
Sisil merasa lega dengan kepergian Tante Meiske dan kedatangan pak Fuad.
"Harap nona Sisil menunggu sebentar lagi ya! Saya mau masuk ke dalam dulu! Nanti jika nama nona dipanggil silakan nona masuk ruangan di samping ruang sidang itu ya! " jelas pak Fuad dengan menunjukkan ruang yang dimaksud.
Sisil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Dan untuk teman nona, nanti bisa langsung memasuki ruang sidang. Silakan cari tempat duduk agak ke depan saja! " lanjut pak Fuad kembali menjelaskan untuk Pingkan.
Pingkan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Kemudian pak Fuad berjalan dan memasuki ruangan yang berada di samping ruang sidang.
Sisil dan Pingkan kembali duduk di bangku yang berada di sebrang ruang sidang.
"Gila juga Mama nya Handoko itu! " ucap Pingkan memecah kesunyian.
"Iya! Gak ada sopan-sopannya! " kesel Sisil mengingat kelakuan Meiske, mama Handoko.
"Gue sih bukannya gila hormat atau gila sopan tapi yah yang bener aja kalau ngomong. Masa main bentak-bentak gak karuan gitu! " lanjut Sisil mengeluarkan uneg-uneg nya.
"Atau mungkin si Handoko gak cerita permasalahan yang sebenarnya? " tanya Pingkan yang merasa heran juga dengan tingkah Meiske itu.
"Gak tahu gue! Dan gak mau tahulah, mau udah cerita atau belum! Udah bukan urusan gue lagi! " Sisil menggedik kan bahunya.
"Iya sih, bukan urusan kita! " sahut Pingkan mengiyakan omongan Sisil.
Mereka berdua terdiam, hanyut dengan pikiran masing-masing.
Ting-Tong.....
Terdengar suara bel disusul dengan suara orang yang menyebutkan beberapa nama untuk segera memasuki ruangan.
"Nama gua udah dipanggil Ping! Gua masuk dulu ya! " Sisil berdiri dan pamit pada Pingkan.
" Ya, Sil! Gua juga langsung masuk ruang sidang saja, sesuai yang pak Fuad bilang tadi! Semoga lancar ya! Jangan gugup! " pesan Pingkan menguatkan Sisil.
Sisil menganggukkan kepalanya. Dan berjalan memasuki ruangan yang terdapat di sebelah ruang sidang.
Ini adalah ruang persiapan sebelum memasuki ruang sidang. Di pintu belakang nya adalah pintu masuk ruang sidang.
Tak lama berselang sebelum sidang dimulai, para hakim dan juri memasuki ruang sidang. Kemudian disusul oleh korban dan terdakwa yang dikawal oleh masing-masing pengacaranya.
Sisil duduk dibangkunya. Mata nya melihat ke arah pengunjung, bertabrakan dengan Meiske yang menatap nya sinis.
Pingkan dari tempat duduknya tersenyum dan menganggukkan kepalanya seakan tanda supaya Sisil kuat dan tidak gugup.
Sisil tidak mengetahui jika dibangku pengunjung di barisan belakang Danu sudah duduk tenang, siap mengikuti jalannya sidang.
Tanda lampu ruang sidang sudah menyala. Persidangan Handoko pun dimulai.
*
*
Kita tinggalkan dulu persidangan Handoko. Kita menuju kota M.
__ADS_1
Di sebuah ruangan yang cukup luas, yang diinterior dengan mewah tampak seorang lelaki duduk di singgasana nya.
Lelaki yang banyak digandrungi wanita-wanita cantik, yang selalu berlomba-lomba untuk mencuri hatinya.
Prinanto Atmaja, lelaki tampan pujaan wanita. Meski status duda tapi tak mengurangi kadar ketampanan nya.
Lelaki ini telah menambatkan hatinya pada seorang Lalita. Dengan segala upaya Lalita berhasil menjerat Prinanto masuk dalam pelukannya.
Tapi yang namanya Prinanto, walau dia telah menambatkan hatinya tetap tidak membuat dia lengah.
Prinanto tetap menyelidiki siapa sebenarnya Lalita ini. Sebab Prinanto menganggap Lalita terlalu agresif untuk mendapati dirinya. Itu membuat dirinya curiga.
Dengan feeling nya yang kuat, kemarin yang waktu bertemu dengan Lalita atau biasa dipanggil Lila, Prinanto sempat memasang kamera pengintai di kamar nya Lila.
Ada dua kamera yang dipasang nya dengan diam-diam tanpa sepengetahuan Lila.
Kamera yang berukuran kecil tersebut mengarah ke dalam kamar jadi segala sesuatu yang bergerak di dalam kamar tersebut pasti keliatan.
Satunya lagi dipasang diluar kamar yang menyoroti kamar sedikit dari luar dan terpantau juga ruang tamu.
Kamera kecil ini walaupun bentuknya kecil tapi daya jangkaunya cukup besar.
