sepertinya kehadiran gadis itu juga turut mengingatkanku kepadaMu."
Wisnu bermonolog lirih sembari menatap punggung gadis yang semakin lama semakin hilang di telan oleh tembok yang memisahkan area dalam perusahaan dengan area musholla yang berada di area belakang. Dan kini netra lelaki itu menatap lekat Thai tea yang ada di tangannya. Ia arahkan bibirnya untuk menyeruput minuman kekinian ini melalui sedotan yang telah tersaji. Seketika sensasi rasa nikmat dan segar dari minuman ini begitu terasa saat membasahi kerongkongannya.
"Apakah terlalu berlebihan jika aku menobatkan Thai tea ini menjadi Thai tea penyejuk hati? Thai tea pemberian gadis cantik nan baik hati?"
Tanpa sadar kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir Wisnu. Meski tak ia sadari namun seakan menjadi wujud akan apa yang ia rasakan terhadap salah satu karyawan magangnya itu. Namun, buru-buru ia menggeleng-gelengkan kepala saat ia tersadar akan satu hal.
"Ingat Wisnu, gadis itu sudah memiliki kekasih. Jangan coba-coba bermimpi tinggi, karena jatuhnya akan sakit!"
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Mohon maaf pendek dulu ya Kak.. Hihihihi ☺☺☺
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺
Salam Love, love, love❤❤❤
__ADS_1
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca