
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Sisil dan Pingkan menyelesaikan belanjanya dengan cepat. Jam sekarang sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh menit, sudah menuju sore.
Pingkan sudah masuk kedalam mobilnya dan duduk di belakang kemudi. Dan Sisil duduk di sebelah nya, tak lupa memasang safety belt nya.
Pingkan melajukan mobilnya keluar dari tempat parkir. Arah tujuannya adalah mengantar pulang Sisil.
Perjalanan dari mal XX ke rumah Sisil jika tidak macet hanya ditempuh sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima menit saja.
Tak lama kemudian mobil yang dibawa Pingkan sudah memasuki komplek perumahan Sisil.
Pingkan menghentikan mobilnya di depan rumah Sisil.
"Mau mampir dulu, Ping? " tawar Sisil pada Pingkan sambil membuka safety belt nya.
"Gua langsung jalan saja say! " sahut Pingkan.
"Oke. Makasih yaa. Hati-hati di jalan! " tutur Sisil seraya menutup pintu mobil.
Sisil melambaikan tangan nya sampai mobil Pingkan tidak terlihat.
Sisil menenteng dua kantong asoy dari supermarket dan berjalan masuk ke dalam rumah setelah mengunci pintu pagar.
Diletakkannya kedua kantong itu di atas meja makan.
"Pada kemana yaa? Dari pergi gak ada orang di rumah, sekarang pulang juga kosong?! " gumam Sisil dalam hatinya.
"Tapi mobil Papa ada di depan tadi! " lanjut Sisil dalam hatinya.
Sisil yang merasa capek badannya, sehabis cuci muka dan ganti baju, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang nya di kamarnya.
Sisil memejamkan matanya, tapi tidak tidur. Dia merasakan nyaman para tubuhnya.
Sejam sudah berlalu, terdengar bunyi pagar dibuka. Seperti nya Papa dan si Tante baru pulang. Entah darimana.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Terdengar pintu kamar dibuka. Papa dan Tante baru pulang dari Bandung dua hari lalu.
Dari pulang Bandung sampai sekarang belum ada bincang-bincang antara Papa nya dan dirinya.
Sisil kembali melanjutkan istirahat nya. Tiba-tiba pintu pagar ada yang mengetuk. Tak lama terdengar suara Tante Caroline menyambut di pintu pagar. Ternyata mereka teman-teman Tante Caroline.
Terdengar dari dalam kamar Tante Caroline mempersilakan teman-teman nya untuk duduk di ruang tamu.
Ruang tamu ini bersebrangan dengan kamar Sisil, jadi jika ada suara-suara dari arah pintu pagar sampai ruang tengah pasti akan terdengar di dalam kamar.
Sepertinya Tante Caroline mempersilakan minum pada teman-teman nya. Kemudian terdengar mereka mengobrol dan bersenda gurau.
__ADS_1
Terdengar suara mereka ngobrol cukup keras. Mungkin mereka tidak menyadari jika Sisil ada di kamar nya.
Sampailah pembicaraan yang topiknya tentang Sisil. Sisil memasang kupingnya di dalam kamar. Dia ingin tahu apa saja yang digosipkan tentang dirinya.
"Gimana anak sambung lu Carol, udah baik belom sama lu? " tanya teman nya Tante Caroline.
"Yahh gitu deh! Kan dia kerja, jadi jarang di rumah!" jawab Tante Caroline.
"Masa sih belum punya pacar udah seumur gitu Carol? " tanya temannya Tante Caroline.
"Ini lagi saya cariin, biar dia gak kepo urusan rumah! Pusing kalau kebanyakan cincong, banyak aturan! " terdengar suara Tante Caroline yang sedikit keras terbawa emosi sesaat.
Sisil yang di dalam kamar mulai kesel juga mendengar nya.
"Ohh jadi cuma mau enaknya doang?! Hmm...! "rutuk Sisil dalam hatinya.
" Iya betul, buruan mesti punya pacar. Udah dapat belum Bu? " tanya teman nya lagi.
"Belum nih. Mesti buru-buru nih....biar gak jadi perawan tua! " tawa Tante Caroline keras diikuti teman-teman nya.
"Plakk! "
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tante Caroline. Sisil keluar dari kamarnya karena emosi. Dia tidak dapat menahan nya lagi. Tante Caroline ini mulutnya sudah keterlaluan.
"Auuww....! " pekik Tante Caroline kaget sekaligus sakit di pipinya. Tangan nya tidak lepas dari pipi kirinya.
"Tante yang gila! Kerjanya cuma gosip aja! " maki Sisil gak mau kalah.
