Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 54 : Hukuman


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘


Sama seperti saat pertama menginjakkan kaki di kantor ini, untuk kedua kalinya Jenar duduk berhadapan langsung dengan Wisnu seperti seorang tersangka kasus pencurian ayam. Entah mengapa gadis itu merasa atmosfer di dalam ruangan ini terasa begitu dingin. Padahal, pendingin ruangan sudah berada di dalam mode off.


"Karena ini sudah kedua kalinya kamu terlambat, saya memutuskan untuk memberikan hukuman kepadamu Jen."


Jenar menganggukkan kepala. Ia tahu betul bahwa ia memang berada di dalam posisi bersalah. "Iya Pak, saya sadar bahwa saya memang bersalah. Sekarang, saya ikut Pak Wisnu ingin memberikan hukuman apa untuk saya."


Wisnu hanya bisa menahan tawa di dalam hati. Rasanya begitu kasihan gadis ini. Namun, ia singkirkan rasa kasihan itu. Ia berpikir ini adalah saat yang tepat untuk meminta Jenar menjadi ibu settingan untuk Citra.


Aku minta maaf Tuhan jika terkesan aji mumpung ataupun memanfaatkan keadaan. Namun entah mengapa aku merasakan ini adalah jalan keluar yang Engkau pilihkan untuk bisa meminta Jenar menemani Citra untuk pergi ke acara tutup tahun.


"Jadi, kamu menginginkan hukuman apa dari saya Jen?"


Wisnu yang berdiri di sisi Jenar, dengan menyenderkan bokongnya di sudut meja, mencoba untuk bernegosiasi dengan salah satu karyawannya ini. Namun, pertanyaan Wisnu itu justru membuat Jenar bertanya-tanya di dalam angan.


Pak Wisnu ini apa-apaan? Sejak kapan seseorang yang melakukan kesalahan justru ditawari meminta hukuman apa. Jika ditawari, aku mau dihukum yang enak-enak kali. Tidak mau yang menguras banyak energi.


Hanya ada keheningan yang tercipta. Jenar sampai bingung sendiri mau memberikan jawaban seperti apa. Jika diminta memilih, pastinya ia tidak mau untuk dihukum.


"Mengapa diam saja Jen? Apakah pertanyaanku masih kurang jelas? Kamu ingin meminta hukuman apa dari saya?"


"Eeee ... kalau perkara itu saya serahkan kepada pak Wisnu saja. Saya mau untuk dihukum apapun asalkan jangan yang merugikan saya."


Wisnu terkekeh dong mendengar jawaban Jenar ini. Nampaknya ia tidak sadar jika ucapannya itu sedikit bermakna ganda.


"Kamu ingin saya hukum asal tidak merugikan kamu?"


"Iya Pak, seperti itu. Asal tidak merugikan saya."

__ADS_1


"Jenar, Jenar, di mana-mana yang namanya hukuman itu merugikan orang yang menjalani hukuman itu sendiri. Jika menguntungkan, namanya bukan hukuman, tetapi penghargaan atau rewards."


Mendengar penuturan Wisnu hanya membuat gadis belia itu tersenyum kikuk. Ia sampai dibuat bungkam oleh Wisnu karena tidak dapat menjawab apa-apa.


"Ya pada intinya jangan sampai membahayakan saya Pak. Seperti diminta untuk lompat ke sungai, menggosok gigi buaya atau memotong kuku harimau. Jika seperti itu saya sama sekali tidak mau."


Perkataan Jenar hanya semakin membuat perut Wisnu terasa dikocok habis-habisan. Tidak ia sangka jika selera humor gadis ini begitu tinggi. Ada saja yang ia ucapkan yang membuat dirinya terbahak-bahak. "Ahahaha kamu ini, mengapa sampai berpikiran sampai sana? Mana mungkin saya memintamu untuk melakukan hal-hal semacam itu."


"Ya barangkali saja kan Pak? Barangkali, Bapak ingin membuat saya berhenti untuk terlambat lagi."


"Hahahaha, jika sampai hal itu yang saya lakukan, maka bukan hanya berhenti tapi bisa innalillahi." Wisnu menjeda sejenak ucapannya kala merasakan sedikit kram di perutnya akibat terlalu banyak tertawa. "Saya tidak akan memberikanmu hukuman semacam itu. Namun sebaliknya."


"Sebaliknya? Maksud Bapak?"


"Ya, kali ini saya akan memberikanmu sebuah rewards."


"Hah rewards apa lagi maksud Bapak?"


"Saya akan memberikanmu sebuah rewards untuk makan geratis, membeli baju, sepatu, dan semua yang kamu perlu secara cuma-cuma. Bagaimana? Apa kamu bersedia?"


