Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 94. Kekhawatiran Sisil


__ADS_3

Sisil yang sempat melihat sisi lain dari seorang Johan kembali di sibukkan dengan pekerjaan nya.


Demikian juga dengan Danu, yang sama sekali tidak menyangka sahabat nya itu bertindak dan bersikap tegas seperti itu untuk menghadapi mantan nya yang memang benar-benar muka tembok.


Danu sendiri sebagai orang yang dekat dengan Johan dari masa sekolah dulu, juga baru melihat sifat Johan yang lain. Wajah datar dan dinginnya serta sikapnya yang tegas, benar-benar Danu baru melihat nya.


Danu salut juga dengan sikap tegas Johan. Dia mendukungnya karena yang namanya mantan biasanya suka menghalalkan segala cara. Sebelum mantan bertindak, Johan sudah langsung mematahkan nya.


Danu mengetuk pintu ruangan Johan. Dan terdengar suara Johan dari dalam yang menyuruhnya masuk.


Danu membuka pintu dan masuk ke ruangan Johan. Dia melihat Johan sedang mengutak-atik komputer di atas meja kerja nya. Danu mendudukkan bokong nya pada sofa yang ada di ruangan Johan.


Johan melirik Danu yang duduk di sofa nya. Dilihatnya sang sahabat mengambil camilan dari atas meja. Danu tampak santai.


"Ada yang ingin kau bicara kan, bro? " tanya Johan sambil membereskan meja nya lalu berjalan dan ikut duduk di sofa.


Johan memberikan sekaleng pocari sweet pada Danu. Danu menerima nya. Dia langsung membuka tutup kaleng nya dan meminum nya seteguk.


"Gua salut sama elu, bro! Dan gua baru melihat elu dengan sikap lu tadi, bro! " ucap Danu sambil mengacungkan jempolnya.


Johan tertawa pelan. Dia kemudian berhenti tertawa dan menatap Danu tajam. Danu jadi merasa tidak enak dengan tatapan Johan.


"Lain kali jika cari klien tolong di cek dulu pimpinan nya itu siapa! Cari tahu dengan jelas, baru bertindak! Gua gak mau orang-orang dari masa lalu gua mengganggu jalannya perusahaan atau pun kehidupan pribadi gua yang sekarang! " tegas Johan pada Danu.


"Jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi! " lanjut Johan menegaskan.


Danu langsung menganggukkan kepala nya. Dia tidak mau mood nya Johan jelek kembali.


"Gua mau ijin pulang cepat hari ini, bro! Ada urusan mendadak soalnya! " ijin Danu pada Johan.


"Ya sudah, sana pulang lah! " suruh Johan langsung saat itu juga.


"Gak sekarang kale....., nanti jam empat, bro! " ucap Danu dengan terkekeh.


"Oke.... oke.... Kalau gak ada yang mau diomongin lagi, gua mau balik kerja dulu! " ujar Johan menatap Danu dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Silakan, bro! Gua balik ke ruangan gua deh! Oya, nanti gua jam empat langsung pulang ya! " ucap Danu sambil berdiri dan bersiap meninggalkan ruangan Johan.

__ADS_1


"Oke, bro! " jawab Johan singkat.


Danu langsung berjalan meninggalkan ruangan Johan dan kembali ke ruangan nya. Johan pun langsung kembali di sibukkan dengan komputer di meja nya.


Tapi sebelum kembali sibuk, Johan sempat mengirim pesan untuk Sisil di hapenya.


Drrttt...... Drrttt......


Hape Sisil yang di simpan di laci nya bergetar. Sisil yang masih sibuk dengan tugas nya menyempatkan diri untuk melihat hape nya.


Sisil melihat ada message masuk di hape nya. Begitu dibuka, ternyata message dari Johan.


Johan memberitahu dan mengajak Sisil ke rumah nya untuk di kenalkan dengan kedua orang tua nya nanti sore sepulang dari kerja. Dan Sisil hanya menjawab mengiyakan ajakan Johan lewat message juga.


Kesibukan membuat waktu berjalan demikian cepat, tak terasa hari sudah sore lagi.


