Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 71. Harimau mengintai


__ADS_3

Pagi ini Sisil sudah kembali masuk kantor nya yang sudah lama ditinggal selama sebulan untuk training.


Wajah Sisil tampil cantik dengan senyum selalu menghias di bibirnya yang mungil.


Sisil tidak menyadari jika segala tingkah lakunya sedari dia masuk, tidak luput dari pantauan cctv.


Pantauan cctv ini dipantau langsung dari meja pimpinan cabang langsung.


Sisil duduk di meja dan mulai sibuk dengan pekerjaan nya. Pak Abdul membagikan Sisil tugas untuk mengontrol dan menghandle perusahaan yang masih se-group dengan kantornya. Dan ada beberapa customer besar juga dilimpahkan ke Sisil.


Buat Sisil tidak masalah, dia menjalaninya dengan enjoy-enjoy aja.


Di ruangan yang ber AC cukup dingin, pak Harry duduk di bangku kebesaran nya. Dia menatap TV yang ada di mejanya, yang menampilkan kegiatan di kantor itu.


Pak Harry lagi memantau CCTV ke bagian marketing dan customer service. Tangkapan layarnya diperbesar.


CCTV yang digunakan di kantor ini sudah kategori canggih jadi bisa diperbesar dan diperkecil.


Pak Harry menyoroti kegiatan marketing. Satu per satu orang yang duduk dalam marketing disorotnya. Hingga sorotan terakhir jatuh pada Sisil yang sedang sibuk di mejanya.


Pak Harry memperhatikan Sisil dengan seksama. Dia senyum-senyum sendiri.


"Cantiknya....! " ucap Pak Harry dalam hatinya. Matanya tak lepas memandang Sisil di layar monitor nya.


Pak Harry menjabat sebagai pimpinan cabang terbilang sudah lama dan di bawah pimpinan nya bank ini berkembang pesat dan sudah mempunyai kantor cabang pembantu yang lumayan menghasilkan.


Dan selain sebagai pimpinan yang kompeten, pak Harry juga banyak di issue kan suka bermain perempuan.


Dan hal ini pun sudah menjadi rahasia umum di kantor tersebut. Dan seperti nya pegawai-pegawai di sana tidak mempersoalkan hal tersebut. Buat mereka selama bisa bekerja dan selama di gaji, mereka akan tetap bekerja dan menjaga mulut mereka. Sehingga keburukan sang pimpinan pun luput dari pantauan atasan-atasan pusat.


Sisil sibuk membuat data-data customer yang harus di handle nya. Dibuatnya dalam satu buku khusus customer.


Tak terasa waktu sudah siang. Sisil pergi makan dengan Maria dan Putri.


Di kantor ada kedatangan seorang wanita yang cukup cerewet, yang katanya adalah pimpinan cabang pembantu.


"Wanita yang cerewet tadi itu siapa ya, Mar? " tanya Sisil pada Maria. Mereka sudah duduk di kantin sebelah kantor.


"Bu Lusi. Kenapa, Sil? " tanya balik Maria.


"Gapapa. Gua kan gak tau namanya, say! " sahut Sisil cepat.


Sisil sudah mendengar jika bu Lusi pernah ada hubungan dengan pak Harry. Entah siapa yang bercerita, Sisil lupa. Dan orang yang pernah berhubungan dengan pak Harry bisa naik jabatan nya.


Sisil tidak mau ambil pusing dengan issue-issue yang beredar di kantor nya ini. Karena benar atau tidaknya, Sisil tidak tahu.


Junaedi datang dan bergabung dengan mereka bertiga.


"Tumben lu bisa makan bareng! " ledek Maria pada Junaedi.


"Lagi gak gitu sibuk, Mar! " sahut Junaedi langsung.


"Biasa kalau gua ajak gak bisa mulu! " sebal Maria.


"Lha.... ini sekarang kan bisa, Mar! " jawab Junaedi dengan diiringi tawanya.

__ADS_1


"Ahh elu...gua tau elu kan modus Jun! "


ledek Maria. Junaedi tertawa sumbang.


Sisil dan Putri yang mendengar, pura-pura cuek sambil tetap makan.


Setelah selesai makan dan ngobrol sebentar, mereka berjalan kembali masuk dalam kantor.


Sisil duduk di ruangan nya. Dia memakai bedak tipis dan mengolesi bibirnya dengan bibir merah.


Ponselnya berbunyi. Sisil tersenyum melihat nama yang tertera di ponselnya.


"Hallo, sayang... " ucap Sisil ketika menjawab telponnya.


"Hallo juga, sayang! Seger nih yang baru selesai training! " ledek Pingkan dari sebrang sana.


"Hahaha.....bisaan aja lu! Kenapa, say? " tanya Sisil di sela-sela ketawanya.


"Ntar sore ketemuan yuk! Kangen gua! " ajak Pingkan.


