
Mereka berdua kembali ke ruangan depan dengan masing-masing tangan membawa minuman kaleng.
Tamara memberikan satu minuman kaleng yang dibawanya ke mama nya. Dan satunya lagi untuk dirinya.
Johan pun melakukan hal sama yaitu memberikan satu minuman kaleng untuk Mama nya. Dan satu lagi untuk dirinya sendiri.
Bu Wiwid tampak akrab berbincang dengan bu Rani, mama Tamara. Sedangkan Tamara duduk di sebelah mamanya sambil asyik melihat hapenya.
Tamara memandang Johan yang tengah asyik dengan minuman nya. Tamara mulai bertanya-tanya dalam hatinya.
"Dimana aku pernah melihat kak Johan ya? " tanya Tamara dalam hatinya. Seakan wajah Johan tak asing baginya.
Tamara reflek mendesah pelan.
Tak terasa hari sudah menjelang sore, bu Rani dan Tamara pamit pulang. Setelah mendapat telpon dari suaminya, pak Herry untuk pulang bareng, bu Wiwid pun turun ke lantai bawah tempat kantor suaminya.
Johan kembali menyelesaikan pekerjaan yang tertunda sebentar.
*
*
Danu sudah sejak tadi keluar dari kantor. Dia sibuk mengurusi apartemen Johan. Johan yang mau tinggal di apartemen tapi yang sibuk Danu, asistennya.
Danu mengambil baju-baju Johan di rumah orang tua nya yang sudah disiapkan Johan di dalam koper. Jadi Danu hanya tinggal membawanya ke apartemen.
Diletakkan nya koper-koper Johan di kamar utama yang berukuran lebih besar daripada kamar yang kedua.
Hari ini Danu sudah mencari orang untuk membersihkan apartemen. Tampak apartemen sudah rapih dan bersih. Tinggal ngecek stok makanan dan minuman di dapur serta kebutuhan dapur.
Setelah selesai semua Danu langsung pulang ke rumahnya.
*
*
*
Sisil bersiap-siap pulang membereskan mejanya. Sudah beberapa hari ini Sisil merasa tidurnya gak pernah nyenyak. Wajahnya lesu tidak bersemangat. Semenjak tau Papa nya mau menikah lagi, hatinya tak tenang.
Sore ini Sisil berencana mau langsung pulang saja ke rumah. Tujuan nya cuma satu yaitu TIDUR. Dia merasa badannya capek, otaknya juga lelah.
Di pesannya taxi online dari hapenya. Tak lama tampak sebuah mobil memasuki lobby dan berhenti di depan lobby kantor.
Sisil berjalan menuju lobby kantor dan masuk ke dalam taxi online yang di pesannya. Mobil berjalan dan melaju pelan. Jalanan ramai sebab jam pulang kantor.
__ADS_1
Sisil memejamkan matanya, tapi pikirannya kemana-mana. Kembali dia membayangkan perkataan papa nya.
Sebenarnya Sisil tidak bermasalah kalau Papa nya mau menikah lagi. Tapi tidak dalam jarak yang dekat dengan waktu meninggal Mama nya. Sisil tidak terima. Buatnya hal ini terlalu cepat.
Dan satu hal lagi, Sisil tidak menyukai pilihan Papa nya. Menurut Sisil, Papa nya sudah dibutakan oleh cinta. Atau memang bener dugaan Sisil jika Papa nya udah kena jampi-jampi lewat makanan yang sering dikasih dan dimakannya.
"Cantik dan baik! Cih....!! " geram Sisil dalam hatinya. "Apanya yang cantik? Apa selera Papa nya jadi turun seperti tante itu?"
Semua pemikiran ada dalam benak Sisil.
Dan yang tidak terduga adalah Sisil mendapat tamparan dari Papa nya. Hanya karena seorang wanita.
"Apa wanita begini yang dibilang baik sama Papa? " cibir Sisil dalam hati. Jika wanita itu memang baik, pasti dampaknya juga baik ke Papa. Ini malah terbalik. Apalagi Papa nya sudah menamparnya. Sampai Sisil sebesar sekarang, baru ini kali ditampar Papa nya. Makanya Sisil kecewa sekali akan sikap Papa nya.
Kepala Sisil sedikit pusing. Dipandang nya jalanan dan lampu-lampu jalan dari kaca mobil. Dia menghela napasnya kasar.
"Seandainya Mama masih ada... " gumam Sisil dalam hatinya kembali.
Akhirnya setelah melewati perjalanan yang lumayan lama, Sisil sampai di rumah.
Sisil membuka pintu pagar rumah yang hanya di slot saja. Kemudian pintu dalam dibuka Sisil dengan kuncinya. Setiap hari Sisil membawa kunci rumah. Jadi jika Papa nya mau pergi tidak bermasalah.
