Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 80. Bahagia dan kangennya Sisil


__ADS_3

Sisil keluar dari ruangan Danu dengan hati bahagia dan pulang ke tempat kost nya juga dengan hati yang bahagia.


Sisil merasa senang karena interview nya membuahkan hasil, jadi tidak perlu berulang-ulang untuk interview.


Sisil tiba di tempat kost nya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung mengabari Pingkan.


"Drrttt......... Drrttt........ "


"Hallo.... " suara Pingkan mengangkat panggilan Sisil.


"Hallo Ping! Gua di terima kerja nih! " ucap Sisil bersemangat.


"Hai, Sil! Baguslah kalau begitu! Jadi elu bisa melepas gelar pengacara elu, Sil! " canda Pingkan disebrang sana diiringi dengan tawanya. Sisil pun jadi tertawa ngakak.


"Kapan lu mulai masuk kerja? " tanya Pingkan lagi di ponselnya.


"Senin, say. Masih ada empat hari buat gua nyantai. Hahaha..... " tawa Sisil geli sendiri dengan omongannya.


"Empat hari lumayan lah! Ntar malam gua kesana yaa! Gua lagi banyak kerjaan nih! " ucap Pingkan cepat di ponselnya.


"Oke, say! Sampai ketemu malem ya! " sahut Sisil yang langsung menyudahi panggilannya tanpa menunggu balasan Pingkan lagi.


Sisil merebahkan tubuhnya pada ranjang kost nya yang kecil. Menatap langit-langit kamarnya.


Terbayang semua kejadian yang menimpa kehidupannya.


"Papa sedang apa ya? " tanya Sisil dalam hatinya yang teringat pada Papa nya.


Rasa kangen pada Papa nya menyeruak dalam hatinya. Entah mengapa. Mungkin ada hubungan batin antara bapak dan anak.


Semenjak Sisil tinggal di kost, dia belum sempat pulang rumah untuk ambil baju-baju nya.


Dan Sisil terkadang suka memikirkan bagaimana kehidupan Papa nya. Sebenarnya dalam lubuk hati Sisil yang terdalam, dia merasa khawatir dengan kehidupan Papa nya.


Sisil bangun dari rebahan nya. Dia mengganti pakaian rumahnya dengan celana pendek dan kaos. Kemudian dia mengambil tas dan kunci mobilnya.


Sisil mengunci pintu kamarnya dan berjalan keluar ke tempat parkir kost. Dia menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya perlahan keluar dari pelataran parkiran kost.


Sisil membawa mobilnya pulang ke rumahnya. Dia kangen ingin melihat Papa nya dari jauh.


Sesampainya yang kira-kira dekat dengan rumahnya, Sisil memarkir mobilnya agak jauh dari rumah Papa nya. Kebetulan kaca mobil Sisil gelap jadi tidak nampak ke dalamnya.


Dari kejauhan Sisil bisa melihat Papa nya sedang mengurus kebun bunga peninggalan Mama nya yang biasa Sisil urus.


Melihat Papa nya dari kejauhan saja sudah cukup membuat Sisil bahagia. Kondisi Papa nya yang tampak sehat membuat Sisil bisa bernafas lega kembali.


Setelah cukup lama, Sisil kembali menyalakan mobilnya dan melaju perlahan keluar dari komplek perumahan itu.


Sisil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat kost nya.


Sesampainya di pelataran tempat kost Sisil memarkir mobilnya. Setelah mengunci mobilnya, Sisil langsung berjalan masuk ke kamar kost nya.

__ADS_1


Sisil kembali merebahkan tubuhnya. Karena hembusan AC yang sejuk sehingga membuat Sisil mengantuk.


Terdengar dengkuran halus, pertanda Sisil sudah terbang ke alam mimpi.


Sisil tidur dengan pulasnya. Dia tidak menyadari message atau panggilan dari ponselnya.


"Drrttt....... Drrttt....... "


"Drrttt....... Drrttt....... "


Ponsel Sisil berbunyi terus. Tapi karena disetel silent jadi sama sekali tidak berbunyi. Hanya lampu yang menyala.


Pingkan berulang kali mencoba menelpon Sisil. Membuat dirinya khawatir.


Setelah waktunya pulang kerja, Pingkan langsung keluar kantor menuju parkiran mobilnya.


Pingkan segera menyalakan mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan cepat. Cuaca bersahabat, tidak hujan.


"Tok-tok....... " Pingkan mengetuk pintu kamar kost Sisil.


