
Suara kicauan burung banyak terdengar, petanda pagi menjelang.
Sisil membuka matanya perlahan. Rasanya masih ingin tidur lagi sebab semalam sehabis pulang makan bersama Pingkan, malam nya Sisil gak bisa tidur. Mungkin kisaran jam satu pagi baru bisa pulas.
Sisil bangun dan duduk di tepi ranjang nya. Rasanya ingin tidur lagi kalau gak ingat kerja.
Sisil mengambil handuk di depan kamar nya, kemudian kembali mengunci pintu kamar nya. Lalu dia ke kamar mandi untuk mandi pagi.
Sisil bersiap-siap dengan pakaian kantor nya. Dan memoles sedikit wajahnya agar mata nya yang sedikit bengkak tidak terlalu kelihatan.
Setelah siap dan mengunci pintu kamarnya, Sisil berjalan keluar. Dia menuju mobilnya yang terparkir di halaman kost. Dipanasin mobilnya yang sudah beberapa hari belum dipanaskan. Hari ini Sisil berencana membawa mobil ke kantor. Jadi jika ada yang terjadi di kantor, dia bisa langsung pulang.
Setelah dirasa mobilnya sudah cukup panas, Sisil yang sudah duduk di belakang kemudi mulai melajukan mobilnya perlahan.
Sesampainya di kantor, Sisil langsung naik ke ruangan nya. Dia langsung menyalakan komputer di mejanya.
Sisil membuat surat pengunduran diri nya di komputer dan setelah selesai langsung di print nya. Lalu dimasukkan ke dalam amplop putih panjang dan di simpan dalam lacinya.
Dilihat nya teman-teman kantor baru pada berdatangan. Sisil melambaikan tangan pada Maria yang terlihat baru masuk ke ruangan nya.
Sisil berencana mau mem-print buku tabungan nya karena sudah beberapa bulan tidak pernah di print. Dia menitipkan pada teller untuk minta tolong di print.
**
Canada.
Johan mengepalkan tangannya. Geram hatinya mendengar kabar jika Sisil dilecehkan di kantor barunya.
"Dasar sudah tua tapi kelakuan mesum! " maki Johan dalam hati nya.
Johan yang berada jauh ini tidak bisa berbuat apa-apa untuk orang terkasih nya. Di dalam hatinya Johan mendukung Sisil jika dia mau keluar dari kantor itu. Karena sudah pasti suasana tempat kerja tidak nyaman lagi.
Saat ini di Canada masih malam, Johan sedang berbaring di ranjang nya ketika sebuah message masuk di ponsel nya.
Johan jadi banyak berpikir tentang Sisil. Mungkin ke depan nya tidak perlu berlama-lama pacaran. Johan ingin menikahi Sisil cepat-cepat agar gadis itu berada di dekat dia dan terhindar dari gangguan atau mara bahaya lagi.
Membayangkan pernikahan membuat Johan jadi senyum-senyum sendiri.
Sudah ada rencana lagi di dalam otaknya, besok dia berencana memberitahu Danu.
**
__ADS_1
**
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, jam istirahat pun tiba. Maria dan Sisil pergi makan bersama ke tempat biasa mereka makan. Junaedi pun bergabung dengan mereka berdua.
Sisil dan Maria memesan sate ayam plus lontong, sedangkan Junaedi memesan nasi goreng sosis.
Setelah pesanan mereka datang, mereka langsung melahap nya karena perut sudah lapar.
"Putri gak masuk ya, Mar? " tanya Sisil dengan mulut penuh makanan.
"Iya, gak masuk, Sil! Sakit bilangnya! " jawab Maria sambil makan kerupuk.
Junaedi hari ini makan dengan tenang, tidak terburu-buru seperti hari-hari sebelum nya.
"Tumben lu kalem hari ini, Jun! " ledek Maria sambil melihat ke arah Junaedi.
"Iya, tumben tenang. Biasanya kalau makan terburu-buru kaya orang takut makanan diambil! Hahaha....... " ledek Sisil yang diikuti tertawa nya yang lepas.
Maria dan Junaedi ikut tertawa pula.
"Iya lagi nyantai hari ini! " jawab Junaedi tenang. Dia cuek aja meski jadi obyek ledekan.
Sisil sebelum masuk ke ruangan nya, mengambil buku tabungan nya dulu yang dititipin ke teller pagi tadi.
Sisil masuk ke ruangan nya dan duduk di bangkunya. Dia melihat buku tabungan nya. Alis nya mengerut. Dia sedikit heran dengan saldo tabungan nya. Ternyata ada dana masuk setiap akhir bulan sebesar sepuluh juta. Dan itu sudah berjalan selama empat bulan ini.
