Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 50. Sisil vs Caroline


__ADS_3

Sisil memejamkan matanya. Pikiran nya kacau. Semenjak tante Caroline masuk dalam rumah, Sisil merasa tidak ada kenyamanan lagi di dalam rumah.


Sisil merasakan perubahan itu. Papa nya sendiri juga berubah. Seakan-akan sekarang Papa nya lebih mengutamakan Tante Caroline.


Malam semakin malam. Sisil malas untuk keluar makan. Mata Sisil sudah mulai mengantuk. Akhirnya Sisil tertidur dengan membawa segala kegundahan nya.


*


*


Pagi hari.


Sisil mengerjapkan matanya. Semalam Sisil tidur dengan nyenyak. Mungkin karena terlalu lelah pikiran nya jadi tidurnya nyenyak.


Dilihat nya jam dinding di kamarnya. Sisil tersentak kaget. Rupanya sudah jam sembilan pagi.


"Nyenyak sekali aku tidurnya. " gumam Sisil dalam hatinya.


Sisil berencana siang ini mau main ke rumah Pingkan. Buru-buru dia bangun, dan kali ini karena bangun udah kesiangan jadi gak pake gerak-gerak otot dulu.


Sisil mengambil pakaian dalamnya, kemudian membuka pintu kamarnya dan berjalan ke kamar mandi.


Dia melihat Tante Caroline lagi sibuk di dapur. Kalau si Tante ada, berarti Papa nya juga ada di rumah.


Sisil masuk ke kamar mandi dan mandi dengan cepat. Setelah selesai, Sisil membuka pintu kamar mandi dan berjalan menuju kamarnya.


Sisil mengenakan pakaian rumahnya. Dia harus pergi ke pasar yang ada di komplek nya, untuk mengambil kue yang sudah dipesannya kemarin.


Sisil dengan pakaian rumahnya pergi ke pasar. Dia menghampiri kedai Tante Dion untuk mengambil pesanan kue nya. Kue ini nanti mau dibawa untuk Pingkan.


"Mudah-mudahan gak ada gosip lagi yang beredar! " doa Sisil dalam hatinya.


Sisil sampai di kedai Tante Dion yang kelihatan masih sedikit repot melayani pembeli. Sisil menunggu sampai agak senggang sedikit.


"Sil..... maaf yaa menunggu agak lama. " ucap tante Dion ramah setelah tokonya lengang.


"Gapapa Tante. Nyantai aja Tan! " sahut Sisil tersenyum.


Tante Dion sibuk memasukkan pesanan Sisil ke dalam dus kue. Sisil menerima dan membayar kuenya.


"Makasih yaa Sil. Oya....kamu belum punya pacar ya? " Tante Dion bertanya sebelum Sisil melangkahkan kakinya.


"Kenapa Tante? Ada yang aneh? " selidik Sisil yang merasa aneh dengan pertanyaan Tante Dion.


Tante Dion terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


"Gak ada yang aneh sih. Tapi mama tirimu itu sepertinya sibuk nyari calon pacar buat kamu! " ucap Tante Dion memberitahu.


"Hah?! Gila!! Gak ada kerjaan kali Tan! " sahut Sisil asal jawab.


"Hati-hati aja, Sil! " lanjut Tante Dion memperingati Sisil.

__ADS_1


"Baik Tante. Makasih banyak ya Tan. Sisil pamit dulu! " ucap Sisil dengan sedikit membungkukkan punggungnya.


Sisil kembali berjalan kaki pulang ke rumah. Hatinya dongkol banget dengar berita yang aneh-aneh.


"Apa sih maunya si Tante itu? " rutuk Sisil dalam hatinya.


Sesampainya di rumah di lihatnya Tante sedang nelpon, entah terima atau sambungan keluar.


Sisil meletakkan dus kue diatas meja tamu. Kemudian masuk ke kamarnya untuk ganti baju dan bersiap-siap untuk ke rumah Pingkan.


Sisil hanya memakai kaos dan celana jeans selutut. Dia menghias tipis wajahnya dan tak lupa memakai lipstik kesayangan nya.


Dilihat jam dinding di kamarnya. Sisil pengen tahu apakah si Tante sudah selesai nelpon nya.


Sisil keluar kamarnya. Dilihatnya si Tante masih di depan telepon. Sisil berjalan ke kamar mandi, mau buang air kecil alias pipis dulu sebelum pergi.


Sewaktu keluar dari kamar mandi, dilihatnya Tante baru meletakkan gagang telpon.


Sisil berjalan mendekati Tante yang masih berdiri dekat meja telpon.


"Maaf ya Tante, saya cuma mau ngingatin aja kalo Tante lagi nelpon ada tanda bib, itu tanda ada telpon masuk. Tolong Tante jeda dan terima dulu yang mau masuk itu, siapa tahu penting Tan. Nanti baru Tante lanjut lagi nelponnya. " ucap Sisil sekaligus menjelaskan.


"Jadi maksudnya saya nelpon tuh gak penting? Yang mau masuk itu lebih penting? Begitu? " tanya Tante Caroline dengan nada agak tinggi dan ketus.


"Gak gitu juga Tante! Tante kan kalo nelpon lama, masa orang nelpon kalo misalnya penting mesti nunggu Tante selesai telpon. Misalnya mau ngabarin ada yg meninggal atau sakit, udah keburu lewat Tan! " sahut Sisil masih berusaha sabar untuk menjelaskan.


"Ya kan ini skrg rumah Tante juga. Suka-suka Tante lah kalo nelpon! Mau lama atau sebentar! " ucap Tante Caroline udah mulai nyolot.


"Menyesuaikan diri kamu bilang?! Dasar anak kurang kerjaan! " maki Tante Caroline dengan kasar.


