Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 49. Debat Sisil dan Papa nya


__ADS_3

Seminggu hampir berlalu. Waktu terasa begitu cepat.


Kemarin Sisil ada menerima WA yang menyatakan dia di terima di tempat yang baru. Tempat dimana dia di interview sama pak Abdul.


Sesuai perjanjian Sisil akan masuk ke tempat yang baru awal bulan. Kurang dua minggu lagi dari sekarang.


Berarti nanti Senin atau Selasa, Sisil harus menyerahkan surat pengunduran dirinya ke personalia.


Sisil mendengar dari kamarnya suara Papa nya dan tante Caroline sedang bercakap-cakap diluar.


Sisil males keluar dari kamar nya. Males juga melihat si Tante. Kemarin habis ditegur soal telpon aja, drama ngambeknya bisa tiga hari. Apalagi kalau yang lain, Sisil gak ngebayangin.


Sisil bergidik. Dia membayangkan karakter nya si Tante yang sedikit-sedikit ngambek.


Setiap dikasih tahu atau dibilangin, ngambek. Pake banting pintu kamar, untung gak jebol tuh pintu. Gak bisa terima masukan. Kalau ngambek bisa berhari-hari.


Mulutnya manis, kalau di depan Papa terutama. Tapi kalau di belakang pasti ngomongin.


Entah bagaimana Papa nya bisa menyukai Tante Caroline yang mempunyai karakter atau sifat gak ada bagus-bagus nya begitu. Sisil merasa aneh saja.


Sisil bukannya gak tau kalau dirinya menjadi bahan omongan si Tante. Dimata si Tante, Sisil gak ada bagus-bagusmya.


Pernah beberapa hari yang lalu, pagi-pagi sekali Sisil menyempatkan diri ke pasar yang berada di kompleknya.


Disana masih ada beberapa teman mama yang berjualan. Dari mereka Sisil tau kelakuan mama tirinya ini yang menjelek-jelekkan dirinya. Sampai urusan mencuci pakaian dalam saja jadi bahan pembicaraan.


Kalau gak sabar udah Sisil labrak kali. Tapi Sisil masih bisa menahan semuanya.


Seharusnya sebagai seorang pendatang dalam rumah ini, si Tante harus bisa menyesuaikan dengan keadaan di rumah. Jangan kebiasaan atau keburukan dalam rumah tangga malah diumbar.


Inilah yang membuat Sisil tidak suka. Hal-hal privasi saja jadi bahan omongan.


Sisil memang terbiasa mencuci pakaian dalamnya seminggu sekali pas hari libur tidak kerja, hal begini saja sampai jadi bahan omongan, jadi gosip eksklusif.

__ADS_1


Sampai-sampai Sisil gak habis pikir, apa sih maunya si Tante ini. Rahasia keluarga diomongin keluar. Entah besok apalagi yang beredar. Sisil masih bisa bersabar, tapi kesabaran orang kan semua ada batasnya.


Terdengar dari dalam kamarnya si Tante pamit sama Papa, tak lama kemudian terdengar suara pintu pagar dibuka dan ditutup lagi. Rupanya Tante pergi dengan teman-teman nya.


Sisil keluar dari kamarnya. Dilihatnya Papa nya sedang duduk menonton TV. Sisil pun duduk di sebelah Papa nya.


"Kemana si Tante, Pa? " tanya Sisil pada Papanya.


"Bilangnya sih pergi sama teman-teman nya. Tapi gak tahu mau kemana. " sahut Ridwan sambil tetap matanya ke arah TV.


"Terus hubungan Papa sama si Tante gimana? Aman? Lancar? " tanya Sisil lagi.


"Ya gitu deh! " sahut Ridwan seakan malas bicara soal si Tante.


"Gitu deh apa sih Pa?! Ngomong yang jelas dong! " ucap Sisil sedikit kesal.


Ridwan menghela nafasnya. Sebenarnya dia malas cerita, pasti ujung-ujungnya Sisil marah.


"Papa lagi urus surat-surat, Sil! " ujar Ridwan pelan tapi tetap terdengar di telinga Sisil.


"Ya, itu salah satunya! " sahut Ridwan.


Sisil yang mendengar ini langsung emosinya naik.


"Papa gimana sih?! Kan Sisil udah bilang supaya Papa gak usah buat surat nikah! Kenapa sih nurut aja! " celoteh Sisil kesal sekali.


"Bukan nurut, tapi itu kan gak ada salahnya, Sil! " jelas Ridwan


"Papa juga yang urus surat cerai dia! " lanjut Ridwan menjelaskan.


"Ohh...jadi Tante masuk rumah ini statusnya belom resmi cerai? Terus benar sih gak ada salahnya buat surat nikah, tapi buat kasus Papa ini salah! " tegas Sisil ke Papa nya.


"Salah gimana?! " tanya Ridwan tidak mengerti maksud Sisil.

__ADS_1


"Ya salah pokoknya, Pa! " tegas Pingkan.


"Pertama, status Papa yang dilihat itu bujangan, belum nikah. Kedua, apa maksud Tante dengan buat surat nikah? " jelas Sisil pada Papa nya.


"Jadi salahnya tuh dimana, Sil?" tanya Ridwan dengan suara agak keras.


"Kalau Papa sudah buat surat nikah, Sisil kalah secara hukum. " ucap Sisil.


"Sebenarnya Tante menikah sama Papa tuh karena apa? Kita kaya juga kaga, Pa. Pasti yang di mau ini rumahlah! " ucap Sisil berapi-api menjelaskan pada Papa nya.


"Kamu jangan nuduh macam-macam ya Sil! Caroline gak seperti itu! " marah Ridwan pada Sisil.


"Ya, mudah-mudahan deh Pa! " sahut Sisil yang kesal sama Papa nya. Dikasih tau tapi malah sok tahu.


Sisil bukannya matre ataupun serakah, tapi dia hanya mau melindungi apa yang seharusnya menjadi milik dia nantinya. Tapi rupanya Papa nya berbeda. Sama sekali Ridwan tidak ada rasa curiga terhadap Caroline. Jadi Sisil tidak bisa berbuat apa-apa.


Semoga saja hal-hal yang dikuatirkan Sisil tidak terjadi. Sisil hanya pasrah dengan kehendak Papa nya dan pasrah apapun yang terjadi nantinya.


Ridwan sebenarnya mengerti akan ketakutan Sisil. Tapi dia percaya Caroline tidak seperti itu. Dan Ridwan berharap kepercayaan nya pada Caroline akan berbuah kebajikan dan Caroline tidak menyalahgunakan.


Sisil yang masih kesal pada Papa nya berdiri dan langsung berjalan masuk kamar nya kembali.


*


"


bersambung.....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa komentar, like dan vote nya yaa bestie 🙏🏻 dukung terus karya receh mommy yaa...


Terimakasih untuk teman-teman yang sudah dan selalu mendukung karya mommy 🙏🏻 dukungan teman-teman sangat berarti untuk ku....

__ADS_1


Luv u all 😘🤗❤💞


__ADS_2