Sisil menghela nafasnya kasar.
"Siapa yang sudah mentransfer ke rekening ku ya? " tanya Sisil dalam hatinya. Sisil kembali memikirkan satu persatu teman-teman nya, siapa kandidat yang terbesar. Tidak ada yang cocok. Sisil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sisil pusing memikirkan nya. Terlihat Pak Abdul memasuki ruangan marketing dengan muka suram, tidak secerah biasanya.
"Sisil, tolong ke tempat saya sebentar! " teriak Pak Abdul rada keras.
Sisil membereskan berkas-berkas yang berantakan di atas mejanya. Kemudian bangun dan berjalan menemui Pak Abdul.
Wajah Pak Abdul suram, tidak bergairah.
Sisil duduk di hadapan Pak Abdul.
Pak Abdul menyerahkan dua buah map untuk minta tanda tangan Pak Harry.
__ADS_1
Kemudian Pak Abdul menyodorkan pada Sisil selembar kertas. Sisil menerima nya dan membacanya.
Sisil tidak terkejut membacanya. Dia sudah mengetahui jika dirinya pasti akan di deportasi ke kantor cabang pembantu. Tapi yang tidak disangka nya, secepat ini prosesnya. Rupanya Pak Harry bertindak cepat.
Kertas yang di pegang Sisil adalah kertas deportasi atau pemindahan dirinya ke kantor cabang pembantu.
Pak Abdul menatap mata Sisil. Rupanya ini yang membuat wajah Pak Abdul suram, tidak bergairah.
"Maafkan saya, Sil! Saya sudah berusaha untuk mempertahankan kamu disini karena kinerja kerja kamu bagus! Tapi pimpinan berkemauan lain dan tidak bisa dibantah lagi! " terang Pak Abdul pelan.
"Yang saya heran kenapa mendadak seperti ini! Atau kamu ada masalah dengan Pak Harry? " lanjut Pak Abdul sambil bertanya pada Sisil.
"Iya, Pak. Kejadian nya baru kemarin sore, pas saya mau ambil file tanda tangan. Saya dilecehkan di kamar mandi, Pak! " jawab Sisil pelan, takut terdengar yang lainnya.
Pak Abdul yang mendengar itu keluar dari mulut Sisil hanya bisa menghela nafasnya.
Sebagai orang lama yang bekerja di kantor itu Pak Abdul sudah tahu kelakuan bejad pimpinan nya, tapi tak bisa berbuat banyak.
"Apakah kamu menerima pemindahan ini, Sil? " tanya Pak Abdul pelan.
"Tidak, Pak! Sebentar.... " Sisil bangkit dari duduknya dan berjalan ke meja nya. Dibuka nya laci meja dan diambil nya amplop putih. Lalu dia balik ke hadapan Pak Abdul dan duduk kembali.
"Ini surat pengunduran diri saya, Pak! Saya tidak menerima pemindahan itu dan lebih baik saya mengundurkan diri! " ucap Sisil tegas.
"Hari ini hari terakhir saya kerja, Pak! Dan ini map saya kembali kan pada Bapak, saya sudah tidak mau ke ruangan Pak Harry lagi! " Sisil bicara tegas dan meletakkan kembali dua map yang tadi baru dikasih.
"Dan kalau saya masih dapat gaji, tolong nanti Bapak transfer saja ke rekening saya! Tapi kalau memang perusahaan tidak memberikan, ya tidak apa-apa juga! Dan saya mengucapkan banyak terima kasih pada Pak Abdul, mohon dimaafkan jika saya ada salah ya, Pak! " ucap Sisil tegas tapi pelan.
"Iya, Sil! Maafkan saya juga ya! " Pak Abdul jadi terharu dengan sikap dan perkataan Sisil. Dia tidak menyangka akan kehilangan seorang marketing yang cukup berpotensi.
"Saya kembali ke tempat saya ya, Pak! " Sisil berdiri dan sedikit membungkukkan badannya. Pak Abdul menganggukkan kepalanya.
Sisil kembali duduk di bangkunya. Dia sudah membereskan barang-barang dia apa saja yang mau dibawa pulang nanti sore. Ternyata cuma sedikit. Tak lupa Sisil mencatat dalam buku notes nya nama-nama nasabah yang dekat dan di handle dia beserta nomor telepon nya. Bilamana suatu saat dibutuhkan bisa dipergunakan.
*
*
bersambung........
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1