
Papa Herry memang sangat menyayangi istrinya, Wiwid. Dia selalu bersikap mesra terhadap istrinya. Tidak kalah dengan yang masih muda.
Mungkin sikap Papa Herry yang sangat menyayangi istrinya menurun pada Johan.
Johan juga sangat perhatian dan menyayangi Sisil. Dia tidak pernah main-main jika sudah menyangkut urusan hati.
Saat ini Johan mengantar Sisil ke kamar tamu nya yang berada tidak jauh dari ruang tamu.
Johan menemani Sisil untuk merapihkan baju yang dibawanya dan memasukkan nya ke dalam lemari pakaian yang ada di kamar tamu itu.
Setelah selesai Johan mengajak Sisil untuk ke belakang rumah, dimana di sana terdapat halaman yang luas dengan sedikit pohon bunga.
Biasanya tempat ini digunakan untuk acara keluarga. Contohnya besok mau mengadakan barbeque pasti akan memakai tempat di sini.
Johan mengajak Sisil duduk di kursi taman yang tersedia di halaman itu. Dimana dari kursi itu bisa memandang langit yang cukup cerah karena banyak bintang-bintang bertaburan.
Johan dan Sisil duduk berdampingan. Tangan kanan Johan memeluk pinggang Sisil dan nyaman untuk Sisil meletakkan kepala nya di bahu Johan.
"Aku bahagia bisa mengenal Kak Johan!" ucap Sisil pelan tapi masih bisa di dengar oleh Johan.
"Aku juga bahagia bisa mengenal kamu, Sil ! Meskipun awal nya banyak rintangan! " sahut Johan lembut. Dia mencium kening Sisil dengan penuh kelembutan.
"Sekarang kebahagiaan aku bertambah lengkap karena di terima keluarga Kak Johan! " sambung Sisil kembali. Johan tersenyum mendengarkan kata-kata yang keluar dari bibir mungil Sisil.
"Bagaimana mereka tidak suka dengan calon mantu nya yang cantik dan sopan ini? Mereka menyayangi kamu, Sil! " ledek Johan masih dengan senyum di bibirnya. Sisil tertawa pelan.
"Seandainya keluargaku harmonis, pasti akan lengkap kebahagiaan ku, Kak! " lirih Sisil dengan mata menerawang.
Johan mempererat pelukan nya.
"Sudah, jangan bersedih! Nanti kita cari waktu untuk nengok Papa kamu ya! " ucap Johan sambil tangannya membelai rambut Sisil yang menutupi kening nya.
"Gak usah, Kak! Aku malas jika harus ketemu dengan Mama tiriku! " tolak Sisil langsung tanpa pikir panjang lagi.
"Hush! Kita kan nengok Papa kamu, bukan Mama tiri kamu! " ujar Johan menampik omongan Sisil.
"Sama aja, Kak! Kita tengok Papa, kan ada juga si Mama tiri di sana! " sahut Sisil.
__ADS_1
"Oke.... oke..... Tapi nanti jika Kakak mau minta kamu, tetap harus datang ke sana! Sebab kamu masih punya orang tua, jadi Kakak harus minta sama orang tua kamu! Kamu ngerti, sayang?! " jelas Johan pada Sisil yang diakhiri dengan pertanyaan.
"Iya, Kak! " jawab Sisil pelan. Sisil tahu Johan adalah type laki-laki yang bertanggung jawab, dia tidak mau langsung mengambil anak gadis orang tanpa meminta persetujuan dari orang tua nya. Kecuali gadis tersebut sudah yatim piatu.
Sisil tiba-tiba memeluk Johan lalu mencium bibir Johan sekilas. Johan sedikit kaget dengan kelakuan Sisil yang tiba-tiba itu.
"Makasih, Kak Johan! " bisik Sisil pelan di dekat telinga Johan.
"Hei.... terimakasih untuk apa, sayang? " tanya Johan dengan mimik heran memandang wajah Sisil yang tersenyum. Senyum tulus terpancar dalam wajah cantik Sisil.
"Terimakasih buat semuanya, Kak! Terimakasih karena Kakak selalu ada buat Sisil! Terimakasih kasih karena sudah sayang dan mencintai Sisil! " terang Sisil panjang lebar.
Johan tersenyum lalu tertawa renyah. Melihat Sisil seperti sekarang ini, gemas dan lucu di mata Johan.