"Iya betul Tante, menyesuaikan diri! Dan harus tau diri juga! Saya gak tau Tante itu pakai telpon keluar atau cuma terima aja, saya gak mau tagihan telpon jadi membengkak ya Tan! " Sisil kembali menjelaskan secara gamblang dengan sedikit emosi. Dia masih berusaha menahan emosi nya.


"Dasar anak kurang ajar! Apa hak kamu larang-larang saya nelpon?! " maki Tante Caroline lagi yang tampak sudah kesal sekali.


"Lho?! Siapa yang larang? Ngomong jangan diputar balik ya Tan! Saya cuma ingatkan Tante agar pakai telpon secukupnya dan jangan sampai tagihan membengkak! Jadi Tante harus tau diri! " Sisil sudah mulai ketus dan jutek. Dia merasa perlu memperingati Tante Caroline karena yang bayar telpon selama ini adalah Sisil.


"Dasar anak kurang ajar! Saya istri dari Papa kamu dan nyonya rumah disini! " teriak Caroline dengan kerasnya. Sisil bukannya takut, malah tambah berani.


"Istri? Nyonya rumah? Mana buktinya? Seharusnya kalau Tante istri dari Papa saya dan nyonya rumah disini, tau diri dong! Apa perlu diajarin? Rasanya yang kurang ajaran itu Tante, bukan saya! " ejek Sisil dengan ketusnya.


Tante Caroline benar-benar sudah marah sekali. Terlihat dari wajahnya yang tampak mengeras dan merah.


Tante Caroline mengambil seberkas kertas untuk dikasih lihat ke Sisil.


" Nih! Bukti surat nikah dari catatan sipil!" Tante Caroline menyerahkan selembar kertas fotocopyan kepada Sisil. Dan Sisil menerima kertas itu kemudian melihat dan membacanya.


"Ini kertas buat Sisil aja! " ucap Sisil sambil menggulung kertas tersebut.


"Ehh jangan..... sini kembalikan! " teriak Tante Caroline dengan suara keras.


"Lah....inikan cuma fotocopyan! Apa salahnya ini buat saya? Kan Tante punya yang aslinya! " ujar Sisil sewot.

__ADS_1


"Gak bisa! Sini balikin! Nanti kamu guna-guna!" ucap Tante seraya merebut kertas dari tangan Sisil tapi tidak berhasil.


"Ohhh.... guna-guna! Masa guna-guna bisa pakai kertas kaya gini?! Jangan-jangan Tante kali yang main guna-guna! " ledek Sisil dengan sinis dan ketus.


"Jangan ngomong sembarangan ya kamu! Anak kurang ajar! " maki Caroline kembali.


"Biasanya orang yang ketakutan barangnya atau miliknya di guna-guna adalah orang yang suka guna-guna orang! Tante kali ya yang guna-guna orang! " kembali Sisil meledek Tante Caroline dengan sinisnya.


"Dasar anak kurang ajar! Sok tahu kamu! Sini kembalikan! " Tante kembali merebut kertas tersebut. Tapi Sisil menghalangi dengan badannya.


"Ada apa ribut-ribut? " tanya Ridwan yang baru keluar dari kamar.


"Nih anak kamu! Udah gede bukannya tau sopan santun malah kurang ajar!" sahut Caroline sambil memaki Sisil.


"Daripada Tante, udah tua kaga tau diri! Kurang pengajaran! Ajarin tuh Pa, biar tau cara menyesuaikan diri!" sahut Sisil sinis dan ketus. Sisil sudah sangat kesal dan marah sama Tante Caroline.


"Tuh lihat anak kesayangan kamu, Mas! " Caroline dengan muka marah melotot ke arah Sisil.


"Nih! Saya balikin nih kertas! Ngeri ntar kena guna-guna lagi! " ledek Sisil sambil berpura-pura menggedikkan bahunya.


Sisil melempar kertas itu keatas meja tamu. Tante Caroline buru-buru mengambilnya.


Sisil mengambil kantong asoy yang berisi dus kue.


"Pergi dulu Pa! Mau ke rumah teman! " pamit Sisil hanya pada Papa nya.


"Tuh lihat! Anak kurang ajar!" rutuk Caroline yang kesal karena Sisil tidak berpamitan dengan dirinya.


"Sudahlah! Jangan marah-marah mulu! Udah lain kali Sisil gak usah diladeni! " ucap Ridwan menenangkan hati Caroline.


Sisil yang habis berpamitan pada Papa nya, langsung berjalan keluar pagar dengan menenteng kantong asoy berisi kue.


Sisil berjalan sampai depan komplek nya. Tadi di rumah belum sempat pesan taxi online, maka di halte bus ini Sisil baru memesan taxi online.


Sisil menunggu taxi online nya datang sambil menenangkan hatinya. Sekarang Sisil sudah tahu sifat si Tante yang sebenarnya. Hanya mau menang sendiri, egoisnya gede, dikit-dikit ngambek dan marah. Pokoknya gak ada bagus-bagusnya menurut penilaian Sisil.


Tak lama berselang, taxi online yang dipesan Sisil pun tiba. Sisil langsung masuk dan duduk. Taxi online tersebut melaju menuju alamat yang tertera.


*


*


bersambung....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa komentar, like dan vote nya bestie.... 🙏🏻 jika berkenan sekalian bintang lima yaa bestie 🤗 dukung terus karya receh mommy yaa.....


Terimakasih buat teman-teman yang sudah mendukung dan yang selalu mendukung mommy yaa.... 🤗 dukungan kalian sangat berarti buat mommy 😊


Luv u all 😘🤗❤💞

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2