Johan bersiap-siap membereskan dan merapihkan meja kerja nya. Di waktu bersamaan Sisil juga sedang bersiap-siap membereskan dan merapihkan meja kerja nya juga.


Begitu selesai, Sisil langsung menyambar tas nya dan berjalan ke ruangan bos nya.


"Masuklah! " ucap Johan pada Sisil.


Sisil masuk menghampiri Johan. Dia menunggu dan berdiri tidak terlalu jauh dari meja kerja Johan.


Setelah selesai semua, Johan menghampiri Sisil dan merengkuh pinggang ramping Sisil dan membawanya ke dalam pelukan nya.


Johan memeluk Sisil erat dengan mata terpejam. Rasanya hanya dengan memeluk Sisil seluruh beban di pikiran dan penat di badan nya hilang.


Sisil membiarkan Johan memeluknya. Dia tahu Johan sangat membutuhkannya. Sebuah pelukan hangat akan lebih cepat mengurangi rasa lelah dan penat seseorang.


Ada kisaran sepuluh menit Johan memeluk tubuh ramping itu. Lalu Johan melepasnya dan menggandeng tangan Sisil keluar dari ruangan nya.


Setelah memastikan lampu mati dan ruangan sudah terkunci, Johan menggandeng tangan Sisil menuju lift untuk turun ke tempat parkir.


Begitu keluar dari pintu lift, Johan tetap menggandeng tangan Sisil. Sisil berusaha melepaskan tangan nya tapi Johan malah mempererat pegangan nya.


Beberapa pasang mata melihat mereka berdua yang berjalan bergandengan. Johan langsung menuju tempat parkir, dia membuka kunci otomatis dan pintu mobil untuk Sisil.

__ADS_1


Sisil masuk dan duduk di sebelah kemudi. Wajah nya merah malu, dia merasa tidak enak hati dengan perlakuan Johan pada diri nya.


Johan langsung duduk di belakang kemudi. Ditatapnya wajah Sisil yang masih merah.


"Kenapa? Malu? " tanya Johan pada Sisil.


Sisil menganggukkan kepala nya.


"Takut ada gosip di kantor! " udah Sisil dengan lirih. Johan menarik nafasnya dan membuangnya kasar.


"Dengar ya, sayang! Biarlah orang-orang di kantor tahu kalau kamu itu pacar saya, calon istri saya! Apa yang kamu khawatir kan? " jelas Johan dan bertanya balik pada Sisil.


"Sa..... saya belum siap, Kak! " pelan suara Sisil menjawab pertanyaan Johan.


"Ayolah sayang, kamu harus siap! Gak ada yang perlu ditakutkan ataupun dicemaskan! " tegas Johan pada Sisil sambil tangan kirinya mengelus rambut Sisil.


"Kalau ada masalah ke depan nya, kita atasi bersama! Oke, sayang?! " tanya Johan mantap dengan menatap mata Sisil.


Sisil yang nampak sudah mulai tenang hanya bisa menurut dengan omongan Johan.


Sisil hanya takut orang-orang di kantor membicarakan dirinya yang tidak-tidak, karena berpacaran dengan bos. Ditambah dia adalah karyawan baru. Sisil hanya bisa berdoa dalam hatinya, semoga semua ketakutan dan kekhawatiran nya tidak beralasan.


Sisil juga sudah berpikir, mau sampai kapan menyembunyikan dirinya yang saat ini sedang berpacaran dengan Johan. Segala sesuatu yang ditutup-tutupi pasti suatu saat akan terbongkar juga. Lagipula Sisil tidak punya salah apa-apa, untuk apa takut dengan hal-hal yang belum terjadi.


Sisil sudah tenang kembali dan dia menganggukkan kepala nya pada Johan. Dia menyetujui omongan Johan yang membuat hati nya menghangat. Johan tersenyum.


Lalu Johan menyalakan mobil dan memanasi sebentar. Setelah dirasakan cukup, Johan menjalankan mobilnya perlahan keluar pelataran kantor nya.


Dia membawa mobilnya dengan santai menuju rumah nya.


*


*


bersambung.....


_______________________________________

__ADS_1


__ADS_2