"Sama-sama, sayang! " jawab Johan sambil memeluk Sisil dengan rasa sayang nya.
Johan ******* bibir merah ranum yang ada di hadapan nya. Bibir yang selalu membuat diri nya candu, selalu ingin untuk mencium nya.
Johan mencium nya dengan penuh kelembutan dan Sisil membalasnya. Ciuman Johan semakin lama semakin dalam dan sedikit membuat nafas Sisil tersengal. Tak lama kemudian Johan melepasnya. Dihapus nya air liur yang membasahi bibir Sisil dengan jari jempolnya. Wajah Sisil memerah saat ini, seperti kepiting rebus. Dan Johan tersenyum melihat nya.
Tiba-tiba Sisil teringat omongan Johan tadi yang mau meminta dirinya kepada orang tuanya.
"Kak..... apa bener Kakak mau minta Sisil sama orang tua Sisil? " tanya Sisil yang penasaran.
"Iya benar, Sil. Kenapa? Kok baru bertanya sekarang? " jawab Johan dan kembali bertanya balik.
"Iya, Sisil lagi teringat omongan Kak Johan. Emang kapan rencananya Kak? " jelas dan tanya Sisil lagi.
"Secepatnya, Sil! Saya ingin secepatnya bisa married sama kamu! Kamu mau kan menikah sama aku? " tanya Johan tanpa basa-basi lagi.
"Lha?! Tadi kan di resto Sisil udah jawab! Lupa ya! " ucap Sisil manja.
Johan tersenyum. Sebenarnya dia tidak lupa, hanya ingin menggoda Sisil saja.
"Iya, sayang! Cuma pengen menggoda kamu saja! " sahut Johan dengan tawa renyah nya.
Sisil juga ikut tertawa. Sisil sebisa mungkin tidak mau marah-marah. Segala sesuatu nya akan ditanggapi dengan senyum, meskipun kadang dia harus menahan emosi nya.
__ADS_1
Saat ini hati Sisil sedang bahagia. Bahagia bisa bersama pujaan hati nya dan juga di terima oleh kedua orang tua nya.
"Kamu gak keberatan kan jika kita menikah cepat? Mungkin akhir tahun atau awal tahun depan. " tanya Johan meminta persetujuan Sisil.
"Iya, Kak! Sisil setuju-setuju aja! Tapi gak usah mewah-mewah, Kak! Buat pestanya yang sederhana saja! " ujar Sisil sekalian memberitahu keinginan nya.
"Waduh ini yang susah! Takut nya Papa dan Mama mau mengadakan pesta besar-besaran, sebab ini kan pesta pertama dari keluarga Pratama! Coba nanti Kakak omongin sama Papa dan Mama keinginan kamu itu ya, sayang! " papar Johan menerangkan keinginan orang tua nya yang sudah pasti berbeda dengan Sisil.
"Iya, Kak! " jawab Sisil dengan tersenyum bahagia.
"Yuk... sekarang kita masuk ke dalam! Hari sudah larut, lebih baik kita tidur! Besok kan mau persiapan barbeque, sayang! " ajak Johan pada Sisil.
"Oiya, Kakak sudah telpon Danu belum buat besok? " tanya Sisil mengingatkan Johan.
"Sudah dong! Besok dia datang sama ceweknya! " sahut Johan tersenyum.
Lalu Johan menggandeng tangan Sisil untuk masuk ke dalam rumah dan menutup pintu belakang rumah.
Johan mengantar Sisil sampai di depan kamar tamu. Lalu mengecup kening Sisil dengan penuh rasa sayang.
"Met malam, sayang! Mimpi indah ya! " ujar Johan mencolek hidung mancung Sisil.
"Iya, Kak. Met tidur juga ya! " sahut Sisil dengan mencium kedua pipi Johan.
Lalu Sisil masuk ke dalam kamar tamu. Dan Johan pergi ke kamarnya yang berada di bagian belakang.
Sisil mengunci pintu kamar tamu itu dan merebahkan tubuhnya. Tubuhnya merasa lelah tapi hatinya bahagia. Dengan AC yang disetel tidak terlalu dingin, Sisil langsung pulas terbawa mimpi yang indah. Dalam tidurnya tersungging senyum di bibirnya.
*
*
*
bersambung.....
_______________________________________00
__ADS_1