
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah bertemu pagi lagi. Sisil sudah duduk di bangkunya dan sibuk beres-beres laporan yang harus diserahkan seminggu sekali.
Sekalian dia juga sudah mempersiapkan surat pengunduran diri nya untuk diserahkan pada personalia.
"Selamat ya Sil! " ucap Mbak Yanti seraya memeluk Sisil dari samping. Karena Mbak Yanti orangnya pendek jadi cukup berdiri di samping Sisil yang sedang duduk, hampir tidak beda jauh nampaknya.
"Jangan kencang-kencang Mbak, gak enak di dengar yang lain! " sahut Sisil dengan jari telunjuk di bibirnya.
Mbak Yanti menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Tapi kan nanti juga mereka pada tahu kalau lu mau berhenti Sil! " lanjut Yanti dengan suara pelan.
"Iya Mbak, nanti bukan sekarang! " sahut Sisil lagi. Dia gak pengen jadi perbincangan teman-teman yang lainnya. Belum lagi nanti yang banyak bertanya, hal itu yang membuat Sisil malas.
"Siap, say! " Mbak Yanti tersenyum dan balik ke bangkunya.
"Mbak sendiri gimana? Ada kabarkah? Hasil interview nya sudah keluar? " tanya Sisil beruntun dengan suara pelan tapi jelas.
"Tes pertama dan kedua lolos, say! Tinggal nunggu hasil interview nih! Katanya sih dalam minggu ini paling cepat! " jelas Mbak Yanti kepada Sisil dengan suara pelan.
"Semoga di terima ya, Mbak! " ucap Sisil dengan tersenyum.
Nasabah-nasabah sudah mulai banyak berdatangan. Mbak Yanti, Sisil dan Nessa tampak disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
*
*
Di sebuah cafe yang tidak terlalu besar tampak seorang laki-laki duduk sambil menghisap rokoknya.
Dia tampak gelisah, sebentar-sebentar dia melihat jam tangan nya. Dia menunggu seseorang yang kedatangan nya sudah telat dua puluh menit dari yang dijanjikan.
"Aisshh....kemana dia? Apa dia lupa? " tanya laki-laki itu dalam hatinya.
Laki-laki ini tak lain adalah Chandra, adik kandung Tante Caroline. Dia sudah membuat janji dengan Tante Caroline untuk bertemu di cafe ini.
Tapi yang ditungu-tunggu tak kunjung datang. Chandra berusaha menelpon nomor kakaknya itu tapi sama sekali gak ada jawaban. Hape nya seperti mati.
Tiga puluh menit telah berlalu dari jam yang dijanjikan. Tampak sebuah taxi online berhenti di depan cafe, dan keluarlah Tante Caroline dari dalam taxi itu.
Caroline berjalan masuk terburu-buru ke dalam cafe. Didapatinya Chandra duduk dipojokan sedang melambaikan tangannya.
Caroline bergegas menuju meja Chandra.
"Lama sekali kau, mbak! Hampir aku mau pulang! " kesal Chandra pada kakaknya begitu Caroline duduk di depan nya.
"Maafin mbak ya! Gak nyangka hari ini macet Chan! " dengus Caroline yang merasa kesal juga karena lama di jalan.
__ADS_1
"Mau pesan apa mbak? " tanya Chandra sambil menyodorkan daftar menu dan tangan satunya lagi terangkat keatas memanggil pelayan.
Pelayan datang menghampiri.
"Es Capucino satu ya! " ucap Caroline pada pelayan yang mencatatnya.
"Mocca Latte ya! " ucap Chandra pada pelayan itu.
Pelayan itu kembali ke dalam untuk memproses pesanan Caroline dan Chandra.
Chandra menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya.
"Kamu ngerokok udah kaya kereta api gak ada berhentinya! Kuranginlah tuh rokok Chan! " Caroline ngedumel melihat adiknya.
"Gak usah ngatur-ngatur hidupku, mbak! Urus aja hidup mbak sendiri! " sahut Chandra ketus dan kesal.
Chandra memang dari kecil susah diatur dan keras kepala. Apalagi sekarang, makin tua bukannya makin baik, malah makin jadi. Wkwkwk......
"Ada apa ngajak mbak ketemuan? " tanya Caroline mengalihkan kekesalan Chandra.
"Pinjemin aku uang, mbak! " ucap Chandra dengan enteng seolah Caroline bank duit.