Sisil memasuki rumah yang nampak kosong. Biasanya Papa sudah ada di rumah. Tapi semenjak Sisil sudah mengetahui hubungan Papa nya dengan tante Caroline, Papa nya mulai terlihat lebih sering pergi ke rumah kontrakan tante itu.
Sisil langsung membersihkan dirinya alias mandi. Sedikit segar dirasakan Sisil.
Kamar Sisil kecil, dibandingkan dengan kamar Pingkan jauh lebih besar kamar Pingkan.
Sisil merebahkan badannya. Rasanya enak sekali, nyaman banget kalau sudah nyentuh yang namanya ranjang.
Mata Sisil sudah mulai mengantuk. Dan tak lama berselang hanya dengkuran halus yang terdengar. Sisil tertidur.
*
*
*
Di sebuah bar kecil di daerah selatan tampak seorang lelaki tampan berkacamata duduk dengan rokok di tangannya dan segelas bir di mejanya. Sepertinya sedang menunggu.
Bar tampak tidak ramai. Mungkin karena hari biasa jadi sepi pengunjung.
Dari pintu masuk terlihat dua orang lelaki tegap masuk dan menghampiri meja lelaki berkacamata ini.
"Malam bos! Maaf kita agak telat datangnya! " ucap lelaki yang tinggi, tegap, rambut sedikit gondrong dan tangan kiri yang penuh tatto. Sementara lelaki satunya yang berbadan lebih pendek dikit, kepala botak dan tangan kanan bagian atas bertatto juga, begitu sampai di meja langsung menarik bangku. Mereka berdua duduk di kiri dan kanan lelaki berkacamata tersebut.
__ADS_1
"Mau minum apa? Pesen aja! Gua yang traktir! " ucap lelaki berkacamata itu. Masih tetap sambil merokok.
Kedua lelaki yang bertattoo itu langsung memesan bir.
"Tugas kita apa bos?! " tanya si botak.
Seorang pelayan mengantarkan minuman mereka berdua. Mereka berdua langsung menenggak minuman bir tersebut.
Lelaki berkacamata itu mengeluarkan hapenya dan mencari foto seseorang disana. Setelah menemukan foto seseorang yang dimaksud, dikirimkan gambar fotonya ke nomor hape mereka berdua.
Bip... bip.... " samar-samar terdegar suara message masuk di kedua hape mereka. Mereka menerima foto seorang gadis cantik.
" Waahh bening bos! " si cowok tinggi tegap.
"Bening dan sexy bos!! " si botak menyeringai.
"Mata-matai dia dan jika waktunya pas culik dia!! " ucap lelaki berkacamata itu dengan dinginnya. Dia menghembuskan asap rokoknya. Kemudian dia menjelaskan lagi dengan gamblang apa rencananya terhadap gadis itu. Kedua anak buahnya manggut-manggut tanda mengerti apa keinginan dan kemauan bos nya.
" Siap bos!! Kita akan buat rencana dan jalankan!! " serentak si tegap dan si botak berkata pada bos nya.
Tampaknya lelaki berkacamata ini menyeringai. Wajahnya dingin, terlihat ada dendam di hatinya. Dia meminum bir nya yang sudah setengah gelas itu langsung bersih. Kemudian memanggil pelayan untuk kembali mengisi bir nya yang kosong.
Demikian juga dengan anak buahnya yang masih asyik minum. Dari dalam jaket kulitnya, lelaki berkacamata itu mengeluarkan amplop coklat kecil yang berisikan uang. Diletakkan diatas meja.
"Ambil ini!! Sisanya kuberikan setelah tugas kalian selesai!! "
"Siap bos! Terimakasih banyak bos!! " ucap si tegap gondrong dan si botak bareng.
Setelah memasukkan amplop uang ke dalam sakunya, si gondrong yang merupakan pimpinan preman itu pamit pada lelaki berkacamata, diikuti oleh si botak.
"Lakukan tugas kalian dengan bersih, buat perencanaan yang matang. Dan jangan sampai gagal!! " tegas lelaki berkacamata sebelum mereka berdua pergi.
"Siap bos!! "
Mereka berdua pergi meninggalkan bar itu. Lelaki berkacamata itu melanjutkan minumnya. Tersungging senyum yang rada mengerikan di bibirnya. Entah apa rencana jahat yang sudah diberikan pada anak buahnya.
*
*
bersambung...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa yaa teman-teman untuk selalu mendukung dengan cara komentar, like dan vote...
__ADS_1
Dan terimakasih buat teman-teman yang sudah mendukung dan memberikan semangat, sebab dukungan kalian semua sangat berarti buatku.
Luv u all 😘❤🤗