
Meski Nabila sudah pernah mengkhianati nya tapi bagaimana pun diantara dirinya dan Nabila banyak cerita dan kenangan yang pernah mereka lewati yang hingga kini masih membekas di hati sultan.
" apa yang akan kamu lakukan jika sampai Nabila adalah dalang dari apa yang terjadi pada Agnia saat ini " pertanyaan itu terus terngiang di telinga sultan meskipun Aipda Hamka sudah menutup sambungan telepon nya sejak satu jam yang lalu.
" mas.. kamu kenapa ?" tanya Agnia yang merasa heran karena sejak tadi sultan hanya diam setelah mendapat telepon dari seseorang yang di akui sebagai teman sultan.
" tidak apa apa " ucap sultan yang langsung duduk di samping Agnia meski hanya di bangku samping ranjang Agnia.
" kenapa kamu masih belum tidur ? tanya sultan saat melihat jam di handphone nya yang sudah menunjukan pukul sembilan malam.
" apa kamu ingin mas peluk ?" tanya sultan yang kini sudah menggenggam tangan Agnia yang terbebas dari selang infus.
" apaan sih mas, kita bukan anak muda lagi yang mengumbar kemesraan " ucap agnia yang kini sudah bersemu merah mendengar apa yang di ucapkan sultan suaminya, meski sangat wajar jika mereka melakukan itu tapi dengan catatan di rumah dan di kamar mereka.
" mas hanya bercanda, tapi mas mohon istirahat agar kamu bisa segera pulih " ucap sultan sambil membenarkan selimut yang di gunakan Agnia.
Savitri yang sudah merasa mengantuk pun mulai tak nyaman tinggal satu rumah dengan laki laki asing yang bahkan hingga saat ini Savitri belum tau nama laki laki itu.
" tidurlah, aku tidak akan macam macam dengan wanita yang masih berhalangan " ucap Anton yang tentu saja membuat Savitri semakin takut dengan keberadaan Anton di rumahnya.
" mau sampai kapan kamu tinggal di rumah ini ?" tanya Savitri memberanikan diri bertanya pada Anton.
" APA KAMU MENGUSIRKU ?" tanya Anton yang terlihat marah saat Savitri menanyakan itu padanya.
" bukan .. hanya saja saya tidak mau berurusan dengan polisi karena berusaha membantu kamu melarikan diri " ucap Savitri memberanikan diri mengatakan apa yang iya pikirkan dari tadi.
" aku akan keluar setelah aku merasa jika keadaan sudah aman " ucap Anton yang sudah memejamkan matanya di kursi sofa ruang keluarga Savitri.
Savitri hanya bisa menghela nafasnya karena sejujurnya iya tidak tau harus berbuat apa karena Savitri begitu mencintai hidupnya dan tak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada dirinya.
" ya Tuhan, jangan biarkan laki laki itu terlalu lama tinggal di rumah ku " gumam Savitri sebelum meninggalkan ruang keluarga rumahnya.
" lapor pak, di rumah yang bercat kuning terlihat aktivitas yang sedikit mencurigakan " ucap salah satu anak buah Aipda Hamka.
__ADS_1
" pantau terus dan jika kita sudah yakin kita langsung melakukan penyergapan dan usahakan untuk kali ini jangan sampai gagal " ucap Aipda Hamka mengingatkan anak buahnya.
" siap laksanakan " ucap anak buah Aipda Hamka yang baru saja melapor.
Hampir dua jam anak buah Aipda Hamka memantau kondisi di rumah yang bercat kuning yang ternyata adalah rumah Savitri.
" kami sudah memastikan jika tersangka berada di dalam seperti pesan yang di sampaikan wanita dalam rumah itu pada salah satu tetangga yang baru saja di tanyai oleh anak buah kita pak " lapor anak buah Aipda Hamka pada atasannya.
Setelah memastikan jika target memang ada di rumah yang sudah di awasi secara intens Aipda Hamka pun memberanikan diri kembali memimpin penyergapan yang kedua kalinya dan berharap untuk kali ini sudah mereka tidak akan gagal.
