
Agnia masih memejamkan matanya saat Haikal dan Bu Nina masuk ke ruang rawat Agnia, sedangkan Reina memilih merebahkan kepala nya di dekat tangan Agnia bahkan tangan Agnia di genggam erat oleh Reina.
" rein kamu tidur saja di sofa biar ayah yang jagain bunda " ucap Haikal mencoba mendekati Reina putrinya.
" ngga, rein ngga mau " ucap Reina sambil menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Haikal ayahnya.
" dan lebih baik ayah pergi saja dari sini dan temui wanita itu yang tanpa rasa malu meminta ibu untuk kembali agar ayah mau menikahi nya " ucap Reina yang masih belum bisa memaafkan ayahnya.
" siapa maksud kamu sayang ?" tanya Bu Nina yang mendengar apa yang di sampaikan Reina pada Haikal.
" nenek tanyakan saja sama ayah " ucap Reina tapi tak lama Reina merasa jika genggaman tangan nya pada Agnia terasa sedikit lebih kuat.
" sayang, jangan berbicara kasar seperti itu " ucap Agnia dengan suara lemahnya.
" tapi Bun " belum selesai Reina berbicara tapi Agnia langsung menggeleng tak ingin mendengar ucapan Reina yang selalu meledak ledak.
" sayang.. Bagaimana pun ayah Haikal tetaplah ayahmu yang harus dan wajib kamu hormati " ucap Agnia meski dirinya merasa sakit saat melihat wajah Haikal.
Bagaimana tidak Agnia jelas jelas tau siapa yang sudah menabraknya dengan sengaja dan ini masih ada hubungannya dengan Haikal suaminya.
" dan untuk mas, Agnia mohon lepaskan Agnia dan izinkan Agnia bebas dan lepas dari pernikahan kita ini " ucap Agnia yang sontak saja membuat Bu Nina dan Haikal tak percaya jika dalam keadaan seperti ini Agnia masih tetap ingin berpisah dari putranya.
" sayang, jangan dulu memikirkan tentang perceraian " ucap Bu Nina yang kini sudah berdiri di samping Agnia yang masih terbaring.
" ngga Bu, Agnia tetap pada pendirian dan rencana awal dan Agnia harap lusa mas bisa datang di sidang perceraian kita nanti " ucap Agnia sambil terus melihat ke arah Haikal.
" Bu.. Bisa ajak Reina keluar dulu, ada yang harus Haikal bicarakan sama Agnia "
" penting " ucap Haikal sambil melihat ke arah Reina yang langsung mengalihkan pandanganya nya saat ayahnya melihat ke arahnya.
__ADS_1
" ayo sayang, berikan ayah dan bunda kesempatan untuk menyelesaikan semuanya" ucap Bu Nina sambil mengajak Reina keluar dari ruangan Agnia dan berharap Haikal kali ini bisa meluluhkan Agnia.
" tapi nek " Reina yang masih belum percaya jika ayahnya bisa menjaga bundanya pun enggan untuk meninggalkan Agnia bersama ayahnya.
" percaya sama nenek, ayah tidak akan menyakiti bunda ok " ucap Bu Nina sambil merangkul lengan Reina agar mau keluar dari sana.
Setelah kepergian Bu Nina dan Reina, Haikal pun menarik kursi untuk bisa duduk di samping Agnia yang masih terlihat lemah di atas tempat tidur rumah sakit.
" Nia.. Sayang " Haikal mencoba menggenggam tangan Agnia yang terbebas dari jarum infus sedangkan Agnia hanya membiarkan Haikal menggenggam tangannya hanya untuk melihat apa yang akan di lakukan Haikal padanya.
" apa kamu yakin ingin berpisah dari mas ?" tanya Haikal membuka suaranya, Agnia hanya mengangguk singkat.
" kamu sadar keadaan kamu seperti ini, apa kamu bisa mengurus dirimu sendiri ?" ucap Haikal dengan suara yang sudah sedikit meninggi.
" kamu jangan egois, kamu juga harus memikirkan Reina yang masih membutuhkan ayahnya dan juga memerlukan finansial yang tidak sedikit " ucap Haikal masih dengan nada suara yang sama.
