Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 21 : Keberangkatan


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘😘


Jenar mengeluarkan pakaian-pakaian miliknya dari dalam almari. Satu per satu mulai ia susun rapi masuk ke dalam koper berwarna merah hati. Tidak lupa sebuah bingkai foto kecil yang di dalamnya terdapat gambar ayah, bunda dan juga dirinya sendiri kala sedang berlibur di pulau Bali yang kini hanya tinggal menyisakan sebuah cerita nostalgi.


Seutas senyum tipis terbit di bibir Jenar kala teringat kapan momen itu diabadikan. Sebuah momen di mana ia dan keluarga besarnya berlibur ke pulau yang terkenal dengan pulau seribu pura. Kala itu ia masih berusia lima tahun dan tidak terasa kini ia sudah menginjak usia sembilan belas tahun. Ia yang tidak pernah bisa jauh dari ayah dan juga bunda, sebentar lagi akan berpisah untuk waktu yang cukup lama.


Satu tahun Jenar dan kawan-kawan akan menjalani masa prakerin. Jika memang mereka memiliki etos kerja yang baik dan berdedikasi untuk perusahaan, biasanya akan langsung direkrut untuk bekerja di sana. Jika memang itu yang terjadi kepada Jenar, bisa jadi hari ini merupakan hari terakhir baginya untuk berkumpul bersama ayah dan bundanya. Hal itulah yang membuat Rukmana dan Sutha yang kini berdiri di sudut kamar Jenar hanya bisa menatap sang putri yang tengah sibuk dengan tatapan datar dan bibir sedikit bergetar. Bergetar, karena tiba-tiba hati keduanya terasa terhimpit oleh dua bongkahan batu besar yang kini justru semakin terekam melalui tatapan nanar.


Sejenak, Jenar menghentikan aktivitasnya. Ia membalikkan tubuh dan... "Ayah, Bunda?!"


Sutha dan Rukmana yang tengah larut dalam pikirannya sendiri sedikit terkejut. Keduanya sama-sama terkesiap dan mengerjabkan mata. Seutas senyum tipis sekilas membingkai wajah mereka.


Dengan langkah kaki kecil, Jenar mendekat ke arah kedua orang tuanya. Dahi gadis itu sedikit mengerut kala melihat raut wajah kedua orang tuanya yang dipenuhi oleh kesenduan. "Ayah, Bunda, ada apa?"


Sutha dan Rukmana saling bertatap netra. Tanpa banyak membuang waktu, mereka memeluk erat tubuh putri semata wayangnya ini. "Nak, apakah keberangkatanmu bisa diundur? Bulan depan lagi mungkin?"


Dengan suara sedikit bergetar, Sutha mencoba untuk melisankan apa yang menjadikan hatinya dipenuhi dengan kekalutan. Sosok seorang ayah yang begitu dekat dengan sang putri yang merasa berat akan ditinggal oleh putri tunggalnya ini.


"Atau kamu tidak perlu prakerin, Jen. Sehingga kamu tidak perlu berpisah jauh dari Bunda dan juga ayah."


Seakan ada sesuatu yang menggerus batin wanita yang hampir memasuki usia paruh baya itu. Ia yang tidak pernah berada jauh dari sang putri, beberapa jam lagi akan berpisah. Putri semata wayang yang selalu berada di sisinya dari bangun hingga tertidur lagi. Putri semata wayang yang rasa-rasanya baru kemarin ia gendong ke sana kemari, sebentar lagi akan tinggal jauh darinya. Jika ada sebuah pilihan, mungkin Rukmana akan memilih Jenar tetaplah menjadi Jenar kecil yang tidak pernah beranjak dewasa sehingga ia tetap bisa mendekap erat putri kecilnya itu di dalam pelukannya.


Tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh bunda dan ayahnya, Jenar gadis belia itu juga merasakan hal yang sama. Ia juga merasakan sesak dalam dada di kala harus berpisah jauh dari kedua orang tuanya. Di mana keduanya menjadi tempat ternyaman yang ia miliki untuk pulang dan beristirahat dari segala kepelikan hidup yang ada di luar sana. Waktu seakan begitu cepat bergulir. Jenar yang sebelumnya berdiri dia atas tumpuan kaki ayah dan bundanya, sebentar lagi akan berdiri di atas kakinya sendiri, untuk menghadapi kerasnya dunia ini.


"Ayah dan Bunda jangan bicara seperti itu. Jika Ayah dan Bunda berbicara seperti itu sungguh hanya membuat Jenar merasa berat untuk berangkat, Yah, Bun."


"Bagaimana dengan kamu nanti di sana Nak? Siapa yang akan memasak untukmu setiap hari? Siapa yang akan membangunkanmu jika kamu telat bangun pagi? Siapa yang akan menjaga kamu? Bunda benar-benar khawatir Jen!"


Jenar mencoba untuk mengurai segala rasa sesak yang terasa semakin menghimpit dalam dada. Berpisah dari dua orang yang teramat berarti dalam hidupnya, merupakan satu hal terberat yang harus ia lalui. Namun kembali lagi, semua ada masanya. Dan saat ini tiba masanya untuk mulai hidup mandiri.


"Bunda jangan khawatir. Jenar pasti akan bisa menjaga diri untuk diri Jenar sendiri, Bun. Setidaknya, Jenar sudah banyak mendapatkan pengalaman hidup yang berharga dari ayah dan juga Bunda. Kini waktunya Jenar mengaplikasikan semuanya untuk kehidupan Jenar sendiri." Jenar mencoba untuk tersenyum, meskipun senyuman itu nampak begitu getir. "Saat ini adalah saat yang tepat bagi Jenar untuk memulai hidup mandiri Yah, Bun."

