
Johan mengutarakan maksud kedatangan nya pada Papa nya Sisil dan Mama tiri nya Sisil yang biasa Sisil panggil Tante Caroline.
Secara tidak langsung Johan meminta ijin untuk hubungan nya dengan Sisil dan restu untuk meminta Sisil menjadi istrinya.
Tentu saja Papa Ridwan sedikit kaget dengan kedatangan Sisil dan Johan ini, apalagi meminta ijin dan restu dari diri nya.
Berhubung Sisil dan Johan sudah menjalin hubungan dan Papa Ridwan juga melihat jika Johan sangat menyayangi Sisil dan type lelaki yang bertanggung jawab maka Papa Ridwan pun memberikan ijin dan restu nya.
"Jadi kapan rencana pernikahan kalian?" tanya Papa Ridwan.
"Rencana nya akhir tahun atau awal tahun depan, Om! Tunggu orang tua saya yang kasih keputusan karena mereka yang mencari hari baik untuk kita menikah! " jawab Johan sekaligus menjelaskan pada Papa Ridwan.
"Tapi kita mengadakan pesta pernikahan ini gak besar-besaran, Om! Hanya pesta sederhana sesuai keinginan Sisil. Jadi hanya dihadiri keluarga, teman-teman serta kerabat-kerabat dekat saja! " jelas Johan kembali.
"Oh oke.... Papa ngikut aja! " sahut Papa Ridwan lagi.
Tante Caroline yang dari tadi diam dan menyimak obrolan tersebut, bangkit dari duduknya dan mengambil snack ringan yang ada di atas meja. Dia membuka tutup nya dan menawari ke Johan dan Sisil.
Johan dan Sisil mengambil sedikit snack ringan yang ditawari itu.
"Jadi apa yang kita bisa bantu untuk pernikahan kalian? " tanya Papa Ridwan lagi.
"Tidak usah repot-repot, Om! Biar nanti kita berdua aja yang siapin semuanya. Nanti kalau pihak orang tua mau pakai seragam, nanti pas mau ukur seragam Om dan Tante akan dijemput! "
"Duh... kalau pake seragam gitu mahal dong ya ongkos bikin nya lagi! " tukas Tante Caroline yang merasa keberatan.
Johan tahu arah omongan Tante Caroline kemana. Pasti mereka memikirkan biaya nya lagi.
"Tenang aja, Tan! Om dan Tante nanti tinggal bawa diri aja! Semuanya biar saya dan Sisil yang menghandle nya! " ujar Johan kembali untuk menenangkan hati Tante Caroline.
__ADS_1
Tante Caroline merasa keberatan karena uang untuk biaya sehari-hari saja udah mepet, bagaimana mau buat seragam segala.
"Oh.... syukurlah kalau begitu! " jawab Tante Caroline yang mendengar ucapan Johan.
Johan sangat mengerti jika keluarga Sisil adalah keluarga biasa yang hidup sederhana. Boleh dikatakan mereka malah kekurangan. Apalagi Papa nya Sisil sudah gak kerja, jadi uang sehari-hari di dapat dari Tante Caroline yang diperolehnya dari adik cowok nya itu yang mengirimi uang tiap bulan hanya dua juta saja.
Kenapa Johan sampai tahu semuanya? Sebab dulu Johan sempat meminta Danu dan teman-teman nya untuk menyelidiki keluarga Sisil, tepatnya setelah tahu Sisil diusir dari rumah Papa nya.
Biarpun Papa nya Sisil sudah gak kerja lagi, hidup sederhana, Johan tetap menghormati nya karena beliau tetap orang tua Sisil.
Johan mengeluarkan sebuah amplop putih panjang yang sudah di lem dan tampak isi nya cukup tebal. Lalu meletakkan amplop putih itu diatas meja tamu dan menyodorkan ke hadapan Papa Ridwan.
"Ini ada sedikit uang buat Om dan Tante! Semoga berguna untuk kebutuhan sehari-hari ya Om! " ujar Johan yang tangan nya masih menyodorkan amplop tersebut ke hadapan Papa Ridwan.
