Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 86. Kejutan untuk Sisil


__ADS_3

Burung ramai berkicau menyambut pagi hari. Johan sebenarnya sudah bangun dari tadi tapi dia masih betah di atas ranjang nya. Rasanya malas banget untuk bangun.


Pergantian waktu antara Canada dan Indonesia membuat tubuhnya letih. Tapi hari ini Johan punya misi khusus dan sudah menyetel jam beker nya untuk waktu bangun dari tidurnya.


Dengan mata masih mengantuk, Johan bangun dari tidurnya. Dia langsung menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap untuk ke kantor nya. Johan harus tiba di kantor lebih pagi dari karyawan nya, terutama Sisil.


Setelah siap dengan setelan kerja nya, Johan berangkat ke kantor dengan supir yang sudah datang menjemputnya.


Kantor masih sepi ketika Johan tiba di sana. Hanya satpam yang bertugas yang selalu siap berjaga. Pak satpam memberi hormat pada Johan ketika Johan berjalan masuk kantor nya langsung menuju lift yang menghubungkan dengan lantai teratas.


Begitu sampai di lantai delapan, Johan langsung masuk ke ruangan nya. Dia merapihkan dan membersihkan mejanya yang kemarin di duduki Danu. Kemudian menyemprot ruangannya dengan sedikit alkohol, lalu menyalakan AC.


Sepuluh menit berlalu, seseorang membuka pintu ruangan Johan. Danu masuk dengan senyum menghias di bibirnya.


"Apa kabar bro? " tanya Danu begitu duduk di depan meja nya Johan.


"Baik, bro! Lu juga gimana kabarnya? Apa semua pekerjaan berjalan lancar? " jawab Johan yang sekaligus bertanya.


"He... he.... he.... baik bro! Lancar semua! " jawab Danu diiringi dengan tawa khas nya.


"Bagaimana untuk hari ini? " tanya Johan kembali.


"Siap, bro! Aman terkendali! " sahut Danu dengan senyum lebar tersungging di bibirnya.


Johan tersenyum menanggapi jawaban Danu. Dia mengacungkan jempolnya pada sahabat sekaligus asistennya itu.


Danu pun balik ke ruangan dia yang berada di seberang ruangan Johan. Ruangan yang sudah hampir enam bulan kosong, sebab dia menggantikan posisi Johan.


Jam masuk kantor kurang tiga puluh menit lagi. Para karyawan sudah mulai berdatangan.


Sisil berjalan masuk ke dalam lift yang langsung membawa dirinya ke lantai delapan.


Begitu pintu lift terbuka, Sisil melangkah keluar dan berjalan menuju ruangan sekretaris yang berada di sebelah ruangan bos nya.


Hari ini Sisil nampak cantik dengan baju setelan semi jas plus rok klok nya yang bermotif bunga, dengan riasan wajah yang tipis dan natural. Sisil tidak pernah menghias wajahnya dengan riasan tebal.


Sisil memasuki ruangan nya dengan suasana hati yang senang. Entah mengapa dia merasakan mood nya begitu baik hari ini.

__ADS_1


Alarm kantor sudah berbunyi, tanda kerja sudah dimulai. Disini alarm kantor akan berbunyi tanda bekerja dimulai dan akan berbunyi kembali jika waktunya pulang.


Danu menghampiri ruangan Sisil untuk memberikan instruksi.


"Sil, bos besar udah datang. Jangan lupa tiap pagi kamu kasih teh manis hangat ya! " ucap Danu pada Sisil di ruangan Sisil.


"Ohh.... bos besar ya pak? Buat pak Danu gak? Kopi atau teh, Pak? " Sisil bertanya dengan menatap Danu.


"Saya gak usah, Sil. Kalo bos besar sudah ada, lebih baik dia saja! Oke? Saya balik ke ruangan saya dulu ya. " pesan dan pamit Danu pada Sisil.


Sepeninggal Danu, Sisil sempat sedikit bingung dan penasaran juga dengan bos besar nya itu.


Sisil langsung membuat teh manis hangat untuk bos besarnya. Setelah selesai, dia bersiap untuk mengantar ke ruangan bos besarnya.