"Tok-tok-tok...... Tok-tok-tok..... " makin lama ketukan diketuk Pingkan tambah keras.


"Ceklek.... " pintu terbuka.


Tampaklah Sisil yang baru bangun tidur, mata masih mengantuk dan rambut yang acak-acakan.


Pingkan masuk ke dalam kamar Sisil dan duduk di atas ranjang.


Sisil yang masih belum begitu nyambung cuma diam saja tidak menanggapi gerutuan Pingkan.


Sisil meminum air putih dari gelasnya. Lalu dia duduk di sebelah Pingkan. Dan mengambil ponselnya. Dia melihat banyak sekali telpon masuk dari Pingkan.


"Gua ketiduran, say! Ngantuk banget! Tadi siang gua sempat lihat bokap gua ke rumahnya. Syukur bokap nampak sehat-sehat aja! " cerita Sisil.


Pingkan hanya diam mendengar cerita Sisil. Dia tahu Sisil pasti kangen sama Papa nya.


"Lu masih capek gak sekarang? Mau keluar makan? " tanya Pingkan.


"Boleh kita keluar makan, Ping! Gua mandi dulu ya, lu tunggu sebentar ya! " sahut Sisil sambil mengambil handuknya.


"Oke bu Sisil.... silakan mandi. Aku sabar menunggu! " ucap Pingkan dengan cengir khasnya.


Sisil setelah mengambil handuknya langsung masuk kamar mandi. Setelah selesai mandi, Sisil memakai kaos dan celana pendek jeans. Lalu berdandan tipis agar supaya wajahnya tidak pucat.


Selesai bersiap-siap Sisil dan Pingkan langsung mengunci pintu kamar kost Sisil dan mereka berjalan menuju parkiran mobil.


"Mau makan apa kita hari ini, Ping? " tanya Sisil begitu dia duduk di sebelah Pingkan yang duduk di belakang kemudinya.


"Ayam bakar saja ya? Lu mau gak? " tanya Pingkan.


"Ayo saja gua mah! " sahut Sisil dengan senyumnya.

__ADS_1


Pingkan langsung menjalankan mobilnya menuju tempat ayam bakar di daerah tempat kost Sisil yang ternyata rasanya lumayan enak.


Dalam sepuluh menit mereka berdua sudah sampai di sana. Lalu duduk untuk memesan makanan.


"Lu ayamnya paha atau dada, Sil? " tanya Pingkan.


"Paha, say! " sahut Sisil.


"Ayam bakar paha dua, nasi putih dua, sayur asem dua. " order Pingkan para pelayan yang melayani mereka berdua.


"Minumnya teh hangat dua. " sambung Pingkan cepat.


Pelayan menulis dengan sigap dan langsung memberikan pada juru masak nya.


"Jadi lu mulai masuk kerja kapan, Sil? " tanya Pingkan.


"Senin, say! " jawab Sisil.


"Oke, enaklah kalau begitu! " ucap Pingkan.


"Iya sih enak kantornya, Ping! Tapi gua gak ngerti kerjaan nya apa! " kesah Sisil dengan mulut sedikit cemberut.


"Maksudnya gimana ya, Sil? Gua gak ngerti! " tanya Pingkan menatap Sisil.


"Gua di terima kerja jadi sekretaris direksi bukan finance, say! Dan gua kaga tau kerjaan gua apa nanti! Maksud gua begitu! " terang Sisil pada Pingkan.


"Walah.... enak dong, Sil! Enak kok jadi sekretaris! " seru Pingkan bersemangat.


"Kerja nya ngapain? " tanya Sisil.


"Gua gak tahu kalo di kantor lu nanti sekretaris kerjaan nya apa! Nanti kan lu diajarin dulu, say! " sahut Pingkan cepat.


"Iya sih nanti diajarin sama bu Winda! " ucap Sisil.


"Kalau diajarin mah tenang saja..... pasti elu bisa deh! Gampang kok jadi sekretaris, yang penting cekatan dan smart, say! " tutur Pingkan panjang lebar.


"Gaji lumayan dong? " tanya Pingkan to the point.


"Bukan lumayan lagi! Lebih gede dari gua kerja di bank, say! " sahut Sisil dengan tawa khas nya.


"Mantap dah! Traktir gua gajian pertama ya! " setu Pingkan bersemangat.


"Beres! " sahut Sisil dengan tertawa.


Makanan yang dipesan sudah dihidangkan, mereka berdua langsung menyantapnya.


*


*


bersambung.....

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2