Apalagi setelah mendengar cerita sahabat nya Johan yang hampir dijebak perempuan tapi terus meleset sasarannya. Prinanto jadi tambah kepikiran.
"Untung udah sempat pasang kamera, jadi bisa mantau! " batin Prinanto dalam hatinya.
Prinanto sempat merasa takut juga jika perempuan yang dipilihnya ternyata tidak baik setelah mendengar cerita Johan.
Prinanto tidak mau kecolongan lagi. Cukup sekali dalam hidupnya dia merasa kecolongan.
Prinanto sempat merasakan trauma dengan pernikahan pertama nya yang gagal.
Dia menceraikan istri pertamanya yang diketahuinya berselingkuh.
Prinanto menyalakan komputernya. Sudah hampir dua minggu dari kamera terpasang di kamar Lila, Prinanto belum sempat mengecek nya.
Prinanto mulai sibuk mengecek hasil kamera pengintainya.
Mimik wajahnya berubah-ubah, dari yang ada sedikit senyum, berganti dengan mengernyitkan dahinya dan akhirnya sampai pada mimik wajah yang menyeramkan.
Mata Prinanto gak lepas dari komputernya. Tangannya mengepal keras. Wajahnya tampak menyeramkan, menahan amarah nya.
"Dasar perempuan murahan! Sial!! " maki Prinanto melampiaskan amarah nya dengan tangannya yang terkepal memukul meja kerjanya.
"Untung aku belum sepenuh hati menyukai nya!" rutuk Prinanto kembali.
"Kita lihat nanti, apa yang bisa kulakukan buatmu! Dasar singa betina! " rutuk Prinanto kembali.
Prinanto menghela nafasnya dengan kasar. Dia marah, kesal, gusar, semua campur aduk menjadi satu.
Prinanto bersyukur dia dapat mengetahui kelakuan Lalita dengan cepat, jadi dia bisa mengambil sikap harus apa dan bagaimana caranya melepaskan jerat ini.
"Pantas perempuan ini lebih condong menyerahkan tubuhnya dibanding hal lainnya! " gumam Prinanto dalam hatinya.
Prinanto mematikan dan menutup komputernya kembali.
__ADS_1
Dia menyandarkan tubuhnya di bangku nya yang terasa nyaman dan memejamkan matanya untuk menenangkan pikiran dan hatinya.
*
*
Hakim setelah membacakan hukuman Handoko dan mengetuk palu sebanyak tiga kali tanda sah.
Persidangan telah selesai. Lampu tanda sidang telah dimatikan. Danu buru-buru keluar dari ruang sidang. Dia tidak ingin Pingkan ataupun Sisil melihatnya.
Danu berjalan cepat menuju parkiran mobilnya sambil menelpon seseorang.
"Bagaimana bro? " tanya seseorang nun jauh disana.
"Sudah selesai sidang nya bro! Dapat hukuman lima tahun penjara dan dikenakan denda juga! " sahut Danu melaporkan.
"Bagaimana Sisil? Fuad datang kan? " tanya Johan lagi. Lelaki yang dihubungi Danu tak lain adalah Johan.
"Datang. Sisil baik-baik saja. Semua berjalan lancar bro! " Danu melaporkan.
"Okelah kalo begitu Dan! Take care ya! " ucap Johan nun jauh disana.
"Siap bro! " Danu mengakhiri panggilan telponnya. Danu yang sudah duduk di dalam mobilnya, menyalakan mobil dan melajukan mobilnya menuju kantor.
Sementara Sisil yang sudah selesai sidang menghampiri Pingkan. Mereka berdua berjalan keluar dari ruang sidang.
Tiba-tiba.....
"Puas kau...!! Puas...!! " teriak seorang wanita dengan keras. Meiske menghampiri Sisil hendak menamparnya. Tapi keburu ditahan petugas keamanan disana.
"Lepaskan tanganku! Brengsek! Lepaskan! " Meiske meronta-ronta mau membebaskan kedua tangannya yang dipegang oleh dua orang keamanan.
"Kalian amankan Ibu itu! Bawa dia pergi dari sini! Dan jangan ganggu klien saya! " ucap Fuad tegas pada dua keamanan tersebut.
Kemudian mereka berdua membawa Meiske keluar dan memastikan jika Meiske sudah pergi dari gedung ini.
Akhirnya Sisil dan Pingkan bisa keluar dari ruang sidang dengan aman terkendali.
Mereka berdua mengucapkan banyak terimakasih kepada Pak Fuad yang sudah banyak membantu Sisil.
Sisil dan Pingkan kembali berjalan menuju parkiran mobilnya. Pingkan menjalankan mobilnya menuju rumahnya.
*
"
bersambung....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa komentar, like dan vote nya yaa bestie 🙏🏻 dukung terus karya receh mommy yaa....
Terimakasih buat yang sudah mendukung dan selalu mendukung... dukungan kalian semua sangat berarti buat mommy 🤗
Luv u all 😘🤗❤💞
__ADS_1