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika nanti kamu sakit, Jen? Siapa yang akan mengurus kamu?"


"Bunda tenang, Jenar tidak tinggal sendirian. Ada banyak teman yang tinggal satu tempat dengan Jenar."


Rukmana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia rengkuh kembali tubuh sang putri ke dalam pelukannya. "Bunda hanya berpesan, jaga diri kamu baik-baik Jen. Jaga kesehatan ya di sana."


"Iya Bunda, Jenar akan selalu mengingat apa yang menjadi pesan Bunda. Lagipula tempat Jenar dekat dengan bang Firman. Dia pasti bisa menjaga Jenar, Bunda."


Ucapan Jenar membuat Rukmana sedikit lega. Dia baru ingat bahwa Firman juga ada di kota yang sama dengan tempat putrinya ini magang. Dan ia pun percaya jika Firman bisa turut menjaga anak semata wayangnya ini yang tidak lain calon istri Firman sendiri.


"Baiklah Jen, Bunda bisa sedikit lebih tenang. Semoga di sana Firman bisa selalu menjagamu."


"Iya Bunda. Bang Firman pasti bisa menjaga Jenar dengan baik."


Sutha yang sedari tadi hanya nampak diam, mulai merapatkan tubuhnya dengan tubuh istri dan juga anaknya. Ia berupaya mati-matian untuk menguatkan diri agar tidak terlihat lemah di depan sang putrinya ini. Lemah, karena keberangkatan Jenar nanti menjadi pengalaman pertamanya sebagai seorang ayah hidup jauh dari anak tercintanya. Sama seperti yang dirasakan oleh sang istri, namun semua kembali lagi ke konsep awal ia menjadi seorang ayah. Bahwa suatu saat nanti, anak yang paling ia cintai akan hidup mandiri dan jauh dari sisi.


"Ingat pesan Ayah ya Nak, tetaplah menjadi orang baik. Dengan kebaikan itu...."


"Jenar pasti akan dikelilingi oleh kebaikan-kebaikan pula. Iya kan Yah?"


"Aamiin... Jenar juga berharap seperti itu Yah."


Suasana mengharu biru yang menyelimuti atmosfer kamar milik Jenar ini tiba-tiba terhenti kala mendengar deru suara mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumah milik Sutha. Ketiga orang itu saling melempar pandangan dan tak selang lama Jenar hanya tersenyum simpul di hadapan kedua orang tuanya.


"Sepertinya mobil yang akan membawa Jenar sudah tiba Yah, Bun. Sudah waktunya Jenar untuk berangkat."


Suasana haru kembali menyeruak masuk menembus dinding-dinding kamar. Tak mampu lagi menahan segala gejolak rasa yang berkecamuk dalam dada, pada akhirnya Rukmana kembali menangis sesenggukan di dalam dekapan Jenar.


"Berjanjilah pada Bunda bahwa di sana kamu akan baik-baik saja Nak. Dan berjanjilah pada Bunda setiap ada kesempatan untuk berlibur kamu akan pulang ke sini."


"Iya Bunda, Jenar janji. Jenar akan jaga diri baik-baik."


Sutha mengusap-usap punggung Rukmana. Seakan mentransfer sebuah sugesti positif agar sang istri tidak terlalu larut dalam kesedihan ini. "Sudah Bunda, jika seperti ini kasihan Jenar karena pasti akan memberatkan langkah kakinya."

__ADS_1


"T-Tapi Yah, Bunda pasti akan sangat kesepian jika Jenar pergi Yah."


Senyum seringai tiba-tiba muncul di bibir Sutha. "Bunda tidak ingin kesepian?"


Rukmana hanya menganggukkan kepala pelan. "Iya Ayah. Selama ini yang membuat hidup suasana rumah kan putri kita ini. Jika saat ini ia pergi, Bunda pasti akan sangat kesepian."


Sutha merangkul pundak sang istri yang membuat Jenar hanya bisa berdecak lirih.


"Kalau begitu, kita program kehamilan lagi saja Bun. Dengan begitu Bunda tidak akan kesepian lagi. Bagaimana?" ucap Sutha sembari menaik turunkan alisnya.


"Ayaahh!!!!"


Keharuan yang menyeruak berganti dengan gelak tawa yang menggema memenuhi langit-langit kamar. Mengiringi jejak langkah kaki mereka untuk menuju halaman depan di mana mobil yang akan membawa Jenar berhenti.


Jenar memeluk tubuh Rukmana dan Sutha bergantian. Mencium punggung tangan mereka, sembari meminta doa dan restu untuk keselamatan dan keberhasilannya di masa depan nanti. Doa dari dua orang yang ia yakini akan senantiasa dikabulkan oleh Tuhan.


"Ayah, Bunda, Jenar pamit ya. Ayah dan Bunda sehat-sehat selalu ya. Doakan Jenar agar Jenar dikelilingi oleh orang-orang baik."


"Doa kami akan selalu mengiringi langkah kakimu, Nak. Jaga dirimu baik-baik."


"Iya Ayah, Bunda. Jenar berangkat ya!"


Jenar mulai mengayunkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam minibus dan menempati kursi yang telah disediakan. Ia mengambil posisi di dekat kaca dan melambaikan tangan ke arah orang tuanya. Minibus yang ditumpangi oleh Jenar bergerak perlahan dan tak selang lama, menghilang dari pandangan kedua orang tua gadis belia itu.


"Bahagia dan sukses selalu anakku!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift, atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❤❤❤


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2