Di dalam benak Sisil banyak sekali pertanyaan tentang siapa bos besar nya itu.


"Bagaimana ya rupa bos besar? Apakah beliau galak? Kok selama aku disini gak pernah dengar selentingan tentang bos besar? Cuma tahu beliau ada di luar negri aja! " beginilah pertanyaan yang berseliweran dalam benak Sisil.


"Ceklek...! "


Sisil membuka pintu ruangan bos besar nya, lalu dia melangkah masuk ke dalam.


"Kok gak ada ya? " heran Sisil dalam hatinya.


"Ceklek... "


Terdengar suara pintu di buka dalam ruangan itu. Reflek Sisil langsung membalikkan badannya menghadap arah pintu yang mulai terbuka di dalam ruangan itu.


Seorang lelaki tampan dengan setelan kemeja panjang biru muda dan celana panjang hitam nya melangkah keluar dari ruangan itu.


Langkah nya yang tegap, serta seulas senyum tersungging di bibirnya manakala melihat Sisil diam terpaku.


Ya..... Sisil diam terpaku di tempat nya berdiri menatap lelaki yang selama ini ada dalam pikirannya, ada dalam hatinya, kini keluar dari ruangan itu dengan senyuman dan wajah tampan nya.


"Apa kamu cuma diam disitu aja? Tidak menyambut ku, sayang? " suara Johan memecah kesunyian. Johan merentangkan kedua tangan nya.


Sisil yang tersadar jika itu adalah kak Johan yang selama ini di tunggu nya, dia langsung berlari ke arah Johan.

__ADS_1


Johan langsung menangkap tubuh Sisil dan memeluknya erat. Demikian juga Sisil langsung memeluk erat kekasih hatinya itu.


Tak terasa air mata membasahi mata Sisil. Dia terharu dan bahagia. Sisil tidak menyangka Johan balik lebih cepat dari perkiraannya.


Johan melonggarkan pelukan nya, dilihat nya wajah Sisil yang dibanjiri air mata dan hidung yang merah.


"Kenapa menangis? " tanya Johan dengan jari tangan kanannya menghapus air mata yang masih ada di pipi Sisil.


"Aku.... aku terharu dan gak nyangka kalau Kak Johan pulang lebih cepat! " jawab Sisil dengan melap matanya dengan tangan nya.


"Sudah jangan menangis lagi! Aku pulang cepat karena sudah kangen banget sama kamu! " ucap Johan seraya memeluk Sisil kembali. Sisil merasakan kehangatan dalam pelukan Johan.


"Kamu gak kangen sama aku ya? " Johan melepas pelukannya dan memegang dagu Sisil. Sisil yang di hadapkan pada wajah Johan yang tampan hanya bisa tersenyum malu. Mukanya sudah memerah.


Johan yang melihat nya tersenyum dan semakin senang menggoda Sisil.


"Kok gak dijawab? Gak kangen ya? Tau gitu gak usah cepat-cepat pulang ya! " goda Johan.


"Kangen, Kak! " jawab Sisil pelan dengan wajah tertunduk.


"Apa, Sil? Aku gak dengar! " goda Johan kembali.


"Sisil kangen banget sama kak Johan! " ucap Sisil sedikit kencang dengan wajah yang memerah karena malu.


Johan tersenyum senang. Dia mengangkat dagu Sisil dan menatap mata indah Sisil. Sisil pun menatap wajah tampan di depan nya.


Johan mendekatkan wajahnya pada wajah Sisil dan ******* bibir merah Sisil. Sisil reflek mengalungkan kedua tangan nya pada leher Johan.


Mereka berdua berciuman dengan lembut dan mesra. Cukup lama juga mereka berdua berciuman, seakan dunia cuma berdua. Akhirnya Johan melepaskan ciumannya ketika dirasakan Sisil mulai kehabisan nafas.


Johan menghapus sisa-sisa ciuman nya di bibir Sisil dengan tangannya. Kemudian dia mengajak Sisil untuk duduk di sofa yang ada di ruangan nya.


*


*


bersambung.....

__ADS_1


_______________________________________


__ADS_2