"Kalian juga jadi teman-teman nya jangan bisanya cuma manas-manasin aja! Udah tua jangan suka gosipin orang! Inget umur! " bentak Sisil pada ketiga temannya Tante Caroline. Sisil melototi mereka satu per satu. Hati Sisil kesalnya bukan main. Dia sudah tidak dapat mentolerir kelakuan mama tirinya ini.
Teman-teman Tante Caroline tampak ketakutan dipelototi Sisil. Mereka bertiga tanpa pamit lagi pergi meninggalkan rumah yang keadaannya sudah panas.
"Kamu kok ngusir teman-teman saya?! Kurang ajar banget sih! " maki Tante Caroline.
"Siapa yang ngusir? Mereka pergi sendiri tanpa pamit! Ngerti! Udah makin tua, bukannya makin sopan, ini malah gosipin orang aja! Kalian yang kurang ajaran! " maki Sisil yang kesal sekali.
"Awas ya kamu! Saya lapor biar di tangkap polisi karena sudah mukul saya! " ancam Tante Caroline sambil memutar telpon. Entah siapa yang dihubunginya.
Ridwan baru keluar dari kamar tergesa-gesa karena kaget mendengar keributan.
"Ada apa ini ribut-ribut? " tanya Ridwan bermaksud menengahi.
"Lihat tuh anak kesayangan kamu! Dia sudah berani mukul saya! Katanya mas mau belain saya kalau saya kenapa-kenapa! " lapor Caroline pada Ridwan.
Ridwan jadi bingung, tak tahu harus bagaimana. Caroline sekarang sudah jadi istrinya dan tanggung jawab dia untuk menjaganya. Sisil juga anak kandung dia yang sangat dia sayangi. Ridwan sebenarnya tahu kalau Sisil gak akan nampar orang jika orang tersebut benar-benar sudah keterlaluan atau melewati batas.
__ADS_1
"Saya sudah lapor polisi! Bentar lagi dia datang! " celetuk Caroline lagi dengan keras.
Telepon di rumah berbunyi dan Tante Caroline yang mengangkatnya. Kemudian Tante Caroline mengacungkan gagang telpon itu kepada Sisil.
"Nih! Ada yang mau bicara! " ucap Tante Caroline keras.
"Siapa?! " tanya Sisil sedikit heran. Pasalnya jarang teman-teman atau saudara-saudara yang nelpon ke telpon rumah. Tante Caroline tidak menjawab. Ini membuat Sisil curiga. Sisil mengambil gagang telpon rumah itu dari tangan Tante Caroline.
"Hallo.... siapa ini? " tanya Sisil.
"Apakah ini dengan Sisil? " tanya balik suara lelaki di telpon.
"Iya! Jawab! Ini dengan siapa?! " tanya Sisil lagi dengan nada kesal. Sisil sudah menduga, pasti ini antek-anteknya si Tante.
"Kamu jangan kurang ajar ya jadi anak! Berani-berani nya nampar orang tua! " maki lekaki dalam telpon.
"Orang tua kalau kurang ajar perlu dihajar! Mulut juga mesti di jaga jangan seenaknya aja bisanya cuma ngomongin orang! Dan kamu siapa? Berani-berani nya maki-maki saya di telpon! " sahut Sisil yang sudah tersulut emosi kembali.
"Ehh berani ya kamu maki-maki saya! Bener-bener anak kurang ajar! " maki lelaki itu lagi.
"Oh berani saya! Saya gak salah kok! Kamu juga jangan beraninya maki-maki di telpon, sini datang! Saya tunggu disini! " tantang Sisil yang emosinya sudah seperti mau pecah.
"Oke, saya datang! Awas kamu! " ancam lelaki itu di telpon.
"Oke saya tunggu! Awas kalau gak datang! " ancam balik Sisil. Sisil gak pernah takut jika dia di pihak yang benar. Sisil membanting gagang telpon rumah.
"Brengsek! Siapa sih yang sudah berani maki-maki gua! Pasti ada hubungan nya sama mak lampir! " geram Sisil dalam hatinya.
Sisil memandang Tante Caroline dengan rasa kesalnya yang sudah puncak. Demikian juga Tante Caroline yang menatap Sisil dengan mata penuh kebencian.
"Awas kamu! Jangan pergi kamu! Bentar lagi polisi datang! " ancam Tante Caroline pada Sisil. Ridwan hanya bisa duduk diam. Caroline kalau sudah senio, sudah seperti orang gila. Susah diatasi. Ridwan menunggu polisi datang, mungkin ini jalan yang terbaik.
*
*
bersambung.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa komentar, like dan vote nya ya 🙏🏻 Dukung terus karya receh mommy yaa bestie....
Terimakasih buat teman-teman yang sudah mendukung dan yang selalu mendukung karya mommy.. 😍 Dukungan kalian sangat berarti buat mommy..
Luv u all 😘😍❤💞
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=