
Pingkan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan santai. Sedangkan Sisil yang duduk di sebelah nya duduk melamun.
Sisil kembali teringat kejadian yang baru saja terjadi pada dirinya. Dia tidak habis pikir kalau Handoko bertindak sampai sejauh itu hanya untuk melepaskan sakit hati dan dendamnya.
Pingkan menoleh dan melihat Sisil melamun.
"Hayoo....melamun siapa? Johan? " tanya Pingkan yang kembali fokus menyetir.
"Gaklah... " kisah Sisil tersenyum.
"Habis siapa dong?! " cecar Pingkan yang belom puas dengan jawaban Sisil.
"Tebak dong! "' ucap Sisil diikuti tertawa nya.
" Gua kalau tau juga gak nanya Sil.....penasaran aja! " balas Pingkan yang tetap fokus menyetir.
Sisil tertawa. Dilihatnya Pingkan yang rada manyun.
"Jangan bilang lu lagi melamun Handoko!! Gua bejek lu! " ucap Pingkan dengan sedikit kesal. Bawaan Pingkan kesel mulu kalau berhubungan dengan Handoko.
Sisil tertawa ngakak. Dia geli melihat tingkah sahabat nya itu.
"Hah!? Beneran lu mikirin Handoko, Sil?!"
tanya Pingkan sambil memelankan laju mobilnya.
"Iya... " jawab Sisil singkat.
"Ahh.... lu gila juga! Orang udah putus dan balik lagi ke mantan ngapain juga masih dipikirin Sil! " pekik Pingkan kesal.
Pingkan kesal kalau ingat kelakuan Handoko terhadap Sisil. Cowok gak ada kejelasan.
"Lu kalau tahu kejadian kemarin, bisa lebih kesal lagi Ping! " seloroh Sisil sambil tersenyum.
"Kenapa dengan kejadian kemarin? Gimana pergelangan tangan dan kaki lu, Sil? " tanya Pingkan yang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ohh sudah diobati Johan tadi, tinggal tunggu kering. Lu tau gak kemarin siapa dalangnya? " Sisil balik bertanya.
"Siapa? " tanya Pingkan antusias.
"Handoko! " ucap Sisil mantap.
"Apa?!! " pekik Pingkan kaget seraya menginjak rem nya. Mobil yang dibawa Pingkan berhenti mendadak.
"Duuhh...! " teriak Sisil kaget dengan posisi badannya sedikit ke depan tapi tertahan safety belt.
Pingkan terdiam. Mobilnya langsung mati karena rem mendadak. Pingkan kembali menyalakan mobilnya.
"Sorry..... sorry..... " ucap Pingkan meminta maaf.
"Untung di belakang kita gak ada mobil Ping! Kalau ada bisa masuk rumah sakit kita! " sindir Sisil masih mood kaget.
"Maaf banget! Gue kaget, Sil! " ucap Pingkan dengan rasa bersalah.
"Ya sudah..... ayo jalan! " Sisil menyuruh Pingkan untuk melajukan mobilnya.
"Jadi sekarang udah di tangkap belom?" tanya Pingkan lagi.
"Rasanya udah diurus anak buahnya kak Johan deh! " sahut Sisil dengan sedikit keraguan.
__ADS_1
"Orang kaya gitu mesti dilaporin ke Polisi. Mesti di penjara! Biar kapok! " ucap Pingkan yang tetap fokus menyetir.
"Iya....gue setuju banget! " lanjut Sisil mengacungkan jempolnya.
"Sayang ya.....pinter-pinter tapi begitu kelakuannya. " ucap Pingkan lagi.
"Gue juga gak habis pikir.... kok bisa dia melakukan hal kotor begitu! " sahut Sisil sambil menggelengkan kepalanya.
"Semoga saja dia dapat hukuman yang setimpal! " doa Pingkan tetap fokus menyetir.
"Iya." Sisil mengiyakan ucapan Pingkan.
Jalanan menuju rumah Pingkan lumayan ramai tapi masih tetap lancar.
*
*
*
Kita tinggalkan dulu Pingkan dan Sisil yang masih dalam perjalanan.
Kita beralih ke Manto yang sedang mengendarai motornya menuju rumah kontrakan Handoko.
Akhirnya setelah beberapa kali bertanya pada orang, Manto pun sampai di rumah kontrakan Handoko.
Manto memarkir motornya di garasi, kemudian membuka tali ikatan koper. Dan berjalan masuk sambil menjinjing koper baju.
Begitu masuk ke dalam....
"Lu kenapa Han? " pekik Manto kaget melihat wajah Handoko yang babak belur dan merah.
"Dihajar orang! "sahut Handoko cuek.