"Mbak mana punya uang, Chandra! Ada juga mbak yang pinjem sama kamu! Gimana sih?! " kesal Caroline dengan ulah adiknya ini.
"Makanya cari laki tuh yang kaya, mbak! Jadi hidup gak susah! " kesal Chandra sambil menghisap rokoknya.
"Udah! Gak usah urus hidup mbak! Urus aja masing-masing! " marah Caroline terhadap adiknya, Chandra.
"Lepasin! " teriak Caroline melotot ke arah Chandra.
"Maaf, mbak! Maaf..... maaf.....! Becanda mbak sayang....masa gitu aja marah! " ucap Chandra membujuk Caroline yang masih merajuk.
"Becanda?! Becanda tapi nyindir! " rajuk Caroline masih emosi.
"Sudah, jangan marah-marah! Nanti keriputnya nambah! Duduklah dulu mbak....! " Chandra membimbing tubuh kakaknya untuk duduk kembali.
Caroline menyedot minumannya yang sudah dihidangkan oleh pelayan. Tampak sudah mulai turun emosinya. Chandra sangat mengenal kakaknya ini, jika sudah emosi susah hilang dan ngontrolnya. Jadi harus minta maaf dan merayu-rayu dengan manis.
"Nanti aku transfer ke rekening mbak ya, tapi gak bisa banyak-banyak mbak! " jelas Chandra dengan pelan.
"Makasih Chan! " sahut Caroline singkat.
"Jadi bagaimana perkembangan di rumah suamimu sekarang? " tanya Chandra pelan.
"Baik dan lancar! " sahut Caroline singkat. Dia sudah males ngomong sama Chandra.
"Terus anaknya gimana? Udah bisa ditahlukkan belum? " tanya Chandra lagi. Dia tidak peduli melihat kakaknya yang tidak banyak omong.
__ADS_1
Caroline menatap Chandra. Dia sedikit ragu sama Chandra.
"Biarlah ku cerita sedikit, siapa tahu ada masukan dari Chandra! " gumam Caroline dalam hatinya.
"Anaknya sih sebenarnya baik, tapi buat mbak gampang-gampang susah ya! Kemarin ini baru aja ribut soal telpon. " tutur Caroline pada Chandra.
"Kenapa dengan telpon? " tanya Chandra mengerutkan dahinya.
"Mbak kalo nelpon ataupun terima telpon kan lama.... nah anaknya gak suka." ucap Caroline dengan penjelasan singkatnya.
Sebenarnya Caroline mengerti apa yang ada di pikiran Sisil, tapi dia sebagai istri Ridwan tentu saja gak mau kalah ataupun disalahkan.
"Mbak kalo lagi ribut, jangan mau kalah! Sudutkan terus, mbak! " Chandra kasih masukan.
"Ohh....itu sudah pasti, Chan! " sahut Caroline menyeringai.
"Mbak sudah punya rencana belum untuk anaknya? " tanya Chandra lagi.
"Sudah dong! Kamu tenang aja. Jika nanti mbak butuh bantuan, mbak kabari kamu! " sahut Caroline mesem-mesem.
"Oohh... oke. Aku siap membantu, mbak! " ucap Chandra bersemangat.
"Kalo bisa, bikin dia ditendang dari rumah, mbak! " tawa keras Chandra pun pecah.
Caroline mengiyakan ide gila adiknya itu.
"Kenapa aku gak kepikiran sampai sana ya? Si kupret ini berguna juga! Hmm...."
gumam Caroline dalam hatinya.
"Ide bagus, Chan! " tawa Caroline hampir bersamaan dengan adiknya.
Mereka berdua memang sama gila nya, sama jahat nya, sama licik nya, mungkin hampir semua yang jelek-jekek bisa mereka berdua lakoni. Makanya mereka berdua tidak ada yang akur dengan saudara kandung lainnya.
Setelah minuman habis, Chandra pamit pada kakaknya, Caroline untuk pulang. Dia mau langsung pulang ke kota B.
Caroline pun langsung memesan taxi online untuk pulang ke rumah nya.
*
*
bersambung.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa komentar, like dan vote/hadiah ya bestieππ» dukung terus karya receh mommy yaa....
__ADS_1
Terimakasih buat yang sudah mendukung dan yang selalu mendukung....π€ dukungan kalian sangat berarti buat mommy.
Luv u all ππβ€