Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 96. Mengantar Sisil pulang


__ADS_3

Mereka berempat, Pak Herry, Bu Wiwid, Johan dan Sisil akhirnya menyelesaikan makan malam mereka.


Lalu mereka menikmati dessert yang sudah dibuat Bik Darmi, yaitu puding vla dan jus jeruk.


Selesai makan bersama, mereka semua berkumpul di ruang keluarga yang berada tidak jauh dari ruang makan.


Sisil tersenyum dalam hati nya. Dia merasa senang berkumpul dengan keluarga Johan.


Setelah Mama nya meninggal, Sisil tidak pernah merasakan hangatnya sebuah keluarga. Baru hari ini Sisil kembali merasakan nya.


Keluarga kaya dan terpandang tapi tidak memandang seseorang dari banyak nya harta seseorang ataupun kedudukan seseorang. Ini adalah sesuatu yang jarang ditemukan pada jaman sekarang. Sungguh ini adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan, ini yang Sisil rasakan di hatinya hingga membuat dirinya terharu.


Mata Sisil sempat berkaca-kaca. Buru-buru Sisil mengalihkan pikirannya ke hal lain yang menyenangkan agar airmata nya tidak jatuh.


Akan malu bagi diri Sisil jika ketahuan keluar airmata. Walaupun itu airmata bahagia.


Semua ini tak luput dari perhatian Johan. Ya.... Johan selalu memperhatikan Sisil, terutama gerak-gerik Sisil. Jadi saat sekarang ini Johan tahu Sisil terharu karena bahagia bisa di terima dalam keluarga nya.


Johan sendiri pun merasa lega karena Papa dan Mama nya bisa menerima Sisil apa ada nya dengan segala kelebihan dan kekurangan nya.


Tadinya ada kekhawatiran juga dalam hati Johan tentang keluarga nya ini, apakah Papa dan Mama nya bisa menerima Sisil atau tidak. Masalah nya Sisil bukan dari keluarga kaya dan harmonis tapi keluarga yang berantakan.


Tapi setelah melihat perlakuan Papa dan Mama nya terhadap Sisil, segala keraguan di hati Johan pun sirna dengan sendirinya. Malah Papa dan Mama menerima dengan baik kehadiran Sisil, terutama Mama yang nampak sekali sudah dekat dan perhatian pada Sisil.


Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa hari sudah malam. Sisil sudah memberi kode pada Johan untuk pulang.


"Ayo, aku antar kamu pulang, Sil! " ucap Johan yang sudah membaca gerakan kode Sisil.


"Nginap saja disini, Sil! Besok pagi baru pulang sekalian ke kantor! " pinta Bu Wiwid langsung.


"Jangan, Tante! Sisil pulang saja, gak mau ngerepotin! " tolak Sisil sopan.


"Nanti Sabtu saja kamu nginap di sini, ya Sil! " ujar Johan yang langsung memutuskan dan meminta persetujuan Sisil.


Sisil hanya bisa menganggukkan kepala nya, menyetujui omongan Johan. Melihat Sisil yang setuju untuk nginap hari Sabtu membuat Bu Wiwid bersorak kegirangan. Sisil tersenyum melihat tingkah Bu Wiwid yang baik hatinya.

__ADS_1


Sisil bersiap-siap untuk pulang, lalu dia pamit pada kedua orang tua Johan.


Johan menggandeng tangan Sisil, mereka berdua berjalan menuju parkiran mobil.


Johan membuka pintu mobil dan mempersilahkan Sisil masuk. Sisil masuk dan duduk di depan, sebelah kemudi. Lalu Johan menutup pintu mobil dan dia mengitari mobil lalu masuk dan duduk di belakang kemudi.


Setelah dirasakan mobil sudah panas, Johan menjalankan mobil untuk keluar dari parkiran dalam rumahnya.


Johan melajukan mobil dengan santai, tidak terlalu cepat. Dia masih ingin berlama-lama dengan Sisil.


"Bagaimana? Kamu senang berkumpul bersama keluarga ku, Sil? " tanya Johan memecah kesunyian malam.


"Ya, aku senang Kak! " jawab Sisil dengan menoleh ke arah Johan. Yang di toleh tetap fokus nyetir, hanya bibirnya saja yang tersungging senyuman.