"Hayuuk..... dimana?" Sisil mengiyakan dan bertanya.


"Di mal XX aja ya! Kan dekat sama kantor kita berdua! " ucap Pingkan lagi.


"Oke! Nanti yang sampe duluan telpon atau message aja ya! " sahut Sisil menegaskan.


Pingkan mematikan panggilan pada telponnya. Dia tersenyum bahagia.


Sisil pun tersenyum bahagia. Memang sudah lama tidak bertemu Pingkan. Kangen banget rasanya.


Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sudah sore lagi. Sisil merapihkan mejanya dan berkemas.


Setelah rapih, Sisil memesan taxi online dari hapenya dengan tujuan mal XX.


Taxi yang dipesan sedang menuju kantornya. Sisil berjalan keluar. Dia menunggu taxi online tersebut di pintu keluar bagian barat yang berada di samping.


Tidak sampai sepuluh menit taxi online yang dipesan Sisil tiba. Sisil masuk ke dalam taxi. Taxi tersebut jalan menuju mal XX.


Sisil minta di turunkan di lobby mal. Begitu masuk dalam lobby, Sisil mencari tempat duduk dan mengirimkan message pada Pingkan.


Sisil mengabari Pingkan jika dirinya sudah sampai dan berada di lobby.


Pingkan berlarian melihat Sisil yang tengah duduk di lobby. Sisil berdiri. Pingkan memeluk Sisil dan Sisil menyambutnya. Mereka berdua berpelukan.


Mereka tidak peduli jika orang-orang yang berada di sekitarnya melihat mereka berpelukan.


Pingkan melepaskan pelukannya. Dilihat nya Sisil dari atas sampai ke bawah. Pingkan tersenyum. Sisil nampak cantik sekali.


"Ayo.... gak usah liatin gua kaya begitu! Gak ada yang berubah sama diri gua! " keluh Sisil dengan mata melotot. Gemes dia melihat tingkah Pingkan.


"Hahaha..... " ngakak Pingkan.


Pingkan menggandeng bahu Sisil. Mereka jalan menyusuri mal. Belum ada tujuan.


"Kita mau makan apa nih? " tanya Sisil.

__ADS_1


"Apa sajalah, yang penting perut terisi! " sahut Pingkan sambil melihat kanan dan kiri.


"Makan mie lamien aja deh! Mau gak, say? " tanya Sisil meminta pendapat Pingkan.


"Hayuk.... boleh! " sahut Pingkan menganggukkan kepalanya.


Mereka turun ke lantai ground, dimana disana banyak restauran. Mereka menuju tempat mie lamien berada.


Sesampainya disana, mereka mencari bangku kosong dan duduk. Seorang pelayan menghampiri dengan membawa buku menu.


Mereka berdua memesan mie lamien yang berbeda sehingga bisa saling icip.


Sambil menunggu makanan datang, mereka berdua ngobrol.


"Gimana training nya Sil? " tanya Pingkan menatap wajah cantik Sisil.


"Bagus training nya! Tambah wawasan dan tambah teman, Ping! " jelas Sisil pada Pingkan.


"Pantas gak ada telpon-telpon gua ya! Udah lupa sama sohibnya! " tukas Pingkan yang berpura-pura sedih.


"Ya ampun Pingkan, sayang! Gua gak pernah lupa sama lu! Lu adalah sohib gua yang paling baik! Gak ada gantinya deh! " rayu Sisil dengan memberikan penjelasan.


"Kemarin tuh gak sempat telpon karena gua udah pulang capek, say. Tiap hari dari sana tuh macet mulu! " jelas Sisil kembali.


"Hahaha..... " tawa Pingkan pun pecah. Sedari tadi dia menahan tawa nya, akhirnya bisa juga dia ngakak.


"Aahh..... senengnya bisa ngerjain gua ya! " sindir Sisil yang tahu kalau Pingkan cuma pura-pura ngeledek dia.


"Becanda, sayang! Jangan dimasukin ke hati dong! " ucap Pingkan masih dengan tawanya. Sisil pun jadi ikut tertawa.


Tak lama tampak seorang pelayan datang untuk menghidangkan dua porsi mie lamien yang dipesan.


Pingkan dan Sisil pun menyantap makanan mereka dengan lahap karena perut mereka sudah pada lapar.


Setelah makan dan tanpa mutar-mutar mal, kami berdua langsung menuju tempat parkir.


Pingkan mengantarkan Sisil sampai di tempat kost, kemudian dia lanjut langsung pulang ke rumahnya.


*


*


bersambung....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa komentar membangun, like dan vote nya ya bestie 🙏🏻


Dukung terus karya mommy ya...


Terimakasih buat teman-teman yang sudah mendukung dan yang selalu mendukung karya mommy.... dukungan kalian sangat berarti buat mommy🤗


Luv u all 😘🤗😍❤💞


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2