Tok tok tok
Salah satu anak buah Aipda Hamka yang menggunakan pakaian bebas pun mencoba memancing Savitri untuk keluar agar bisa mempermudah penyergapan.
tok tok tok
Anak buah Aipda Hamka kembali mengetuk pintu rumah Savitri tapi hingga sepuluh menit pintu rumah itu tak kunjung di buka dari dalam.
Anton yang mulai terusik pun langsung mengintip dari balik jendela meski hanya di buka sedikit oleh Anton tapi terlihat jelas jika ada seorang laki laki yang Anton rasa kenal tapi Anton tidak tau dimana iya melihat wajah itu
" hei bangun " ucap Anton saat sudah masuk ke dalam kamar Savitri yang memang Anton pinta untuk tidak di kunci jika keadaan darurat seperti ini.
" ada apa ?" tanya Savitri yang terlihat sangat mengantuk karena jam sudah menunjukkan pukul satu malam.
" apa kamu sering memasukan laki laki di tengah malam ?" tanya Anton memastikan tapi dengan cepat Savitri menggeleng karena semenjak dekat dengan Haikal, Savitri mencoba setia pada satu laki laki.
" lalu siapa yang ada di luar sana ?
Belum selesai kalimat yang Anton tanyakan pintu rumah Savitri pun sudah di dobrak paksa, bahkan Aipda Hamka dan anak buahnya pun sudah merangsek masuk dan kini ada di hadapan Anton dan Savitri.
" ANGKAT TANGAN " ucap Aipda Hamka yang tak ingin kembali gagal menangkap Anton, tapi siapa sangka akibat kelengahan Savitri Anton malah menjadikan Savitri sebagai tameng untuk melindungi diri dan terbebas dari penyergapan kali ini.
" TIDAK .. TIDAK AKAN SEMUDAH ITU KALIAN MELUMPUHKAN KU KALI INI " ucap Anton yang mengapit leher Savitri dengan lengannya.
__ADS_1
" apa kamu yakin bisa lari dari sini sedangkan di dalam rumah ini dan diluar sana juga sudah di kepung " tanya Aipda hamka.
Anton melihat ke sekeliling tempat seolah mencari celah untuknya agar bisa kabur dari tempat Savitri yang sudah jelas jelas tidak aman lagi.
" menyerahkan agar kamu bisa mendapatkan keringanan jika kamu berkata yang sejujur jujurnya" ucap Aipda Hamka mencoba bernegosiasi dengan anton yang masih menguasai Savitri yang terlihat sangat ketakutan.
" apa jaminan jika saya akan mendapatkan keringanan jika saya menyerahkan diri " tanya Anton yang tak ingin terjebak dengan ucapan Hamka.
" setidaknya kamu berusaha untuk meminta maaf pada korban yang syukurnya saat ini sudah bangun dari koma "
Mendengar ucapan polisi yang ada di hadapannya membuat Savitri mengangkat wajahnya.
" siapa korban yang bapak maksud ?" tanya Savitri yang mulai menerka jika orang yang menjadi korban kejahatan Anton adalah Agnia.
" Agnia istri dari kolonel sultan "
deg
Lagi lagi Savitri terbawa dampak dari apa yang Agnia lakukan dalam hidupnya, dan Savitri pun melihat ke arah Anton yang juga melihat ke arahnya.
" kenapa tidak kamu buat mati saja wanita itu ?" tanya Savitri yang hanya di dengar oleh Anton.
" andai Agnia mati di tangan mu aku tidak akan menyesal jika harus mati setelah itu " ucap Savitri yang kali ini sudah di dengar oleh Aipda Hamka.
bruggghh
Aipda Hamka sudah berhasil melumpuhkan Anton dan juga membebaskan Savitri dari cengkraman Anton.
" ikut kami ke kantor dan tolong jelaskan dan pertanggung jawabkan apa yang sudah anda ucapkan tadi "
✍️✍️✍️ apa Savitri akan ikut terseret masuk ke dalam penjara sama seperti Nabila setelah Anton membuka suaranya ?🤔🤔 dan bagaimana sikap Agnia jika tau siapa yang sudah mencoba menyakitinya dan siapa yang menginginkan kematiannya.. 🤔🤔
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi update nya
__ADS_1
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak biar R-kha lebih semangat lagi update nya dan jadikan R-kha author favorit mu
love you moreee 😘😘😘