"Kalau kamu senang, boleh sering-sering datang ke rumah sayang! Papa dan Mama pasti senang, terutama Mama! " ujar Johan masih tetap dengan senyuman.


"Ah Kak Johan, malu dong kalau keseringan! " jawab Sisil dengan bibir yang dimajukan. Hal ini membuat gemas Johan yang melihatnya.


Tangan kiri Johan mengelus rambut Sisil dan membawa Sisil dalam pelukannya. Sisil menurut dan dia pun memeluk pinggang Johan dari depan dengan tangan kirinya. Johan sedikit memperlambat laju mobilnya.


Sisil tetap menyenderkan kepala nya pada lengan Johan. Sedangkan Johan tetap fokus menyetir.


Tak lama kemudian, mobil yang dibawa Johan memasuki pelataran parkir tempat kost Sisil yang luas.


Johan mencari posisi untuk berhenti di dekat pohon yang tidak terlalu ramai dengan parkir mobil lainnya.


Setelah mobilnya berhenti dan terparkir sempurna, Johan menoleh Sisil yang masih menyenderkan kepala nya. Diciumnya bibir Sisil dengan penuh kelembutan. Dan Sisil membalasnya.


Tidak ada kata-kata yang bisa mewakili, hanya debaran di dada yang terasa bergemuruh.


Johan mencium Sisil dengan intens. Kadang dia melonggarkan bibirnya agar supaya Sisil bisa mengambil nafas dan setelah itu Johan kembali ******* bibir merah nan menggemaskan itu yang sekarang menjadi candu bagi dirinya.


Johan melepaskan ciumannya. Dia menyeka bibir Sisil dengan jarinya.


"Ya sudah kamu masuk ya! Aku gak turun ya, Sil! "ucap Johan masih membelai rambut Sisil.

__ADS_1


" Oya, kamu nanti tiap Sabtu nginep di rumah saja ya! " lanjut Johan memberitahu Sisil. Dan ini permintaan Johan yang gak bisa ditolaknya.


"Iya, Kak! Aku turun dulu ya! " ucap Sisil yang langsung membuka pintu mobil lalu keluar dan menutup pintu itu lagi.


Sisil berjalan ke dalam. Baru berjalan setengah jalan, Sisil membalikkan badannya. Dia melambaikan tangan pada mobil Johan yang akan melintas di depannya. Johan juga membuka kaca mobilnya sedikit.


Dilihatnya mobil Johan sudah menghilang dari area parkiran kost, lalu Sisil kembali berjalan masuk ke dalam kost nya.


Setelah membuka pintu kamar kost nya, Sisil langsung menyalakan AC dan merebahkan badannya pada ranjangnya. Badan nya terasa lelah tapi hatinya bahagia.


Sisil memejamkan mata nya. Ingatan nya kembali pada waktu Mama nya masih hidup. Dulu juga dia mempunyai keluarga yang harmonis dan menyayangi dirinya.


Semenjak Mama nya meninggal, Sisil hidup bersama Papa yang disayanginya dan menyayangi diri nya.


Tapi ternyata rasa sayang Papa nya lebih besar kepada istrinya yang baru dibanding dengan Sisil, yang hanya seorang anak.


Ternyata benar kata orang-orang tua jaman dulu, jika kita punya anak lelaki harus mendapat istri yang baik. Sebab istri yang baik itu akan berdampak baik juga untuk suaminya.


Ternyata hal itu benar dan dialami oleh Sisil. Papa nya mendapat istri yang tidak baik, mau itu dalam sikap dan sifatnya maka berdampak pula terhadap Papa nya.


Sisil hanya bisa menghela nafasnya. Tiba-tiba hape nya bergetar, menandakan ada message masuk. Ternyata setelah di cek ada message masuk dari Johan yang mengabari jika diri nya sudah tiba di rumah. Johan mengirimkan juga stiker selamat bobo pada Sisil, kekasih hatinya.


Sisil membalas dengan mengirimkan stiker selamat malam dan selamat bobo pada Johan, sang pujaan hatinya.


Dikarenakan udara yang sejuk di dalam kamarnya, Sisil pun terlelap. Dengkuran halus dan teratur terdengar berirama.


Selamat tidur Sisil! Semoga harimu cerah dan secercah harapan menantimu!


*


*


*


bersambung.....

__ADS_1


_______________________________________


__ADS_2