"Sebentar, sebentar. Sebelum saya memberikan jawaban, saya harus melakukan apa sebelum mendapatkan rewards itu? Rasa-rasanya tidak mungkin jika Bapak memberikan itu secara cuma-cuma tanpa ada maksud terselubung."


"Ahahaha ternyata kamu memang cerdas Jen. Bisa menebak maksud yang terselip di balik rewards yang ingin saya berikan."


"Ckckckck, sudah terbaca Pak. Zaman sekarang mana ada orang yang tulus. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik niat baik yang ia utarakan."


Wisnu masih terdiam kala mendengarkan celotehan karyawannya ini. Ia masih ingin melihat akan dibawa ke mana obrolannya ini.


Namun, tiba-tiba saja raut wajah Jenar itu nampak seperti seseorang yang begitu terkejut. Ia menautkan pandangannya ke arah Wisnu, dan menatapnya lekat.


"Jangan-jangan Bapak memiliki niat terselubung? Seperti menjadikan saya sugar baby untuk Pak Wisnu? Yang setiap hari bisa melayani Pak Wisnu?" Tatapan penuh kecurigaan itu nampak begitu jelas keluar melalui sorot mata Jenar. "Jika memang itu yang menjadi maksud dan tujuan Pak Wisnu, maaf-maaf saja ya Pak, saya tidak bisa menerimanya. Saya wanita baik-baik, yang tidak mudah tergoda hanya melalui tawaran ditraktir makan dan dibelikan barang-barang yang saya mau."

__ADS_1


Jenar bersungut-sungut seakan memberikan ultimatum kepada Wisnu bahwa dirinya bukanlah wanita 'gampangan' seperti itu. Ia seakan menunjukkan kepada atasannya ini bahwa ia bukanlah wanita yang bisa mempertaruhkan harga diri dan kehormatannya hanya karena sesuatu yang berhubungan dengan materi dan kesenangan dunia.


Sepersekian menit, Wisnu mencoba untuk memahami kata demi kata yang terucap dari bibir Jenar. Bahkan ekspresi yang ditampakkan lelaki itu, ia terperangah tiada percaya jika Jenar memiliki pemikiran yang begitu jauh sampai membawa kata sugar babby yang tengah hits di zaman sekarang ini. Namun tiba-tiba...


"Pfffft .... ya ampun Jenar, mengapa pikiranmu terlalu jauh seperti itu?"


"Alasan yang logis kan Pak? Apalagi yang diinginkan oleh seorang laki-laki memberikan apa saja yang diinginkan seorang wanita jika tidak menjadikan wanita itu seorang sugar babby?"


"Astaga, ternyata pikiranmu terlalu jauh Jen."


Kini giliran Wisnu yang menatap netra Jenar dengan lekat. Yang seketika sukses membuat gadis itu salah tingkah. Tatapan lekat namun terasa begitu teduh sampai menembus relung hatinya.


"Jika saya memiliki niat seperti itu, saya tidak hanya akan menjadikanmu sugar babby. Bahkan lebih dari itu Jen."


Dahi Jenar mengerut dengan kedua alis yang bertaut. "Maksud Pak Wisnu?"


"Saya tidak akan menjadikanmu sugar babby, tetapi seorang istri yang saya cintai. Bagaimana? Apa kamu bersedia jika saya langsung mengikatmu untuk menjadi istri saya?"


Jenar nampak semakin terperangah. Bibirnya nampak menganga. Perkataan Wisnu ini sukses membuat tubuhnya mematung dan aliran darahnya seakan membeku.


"Hahahaha, sungguh lucu sekali gaya bercanda Pak Wisnu ini. Saya sampai terkejut setengah mati."


Untuk menutupi kegugupannya, Jenar langsung menangkis ucapan Wisnu dengan menyebutnya sebagai salah satu cara atasannya ini bercanda. Sedangkan Wisnu, lelaki itu hanya bisa tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tiada gatal. Ia sendiri pun juga tidak menyangka jika ia memiliki keberanian seperti itu untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan.


"Hahaha iya Jen, saya juga hanya bercanda. Namun, saat ini saya benar-benar meminta bantuan darimu. Ya, bisa kamu anggap sebagai hukuman yang saya berikan kepadamu."


"Bantuan? Bantuan apa maksud Bapak?"


Wisnu membuang nafas sedikit kasar. Kali ini ia benar-benar berharap Jenar bisa membantunya. "Tolong temani saya dan juga Citra untuk menghadiri acara tutup tahun, lusa."


.

__ADS_1


.


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2