
Sisil dan Johan sangat menikmati makan malam mereka. Sudah lama Johan berkeinginan mengajak Sisil makan makanan kesukaan nya dan baru kesampaian sekarang.
Johan senang bisa membahagiakan Sisil. Walaupun Sisil tipe gadis yang tidak pernah mengeluh dan meminta tapi Johan berusaha untuk menjadi yang terbaik buat Sisil.
Sisil memang sangat menyukai sushi. Tapi walaupun begitu dia tidak pernah mengajak Johan untuk makan sushi karena Sisil tahu resto Sushi itu kalau yang enak pasti mahal harganya.
Sore ini begitu surprise buat Sisil karena Johan membawa nya untuk makan sushi. Dalam hatinya dia mengucapkan banyak terima kasih pada Johan.
Sisil sungguh menikmati makan malam nya bersama Johan. Di pandangi nya wajah Johan yang ada di depan nya. Wajah tampan, putih, hidung mancung terpahat sempurna. Sisil tersenyum melihat nya.
"Kok senyum-senyum sendiri?! Hayo.... lagi mikirin apa! " heran Johan melihat Sisil tersenyum sendiri sekaligus meledeknya.
"Ih Kak Johan! Gak kok! " elak Sisil dengan wajah yang sudah memerah.
"Muka udah kaya kepiting rebus gitu, masih ngelak lagi! " ledek Johan diikuti dengan tawanya yang sumringah. Tawa Johan membuat Sisil bertambah malu.
Gemas Johan melihatnya.
Johan menyodorkan minuman ocha hangat yang sudah dia isi ulang kepada Sisil. Dan Sisil mengambilnya lalu langsung meminumnya.
Setelah selesai makan malam, Johan memesan dessert nya yaitu puding dan buah-buahan. Mereka berdua kembali menikmati nya.
Selesai dessert, Johan meminta bon tagihan untuk pembayaran dan membayar semuanya. Lalu mereka berdua keluar dari resto dengan bergandengan tangan menuju parkiran mobil.
Johan mengemudikan mobilnya dengan santai menuju rumah kedua orang tua nya. Mama Wiwid sudah menunggu kedatangan Sisil.
Sisil menatap jalanan yang dilaluinya dari jendela mobil.
"Kak Johan, enak gak ya Sisil nginap gini...? " ragu Sisil yang merasakan gelisah di hatinya.
"Gak usah pikir macam-macam, sayang! Di enakkan saja! " sahut Johan santai dan tetap fokus menyetir.
"Sisil serius ini, Kak! Hati Sisil jadi gelisah! " kesal Sisil yang mendengar Johan menanggapi nya dengan bercanda.
__ADS_1
Johan tersenyum.
"Aku juga serius, sayang! Jangan berpikir macam-macam! Jalani saja! Mama juga sudah nunggu kamu kok! " jawab Johan menjelaskan lebih detail.
Sisil hanya duduk terdiam. Hatinya berkecamuk. Antara resah dan gelisah. Seumur hidup nya Sisil ini adalah yang kedua kalinya dia pergi menginap di rumah cowok. Tapi kali ini berbeda, dia merasa risih dan cemas hingga menimbulkan resah dan gelisah di hati nya.
Johan membiarkan Sisil yang sedang gelisah itu. Buat dia kegelisahan Sisil itu tidak beralasan sama sekali.
Mobil yang dikendarai Johan akhirnya memasuki parkiran rumahnya. Johan langsung memarkir mobilnya di tempat garasi biasa dia memarkir mobilnya. Sebelum mematikan mesin nya, Johan menengok Sisil yang masih duduk di sampingnya.
"Ayo turun, sayang! Kecemasan kamu gak beralasan sama sekali! " ucap Johan yang berusaha menenangkan Sisil dengan kata-kata nya.
Sisil tersenyum. Dia berusaha meyakinkan dirinya dengan ucapan Johan itu.
Sisil membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Johan langsung mematikan mobil dan keluar dari mobilnya. Dia berjalan memutar menghampiri Sisil yang berdiri di samping mobil menunggu nya.
Johan mengeluarkan tas baju Sisil dari pintu belakang, lalu dia menggandeng tangan Sisil untuk masuk ke dalam rumah orang tua nya.
"Kamu tenang saja, kan ada aku di samping kamu! " ujar Johan menggandeng tangan kiri Sisil dan tangan satu nya lagi menjinjing tas baju Sisil.