Sisil kaget melihat Johan mengeluarkan amplop dan menyodorkan amplop tersebut kepada sang Papa. Tapi Sisil tidak bisa berkata-kata. Dia hanya terdiam. Pasalnya selama Sisil di usir dari rumah, Sisil tidak pernah memberikan uang untuk Papa nya.
Hal itu Sisil lakukan karena pertama Sisil tidak tahu apakah sang Papa punya tabungan atau tidak maka harus di kasih tunai ke rumah. Kedua Sisil malas memberikan uang pada sang Papa karena pikiran Sisil jika dia memberi uang pada Papa nya pasti Tante yang akan memakai nya.
Papa Ridwan sama sekali tidak menolak pemberian Johan, malah dia berterima kasih.
"Ini Om ambil ya, Nak Johan! Terimakasih banyak ya! " ucap Papa Ridwan sambil melipat amplop tersebut dan dimasukkan nya ke dalam saku kemeja nya.
"Sama-sama, Om! Ke depan nya nanti setelah saya married dengan Sisil, saya akan mengirimkan uang bulanan untuk Om dan Tante! Dan juga saya mohon agar Tante bisa bersikap baik terhadap Sisil! Jika Tante gak bisa menganggap Sisil sebagai anak, sikap baik saja sudah cukup buat saya! Karena nanti Sisil adalah istri saya dan saya ingin istri saya diperlakukan dengan baik di rumah orang tua nya! " ucap Johan panjang lebar dengan maksud yang jelas di dalam setiap ucapan nya.
Papa Ridwan terdiam mendengar ucapan Johan. Tante Caroline yang juga terdiam, akhir nya bersuara.
"Iya, Nak Johan! Tante akan bersikap baik pada Sisil! Maafkan sikap Tante, ya Sisil?! " ujar Tante Caroline pelan tapi masih bisa terdengar di telinga Sisil dan Johan.
"Makasih, Tante! " sahut Johan singkat.
__ADS_1
"Iya, Tante! Sisil udah maafin kok! Maafkan juga jika Sisil salah! " sahut Sisil yang memaafkan dan meminta maaf juga pada Mama tiri nya.
"Iya, Sil! Tante sudah maafkan dan Tante juga lagi berusaha merubah diri belakangan ini! " jawab Tante Caroline dengan senyum menghias bibir nya.
Sisil tersenyum membalas senyuman Tante Caroline. Johan yang duduk di sebelah Sisil juga ikut tersenyum. Dia merasa bahagia bisa membuat Sisil tersenyum dan di terima keluarga nya. Meskipun ada sedikit kecanggungan tapi suasana sudah mulai menghangat.
"Karena hari sudah menjelang sore, saya dan Sisil mau pamit dulu, Om.... Tante! " ucap Johan yang mau berpamitan dengan Papa Ridwan dan Tante Caroline.
"Iya, Pa.... Tante..... kita pamit dulu ya! " sambung Sisil.
"Iya, Nak Johan! Kapan-kapan datang lagi ya! " sahut Papa Ridwan dengan tersenyum.
Papa Ridwan dan Tante Caroline mengantar Sisil dan Johan hingga di depan pintu pagar rumah. Mereka berdua melambaikan tangan mengiringi kepergian mobil Johan.
Johan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sisil yang duduk di sebelah nya tersenyum menatap kekasih nya.
"Makasih banyak ya, Kak Johan atas perlakuan Kakak yang sudah begitu baik terhadap Papa Sisil! " ucap Sisil tulus dari dalam hati nya.
Johan memang selalu mengerti apa yang ada di dalam hati Sisil dan selalu melakukan sesuatu yang membuat Sisil bahagia. Sisil benar-benar bersyukur atas perlakuan Johan.
"Sama-sama, sayang! Kan nanti Papa kamu juga Papa ku juga! " jawab Johan dengan tersenyum.
Jawaban yang Johan berikan sungguh membuat hati Sisil terharu. Begitu baiknya lelaki yang ada di samping nya ini.
*
*
*
__ADS_1
bersambung.....
_______________________________________