" atau kamu memang sudah tak sabar ingin lepas dan berpisah dari dri mas karena tau ada laki laki lain yang menunggu janda kamu iya ?" ucap Haikal semakin tak terkendali.
" apa begitu rendahnya Agnia di mata mas hingga mas berpikir seperti itu pada Agnia ?" tanya Agnia yang masih menetes kan air mata.
" Agnia tau jika Agnia tidak lah menghasilkan uang sebanyak yang mas hasilkan, tapi Agnia yakin jika tuhan akan mencukupkan semuanya " ucap agnia sambil menghapus air mata nya dan mencoba kuat di hadapan Haikal.
" setelah mas lepas dari Agnia mas bebas melakukan apapun tanpa harus memikirkan kami " ucap Agnia.
Dan saat pembicaraan serius Haikal dan Agnia tiba tiba saja dering ponsel Haikal pun terdengar dan itu mengusik keduanya.
" di angkat saja mas, siapa tau penting " ucap Agnia yang tak sengaja melihat nama yang tertera di layar handphone Haikal.
" ngga usah karena saat ini obrolan kita jauh lebih penting dari telepon ini " ucap Haikal yang tau apa yang akan di tanyakan orang yang menelpon nya.
__ADS_1
" angkat saja, siapa tau dia mau nanya kapan mas bisa menikahi dia " ucap Agnia dan tak lama Agnia memilih memejamkan matanya tak menghiraukan kehadiran Haikal yang merasa urusannya masih belum selesai.
" mas yakin jika pengajuan perceraian kamu akan di tolak oleh pengadilan dan mas juga akan berusaha meyakinkan pengadilan jika kita pasti akan kembali dan bisa hidup seperti dulu " ucap Haikal yang membuat Agnia kembali membuka mata melihat ke arah Haikal.
" silahkan, dan asal mas tau jika apa yang Agnia putuskan ini memang yang terbaik untuk kita semua terutama untuk Reina agar Reina kembali menjadi anak yang ceria yang tak perlu mengkhawatirkan orang tuanya " ucap Agnia.
" dan satu lagi, itu juga terbaik untuk mas yang bisa sepuas hati mas bersama dengan semua wanita yang mas inginkan tanpa harus memikirkan Agnia dan Reina " ucap Agnia yang sudah sangat mengantuk karena pengaruh obat.
" apa kamu memang sudah tidak bahagia hidup bersama mas ?" tanya Haikal, Agnia kembali membuka mata meski rasa sakit lelah dan mengantuk mulai iya rasakan.
" beri satu alasan agar Agnia mencabut tuntutan cerai yang sedang Agnia ajukan " ucap Agnia sambil melihat ke arah Haikal.
" sedangkan mas hanya terus menerus menyakiti dan menghina Agnia tanpa tau tempat bahkan dengan tega mas ingin memadu Agnia yang jelas jelas tidak ingin di madu "
" ayah.. Sudah " ucap Reina yang sudah lebih dari lima menit lalu berdiri di depan pintu ruangan Agnia.
" jika memang ayah sayang dan perduli pada bunda dan Reina kabulkan permintaan bunda" ucap Reina memohon bahkan Reina mengatupkan kedua tangannya di dada tepat di hadapan Haikal.
" sayang.. Jangan seperti ini " ucap Bu Nina yang sudah tak kuasa menahan air mata nya melihat Agnia dan Reina yang mengiba pada Haikal agar mau melepaskan mereka.
" untuk apa nek, ayah tetap mempertahankan semuanya tapi ayah lagi lagi menyakiti dan melukai hati bunda apa belum cukup semua rasa sakit yang bunda rasa selama ini .."
Reina luruh di kaki Haikal yang menurutnya sangat egois, ingin terus memiliki tapi tak ingin menjaga dan malah terus menyakiti.
" mas...
✍️✍️✍️siapa yang datang ke ruang Agnia dan memanggil Haikal... Dan apa Haikal masih tetap tak ingin melepaskan agnia ?
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi UP nya
__ADS_1
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha lebih semangat lagi UP nya
Love you moreeeee 😍😍🌹