Mama Wiwid langsung memeluk Sisil begitu Sisil dan Johan memberi salam. Rupanya Mama Wiwid benar-benar sudah menunggu kedatangan Sisil. Ya... Mama Wiwid bahagia Johan menjalin hubungan dengan Sisil. Siapa yang tidak bahagia mendapati calon menantu yang cantik, baik hati dan budi pekerti nya. Mama Wiwid tidak peduli dengan status sosial seseorang, karena buat Mama Wiwid kekayaan atau uang itu bisa dicari. Tetapi kaya hati itu yang susah dicari. Apalagi dengan kekayaan Mama Wiwid dan Papa Herry, mereka masih bisa untuk menghidupi anak cucu nya.
"Akhirnya yang ditunggu datang juga! " ucap Papa Herry dengan senyum di bibirnya. Mama Wiwid melepaskan pelukan nya. Lalu membawa Sisil untuk duduk di sofa ruang tamu itu.
Johan meletakkan tas baju Sisil di kamar tamu yang akan di tempati Sisil jika nginap. Lalu dia kembali ke ruang tamu dan duduk di sebelah Sisil.
Sisil yang masih merasakan sedikit canggung dengan keluarga Johan hanya bisa tersenyum.
Tak lama kemudian masuklah Bik Darmi dan pelayanan lainnya dengan membawa minuman teh hangat, kue kering dan puding vla.
Bik Darmi menghidangkan nya di atas meja ruang tamu dan mempersilahkan mereka semua untuk minum dan mencicipi.
"Ayo di coba, Sil! Ini puding vla buatan Bik Darmi! Enak lho! " promosi Mama Wiwid pada calon mantu nya.
__ADS_1
"Iya, Tan! " jawab Sisil tersenyum. Johan mengambilkan puding vla untuk Sisil dan diterima Sisil dengan senyuman.
"Sayang.... kamu malam ini senyum terus! " bisik Johan di dekat telinga Sisil sambil tangan nya menyuapi puding vla ke dalam mulutnya sendiri.
Sisil reflek mencubit lengan Johan dengan mata yang sedikit melotot. Johan meringis pelan menerima cubitan Sisil.
Sisil kalau sudah mencubit pasti terasa sakit dan pedih. Pasalnya cubitan nya itu kecil.
"Sering-sering kamu nginap di sini, Sil! Pintu rumah ini sangat terbuka buat kamu! " ucap Mama Wiwid yang tersenyum pada Papa Herry seakan minta persetujuan. Papa Herry menganggukkan kepala.
"Iya betul, nak Sisil! Sering-sering lah nginap biar istri saya ada teman nya! " sambung Papa Herry dengan mengerlingkan mata pada istrinya yang masih kelihatan cantik itu.
"Besok kita buat acara barbeque ya, Sil! Kamu undang Danu, Han! Suruh datang biar ramai! " rencana Mama Wiwid.
"Siap, Ma! Asyik besok barbeque..! " Johan bertepuk tangan kegirangan persis seperti anak kecil yang mendapat permen.
Mama Wiwid cuma geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya itu. Dibilang udah dewasa tapi terkadang seperti anak kecil.
"Johan senang, Ma! Udah lama banget kan kita di rumah gak ngadain barbeque! Semua ini berkat kamu, Sil! Coba kalau kamu gak nginap, belum tentu ada barbeque besok! " ujar Johan panjang lebar sambil memeluk pinggang Sisil.
Sisil yang diperlakukan begitu menjadi salah tingkah dan malu. Wajahnya yang putih itu langsung bersemu merah.
Mama Wiwid bahagia melihat anak lelaki kesayangan nya bahagia. Demikian juga Papa Herry. Dia baru kali ini melihat Johan bahagia dengan gadis pujaan nya.
"Ayo, Ma! Kita ngamar yuk! Biar dua sejoli ini malam mingguan! Kita juga jangan kalah! Yuk....! " ajak Papa Herry yang langsung berdiri memegang lengan istrinya.
"Ah, Papa ini..... " sahut Mama Wiwid yang jadi memerah mukanya. Gimana gak malu, di depan anaknya malah bersikap mesra gitu. Tapi ya begitulah Papa Herry yang selalu mesra dengan istrinya. Johan dan Sisil hanya bisa tersenyum melihatnya.
*
*
*
__ADS_1
bersambung.....
_______________________________________