" Emang lu ngelakuin apa sampai dihajar begini? " tanya Manto penasaran. Kalau gak salah, gak mungkin dihajar sampai babak belur.
Handoko menceritakan kenapa dia sampai babak belur begitu wajahnya.
Manto menghela nafasnya kasar. Mendengar cerita Handoko membuat dirinya kesal terhadap Handoko. Bagaimana bisa seorang terpelajar melakukan hal bodoh seperti itu.
"Lu bener-bener udah gila, Han!! " maki Manto kesal.
"Kalau bertindak tuh dipikir-pikir dulu, pake otak lu, Han!! " maki Manto lagi dengan kesal. Dia sudah gak peduli kalau kata-kata nya menyinggung Handoko, karena apa yang sudah dilakukan Handoko menurutnya sudah keterlaluan.
"Ya... gue terbawa emosi To! " sahut Handoko pelan.
"Sekarang semua udah jadi bubur! Elu mesti bertanggungjawab Han! " ucap Manto bijak.
"Tapi gue takut, To! " Handoko bergidik.
"Lu ngelakuin begitu kaga takut! Tapi sekarang habis berbuat lu takut! Pengecut banget sih elu, Han!! " maki Manto dengan kesalnya.
"Lu kalau kabur gini malah lebih parah.... jadi buronan lu! " maki Manto lagi.
"Jadi gue mesti gimana, To?! " tanya Handoko pasrah dan bingung.
Manto menatap temannya itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lebih baik lu serahin diri aja, Han! " ucap Manto mantap.
__ADS_1
"Apa?! " teriak Handoko kaget dengan saran yang diucapkan Manto.
"Gak mau, To! Gue takut! " lanjut Handoko lagi.
Hal ini benar-benar membuat Manto bertambah kesal.
"Terserah lu lah, Han! " sahut Manto kesal.
"Ujung-ujungnya tetap lu di penjara juga!" lanjut Manto sambil menyalakan rokoknya.
"Kupret lu! Jadi teman bukannya menghibur malah bikin gue tambah takut! " rutuk Handoko kesal.
"Lha!! Memang begitu kenyataan nya, Han! " ucap Manto.
"Lu kabur gini pasti dicari, ujung-ujungnya masuk penjara. Lu serahin diri juga sama, ujung-ujungnya masuk penjara juga. Tapi siapa tau dengan lu serahin diri hukuman lu bisa sedikit lebih ringan. " jelas Manto panjang lebar ke Handoko.
Handoko terdiam mendengar penjelasan Manto.
"Terus Sisil gimana? " tanya Manto lagi.
"Dibawa sama yang mukul gue! " sahut Handoko.
"Tempat terpencil gitu aja bisa dilacak sama tu orang, apalagi kontrakan elu disini, Han! " ucap Manto membuat Handoko kembali berpikir.
Handoko membenarkan semua perkataan Manto dalam hatinya.
Tapi dia belom mau menyerahkan dirinya dulu sebelum ketemu Lila, tambatan hatinya.
"Balik lagi ke diri lu sendiri lah, Han! Terserah lu! " gumam Manto pelan. Rasanya udah males ngomong panjang lebar sama Handoko.
"Pokoknya jangan bawa-bawa gue! " lanjut Manto tegas.
"Gue mau nyerahin diri gue, tapi gue harus ketemu Lila dulu, To! " ucap Handoko pelan seakan gak yakin dengan dirinya.
"Ngapain lagi lu cari perempuan gak jelas gitu, Han! " maki Manto lagi yang kembali kesel sama Handoko.
"Perempuan itu gak cinta sama lu! Lu aja yang bego! " maki Manto lagi yang keselnya udah keubun-ubun.
Handoko terdiam. Dia *******-***** rambutnya dengan kedua tangannya. Pikirannya kusut, terlihat dari wajahnya yang sudah babak belur itu tampak kuyu.
"Ya sudah, lu urus lah urusan lu, Han! Gue pamit dulu balik ke rumah mess! " pamit Manto pada Handoko. Dia tidak mau berlama-lama berada di rumah kontrakan Handoko ini. Takut polisi sudah mengincar Handoko.
Handoko menganggukkan kepalanya.
"Thanks To! " ucap Handoko pelan.
Manto menepuk pundak Handoko. Kemudian dia berjalan keluar rumah. Tak lama terdengar suara motor Manto, makin lama makin menghilang suara nya menandakan Manto sudah pergi.
*
*
bersambung.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa komentar dan like nya yaa bestie 🙏🏻 dukung terus karya recehan mommy ini....
Terimakasih buat yang sudah dan selalu mendukung karya recehan mommy yaa 🤗😘 dukungan teman-teman sangat berarti buat mommy... 🙏🏻
__ADS_1
Luv u all... 🤗😘💞